
Jack mengepalkan tangannya, berusaha menepis gejolak yang ada di dalam dadanya dan memenuhi pikirannya. Diingatnya kembali memori masa lalunya. Memori yang membuatnya melupakan kenangan indahnya bersama Emma. Memori pahit yang telah melukai perasaan tulusnya serta membunuh hati kecilnya.
~ Flashback ~
Jack kecil kembali berdiri di depan sebuah rumah mewah milik keluarga Michelle. Ia mengenakan jaket tebal berwarna coklat tua, sarung tangan, dan membawa payung berwarna transparan. Semua itu ia gunakan agar dirinya bisa bertahan ditengah dinginnya hujan yang tengah melanda kota Allison. Matanya memandang lekat pintu rumah keluarga itu dengan tatapan sedih, bingung, dan bertanya-tanya. Tangannya ingin sekali menggapainya, namun apalah daya ia hanya bisa berdiri dibalik pagar. Berharap Emma akan keluar dan mengatakan semua baik-baik saja. Jack terus menunggu, ia tak gentar dengan udara dingin yang kembali menusuk-nusuknya seolah mengajaknya untuk berdendang. Walaupun giginya bergetar dan bibirnya sudah mulai membiru, ia tetap tidak pergi. Bahkan lampu-lampu disekitar sudah mulai menyala pertanda hari sudah mulai malam. Kata-kata Emma kembali terngiang di kepalanya.
"Pergilah, aku tak mau melihatmu"
"Enyah kau dari hadapanku!"
Mata Jack-pun berair, hatinya terasa sakit. Dengan tangan kecilnya yang gemetar, ia memegangi dadanya.
"Sakit, ini tidak terluka tapi aku merasa sakit. Emm, katakan padaku apa ini?" tanya Jack pada udara kosong di depannya.
Pandangan Jack mulai kabur, ia sudah menunggu lebih dari 3 jam tapi Emma tetap tidak keluar. Ia mulai berjongkok, menekuk lutut guna menghangatkan tubuhnya yang mulai memasuki suhu rendah. Perlahan, ia mendengar suara langkah kaki. Langkah kaki kecil yang sangat dikenalinya, dengan segera Jack berdiri. Ia mengusap matanya dan tersenyum pada gadis yang kini sudah berdiri dari balik pagar. Gadis itu kembali mengenakan mantel pink dan payung kuning. Matanya memandang tajam Jack, melihat itu Jack kembali bergetar. Kali ini, Jack berusaha untuk tidak takut. Kedatangannya kesini bukan untuk melihat ekspresi Emma, melainkan mendengar penjelasan Emma.
"Emma, kenapa?" tanya Jack dengan nada terluka.
"Kenapa apanya? Bukankah sudah kubilang untukmu enyah?" tanya Emma dengan dingin.
"Katakan apa yang terjadi, kau tidak benar-benar memintaku untuk enyah kan?" tanya Jack berusaha menelusur.
"Beraninya kau, kau pikir aku siapa? Kita memang pernah berteman, tapi sekarang tidak lagi. Jadi tidak ada alasan untukku menjelaskan padamu. Dan, aku memang tidak ingin melihatmu lagi" jawab Emma.
"Benarkah? Apa itu maumu?" tanya Jack dengan mata berkaca-kaca.
"Haruskah aku mengulanginya?" tanya Emma menaikkan nada bicaranya, membuat Jack tersentak.
Jack mengepalkan tangannya, ia menguatkan diri untuk mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangan Emma. Tapi seakan tahu apa yang dilakukan Jack, dengan kasar Emma menariknya. Membuat badan Jack terhempas ke pagar.
"Dengar, jangan pernah muncul di hadapanku lagi" ancam Emma.
Jack meringis kesakitan. Matanya tak sanggup untuk menahan cairan bening yang sedari tadi memenuhi pelupuk matanya. Akhirnya Jack menangis, melihat itu Emma tersentak, bahkan tanpa Jack ketahui bibirnya bergetar. Emma melepaskan tangan Jack dengan mendorongnya hingga membuat anak itu jatuh ke belakang dan terduduk, payung yang dipegangnya pun ikut terjatuh. Kini tubuhnya diguyur oleh dinginnya hujan. Emma berbalik meninggalkan Jack. ia berjalan dengan tubuh yang serasa kaku dan mati rasa, lidahnya kelu dan matanya sudah tak sanggup membendung air mata. Tapi tentu semua itu tidak diketahui oleh Jack. yang ia tahu kini adalah perasaan panas yang menjalar keseluruh tubuhnya bahkan mencapai ubun-ubunnya. Perasaan panas yang membuatnya terhangatkan di tengah cuaca dingin yang tengah melandanya beberapa saat lalu. Semua kenangannya tentang Emma hancur seketika, bagaikan kaca yang terkena hantaman dan hancur berkeping-keping, tak ada lagi yang tersisa.
"Emm. Apa semua yang telah kulakukan tidak ada harganya bagimu? Bahkan semua yang kita lalui bersama? Jadi selama ini kata 'teman' itu adalah bohong? Senyummu, tawamu, itu semua adalah kebohongan?" tanya Jack dalam hati.
