The Missing Voice

The Missing Voice
| Chapter 6 : Cruel Temptation |


__ADS_3

Mata Jack seakan hanyut dalam manik sapphire gadis pirang itu. Walaupun egonya mengumpat dan mengatakan untuk sadar, namun tubuhnya menolaknya. Ia tetap berdiri mematung, ingin rasanya ia berteriak dan memaki gadis itu namun lidahnya kelu. Ia bahkan tak sanggup mengeluarkan suara sedikit pun. Benar-benar ajaib, pandangan mata Emma mampu melumpuhkan seorang kepala karamel penyandang marga William tersebut. Mereka masih seperti itu untuk beberapa menit, hingga suara guntur yang menggelegar menyadarkan keduanya. Sungguh Jack sangat berterima kasih karena ia merasa diselamatkan, dengan menahan kesal, ia memalingkan wajahnya. Sedangkan Emma, ia juga berpaling. Ia mengerutuki dirinya yang hampir hanyut dalam mata Emerald seorang Jack William. Namun, perlahan ia tersenyum, senyuman yang tidak terlihat oleh siapa pun. Hingga tiba-tiba Emma mengelurkan sebuah payung berwarna kuning dan plester dengan note diatasnya, Jack pun menoleh dan membaca note tersebut, Note itu bertuliskan


[Gunakan ini untuk lukamu dan pakai ini untuk melindungimu dari hujan]


"Aku tidak butuh!" jawab Jack ketus seraya menaikkan sudut bibirnya.


Seolah tidak mendengar jawaban Jack, Emma meraih tangan pemuda itu dan memberikan payung beserta plesternya. Kemudian ia segera melangkah pergi, keluar dari lobi dan membiarkan dirinya terguyur air hujan begitu saja. Jack mematung, ia terdiam. Perlahan matanya menatap payung kuning dan plester yang berada di genggamannya, dan perasaan aneh mulai menjalari relung batinnya. Ngilu dan terasa sakit, sangat sakit. Ia pun mendengus kesal, berusaha mengusir perasaan yang tidak diundang itu.


Di pinggir jalan, Emma melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri jalan yang menuju kediaman William. Emma yang sudah kotor memang sengaja membiarkan dirinya terguyur hujan.


"Ini lebih baik, daripada harus pulang dengan tubuh dan seragam yang kotor" kata Emma dalam hati.


Emma terus berjalan, hingga tiba-tiba ia merasakan air hujan tidak membasahi tubuhnya, ia pun berhenti. Suara hembusan nafas yang memburu terdengar jelas dari belakangnya. Perlahan, ia memutar badannya dan betapa terkejutnya ia mendapati sosok di hadapannya.


"Jack?" panggil Emma dalam hati.


Karena terlalu terkejut, Emma bahkan tidak sadar kalau jarak antara ia dan Jack hanya beberapa jengkal saja. Hujan semakin deras, angin bertiup membuat air yang harusnya langsung terjun ke bawah menjadi berbelok membasahi tubuh bagian belakang Emma. dengan sigap, Jack mengulurkan tangan kirinya. Meraih pinggang Emma dan membuatnya mendekat, atau lebih tepatnya membuat gadis itu memeluknya. Emma terbelalak, nafasnya mulai memburu, semburat merah mulai menghiasi wajahnya yang kini sudah bersih akibat guyuran air hujan. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, ia bisa merasakan kalau tubuhnya mulai memanas sedangkan sosok yang mendekapnya . . .


"Jantungnya berdegup lebih kencang" kata Emma dalam hati, ia yang sekarang memeluk Jack, bisa merasakan debaran jantung pemuda karamel itu.


"Dasar bodoh, gadis waras mana yang mau saja dirinya diguyur hujan seperti itu" celoteh Jack dengan nada dinginnya. Tapi, tak ada respon dari lawan bicaranya.


"Dan gadis bodoh mana yang mau meminjamkan payungnya pada orang lain disaat seperti ini?" lanjut Jack. kali ini, perlahan Emma bereaksi, ia mulai menjauh dan mendongakkan kepala, menatap Jack. karena, begitu mendengar perkataan Jack, Emma langsung sadar dari alam yang beberapa detik lalu membuainya.


"Apa?" Tanya Jack dingin, namun saat menatap mata sapphire itu, lagi-lagi ia tak bisa berkutik dan tenggelam.


"Terima kasih telah mengkhawatirkanku" kata Emma dalam hati, ia menurunkan tangan Jack yang melingkar dipinggangnya.


"Tapi, maaf. Aku tidak sedang butuh perhatian saat ini" kata hati Emma, dengan tatapan mata yang datar ia keluar dari arena. Berjalan sembari membiarkan dirinya dibasahi oleh air hujan kembali.


Sepeninggalan Emma, Jack sadar. Ia berdecak dan mengumpat sejadi-jadinya.


"Sial! Apa yang aku lakukan? aku membencinya, membencinya, sangat sangat membencinya. Tak ada kata maaf dan ampun untuknya" umpat Jack dengan mata yang mengkilat tajam.


"Tapi . . . kenapa ini?" kata Jack kemudian dengan nada lembut, ia memegangi dadanya yang merasa panas dan sesak.


Sementara di tempat lain. Jalan raya menuju perumahan tempat tinggal Jack, sebuah mobil mewah berhenti di lampu merah. Di mobil itu, duduklah seorang pemuda berambut amber dengan wajah lebam yang tidak karuan. Ia adalah Brian Petrenkov. Brian memandang keluar dengan pandangan menerawang, kini di otaknya dipenuhi oleh bayang-bayang gadis bersurai pirang bermarga Michelle yang sudah berhasil singgah di hatinya. Tatapan gadis itu, senyumnya, kesabarannya, tubuhnya yang kadang bergetar ketakutan, serta tingkahnya yang kadang pemberani. Benar-benar membuat Brian tidak mampu menolak untuk dikuasai oleh pesona sang gadis. Namun, ingatan Brian perlahan mengingat saat dimana Emma selalu tertunduk karena ketakutan. Ketakutan karena semua menatapnya penuh benci dan amarah. Dan, semua itu dikarenakan sebuah fitnah. Brian mengepalkan tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan ini, kita lihat saja Jack, siapa yang akan mengalah pada akhirnya?" gumam Brian seraya tersenyum penuh arti.


"Aku masih bersabar karena kau adalah temanku, tapi jika kau tetap tidak mengakuinya, maka aku bisa melakukan hal lebih" lanjut Brian dan ia pun menyeringai, seringaian yang sangat mengerikan. Seringaian yang bisa membuat setiap orang bergidik dan ketakutan dalam seketika.


"Tuan muda, anda tidak ingin mampir ke rumah sakit?" tanya sang supir, Rudolf.


"Hn?" Brian hanya menaikkan satu alisnya, kali ini ia terlihat berbeda, sungguh bukan seperti Brian biasanya. Sang supir yang merasa atmosfer berubah, kembali meralat perkataannya sebelum sang tuan mudanya itu murka.


"Kurasa itu tidak perlu, peralatan dan obat di rumah sudah lengkap" lanjut Rudolf, dan Brian pun memalingkan wajahnya sembari menghela nafas.


"Tuan muda sangat menyeramkan kalau seperti ini, aku benar-benar tidak pernah menyangka akan melihat sisinya ini" kata Rudolf dalam hati.


Lampu lalu lintas berubah ke warna hijau, artinya jalan. Rudolf menjalankan mobilnya sembari melirik melalui kaca ekspresi Brian. Namun kali ini, Brian terlihat tenang walaupun pandangannya masih tajam dan tangannya masih mengepal. Rudolf bisa menghela nafas tenang, akhirnya tuan mudanya kembali normal.


Di suatu perumahan yang elit. Sebuah rumah mewah bercat biru cerah. Brian turun dari mobil dan masuk rumah begitu saja. Di rumah, nyonya Chassandra sudah menunggu dengan khawatir karena ini hujan dan Brian minta jemputan. Sungguh jarang terjadi, Brian biasanya akan lebih memilih hujan-hujanan dan pulang dalam keadaan basah kuyup. Tapi kali ini . . .