Jack merogoh saku jaketnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Hadiah kecil yang ia janjikan pada Emma di musim panas lalu namun tidak berguna untuk sekarang. Atau lebih tepatnya sudah tidak berarti sekarang. Jack gemetaran, ia benar-benar merasa dikhianati dan tersakiti. Ia tidak tahu bagaimana ia harus marah. Ingin rasanya ia berteriak, namun tenggorokannya tercekat dan ia hanya bisa menangis ditemani dengan butiran salju yang tak henti-hentinya meledeknya.
~ Flashback End ~
"Kau melukai dan mengkhianatiku waktu itu, jadi terima saja apa yang aku lakukan padamu sekarang. Terima saja sampai aku bosan melakukannya" kata Jack dan berjalan meninggalkan sekolah.
******
Ruang OSIS.
Brian tepar setelah menyelesaikan setumpuk dokumen yang diberikan oleh Melvin. Ia merebahkan dirinya dan menghela nafas. Dengan santainya Melvin mendekati Brian dan menilai pekerjaannya.
"Lumayan" kata Melvin.
"Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Brian.
"Belum. Tolong bantu aku mengembalikan peralatan-peralatan disana ke gudang. Earlene meminjamnya bulan lalu tapi belum dikembalikan" pinta Melvin.
"Kau minta tolong atau menyuruhku, Ketua?" tanya Brian lemas.
"Keduanya" jawab Melvin.
"Kalau kau bukan ketua Osis, mungkin aku tidak akan mau melakukannya" kata Brian melirik peralatan yang dimaksud Melvin. Dan betapa terkejutnya ia, semua itu adalah peralatan masak dan olahraga. Dan lagi, peralatan itu sangat banyak, sungguh ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan sang wakil ketua OSIS dengan semua itu.
"Kembalikan saja. kuncinya ada di kotak di samping pintu gudang" kata Melvin.
"Biarkan aku istirahat, Ketua" pinta Brian.
"Terserah, ini sudah jam 05.28" kata Melvin dan berhasil membuat Brian terbangun. Dengan sigap, Brian mencari kardus dan memberesi peralatan-peralatan yang dimaksudkan Melvin. Ia melakukannya dengan cekatan, kalau tidak ia akan pulang terlambat dan dimarahi sang ibu. Bagaimanapun ibunya tidak boleh tahu kalau dirinya dihukum, atau ia akan jadi bahan ledekan sang ibu selama dua minggu kedepan. Brian permisi dengan memboyong kardus besar menuju gudang. Ia turun ke lantai satu, melewati koridor yang sudah dihiasi lampu. Ia berjalan dan tiba-tiba kakinya menendang sesuatu, matanya melirik. Alis Brian bertaut melihat benda apa yang ditendangnya. Sebuah buku note beserta penanya yang tak lain adalah milik Emma. Ia meletakkan kardus bawaannya dan memungut note itu. ia membolak-balik note itu, merasa heran. Tidak mungkin kalau Emma sengaja membuangnya kan? Melihat itu adalah note Emma, ia jadi penasaran dan membaca apa yang telah gadis itu tulis. Ia membaca tulisan Emma yang mengatakan terimakasih pada Jack karena sudah menemukan benda berharganya. Brian memiringkan kepalanya berusaha mencerna apa maksud dari benda berharga itu, karena kata selanjutnya mengatakan kalau Emma tidak mengingatnya. ia tetap memandangi note itu, angin berhembus melalui jendela yang sedikit terbuka, menyadarkan pemuda bersurai amber tersebut. Dilihatnya jam yang sudah menunjukkan pukul 05.39 PM. Dengan segera ia memasukkan note itu ke sakunya dan kembali memboyong kardus menuju gudang.
Kaki Brian telah membawanya ke gudang. Kini ia sudah berdiri di depan gudang, di samping kiri pintu ada kotak yang dimaksudkan oleh Melvin. Kotak dimana kunci gudang tersimpan. Memang gudang ini sering dibuka oleh para siswa guna meminjam peralatan. Dan agar tidak repot, kepala sekolah meletakkan kunci disana. Tangan kiri Brian membuka kotak itu, ia sedikit kesulitan mengingat tangan kanannya sedang ia gunakan untuk memboyong kardus besar. Akhirnya dengan susah payah ia berhasil mendapatkannya dan mulai membuka gudang. Dan betapa terkejutnya ia mendapati seorang gadis berambut pirang tengah terkulai lemas disana. Brian pun menjatuhkan bawaannya, dengan segera ia mendekati gadis itu.
"Emma, apa yang terjadi?" tanya Brian memegang kepala Emma guna menyandarkannya di pangkuannya, namun mata Brian membulat ketika tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan berwarna merah.
"Darah?" kata Brian tidak percaya, ia mulai panik. Diguncangkannya tubuh gadis yang kini berada di dekapannya. Namun tidak ada reaksi, mata Brian mulai berkaca-kaca.