"Brian" teriak sang ibu dan segera menyambar ke arah putranya, ia meraba-raba wajah Brian yang lebam dan bibirnya yang sobek. Sungguh mengerikan.


"Apa yang terjadi? Kenapa dengan wajahmu?" tanya nyonya Chassandra.


"Terbentur sesuatu yang sangat keras bu" jawab Brian datar.


"Kenapa kau berkelahi?" tanya nyonya Chassandra, ia tahu situasinya. Karena setiap kali Brian berkelahi atau terluka ia akan selalu mengatakan kalau ia terbentur sesuatu. Sungguh kebohongan yang sia-sia. Tapi ini bukan berarti kalau Brian suka berkelahi atau melukai dirinya.


"Aku lelah bu, aku ingin mandi air hangat" kata Brian berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Baiklah, ibu akan menyiapkannya. Tapi setelah mandi, obati lukamu atau ibu akan menyeretmu ke rumah sakit?" kata sang ibu dengan nada sedikit mengancam.


"Baik, ibu" jawab Brian dan menuju ke kamarnya.


Setelah nyonya Chassandra menyiapkan air hangat, Brian pun mulai berendam. Namun ketika air menyentuh lukanya, ia meringis kesakitan. Matanya masih menerawang, ia kembali teringat beberapa saat lalu ketika ia beradu tinju dengan Jack.


~ Flashback ~


"Brian! Hentikan!" teriak Nick


"Persetan dengan kepercayaanmu itu, Brian!" kata Jack di sela-sela berkelahinya.


"Tutup mulutmu, Jack!" kata Brian membalasnya.


Jack memukul wajah Brian hingga tersungkur. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Jack segera menindih Brian dan memukuli wajahnya tanpa ampun. Brian membalikkan keadaan, kini giliran ia yang memukuli wajah Jack dengan pukulan yang tak kalah kerasnya. Mereka bergulat hingga seseorang meniup peluit. Melvin datang bersama dua orang anggota OSIS dan dengan sigap mereka memisahkan kedua pemuda bersurai karamel dan amber itu.


"Cih! Kurang ajar kau, Brian!" teriak Jack.


"Dasar Brengsek!" teriak Brian tak kalah murka.


"HENTIKAN!" teriak Melvin dan keduanya berhenti.


"Jack, Brian, aku tanya siapa yang memulai ini?" tanya Melvin.


"DIA" jawab Jack dan Brian bersamaan dan saling menunjuk.


"Hei, kau yang memulai Brian" kata Jack.


"Kau menuduhku? Jelas-jelas kau yang memukulku duluan" kata Brian.


"Aku tidak akan memukulmu kalau kau tidak cari gara-gara" kata Jack.


"Aku tidak melakukan hal yang salah, kau saja yang tersulut emosi" kata Brian.


Jack naik pitam, ia meronta dan tangannya sudah meninju-ninju, ingin sekali rasanya ia memukul Brian lagi. Tapi cengkraman anggota OSIS sangat kuat, akhirnya ia hanya berteriak dan mengumpat sejadi-jadinya.


"Kalian berdua!" kata Melvin menaikkan nada bicaranya.


"Karena sudah bertengkar dan saling memukul, maka kalian akan dihukum selama satu minggu untuk merenungkan kesalahan kalian" kata Melvin kemudian.


"Cih!" desah Jack dengan seringaiannya.


"Jack. kau dihukum mengepel lantai di selurih koridor lantai satu, dan kau Brian. Kau dihukum membersihkan toilet guru" kata Melvin.


Yang dihukum seakan tidak mendengar perkataan Melvin. Mereka tetap saling menatap dengan tajam. Jika bisa, ingin rasanya Jack membunuh Brian saat itu juga maka permasalahan akan selesai. Ia tidak perlu berdebat dan mendengar kata-kata atau nasihat yang terdengar tabu di telinganya itu. Melvin menghela nafas, ia memberi kode pada anak buahnya untuk melepaskan kedua biang keladi, dan mereka pun menurutinya. Brian membenahi seragam basketnya kemudian berlalu. Mengambil tasnya dan segera pergi dari ruang indoor itu, sebelum pertahanannya gagal. Pertahanan dimana ia menahan untuk menghabisi Jack. tepat di ambang pintu, ia melirik Jack dan mendengus seakan mengejek atau meremehkan?


~ Flashback End ~


Brian keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya terbalut handuk. Memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan berotot. Ia membuka lemari dan mengambil baju secara acak dan segera mengenakannya. Ia menuju tempat tidurnya, tempat dimana sang ibu sudah menyiapkan obat merah dan plester untuk lukanya. Matanya menyipit.


"Jack, tunggu saja. tiba waktunya kau akan menyesali segalanya" kata Brian.


Di perumahan elit yang sama tidak jauh dari rumah Brian. Emma membuka pintu dan segera menuju kamarnya sebelum nyonya Azzury dan yang lain melihatnya, di belakangnya terdapat Jack. Pandangan matanya tajam, matanya sudah memerah dan berkaca-kaca, rasa bencinya teramat sangat bahkan tidak bisa diukur dengan parameter kemarahan sekali pun. Ia selalu ingin menyiksa dan melihat Emma menderita, namun kenapa akhir-akhir ini ada rasa aneh pada dirinya yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata-kata.


"Kalau begini, aku hanya harus memastikannya" kata Jack dalam hati.


Makan malam. Semua sudah duduk di kursi masing-masing, tapi tak kunjung meyentuh makanan dikarenakan Jack belum juga turun. Tak lama kemudian, Jack turun dengan wajah penuh plester. Plester yang sama seperti pemberian Emma atau memang plester pemberian Emma? Melihat keadaan putranya, nyonya Azzury histeris, ia berdiri tepat saat Jack duduk.


"Jack! ada apa dengan wajahmu?" tanya nyonya Azzury.


"Biasa bu, berkelahi dengan Luke dan Darren" jawab Jack berdalih.


"Lagi?" tanya tuan Mark menekankan suaranya, dan berhasil membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.


"Kenapa? Ini sudah biasa" elak Jack.


"Jack!" kata sang Ayah dan langsung dipotong oleh istrinya.


"Tidak apa berkelahi asalkan kau tahu batasnya, ya . . . ibu fikir perkelahian antar pria itu biasa, itu menandakan kalau kau sudah dewasa" kata nyoya Azzury membela putranya.


Sementara yang dibela hanya bisa berdesis. Emma menatap Jack sekilas, ia baru mengerti alasan kenapa wajah Jack lebam.


******


Jam menunjukkan pukul 22.35 PM waktu setempat. Jack dipanggil oleh sang ayah ke ruang kerjanya. Perasaan tidak enak mulai mendatanginya. Ia menebak sang ayah akan memarahinya. Dengan menggenggam tangan, ia mempersiapkan diri untuk beberapa detik dan menit kedepan.


Di ruang kerja Mark. Ia duduk di bangku kerjanya dengan tatapan tajam. Dilihatnya sang putra mulai memasuki ruangan dengan tampang malas. Urat-urat Mark sudah menyembul keluar, jelas sekali ia sangat marah.


"Jack! jangan berbohong pada ayah, itu bukan luka yang kau dapatkan dari perkelahian tidak bermutumu dengan Darren atau Luke kan?" selidik tuan Mark.


"Aku sudah bilang kan ayah, ini . . ." kata Jack dan langsung dipotong oleh sang ayah.


"JACK!" pekik tuan Mark.


"Iya, ayah" jawab Jack dengan malas.


"Kau tahu konsekuensinya jika berbohong kan?" tanya sang ayah.


"Tidak masalah kalau uang jajanku dipotong, tapi aku tidak tanggung jawab kalau sahamku bisa saja kujual" jawab Jack dingin.


"JACK!" sang ayah menggebrak meja dan berdiri, ia menatap putranya intent.


"Aku berkelahi dengan Brian, ayah puas?" ungkap Jack kemudian.


"Aku ngantuk, aku mau tidur" kata Jack dan meninggalkan ruang kerja ayahnya.