"Emma, sadarlah! Sadarlah! Emma! Emma! Bangun, kubilang bangun! EMMA" teriak Brian
******
Brian duduk menunggu dengan gelisah di luar ruangan, ditemani dengan Melvin yang berdiri dengan mengayun-ayunkan salah satu kakinya, tanda ia juga gelisah. Ya, mereka tengah berada di rumah sakit Petrenkov Hospital, menunggu sang dokter keluar memeriksa Emma. Dokter keluar yang tak lain adalah sang pemilik rumah sakit, Mikhailo. Dengan segera Brian pun berdiri dan langsung menyambar sang ayah dengan rentetan pertanyaan.
"Bagaimana keadaannya, ayah? Tidak parah kan? Tidak perlu dioperasi kan? Dia tidak gegar otak kan? Lalu kapan ia sadar? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Brian bertubi-tubi.
Mikhailo menghela nafas, melihat putranya seperti ini membuatnya merasa menjadi ayah yang gagal. Karena sifat tenang yang melekat pada Brian selama ini jadi hancur digantikan kepanikan yang tiada tara. Benar-benar mirip dengan istrinya, tak heran mereka adalah ibu dan anak.
"Tenanglah, Brian, ayah sudah menanganinya dengan baik. dia akan baik-baik saja. mungkin akan segera sadar sebentar lagi" jawab sang ayah bijaksana.
"Dan, Brian . . . sebenarnya apa . . ." tanya tuan Mikhailo namun belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya, Brian sudah mendorong sang ayah ke samping. Dan masuk begitu saja ke ruang dimana Emma dirawat.
"Maafkan dia, om" kata Melvin.
"Harusnya om yang bilang seperti itu nak" keluh Mikhailo.
Sementara di dalam, Brian memegangi tangan kanan Emma yang masih terperban dan menempelkannya di pipinya. Ia merasakan tangan gadis itu yang dingin. Diusapnya tangan Emma dengan lembut berharap bisa menghangatkannya. Mata Brian sayu, dengan perlahan ia menurunkan tangan Emma dari pipinya dan mulai membuka perban yang melilit tangannya. dibukanya perban dengan perlahan, setelah itu matanya berkaca-kaca melihat luka di telapak tangan gadis itu. Hatinya terasa sakit, walaupun kini sudah kering, tetap saja itu sebuah luka yang akan berbekas. Ia kembali mendekap tangan itu dan cairan bening pun menetes membasahi pipinya yang penuh dengan plester.
"Emma" panggil Brian dengan suara parau.
Tiba-tiba tangan Emma mulai bergerak, merasakan hal itu Brian segera mengusap matanya. Perlahan Emma membuka matanya, dilihatnya langit-langit berwarna putih dan ia mencium bau obat-obatan, diedarkannya pandangannya dan ia mendapati Brian tengah duduk memandangnya dengan raut wajah yang khawatir.
"Brian? Dimana aku?" tanya Emma dalam hati."Emma, kau sadar?" tanya Brian.
Emma berusaha untuk bangun, namun sulit. Dengan perhatian, Brian pun membantu. Ia meletakkan bantal sebagai sandaran untuk Emma. Emma meringis, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit, dan heran kenapa ada perban di kepalanya. Ia menatap Brian seolah meminta jawaban.
"Aku menemukanmu pingsan dengan kepala berdarah di gudang, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Brian lagi.
"Gudang?" tanya Emma.
Emma teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat dimana Jack dengan kejam menyeretnya, menghempaskannya, mencaci makinya, meneriakinya, bahkan dengan teganya ia mengatakan sengaja memfitnahnya. Lebih parahnya Jack juga sengaja menyembunyikan gantungan berharganya dan membuatnya harus berkutat ditumpukan sampah demi mencarinya. Semua itu membuat hati Emma kembali sakit, perasaan panas mulai menjalari batinnya. Nafasnya mulai tidak teratur akibat menahan gejolak di dadanya. Melihat itu, Brian tambah khawatir.
"Emma?" panggil Brian dan sukses membuat Emma kembali sadar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Brian kemudian meletakkan tangannya di bahu Emma. pertanyaan Brian hanya dijawab anggukan oleh Emma. Brian mengulurkan sebuah buku note yang tak lain adalah milik Emma. Emma menerimanya dengan senang, ia bersyukur notenya tidak hilang. Dibaliknya note itu, ia membaca lagi kata-kata dimana ia berterima kasih pada Jack karena sudah menemukan gantungannya. Melihat itu, Emma merasa kecewa. Ia merasa sangat bodoh, betapa bodohnya ia karena sudah mau dipermainkan oleh anak sulung bermarga William itu. Namun tiba-tiba ia tercengang, seperti guntur yang tiba-tiba menyambar langit, guntur juga menyambar alam pikirannya.
"Tunggu. Tempat ini? Rumah sakit?" tanya Emma tidak percaya.
"Halo, Emma. kau baik-baik saja?" Brian mengulangi pertanyaannya.
Dengan sigap Emma menyingkap selimutnya, menurunkan tangan Brian yang sedari tadi memegang bahunya, dan menurunkan kakinya. Ia harus bergegas keluar, rumah sakit adalah tempat yang berbahaya. Emma kembali ke mode depresinya, matanya bergetar. Namun, baru berdiri saja, Emma sudah tumbang. Matanya terpejam, bersiap tubuhnya akan menghantam lantai, namun sebuah tangan kekar nan lembut berhasil menangkapnya. Ia membuka mata, dan menatap manik charleston nan indah milik pemuda bersurai amber itu.
"Brian?" panggil Emma dalam hati.
"Dasar, kau masih lemah. Jangan bertindak yang aneh-aneh dulu" kata Brian dengan sabar.
"Lepaskan" pinta Emma dan ia pun mendorong Brian, hingga Brian terjengkang kebelakang, betapa terkejutnya pemuda itu dengan sikap Emma.
"Emma, apa yang kau . . ." tanya Brian dan tertahan, dilihatnya Emma yang susah payah berdiri. Ia berdiri dengan berpegangan pada ranjang. Ya, kakinya memang lemas sangat lemas. Namun Emma berfikir untuk segera keluar dari tempat ini, tempat dimana ia pernah dipenjara. Dan ia tidak ingin hal itu terulang untuk yang kedua kalinya. Ia berjalan dengan merambat-rambat benda apapun yang bisa ia jadikan pegangan. Hingga ia berpegangan pada meja tray yang berisi obat-obatan. Tray itu tak sanggup menahan tubuh Emma, dan terguling. Membuat Emma terjatuh pula dengan botol obat yang menghujaninya. Brian mematung melihatnya, ia begitu shock dengan apa yang dilihatnya.
"Apa Emma sedang dalam mode depresinya?" batin Brian bertanya.
Ingatan tiba-tiba masuk ke dalam kepala Emma. Emma merakasan sakit yang teramat sangat, ia memegangi kepalanya.
~ Flashback ~
Emma remaja (ketika ia masih berada di junior high school tingkat pertama) sedang memandang jauh pemandangan di luar sana. Ia tengah berada di mobil yang akan membawanya ke lokasi syuting. Lokasinya berada di bukit di daerah Marrons, untuk sampai sana ia harus melalui perjalanan dengan jalan yang berjelok-kelok. Sang supir, Daniel melirik nona mudanya lewat kaca spion. Melihat tatapan Emma, ia bisa menyimpulkan kalau pikiran nona mudanya itu tidak ada di tempatnya. Sudah sering ia melihat hal seperti itu, namun kali ini sedikit berbeda.
"Hei, Daniel" panggil Emma.
"Ya, nona" jawab Daniel.
"Apa menurutmu aku ini kejam?" tanya Emma."Maksud anda?" tanya Daniel tidak paham.
"Sudah jutaan kali aku memikirkannya, tapi pada akhirnya kesimpulannya aku lah yang bersalah. Aku melukainya, aku menyakitinya bahkan aku menghancurkannya. Aku kejam kan?" kata Emma dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku selalu mengingatnya setiap aku memejamkan mata. Aku merasa sangat sakit, sangat-sangat sakit. Tapi lidahku kelu waktu itu, aku bahkan menyuruhnya untuk enyah" lanjut Emma, cairan bening bak permata menetes membasahi pipi pualamnya.
"Aku ingin sekali melupakan kenangan pahit itu. Tapi seberapa keras aku mencoba, aku malah semakin mengingatnya, dan itu membuatku serasa ingin mati" kata Emma dengan suara seraknya.
Daniel hanya menyimak perkataan Emma, dadanya ikut sesak. Pasalnya Emma selalu mengatakan itu padanya dan tidak pada Virginia. Daniel tetap melajukan mobilnya melalui tikungan yang berkelak-kelok. Dari arah berlawanan, sebuah truk melaju dengan tidak terkendali. Si pengendara truk membunyikan klakson, berusaha memberitahu pengendara di depannya untuk menyingkir. Namun jalan sangat sempit. Daniel panik, ia membelokkan setir berusaha menghindar. Emma sadar dari alamnya, ia melihat ke depan dan matanya membulat, giginya bergetar. Lidahnya kelu dan suaranya tercekat di tenggorokan. Si pengendara truk tak kalah panik, ia menginjak-injak rem dan berdoa agar truknya bisa berhenti sekarang juga. Daniel membelalakkan mata, ia mengerem mobilnya dan membanting setir. Suara decitan ban menghiasai jalanan, truk mulai melambat, namun karena itu adalah turunan. Maka truk ...