Sementara tuan Mark, ia menghela nafas sembari mengelus dadanya. Menenangkan diri menghadapi putranya yang egois dan keras kepala. Ia bahkan sampai heran kalau ada perempuan yang menyukai Jack dan bahkan mau menjadi tunangannya. Sungguh sial sekali gadis itu.


Jack membanting pintu kamarnya dengan keras hingga terdengar sampai lantai satu. Dan di sebelah, Emma terlonjak. Ia bisa menebak siapa yang melakukannya. Jack benar-benar kesal. Hari ini adalah hari sialnya, dan ia ingat kenapa ini bisa terjadi padanya. Ia segera menuju ke meja belajarnya dan mengambil sebuah gantungan. Ya, gantungan berbentuk jimat milik Emma. Sebab dari segala kesialannya. Matanya menyipit, ia menggenggam erat gantungan itu dan melemparnya ke dinding.


"Sialan!" umpat Jack.


Mata Jack mengkilat, ia tetap berdiri sembari menatap gantungan itu dengan pandangan benci, kesal dan berbagai perasaan penuh kemurkaan. Di luar, hujan masih menyapa, angin berhembus kencang mengetuk jendela kamar Jack. Kilat membelah langit dan suara guntur bergemuruh menghiasi malam yang sangat mengesalkan bagi Jack. ia bahkan sampai bergetar menahan gejolak di dadanya, didekatinya gantungan itu. kakinya melayang, bersiap menghujam gantungan dengan injakannya. Ia menghentakkan kakinya, namun tiba-tiba kakinya tertahan. Memori di kepalanya berputar, bagaikan kaset yang kembali memutar kejadian yang sudah direkamnya.


~ Flashback ~


Jack kecil tengah bermain pasir sendirian di taman dekat rumah kakeknya. Sebenarnya ia tidak sendirian karena ditemani oleh kucing bernama Nico. Jack tersenyum senang ketika berhasil membuat istana dengan pasir, ia berceloteh pada Nico berharap kucing itu menanggapinya. Namun yang ia dapat hanyalah suara miaw dari si kucing. Jack tertunduk lesu hingga . . .


"Wuah! Istana yang bagus" teriak gadis kecil dan mendekat, Jack menoleh. Dilihatnya seorang anak kecil dengan jaket yang menutupi hingga kepalanya dan kacamata hitam yang menutupi matanya. Sungguh penampilan yang aneh.


"Siapa kau?" selidik Jack dan gadis kecil itu menoleh menatap Jack. Gadis kecil terbelalak, ia tidak menyangka siapa anak kecil yang tengah berada di hadapannya. Dengan segera ia membuka tudung dan kacamatanya. Dan kini terlihatlah sosok dibalik tudung. Seorang gadis kecil dengan rambut pirang dan mata sapphire.


"Kau?" tanya Jack tidak percaya.


"Emma" kata Emma mengkoreksi sebutan kau.


"Emm? Kenapa kau ada disini?" tanya Jack.


"Bukan Emm, tapi Emma. E M M A. Emma" kata Emma.


"Dan aku . . . hanya kebetulan berlari dan tidak sengaja melihat taman ini" kata Emma.


"Oh" jawab Jack membulatkan bibirnya, dan Emma-pun tertawa. Menurutnya anak di depannya sangat lucu.


"Oh ya, siapa namamu?" tanya Emma.


"Jack" jawab Jack.


"Oh" Emma ikut membulatkan bibirnya dan Jack terpesona, dan akhirnya mereka tertawa bersama.


******


Beberapa Hari berikutnya.


"Hei, Emm! Kakek bilang akan ada festival musim panas malam minggu nanti" kata Jack seraya memakan es krim dengan duduk dan menggoyang-goyangkan kakinya.


Matahari memang sangat terik siang itu. Menggoda semua orang untuk memakan atau meminum sesuatu yang segar seperti es krim contohnya. Emma acuh saja, ia tengah sibuk dengan es krim vanilla-nya.


"Kau dengar, Emm?" panggil Jack.


"Emm?" panggil Jack.


"Apa?" tanya Emma masih tetap fokus dengan es krim, hingga Jack tak sabar dan merebut es krim dari tangan gadis kecil itu.


"Hei!" Emma tak terima, ia hendak melontarkan protes, namun tertahan melihat ekspresi Jack.


"Jack, ada apa?" tanya Emma dengan sedikit bersalah.


"Apa kau mau pergi ke festival denganku?" pinta Jack dengan malu-malu.


Emma tertunduk. Sebenarnya ia mendengar ocehan Jack dari tadi, tapi ia ada schedule malam itu. ia harus menghadiri acara di salah satu stasiun televisi. Tidak mungkin ia mengatakan itu pada Jack, karena selama ini ia tidak memberitahukan siapa dirinya sebenarnya. Ingin sekali rasanya pergi dengan Jack, tapi bagaimana pun keadaan berkehendak lain. Emma memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum dan menatap anak berambut karamel di sebelahnya.


"Maafkan aku Jack" jawab Emma.

__ADS_1


Mendengar jawaban Emma, Jack jadi tertunduk. Bukan dikarenakan penolakan yang ia dapat melainkan senyuman gadis kecil itu yang sangat jelas sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Ingin rasanya ia bertanya, namun lidahnya kelu. Suaranya tercengat di tenggorokan. Emma yang melihat perubahan ekspresi Jack menjadi bersalah, ia mengulurkan tangannya dan menepuk pundak anak itu.


"Kau baik-baik saja? Maaf ya" kata Emma dan Jack mengangkat kepalanya sembari memperlihatkan grins-nya.


"Tidak apa, Emm. Kita bisa pergi bersama lain kali. Lagipula festival diadakan setiap tahun" kata Jack bersemangat.


"Lain kali? Bisakah aku melakukannya? Tidak, maksudku bolehkah aku mengharapkannya? Aku yang sudah membohongimu ini?" kata Emma dalam hati.


"Baiklah" jawab Emma seraya tersenyum manis.


Malam minggu datang. Jack bersama kakekn dan neneknya pergi ke festival musim panas. Jack sangat senang, belum pernah ia datang ke tempat seperti itu. Matanya berbinar-binar dan ia berlari kesana-kemari membuat kakek neneknya khawatir dan berteriak memintanya untuk berhati-hati. Jack berkeliling diikuti kakek neneknya dibelakang, tiba-tiba mata Emerald-nya tertarik oleh suatu stand. Ia segera melesat meninggalkan kakek neneknya dan mendekat ke stand. Di stand itu semua berwarna merah, warna favorit Jack. ia benar-benar takjup.


"Apa kau ingin membeli jimat keberuntungan, nak?" tanya sang pedagang.


"Jimat? Apa yang seperti itu ada?" tanya Jack polos.


"Tentu ada" kata pedagang dan mengambil sekotak gantungan berbentuk jimat. Warnanya merah dengan ukiran tulisan 'Lucky'.


"Wuah, Hebat . . . apa tulisannya?" tanya Jack."Lucky yang berarti keberuntungan" jawab sang pedagang.


"Aku ambil satu!" kata Jack seraya memberikan uang receh, dengan lembut si pedagang mengambilnya dan menghitung, tapi uangnya kurang. Menyadari ekspresi si pedagang, Jack kembali bertanya.


"Apa uangku kurang, om?" tanya Jack kecil dengan ekspresi sedih.


"Tidak, ini cukup nak. Ambil saja, lagipula ini festival" kata si pedagang dengan senyuman ramah.


"Benarkah? Kalau begitu terima kasih banyak, om" kata Jack sembari tersenyum dan mengangkat gantungan itu ke atas, perasaan senang memenuhi dada kecilnya.


******


Senja sore di kota Allison. Di sebuah taman, Jack kecil duduk di ayunan dan sesekali menghentak-hentakkan kakinya. Ditangannya tergenggam sebuah gantungan yang ia beli beberapa hari lalu di festival. Kegundahan dan kegelisahan mulai menyelimuti hati kecilnya, matanya mulai berarir, ia sedang menunggu. Menunggu gadis kecil bersurai pirang yang akhir-akhir ini selalu menemaninya bermain. Tapi ini sudah kelewat 6 hari sejak terakhir kali bertemu dengannya.