BRAKKK
Truk menabrak bagian belakang mobil yang dikendarai Daniel. Mobil terdorong sejauh 2 meter. Emma berteriak dan terlempar keluar dari mobil. Ia terlempar dengan tidak etisnya dan terguling-guling di jalanan sejauh 10 meter. Daniel terkulai tak berdaya di kursi depan, darah menetes di dahinya. Si pengendara truk langsung turun, dibangunkannya Daniel, membuat ia berhasil mendapatkan kembali kesadarannya, namun matanya berat. Ia mendongakkan kepala melihat pengendara truk yang berteriak dan menunjuk-nunjuk jalanan. Daniel mengedarkan pandangannya mengikuti arah tunjukan pengendara truk, betapa terkejutnya ia melihat nona mudanya bersimpah darah di luar sana.
Emma terkulai tak berdaya dengan tubuh yang lecet dan penuh dengan darah. Bahkan kepalanya mengeluarkan cukup banyak darah yang menghujani jalanan aspal disana. Darah deras terus mengalir, sayu-sayu ia bisa melihat pengendara truk dan Daniel yang tertatih-tatih berlari ke arahnya. Emma mulai memejamkan matanya.
"Aku ingin sekali melupakannya" gumam Emma tepat sebelum kesadarannya benar-benar hilang
~ Flashback End ~
Rasa sakit di kepala Emma sudah berada pada batasnya. Ia menegang, dan gemetar hebat. Tubuhnya mulai lemas, tak kuat dengan apa yang dirasakan. Dan Emma pun pingsan dengan meneteskan air mata.
"Siapa dia?" tanya Emma dalam hati.
Brian sadar dan segera mendekati Emma. didekapnya gadis itu erat, dilihatnya air mata yang membasahi pipinya. Dan dengan lembut ia mengusapnya.
"Emma" panggil Brian dengan suara parau. Hatinya serasa teriris melihat Emma seperti itu, ia tidak tahu seberapa berat penderitaan gadis itu hingga membuatnya sampai seperti ini. ingin sekali ia menghukum orang yang menyebabkan semua ini, tapi apalah daya. Ia tidak tahu nenahu akan seluk beluk gadis itu. yang ia tahu hanyalah fakta kalau Emma adalah mantan idol dan Emma tidak tinggal bersama ayahnya. Ia bahkan tidak tahu alasan Emma tidak tinggal dengan ayahnya dan dimana Emma tinggal sekarang.
Mendengar keributan di dalam, Melvin pun masuk. Ia berteriak memanggil dokter dengan paniknya. Mikhailo yang kebetulan masih berada tak jauh dari ruang Emma segera berlari ke arah sumber suara.
Emma terbaring lemas. Brian berdiri menatapnya dengan pandangan khawatir dam bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak kuat melihat Emma yang terus-terusan seperti itu. Melvin memandang Brian dan Emma bergantian. Akhirnya ia meninggalkan ruangan, pamit undur diri karena ia tidak ingin menggangu. Kini tinggallah Brian dan sang ayah yang sama-sama menatap gadis bersurai pirang.
"Brian, kurasa ayah harus memberitahumu" kata tuan Mikhailo membuka percakapan.
"Emma, tidak tinggal dengan orang tuanya. Kau tahu kan kalau ia mantan idol? Ibunya meninggal ketika ia masih kecil kemudian ia pindah bersama ayahnya ke Allison" kata tuan Mikhailo. Brian menyimaknya dengan baik.
"Emma, ia mengalami Depresi akut. Mayor Depressive Disorder. Kau tahu itu kan? Ayah tahu kau membaca buku ayah beberapa waktu lalu. Dan alasan kenapa ia seperti itu adalah . . ." kata Mikhailo, ia menghela nafas sejenak.
"Ayahnya" lanjut Mikhailo.
Mata Brian membulat sempurnya. Brian kembali mengingat dimana Emma menulis note yang isinya . . .
Benar, luka seperti ini tak ada apa-apanya dibanding apa yang pernah kudapat.
Brian menggenggam erat tangannya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan ayahnya katakan selanjutnya. Tapi ia tidak menyangka kalau ayah Emma tega melakukan itu pada putrinya. Bahkan anak kecil pun tidak tega untuk membunuh seekor lalat. Sedangkan ini, ayah. Ayah mana yang benar-benar gila melakukan kekerasan pada putrinya? Sungguh itu membuat parameter amarah Brian memuncak. Namun, ia merasa ada yang ganjil. Dari mana ayahnya tahu? Brian memandang ayahnya, matanya menelusur. Ia menerka-nerka, apakah sang ayah mengenal ayah Emma?
"Darimana ayah tahu semua itu?" tanya Brian dengan menekankan setiap katanya.
"Azzury yang mengatakannya" jawab ayah Brian jujur, tapi tidak sepenuhnya jujur karena ia tidak mengatakan pada putranya kalau ia mengenal Sebastian.
"Tante Azzury istri om Mark?" tanya Brian tidak percaya, ia lagi-lagi terkejut mendengar fakta baru. Ingatannya mulai tersambung satu persatu, dari hari pertama Emma masuk. Perlakuan kasar Jack pada gadis itu saat itu bahkan sampai sekarang ini, alasan Jack membenci Emma adalah. Karena Emma tinggal serumah dengannya? Brian merasa sesak, dadanya panas, sangat panas. Ia ingin sekali berteriak dan mencaci-maki semua yang sudah menyebabkan Emma menderita. Namun ia sadar, kalau ia harus tetap tenang.
Pintu terbuka dengan kerasnya. Seorang wanita paruh baya berambut karamel masuk diikuti pria paruh baya berambut azure. Siapa lagi kalau bukan...
"Tante Azzury? Om Mark?" tanya Brian
Tuan Mark tersenyum menjawab Brian, ia mendekat. Dan dari belakang ada Nathalie yang ikut masuk ruangan dengan wajah sangat khawatir. Nyonya Azzury dengan paniknya mendekati Emma dan memeluknya. Ia sudah bersimpah air mata.
"Emma ku sayang, apa yang terjadi? Tante sangat khawatir" kata nyonya Azzury.
"Dia sudah kutangani. Lukanya baik-baik saja. ia juga sudah kuberi obat penenang" jelas tuan Mikhailo.
Mark melirik Brian, wajah anak itu juga sama lebamnya dengan Jack. Ternyata memang benar kalau mereka berkelahi. Tuan Mark tidak habis pikir, apa yang mereka debatkan sampai wajah mereka seburuk ini? sungguh ia sama sekali tidak mengerti.
"Tapi, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" tanya nyonya Azzury pada kedua penyandang marga Petrenkov itu.
Brian menjelaskan kronologisnya. Semua yang berada di ruang itu terkejut. Tapi tidak dengan sosok yang tengah bersandar di samping pintu masuk. Ia memainkan ponselnya menggunakan tangan kanan dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Ia sedikit gelisah, bukan karena mengkhawatirkan Emma, melainkan menunggu sebuah pesan. Di dekatnya ada Melvin yang tengah duduk sambil menatapnya penuh tanda tanya. Merasa diamati, Jack berhenti memainkan ponselnya dan menatap balik Melvin.
"Kenapa?" tanya Jack.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Melvin.
"Apa maksudmu?" tanya Jack tidak mengerti.
"Kau yang memfitnahnya kan?" tanya Melvin.
"Hoh? Jadi kau yang membantunya ya, ketua. Aku tidak menyangka kau mau diperalat olehnya" sindir Jack.
"Membantu mencari kebenaran tidak ada salahnya" jawab Melvin.
Jack hanya tertawa dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya kemudian diam. Ia sedang tidak ingin berdebat. Dadanya masih bergemuruh, diliriknya kembali ponselnya. Namun tidak ada satu pun pesan yang masuk. Ya, pesan dari Chloe. Setelah kejadian tadi, Jack mengirim banyak pesan guna menjelaskan semuanya pada kekasihnya itu. namun, tak ada balasan, berkali-kali ia menelfon juga tidak diangkat dan teralihkan ke kotak suara. Itulah alasan kenapa ia tidak mau bicara lebih pada Melvin saat ini. Toh kalau ia melakukannya, maka mungkin akan berujung sama seperti Brian. Melvin hanya menatap datar Jack kemudian menghela nafas. Tidak sepantasnya ia ikut campur dalam masalah Jack dan Brian lebih jauh. Tiba-tiba ponsel Jack bergetar dan sebuah pesan masuk. Tertanda Chloe.
From : Chloe
To : Jack
Kutunggu kau besok minggu di taman.
__ADS_1
Membaca itu, Jack tersenyum tipis. Akhirnya ia diberi kesempatan untuk menjelaskan, tapi setelah diingatnya kembali, bukannya memang mereka berjanji akan pergi minggu ini? Jack pun melebarkan senyumnya. Ia merasa geli karena sikap Chloe yang *tsundere ?
Melvin tak ambil pusing dan pergi, kali ini ia benar-benar pergi. Karena hari sudah malam dan dia akan terlambat makan malam kalau tidak pulang sekarang. Sesaat kemudian, Brian dan Nathalie keluar. Melihat Jack, senyum Brian yang merekah ketika berbicara pada Nathalie jadi hilang seketika. Ditatapnya Jack dengan tajam dan tentu dibalas dengan tatapan yang tajam pula.
"Bukan kau yang melakukannya kan?" tanya Brian.
"Kau menduhku? Atau sedang ingin menyidangku?" tanya Jack.
"Kau tadi di lantai satu. Pasti kau melihat Emma. tidak mungkin tidak kan?" selidik Brian.
"Aku memang melihatnya. Tapi bukan kewajibanku mengamatinya terus layaknya aku ini bodyguard kan?" jawab Jack.
"Emma ditemukan di gudang yang terkunci dengan keadaan seperti itu. tidak mungkin dia sengaja mengunci dirinya kan?" selidik Brian berusaha melihat kebohongan di mata Jack.
"Cih! Kau berusaha menyudutkanku? Atau sedang ingin membuatku berkata iya sesuai apa yang ingin kau dengar?" tanya Jack merasa tidak suka. Jack mendekati Brian dan mulai berbisik di telinganya.