"Akankah ia datang?" gumam Jack kecil dengan suara yang mulai serak.


Angin berhembus meniup kepala karamel Jack, Jack menoleh ke arah pintu masuk taman. Sebuah bayangan berdiri disana, bayangan itu semakin lama semakin mendekat dan kini berdiri tepat di hadapan Jack. betapa terkejutnya ia mendapati siapa itu. sosok yang ditunggunya, sosok yang mampu menggundahkan hatinya, sosok yang dirindukannya.


"Emm" panggil Jack.


"Ya, Jack" jawab Emma tersenyum manis, saat itu pula senyum Jack merekah dan ia pun berdiri


"Kau menungguku ya?" tanya Emma kecil dengan senyum jahil.


"Apa? Tidak. mana mungkin, jangan bercanda" elak Jack dan membuang muka, rona merah tipis menghiasi pipinya, melihat itu Emma pun terkekeh.


"Hei, Bagaimana festivalmu? Apa itu menyenangkan?" tanya Emma sembari duduk di ayunan sebelah Jack.


"Hmm, begitulah" jawab Jack.


Sore itu dihabiskan oleh Jack dengan bercerita apa yang dilihat dan dilakukannya di festival. Ia bercerita dengan semangat menggebu-gebu, membuat Emma selalu tertawa. Jack benar-benar menjadi pencerita yang baik hingga akhirnya ia tiba-tiba diam, Emma menyadari keanehan pada temannya itu. Dengan tangan gemetar, Jack mengulurkan sebuah gantungan merah berbentuk jimat pada Emma. Emma bingung, ia memiringkan kepalanya.


"Untukmu" kata Jack dengan malu-malu.


"Untukku?" tanya Emma tidak percaya, ia mengambil gantungan itu.


"Itu jimat keberuntungan" kata Jack tanpa menoleh ke arah Emma.


"Terima kasih, Jack. ini akan menjadi barang berharga untukku" jawab Emma sembari memeluk hadiah pemberian Jack, dengan sedikit gengsi Jack menoleh berusaha melihat ekspresi Emma saat ini. dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah Emma yang teramat sangat bahagia.


"Ini hadiah pertamaku dari seorang teman" jawab Emma.


"Emm . . ." panggil Jack lagi.


"Maaf kalau itu hanya sederhana. Lain kali, aku akan memberikan sesuatu yang lebih berharga dari ini. sesuatu yang akan kau jaga seumur hidupmu" lanjut Jack.


Emma terperangah, ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Jack, tapi entah kenapa hatinya selalu tenang dan bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum ketika bersamanya. Mungkin mereka sudah terikat oleh benang takdir, hanya itulah kesimpulan yang bisa diambil Emma. dengan segera ia mengangguk.


~ Flashback End ~


Suara Emma kecil terngiang di kepalanya.


Terima kasih, Jack. ini akan menjadi barang berharga untukku.


Dan, tulisan Emma yang dibacanya menghinggapi kepalanya.


Gantungan yang sangat berharga bagiku.


Jack menarik kakinya dengan segera dan memegangi kepalanya. suara Emma kecil terus terngiang di kepalanya diikuti tulisan yang dibacanya di note Emma beberapa jam lalu. Keduanya mengatakan bahwa gantungan itu berharga. Kata berharga terus tertekan di otaknya, Jack mengeram, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Nafasnya terengah engah, kakinya mulai lemas, dan ia terduduk di lantai. Ia tidak menyangka akan mengingat memori itu, memori yang dengan susah payah ia benamkan. Matanya mengkilat, dengan masih memegangi kepalanya, ia bertanya-tanya.


"Berharga? Yang benar saja" kata Jack tertawa sinis.


"Berharga katamu? Ini bahkan tak lebih dari secuil sampah. Jadi, kenapa kau masih menyimpannya?" tanya Jack bermonolog. Dadanya mulai terasa nyeri kembali, perasaan yang sangat dibencinya.


"Menyimpan ini tapi kau melupakanku" lanjut Jack.


"Melupakan apa yang sudah kau lakukan padaku. Perlakuanku waktu itu kau balas dengan air tuba, Emm. jadi apa kau sengaja melupakannya?" tanya Jack lagi.


Tubuh Jack bergetar hebat. Segala kemarahan bercampur dengan seribu tanda tanya yang memenuhi benak dan pikirannya. Ia kembali mengeram dan memukul lantai hingga tangannya berdarah. Darah mengalir dari kepalan tangannya, tapi itu belum cukup untuk mengatasi segala kekesalannya.


"Emma Michelle. Aku akan memastikan semuanya. Mungkin kejam, tapi kuharap kau bisa membuka matamu itu" kata Jack dalam hati.


Di kamar sebelah, Emma belum juga tidur. Ia gelisah memikirkan kemana perginya gantungan berharganya. Ia sesekali bangun dan tidur lagi. Tidak ada dimana pun, bahkan tempat pembuangan akhir tidak ada. Apakah ia harus merelakannya? Segala pertanyaan berkecamuk di benaknya. Tak terasa matanya mulai berair dan cairan bening menetes membasahi wajahnya, disentuhnya cairan itu, Emma menarik lutut dan menangis.


"Mama, bagaimana ini. gantungan berharga itu hilang? Gantungan yang selalu kusimpan. Gantungan keberuntungan yang selalu menemaniku. Apakah benar aku harus kehilangannya? Tuhan, tidakkah cukup aku kehilangan?" kata Emma dalam hati.


Emma terus menangis hingga ia kelelahan dan tertidur. Begitu pula dengan Jack, ia kelelahan setelah meluapkan amarah dan kekesalan. Jack tertidur di lantai kamarnya dengan tangan mendekap gantungan milik Emma. Hujan semakin deras, seolah tak lelah menjadi suara pengiring kedua insan yang tengah menderita dengan batinnya. Bahkan guntur juga tak henti-hentinya ikut menyapa menjadi musik pelengkap.


******


Esoknya di Chorea Academy. Hari masih pagi dan sekolah masih sepi, hanya seorang siswa berambut amber dengan wajah dipenuhi plester turun dari mobil kemudian berjalan dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Ia sesekali menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya agar tidak kelepasan seperti kemarin. Kakinya terus berjalan, menaiki tangga dan bahkan melewati koridor kelasnya. Hingga kakinya membawanya ke atap sekolah. Brian menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Kini ia sudah kembali tenang, ditariknya tangan kanannya dari saku. Sebuah disk terdapat disana, matanya menyipit.


"Dengan ini aku bisa membuktikan ketidakbersalahan Emma. Tapi jika seperti itu, Jack tidak akan mendapat pelajaran. Maafkan aku Emma, kau harus menunggu sebentar lagi. Aku hanya ingin membuat Jack mengakui semuanya dengan mulutnya sendiri. Dengan begitu ia merasakan apa itu yang namanya dipermalukan oleh diri sendiri ." Kata Brian.


Sudah menjadi kebiasaan Jack sebelum masuk ke kelas, ia duduk di bangku kebun belakang sekolah. kali ini ia mendongakkan kepala menatap gantungan yang berada di tangan kanannya. Ia menghela nafas dengan berat. Tiba-tiba sebuah suara yang sangat familiar memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan sang kekasih, dengan segera Jack menyembunyikan gantungan itu di saku jas sekolahnya. Chloe mendekat.


"Jack, ada apa denganmu?" tanya Chloe menyentuh wajah Jack, Jack membuang muka. Ia tidak ingin Chloe melihatnya.


"Bukan apa-apa, hanya perkelahian tidak bermutu dengan Darren dan Luke" jawab Jack berbohong. Ini kali kedua ia berbohong pada Chloe.


"Harusnya kau tidak tersulut emosi, bagaimana pun mereka temanmu" kata Chloe.


"Lain kali, jangan melukai dirimu seperti ini. ini akan menjadi kebiasaan nantinya" kata Chloe menasihati, dan Jack tersenyum mendengarnya. Senyuman yang dipaksakan?


"Oh ya, Jack, kudengar ayahmu sudah pulang" kata Chloe kemudian mengganti topik.


"Oh" jawab Jack singkat.


"Pertunangan kita satu bulan lagi ya" kata Chloe dengan wajah memerahnya "Hei, Jack. bagaimana kalau kau menemaniku besok minggu" pinta Chloe.


"Baiklah" jawab Jack seraya tersenyum pada Chloe.


Melihat senyuman Jack yang kedua di hari ini, entah kenapa hati Chloe bagai tersayat. Senyuman Jack kali ini sangat berbeda, seperti dipaksakan lebih tepatnya. Ia curiga, pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Bagaimana pun ia mengenal dengan baik siapa itu Jack. Jadi sangat mudah menebak kalau Jack sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu.


Bel berbunyi tanda jam pertama akan segera dimulai. Jack dan Chloe beranjak dari kebun belakang sekolah. Sepanjang perjalanan menuju kelas, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari Jack. Akhirnya mereka berpisah, Jack di lantai 2 sedangkan Chloe di lantai 3.


******


Kelas 1-8. Chloe masuk kelas dengan wajah tertunduk, mengetahui ekspresi sahabatnya, Cheryl segera bertanya namun seolah tidak mendengar, Chloe hanya diam. Dahi Cheryl mengerut, ia menerka-nerka apa yang terjadi dan mendapatkan klik di kepalanya. Semua ini pasti berhubungan dengan Emma Michelle. Cheryl menggenggam tangannya, ia benar-benar kesal. Bukan hanya masa pendekatannya dengan Darren terhalang, bahkan hubungan Chloe dan Jack juga diambang kehancuran. Semua ini karena Emma. ia memutuskan untuk memberi Emma pelajaran.


Sementara di kelas 1-5. Jack masuk dan segera duduk di bangkunya semula. Darren dan Luke melotot melihat wajah Jack. sungguh menyeramkan, seorang Jack William bisa babak belur sampai seperti itu. pasti yang memukulnya juga sudah sama tidak warasnya. Setidaknya itu yang difikirkan oleh Darren. Dengan perhatian, didekatinya sahabatnya itu.


"Ada apa dengan wajahmu, Jack?" tanya Darren.


"Kau tidak lihat?" jawab Jack dengan pertanyaan, nada bicaranya sinis.


"Kau berkelahi kah? Dengan siapa? Kurasa Darren tidak meninjumu kemarin" ungkap Luke.


"Sialan kau, Luke. Aku tidak segila itu hingga memukul Jack sampai membuat wajahnya tidak dikenali seperti itu" jawab Darren.


Mendengar perkataan Darren yang mengatakan kalau dirinya sudah tidak bisa dikenali, alis Jack terangkat. Ia melirik Darren, dan yang ditatap menyadari hawa dingin tengah menusuk-nusuknya. Ia menelan ludah dan berusaha mengalihkan pembicaraan untuk kembali ke topik.


"Jadi, dengan siapa?" tanya Darren lagi.


Tepat setelah Darren mengajukan pertanyaanya, Brian masuk. Semua orang menoleh dan menatapnya penuh tanda tanya dan keheranan. Pasalnya wajah tampan Brian hilang lenyap bagai ditelan bumi. Digantikan wajah lebam yang dihiasi dengan banyak plester. Ia segera duduk, mengacuhkan semua pasang mata yang menatapnya. Melihat itu, Emma membulatkan matanya. Ada rasa khawatir ketika melihat Brian seperti itu, mata Emma melembut menatap Brian dari kejauhan. Sedangkan Brian, matanya melirik merasakan ada tatapan yang lebih dari tatapan yang lain, didapatinya Emma tengah menatapnya lembut bercampur rasa khawatir. Mata sapphirenya benar-benar indah, namun hati Brian tiba-tiba terasa sakit. Ia membuang muka menghindari tatapan Emma. ia tidak bisa menatap Emma, karena ia yang sudah memiliki bukti atas ketidakbersalahan Emma malah menyembunyikannya.


"Tidak untuk saat ini" kata Brian dalam hati.


Darren memandang Jack dan Brian bergantian. Wajah mereka sama lebamnya, namun wajah Brian lebih parah. Darren mengerutkan alisnya, ia tahu asal muasal penyebabnya. Bibirnya terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun Mr. Aldrick masuk kelas. Darren mengurungkan niatnya dan akan bertanya nanti. Ia kembali ke tempat duduknya. Selama jam pelajaran, ia terus berfikir kenapa Jack dan Brian sampai berkelahi.


"Brian bukan orang yang suka mengatasi permasalahan dengan tinjunya. Ia tidak mungkin melakukannya kalau bukan Jack membuatnya sangat marah dan lepas kendali. Tapi, apa yang membuat Brian lepas kendali? Ia kan selalu menghadapi segala situasi dengan tenang" batin Darren.


Mata Darren tak sengaja melihat rambut pirang Emma. ia mengernyitkan dahinya.


"Emma ya, Jack kan sangat membencinya. Tunggu, apa mungkin Jack melakukan sesuatu pada Emma hinggga membuat Brian marah? Ini masuk akal mengingat Brian sangat dekat dengan Emma. tapi sesuatu apa itu?" batin Darren bertanya-tanya.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat. Saatnya makan siang. Semua siswa menghela nafas, akhirnya perut mereka akan segera diisi juga. Belajar memang menguras banyak tenaga. Brian dan Nick keluar kelas, Emma hendak berdiri tapi menyadari Brian yang mengacuhkannya membuatnya berhenti. Mugi heran, ia memiringkan kepalanya.


"Kenapa, Em?" tanya Mugi dan dijawab dengan gelengan lemah Emma.


"Oh ya, Em. Ayo ke kantin, kemarin kau tidak makan siang kan? Kali ini aku tidak akan melepaskanmu" ajak Mugi dan Emma pun mengikuti temannya itu meninggalkan kelas.


Di kelas, Jack membaringkan kepalanya di meja. Ia sangat malas untuk sekedar mengisi perut, pikirannya masih kalut, walaupun sekarang sudah lebih mendingan, tapi badannya tidak. Efek dari kejadian semalam masih terasa. Luke sudah hampir berteriak mengajak temannya itu, namun Darren menahannya. Membiarkan Jack untuk sendiri adalah solusi terbaik. Mereka meninggalkan Jack, sementara yang ditinggalkan memandang keluar jendela dan menghela nafas. Menyadari kelas sudah sepi, ia mengeluarkan gantungan milik Emma dari saku jasnya, ia memandanginya lekat. Matanya mulai menyipit, dan ia pun kembali menghela nafas. Entah sudah kesekian kali ia melakukannya.


Emma sudah sampai kantin, ia sudah mengantri. Dicarinya uang disaku jas dan roknya, tapi ia tidak menemukannya. Dengan segera Emma keluar dari barisan sembari memberikan Mugi selembar note.


"Aku kembali ke kelas, uangku tertinggal" kata Emma dalam note.


Mugi menepuk jidatnya. Ia tidak menyangka kalau Emma adalah tipikal orang yang teledor, mengingat tempo hari Emma juga meninggalkan baju olahraganya. Emma berlari menuju ke kelasnya yang berada jauh dari kantin sekolah. ia terus berlari hingga terengah-engah. Sampailah ia di kelas, ia membuka pintu dan menyadari kelas sepi. Hanya ada Jack yang tengah tiduran di mejanya. Emma mengacuhkannya, ia segera mengambil uangnya dan melangkah pergi, namun suara baritone menghentikan langkahnya.


"HOI!" panggil Jack, Emma pun menoleh.


Jack berdiri, ia beranjak dari tempatnya dan mendekati Emma. ia berhenti tepat di depan Emma. ditatapnya Emma sesaat kemudian ia mengacungkan sebuah gantungan pada Emma. betapa terkejutnya Emma melihat apa yang ada di depannya atau lebih tepatnya di tangan Jack. Gantungan yang dicarinya, gantungan berharganya.


"Ini" kata Jack datar seraya membuang mukanya.