"Dengar ya, Brian Petrenkov. Aku tidak akan pernah mengatakan apa yang ingin kau dengar meskipun kau memiliki bukti untuk menyeretku. Karena semakin kau seperti ini, maka aku akan semakin jauh bertindak. Camkan itu!" bisik Jack seraya menyeringai bak iblis.
Mendengar percakapan keduanya, Nathalie mengerutkan dahinya berusaha mencerna apa yang kakak dan temannya itu bicarakan. Namun apalah daya, ia tetap tidak bisa mengerti apa yang tengah mereka bicarakan. Merasa atmosfer terasa berbeda, Nathalie memberanikan diri untuk bicara.
"Hmm, kak Brian. Bukankah kita akan ke restoran?" tanya Nathalie memecahkan ketegangan. Brian sadar, ia membalikkan badan dan tersenyum ramah pada Nathalie dan mengelus puncak kepalanya.
"Iblis kedua" kata Nathalie dalam hati. Namun ia menutupi apa yang dia rasakan dengan membalas senyuman Brian dengan ramah.
"Maaf, aku lupa. Ayo kita pergi, perutku juga sudah mulai lapar" kata Brian meninggalkan Jack. sementara yang ditinggalkan hanya tersenyum sinis.
******
Esoknya di Chorea Academy.
Seorang siswi berambut beryl dan sedikit bergelombang berjalan mengendap-endap menuju loker sepatu. Ia menoleh kesana kemari memastikan keadaan aman dan tidak ada yang melihatnya. Ya, karena ini masih pagi. Bahkan sangat pagi, ia menghela nafas berat dan menuju sebuah loker sepatu bertuliskan Emma Michelle 1-5. Siswi itu membuka loker tersebut dan melihat sepatu Emma masih disana. Tanpa ragu ia meletakkan paku pinus di sepatu Emma. hingga tiba-tiba suara seseorang menginterupsinya.
"Apa yang kau lakukan, Cheryl?" tanya seseorang. Siswi yang bernama Cheryl itu spontan membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya mendapati sosok itu. Pangeran tercintanya berdiri dengan gagahnya tepat di hadapannya. ia sempat merasakan senang, namun perkataan Darren selanjutnya membuyarkannya..
"Apa itu di tanganmu?" tanya Darren serius. Cheryl sadar, ini bukan saatnya senang melainkan malapetaka baginya. Ia mulai gemetaran dan gugup. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana ia harus menjawab Darren?
"Anu, Darren . . ." Belum sempat Cheryl melanjutkan perkataannya, Darren dengan sigap meraih tangan Cheryl dan membukanya. Sekotak kecil paku pinus berada di genggaman tangan gadis itu. Sontak mata Darren mengkilat, ditatapnya Cheryl dengan tajam.
"Jelaskan, apa ini? kenapa kau meletakkan ini di loker sepatu Emma?" tanya Darren berhasil membongkar apa yang dilakukan Cheryl. Keringat dingin mengucur di dahi Cheryl, Darren yang sekarang sangat menakutkan baginya.
"Itu, a-aku ha-nya" jawab Cheryl terbata-bata.
"Dengar, Cheryl. Emma adalah temanku, tak akan kubiarkan siapa pun menyakitinya. Karena dia sudah sering tersakiti. Jadi, jangan coba-coba kau melakukannya atau aku akan membencimu" kata Darren memperingatkan, diraihnya kotak kecil berisi paku pinus dari tangan gadis itu dan meninggalkannya. Cheryl terduduk lemas, matanya berkaca-kaca. Ia melakukan ini untuk memperingatkan Emma, tapi sekarang Darren malah membencinya.
"Darren. Maafkan aku, kau tidak akan membenciku kan? Aku . . . aku akan meminta maaf padanya. Jadi Darren tidak akan membenciku kan?" tanya Cheryl.
Darren berhenti sejenak. ia membuang kotak kecil di genggamannya ke tempat sampah. Diliriknya Cheryl dan ia pun menghela nafas.
"Bangun lah, apa kau tak malu nanti kalau meminta maaf dengan rok yang kotor?" tanya Darren dan berlalu. Mendengar itu, senyum Cheryl pun merekah. Dengan segera ia mengusap matanya dan mengambil semua paku yang ada di sepatu Emma dan dengan baiknya ia membersihkan loker itu bahkan mengusap sepatu Emma dengan sapu tangannya.
"Yosh! Aku akan membersihkan ini sampai mengkilap agar Emma senang dan Darren tambah perhatian padaku" kata Cheryl seraya senyum-senyum sendiri.
"Mungkin aku harus mendekati Emma. dengan begitu aku bisa lebih dekat dengan Darren" kata Cheryl dalam hati.
Darren berjalan di sepanjang koridor lantai satu. Ia berhenti sejenak dan menatap keluar. Angin pagi berhembus meniup wajah tampannya dan Darren pun tersenyum mengingat kejadian tadi. Ia tidak menyangka kalau Cheryl ternyata gadis yang mudah dipengaruhi.