Dengan perlahan, Emma mengambil gantungan itu. didekapnya gantungan itu, senyumnya merekah, matanya berkaca-kaca. Sungguh ia sangat bersyukur gantungannya kembali. Melihat itu Jack hanya menaikkan sudur bibirnya. Hingga tiba-tiba . . . Emma memeluknya. Mata Jack terbelalak, ia tidak menyangka akan hal itu.


"Emm" panggil Jack, ia mengangkat tangannya hendak membalas pelukan Emma, namun ia ingat. gadis yang memeluknya adalah gadis yang dibencinya. Tangannya tertahan.


Di koridor menuju kelas 1-5, Chloe tersenyum seraya bersenandung. Ia memeluk bekalnya erat. Berharap Jack akan terkejut, ia melangkahkan kaki menuju kelas 1-5. Dibukanya pintu kelas dengan perlahan, namun betapa terkejutnya ia melihat apa yang terjadi. Emma tengah memeluk Jack. Chloe membekap mulutnya, menahan diri untuk tidak berteriak. Matanya mengeluarkan cairan bening, dan dengan seenaknya cairan bening itu menetes deras membasahi pipinya. Semua kekhawatirannya benar-benar terjadi. Ia segera berlari meninggalkan kelas, ia berlari dengan mengusap matanya.


Tangan Jack mengepal, Emma melepaskan pelukannya. Ia menuliskan note untuk Jack.


"Terima kasih, Jack. sudah menemukannya. Aku benar-benar berterima kasih, aku tidak tahu bagaimana aku akan membalasnya" tulis Emma.


Membaca note itu, batin Jack tertawa. Betapa bodohnya gadis di hadapannya.


"Kau berterima kasih padaku? Cih! Sangat lucu" jawab Jack dalam hati.


"Sama-sama. Tapi, kenapa kau menyimpan benda seperti itu? itu sudah lusuh, bukankah lebih baik kau membeli lagi?" tanya Jack kemudian, ia ingin memastikan kenapa gadis itu masih menyimpan benda pemberiannya, yang bahkan ia sendiri sempat lupa kalau ia yang memberi.


"Entahlah, aku hanya merasa harus menjaga ini" jawab Emma dalam note.


Jack mengepalkan tangannya. Ia kesal, karena jawaban Emma tidak menjawab segala pertanyaan yang berkecambuk di benaknya, yang membuatnya hampir gila dalam semalam.


"Apa itu pemberian seseorang?" tanya Jack dingin.


Emma mengerutkan dahinya. Ia berfikir sejenak untuk menjawab Jack.


"Mungkin. Aku tidak begitu ingat" jawab Emma.


"Kau tidak ingat? atau melupakannya?" tanya Jack dalam hati.


"Kalau kau tidak ingat, kenapa kau harus menyimpannya?" selidik Jack, nada bicaranya mulai serius.


"Karena ini adalah benda berharga. Itulah yang kutahu" jawab Emma.


"Yang kau tahu? Apa kau sengaja melupakannya?" tanya Jack menaikkan nada bicaranya, tentu Emma terkejut. Ditatapnya Jack dengan wajah yang sedikit ketakutan.


"Maafkan aku. Aku memang tidak mengingatnya" tulis Emma.


Jack tertawa. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Emma berhasil menaikkan parameter amarahnya lagi. Mungkin ia harus menghadiahi Emma penghargaan.


Sementara di perpustakaan. Brian membaca banyak buku, ia tidak peduli kalau dirinya lapar saat ini. ia hanya harus mengalihkan amarahnya. Sebelum ia bisa mengendalikannya, ia tidak bisa berhadapan dengan Emma. ia tidak mau sampai keceplosan dan mengatakan kalau Jack adalah biang keladi dari fitnah yang diterima Emma. Nick menghela nafas, ini kali pertama sepupunya bersikap seperti itu.


"Brian" panggil Nick.


"Tidak seharusnya kau kelewat emosi seperti ini. kau tidak seperti dirimu" komen Nick.

__ADS_1


Brian sadar, ia menutup bukunya dan mengeluarkan disk.


"Aku sudah mendapatkannya" kata Brian.


"Lalu, apa isinya? Kenapa kau tidak . . ." tanya Nick dan ia terbelalak, menyadari seuatu. Tatapan Brian menajam.


"Kau benar, Jack pelakunya" kata Brian membenarkan dugaan Nick.


"Tapi kenapa ia melakukannya?" tanya Nick tidak percaya.


"Sederhana, ia mengatakan itu karena kebencian" jawab Brian.


"Apa dia sepengecut itu? tidakkah itu keterlaluan?" tanya Nick.


"Benar kan? Bukan hanya aku yang mengatakan demikian" jawab Brian.


Barulah Nick tahu alasan Brian sampai semarah itu. Dia saja bisa tersulut emosi, apalagi Brian yang notabane suka pada Emma. ia memegang pundak sepupunya itu dan menepuk-nepuknya.


"Lalu, apa rencanamu?" tanya Nick.


Brian hanya tersenyum menjawabnya.


******


Sepulang sekolah.


Para siswa meregangkan otot-otot mereka yang kaku selama jam pelajaran. Dengan segera mereka keluar kelas dan memulai aktivias selanjutnya. Emma berdiri, ia segera menghampiri Brian, yang sudah siap dengan tasnya untuk pulang. Emma menghadangnya. Pemuda amber itu membuang muka, berusaha untuk tidak menatap mata Emma.


"Mau kemana kau? Kenapa kau menghindariku?" tanya Emma dengan note.


"Aku ada perlu, Emma. Maaf, aku duluan" kata Brian dan berlalu melewati Emma begitu saja. Emma bingung, ia menatap punggung Brian sampai pemuda itu keluar kelas dan tidak terlihat. Nick mengikuti Brian, di ambang pintu ia sempat melirik Emma. ia menghela nafas, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk keduanya. Karena Brian punya cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya.


Cibiran demi cibiran kembali menghiasi kelas itu. Mereka mencibir Emma yang diacuhkan Brian.


{Lihatlah? Bahkan Brian sudah mengacuhkannya.}


{Benar-benar parasit.}


{Untunglah Brian segera sadar.}


Jack juga mendengarnya, tapi ia tidak suka mendengarnya. Ia tahu kalau Brian berusaha menghindari Emma untuk melindungi gadis itu. Agar gadis itu tidak kena dampak dari Brian yang sedang mengendalikan emosinya. Sungguh menggelikan, itulah yang dipikirkan oleh Jack. ia berdiri dan meninggalkan kelas bersiap melaksanakan hukumannya, tak peduli dengan teriakan Luke yang memintanya untuk pulang bersama.


Jack mengirim pesan pada Chloe.


Jack : Aku ada hukuman. Jadi maaf, kau pulang sendiri ya.


Sekolah sudah sepi. Kini hanya tinggal ketiga siswa yang tengah menjalani masa hukumannya dan mungkin beberapa siswa lain yang entah memiliki alasan apa mereka belum pulang. Jack melepas jas sekolahnya dan menggulung lengan kemejanya. Ia mulai mengepel di lantai satu. Emma berjalan membawa lap dan menyeret kursi.


Hari mulai sore, sudah tiga jam Emma dan Jack mengerjakan hukuman mereka. Tak terasa Emma sudah menyeret kursinya tak jauh dari Jack.


Dimana Brian?


Brian mengeluh. Sungguh sial baginya, ia diharuskan membersihkan toilet guru. Sudah kesekian kali ia menggosok-gosok lantai, tapi tak kunjung bersih. Ia yang memang sedang dalam kondisi tidak mood, menendang ember."Hoi! Apa yang kau lakukan? kau ingin hukumanmu kutambah?" tanya seseorang dan Brian pun menoleh.


"APA?" tanya Brian menatap kesal sang ketua OSIS, Melvin Stream.


"Sabarlah, kurasa kau masih terbawa suasana" kata Melvin mendekati Brian.


"Apa kau tidak ingin membersihkannya? Aku bisa saja menyuruh nenek menbersihkannya" tawar Melvin.


"Apa maumu?" tanya Brian menyadari maksud Melvin.


"Tidak sulit. Kami kekurangan anggota, aku hanya akan memintamu menjadi sukarelawan selama seminggu. Apa itu sulit?" tanya Melvin.


"Bisa lebih detail tidak? kurasa kau terlalu pelit, Ketua" jawab Brian.


"Setelah semesteran akan ada acara Festival sekolah. Jadi aku butuh orang untuk menulis proposalnya. Yah . . . aku meminta juga karena terpaksa mengingat sekretarisku babak belur dihajar Earlene karena tiga kali salah menulis proposal" kata Melvin menerangkan.


Brian menghela nafas. Mungkin solusi Melvin lebih baik, itu juga akan membuatnya sedikit bisa melupakan kejadian memukul Jack kemarin. Dan akhirnya ia menyetujui tawaran sang ketua OSIS itu. mereka berdua meninggalkan toilet guru dan menuju ke ruang OSIS.


******


Koridor lantai satu.


Jack mengepel dan Emma membersihkan jendela. Jack terus mengepel dengan tidak menyadari sekitarnya, hingga pada akhirnya tiba-tiba ia menabrak sesuatu. Yang ditabrak merasakan tubuhnya tak seimbang, tubuhnya terdorong ke lantai dengan seseorang di bawahnya.


BUK


Emma jatuh menimpa Jack. Rambut pirang bagaikan emas, harum vanilla yang tak asing, sungguh membuai Jack untuk sesaat. Mereka tetap seperti itu hingga Emma terbangun dan menyangga tubuhnya dengan kedua lengan mungilnya. Mata sapphire nan indah itu bertemu dengan sepasang mata Emerald, sang pemilik mata itu terbelalak.


Tanpa mereka sadari, sepasang manik berwarna violet memandang mereka dengan tatapan tidak percaya dan berkaca-kaca. Mata Chloe kembali berair, padahal ia berniat menemui Jack dan menanyakan apa yang terjadi agar pikirannya kembali lurus namun niatan itu pupuslah sudah. Kejadian yang dilihatnya sudah menjelaskan semuanya. Dengan gemetar, ia menyuarakan suaranya.


"Jack" panggil Chloe.


Yang dipanggil menoleh, ia segera mendorong Emma dengan tidak etisnya dan berdiri. Gadisnya sudah berdiri mematung dengan mata yang berderai air mata. Sungguh Jack tercengang melihatnya.


"Chlo, Aku bisa . . ." Kata Jack yang langsung dipotong.


"Sudah, tidak perlu dijelaskan, Jack. Terima kasih" kata Chloe dan pergi.


Jack mengejar Chloe. Tentu pemandangan itu tak luput dari mata Emma. entah kenapa lagi-lagi ia merasa kecewa. Ia segera menepis pemikirannya itu dan berusaha bangun, namun kakinya terasa sakit.


"Terkilir? Ah, mungkin saat jatuh tadi" kata Emma dalam hati.


Chloe terus berlari sampai di lobi sekolah, namun langkahnya terhenti karena Jack berhasil meraih tangannya. Isakan tangis gadis bersurai silver itu dapat terdengar jelas oleh Jack, tangannya yang lain mencoba meraih pundak gadis itu namun Chloe menepisnya, ia berbalik dan menatap mata Jack. Tatapan yang belum pernah ditunjukkan, selama ia mengenal gadis itu.


"Chlo.." panggil Jack.


"Aku tidak sengaja, aku terjatuh dan . . ." jelas Jack dan lagi-lagi dipotong oleh Chloe.


"Cukup Jack, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tidak ada yang perlu dijelaskan" kata Chloe.


"Tapi" kata Jack.


"Semua yang aku khawatirkan benar kan?" tanya Chloe.


"Tidak, Chlo, kau hanya salah paham" kata Jack mencoba menjelaskan.


"Salah paham? Tidak" jawab Chloe pasti seraya menepis tangan Jack yang menggenggamnya, Jack-pun terhenyak.


"Chlo..." panggil Jack lagi.


"Biarkan aku sendiri. Aku perlu waktu untuk mendinginkan hati dan kepalaku" kata Chloe.


"Aku mencintaimu" kata Jack kemudian, mendengar itu hati Chloe seakan mau runtuh, sudah kesekian kali ia mendengarnya namun kali ini berbeda. Perkataan Jack terasa lebih serius dari sebelumnya.


"Mencintai? Itu tidaklah cukup untuk sekedar mengobati sayatan yang baru saja kau buat, Jack" kata Chloe menyembunyikan tangannya yang gemetar.


Setelah mengatakan itu, Chloe pergi. Meninggalkan Jack yang berdiri mematung. Mungkin Jack shock mendapati perubahan sikap Chloe yang begitu drastis. Yang ia tahu, Chloe selalu berkepala dingin dan lembut disetiap tutur katanya. Namun kali ini, ia merasa tidak mengenali gadis itu. Tatapan gadis itu, sikap gadis itu mengingatkannya kembali pada gadis bersurai pirang yang dulu menepis tangannya dengan kejam.


Pergilah, aku tak mau melihatmu.


Enyah kau dari hadapanku.


Jack berjalan terhuyung-huyung dengan mengepalkan kedua tangannya. ia memukul dinding yang berada disampingnya.


"Sialan kau, Emm. Kau benar-benar membuatku muak! Tidak cukupkah kau menyiksaku? Kau bahkan membuat Chloe menangis. Ini semua salahmu. Kau harus menerimanya, Emm" geram Jack, dengan mata yang mengkilat ia segera melangkah menuju tempat dimana Emma berada.


******


Sementara Brian, ia dipekerjakan sebagai sekretaris pengganti. Betapa kesalnya ia ketika mendapati pekerjaan yang menggunung. Melvin memerintahkannya untuk menyelesaikannya sebelum petang, karena itu semua adalah dokumen yang belum dikerjakan sekretarisnya.


"Kau bilang menulis proposal?" tanya Brian menaikkan satu alisnya.


"Jangan terburu-buru, selesaikan ini dulu" jawab Melvin santai dan duduk sembari meminum teh dan cookies. Pemandangan yang sungguh tak pantas di contoh dari seorang ketua OSIS. Dengan terpaksa Brian mengerjakan tugasnya, bukan hal sulit untuknya mengingat otaknya yang terbilang cerdas. Dan inilah alasan Melvin mempekerjakannya.


"Oh ya, bagaimana dengan video yang kemarin? Kau sudah menyerahkannya ke Mr. Tedd dan teman sekelasmu?" tanya Melvin penasaran.


Brian tidak menjawab, ia pura-pura tidak mendengar dan memfokuskan dirinya dengan dokumen di tangannya. Merasa diacuhkan, Melvin menghela nafas dan mengulangi pertanyaannya.


"Jadi, apakah kau sudah membuktikan kalau Emma tidak bersalah?" tanya Melvin dan sukses membuat Brian menjatuhkan dokumennya.


"Aku belum bisa. Aku akan membuat Jack mengakui kesalahannya" jawab Brian "Tapi, bisakah kau membantuku, Ketua?" pinta Brian kemudian.


Melvin mengangguk. Akhirnya Melvin membuka Laptopnya, ia menghubungkan disk milik Brian dengan perangkatnya.


"Kirim video itu padanya" perintah Brian.


"Kau yakin ia akan merasa terancam dengan ini?" tanya Melvin.


"Katakan padanya untuk segera sadar sebelum ini tersebar, tak terkecuali pada kekasihnya" jawab Brian dengan nada berat.


Melvin hanya menyeringai mendengar jawaban Brian. Ia tidak menyangka kalau seorang Brian Petrenkov bisa berfikir seperti itu. Mungkin ini efek dari apa yang orang sebut sebagai cinta. Cinta memang sudah membutakan Brian saat ini. Yang ia inginkan adalah membalas Jack dan membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari seluruh siswa di sekolah. penderitaan yang sama seperti yang didapat Emma oleh ulahnya.


******


Jack melihat Emma yang tertatih-tatih menyeret kursi. Gadis itu sudah sangat kelelahan, keringat dingin membasahi rambutnya, bajunya sudah lusuh. Jack tak menghiraukannya dan tetap mendekat. Ditariknya tangan kanan Emma dengan kasar dan kain yang dipegang gadis itu terjatuh, Emma terkejut bukan main. Ditatapnya mata Jack perlahan, sungguh mengerikan. Ia mulai bergetar, tangan kirinya berusaha mengambil note untuk berbicara pada pemuda itu, namun Jack segera menariknya membuat note beserta penanya terjatuh. Tanpa ampun dan belas kasihan, Jack menarik tangan Emma dengan sangat kasar dan tidak manusiawi. Ia bahkan tidak memperdulikan Emma yang meringis kesakitan karena pergelangan kaki kanannya terkilir.


Gudang penyimpanan sekolah, tempat dimana Jack menyeret Emma. ia segera menarik gadis itu untuk masuk dan mengunci pintu dari dalam. Dihampaskannya Emma, ia bahkan tidak perduli kalau tubuh gadis itu terbentur peralatan yang ada disana. Emma meringis kesakitan, ia bergetar hebat, menduga apa yang akan Jack lakukan padanya. Emma mulai mundur, walau ia tahu di belakangnya sudah tidak ada tempat lagi, ia menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha mencari seseorang. Tapi mustahil, ia sadar kalau mereka hanya berdua, disini, di tempat gelap ini. tiba-tiba tangan yang besar merengkuh wajahnya.


"Hn? Apa kau ketakutan? Apa kau ingin berteriak?" tanya Jack dengan suara iblisnya.


"Jack, hentikan. Kumohon, lepaskan aku" pinta Emma dalam hati.


"Kau tidak bertanya kenapa aku membawamu kesini?" tanya Jack lagi.


"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Emma dalam hati.


"Karena kau perlu dihukum. Kau perlu sadar dari alammu, nona Michelle" kata Jack.


"Apa maksudmu?" tanya Emma dalam hati.


"Aku tidak tahu kau ini bodoh atau apa, tapi kau benar-benar menyebalkan. Kau membuatku muak!" teriak Jack.


Tepat saat itu juga ponsel Jack berdering. Sebuah pesan masuk, Jack mengeram kesal. Ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, dibukanya pesan itu. sebuah pesan video dari nomor tidak dikenal. Sebuah pesan singkat ikut menyertainya.


Sadarlah sebelum terlambat, sadarlah sebelum orang yang kau cintai mengetahui ini.


Jack tentu bisa menebak dari siapa itu. tapi yang ia pertanyakan adalah, bagaimana Brian memiliki sebuah rekaman? Setahunya di kelas tidak ada CCTV. Dibukanya video itu, ia bahkan lupa kalau Emma ada disana. Video terputar, matanya terbelalak dan tangannya pun lemas, dijatuhkannya video itu. mata Emma ikut melihat layar ponsel Jack, ia menyimak dengan seksama apa yang ada disana. matanya terbelalak, ia benar-benar tidak menyangkanya. Video berhenti, Emma mematung. Sang pemilik ponsel sadar, ia menyambar ponselnya namun terlambat, Emma menyaksikan semuanya. Ditatapnya Emma yang kini sudah tertunduk.


"Kenapa? Kau terkejut?" tanya Jack, ia hendak menyentuh pundak Emma dan gadis itu mendongakkan kepalanya. tatapan matanya sangat terluka dan tajam. Melihatnya saja membuat tangan Jack berhenti, tapi ia menyembunyikannya dengan mengepalkan tangannya erat.


"Kau mau meneriakiku? Lakukan saja, aku tidak akan melarangnya" kata Jack yang sudah kembali mendapatkan kesadarannya.


"Ah, aku memang yang melakukannya. Aku yang memasukkan ponsel Jeannette ke dalam tasmu. Aku sengaja melakukannya agar kau dibenci, bagaimana rasanya dibenci, nona?" tanya Jack.


"Ah, satu hal lagi. Kurasa tadi kau berlebihan berterima kasih padaku dan memelukku. Kau sadar dengan hal itu?" tanya Jack dan mulai menarik wajah Emma dengan kasar, Emma sudah tidak bisa membendung air matanya, benaknya berkecambuk, antara mencoba bersabar dan mencoba berteriak.


"Kau membuat Chloe marah padaku. Kau membuat Chloe menangis, kau mengacaukan segalanya. Chloe, gadis yang selalu kujaga perasaannya, gadis yang tidak kubiarkan dia terluka, tapi kau melukai hatinya. SADARKAH KAU ITU?" bentak Jack.


Emma bergetar, jika disuruh memilih, ia lebih memilih mati saat ini juga daripada harus merasakan sakit hati yang teramat sangat. Semua perkataan Jack sangat menyayat hatinya, bagai jutaan pedang yang menghunus hati kecilnya dalam sekali serang."Cukup, hentikan. Jack!" pinta Emma dalam hati.


"Kau pikir aku akan menghentikannya? Jangan mimpi! Kau bahkan tidak tahu kalau aku yang sengaja menyembunyikan gantungan busukmu itu!" kata Jack lagi.


"Apa?" mata Emma memanas.


Emma benar-benar sudah tidak kuat lagi. Tangisnya semakin deras. Gantungan itu, gantungan berharganya, dimata Jack hanyalah sebuah gantungan busuk?


Sebegitu tegakah ia padanya? Ia mencari gantungan itu bagai orang kesetanan dan berkutat di tumpukan sampah berjam-jam lamanya. Dan, dengan teganya ia mengatakan kalau ia sengaja menyembunyikannya? Bahkan menyebutnya sebagai gantungan busuk. Jika diingat kembali, Jack-lah yang menyarankan agar ia mencari di tempat pembuangan akhir. Ya, semua karena Jack. Emma benar-benar merasakan dadanya panas, bukan karena ia demam, melainkan sebuah perasaan kesal yang teramat sangat.


"Dengan bodohnya kau malah berterima kasih padaku? Kau buta? Nona Michelle?" kata Jack.


"Hentikan, Jack, hentikan!" kata Emma dalam hati, menahan emosinya.


Ditariknya Emma hingga gadis itu berdiri. Dicengkramnya wajah Emma hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Kau juga bahkan melupakan apa yang telah kau lakukan padaku, kau benar-benar kejam" kata Jack kemudian.


"Hentikan, jangan katakan apapun, aku sudah tidak sanggup mendengarnya" kata Emma dalam hati.


"Kau benar-benar tidak ingat? nona? Apa kau Amnesia? Huh?" teriak Jack dan menghempaskan Emma hingga kepala gadis itu terbentur ke lemari. Emma terkulai lemas, ia tak sadarkan diri. Jack hanya menatapnya dingin, kakinya melangkah pergi. Meninggalkan Emma di dalam ruang gelap sendirian. Dan, dengan teganya Jack mengunci ruang itu.


Tanpa siapa pun ketahui, darah segar mulai mengalir lewat pelipis Emma.


Jack berjalan menjauh dari ruangan itu. hari sudah sore, mungkin sudah terlalu lama ia menyiksa gadis itu. dilihatnya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 05.17 waktu setempat. Jack menyudahi hukumannya hari ini dan beranjak pulang. Di lobi, ia kembali teringat kejadian kemarin sore. Saat dimana hujan menyapa dan ia terjebak. Saat dimana Emma yang kotor dan berantakan memberinya payung dan perekat luka untuknya. Saat dimana tangannya dengan seenaknya menarik Emma agar tidak dibasahi oleh hujan, saat ia mendekap gadis itu, rambut pirang indahnya dan aroma vanillanya. Jack menyipitkan matanya, pandangannya marah, sayu dan terluka.


"Apakah kita harus benar-benar seperti ini, Emm? Aku tak bisa menjawabnya. Karena luka-luka tak tersembuhkan ini terasa sakit. Aku membuangmu dan membuangmu lagi, tapi tak peduli seberapa keras aku membencimu, aku kembali terisi olehmu. Ini seperti penyakit yang tak tersembuhkan yang tersebar di seluruh nadi dan pembuluh darahku" kata Jack dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2