Di luar gerbang sekolah. Jack turun dari mobil diikuti Emma dan Nathalie. Entah kenapa kali ini Jack tidak menolak diturunkan di depan sekolah. Mungkin karena hari masih terlalu pagi dan sekolah masih sangat sepi. Nathalie memegang tangan Emma, yang dipegang menoleh seraya tersenyum dan mengusap pucuk kepala Nathalie dengan tangannya yang lain. Ia berusaha mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Jack mendengus melihatnya dan berlalu meninggalkan mereka semua.
"Nona Emma. Jangan memaksakan diri, anda lebih baik istirahat hari ini" pinta Hendy.
"Tidak. aku harus ke sekolah. aku sudah baik-baik saja. jangan khawatir" tulis Emma.
"Baiklah, tapi nanti saya akan menjemput" kata Hendy.
"Tidak usah repot, aku bisa pulang bersama teman-teman. Kau kan sibuk, Hendy" tulis Emma yang malah jadi khawatir dengan Hendy.
"Hei, Kak Emma. Kalau ada yang terjadi jangan segan-segan menghubungiku. Aku akan kesana" kata Nathalie dan dijawab senyuman oleh Emma.
Nathalie dan Emma berpisah. Emma berjalan perlahan memasuki sekolah. ia sudah tidak melihat Jack. Sekarang entah kenapa hanya mendengar nama Jack saja dadanya kembali memanas teringat kejadian di gudang. Tanpa sadar Emma sudah berada di depan lokernya, betapa terkejutnya ia karena lokernya menjadi sangat bersih dan sepatunya sangat mengkilap bahkan tak ada satu noda atau debu. Emma sedikit heran, tapi ia tidak mempermasalahkannya.
Setelah mengenakan sepatu dalam ruangan, Emma berjalan kembali menuju kelasnya. Kelas 1-5. Digesernya pintu depan kelasnya, ia masuk dan mendapati Jack sedang duduk sambil menopang dagu dan menatap keluar jendela. Lagi-lagi perasaan yang sama mulai menghinggapi Emma. Dadanya panas, perlahan nafasnya mulai tidak stabil dan naik turun. Ditatapnya Jack tajam, sedangkan yang ditatap tentu peka. Ia merasakan ada orang yang menatapnya dan menoleh. Emma berjalan menghampiri bangkunya, matanya tak lepas menatap Jack dengan berbagai perasaan yang berkecamuk. ia duduk dan berusaha menenangkan diri dengan menghela nafas berkali-kali. Jack tersinggung, ia berdiri dan mendekati Emma. ditendangnya meja Emma.
"Oi!" kata Jack dan Emma-pun tersentak. Dengan segera Jack mencengkeram wajah Emma dan membuatnya menatapnya lagi dan ia pun mendekat.
"Heh? Kau mulai berani rupanya. Apa kau ingin mengatakan kalau kau ingin melawanku?" tanya Jack dengan seringaian iblisnya.
"Apa yang kemarin belum cukup? Kau mau aku melakukan yang lebih ekstrim?" tantang Jack.
"Lepaskan aku!" teriak Emma dalam hati.
"Bodohnya kau, sekolah masih sepi. Apa kau tak pernah membayangkan apa yang bisa kulakukan padamu disaat seperti ini?" goda Jack tersenyum mengerikan.
Di luar berdirilah Darren. Ia yang semula hendak masuk ke kelas, mengurungkan niatnya dan memilih mendengarkan. Dan betapa terkejutnya ia mendengar semua kata-kata kasar dari mulut Jack yang berhasil ia keluarkan dengan mulusnya tanpa hambatan seolah tidak mengindahkan apa yang dirasakan oleh Emma. Darren yang orang lain saja gemetaran mendengarnya, apalagi Emma. ia tak habis pikir kalau Jack bisa berbuat seperti itu.
"Apa maksudnya? apa dia sudah gila?" tanya Darren dalam hati.
Darren bertanya-tanya, tapi tiba-tiba ia mendapat klik di otaknya. Tentang wajah lebam Jack dan Brian kemarin. Ia membulatkan mata, menyadari apa yang terjadi.
"Jadi, karena Jack seperti itu maka Brian lepas kendali dan memukulnya? Cih! Dasar Jack, brengsek sekali dia. Memperlakukan perempuan seperti itu" kata Darren dalam hati kemudian.
Pintu terbuka. Spontan Jack melepaskan Emma dengan menghempaskannya. Kali ini Emma mampu menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kalau Jack sekarang sudah berani blak-blakan menyiksanya. Dadanya sesak dan terasa semakin panas, membuat matanya semakin berair. Darren masuk dengan tampang innocent-nya.
"Yo! Jack, Emma, pagi" sapa Darren berusaha memecahkan atmosfer tegang yang beberapa detik lalu mengalir.
"Emma, ada apa dengan kepalamu? Apa kau terjatuh?" tanya Darren.
Emma memegangi kepalanya. ia ingat saat Jack menghempaskannya dan membuat kepalanya terbentur lemari. Namun, tidak mungkin ia menjawab seperti itu pada Darren. Ini masalahnya, ia tak ingin Darren ikut terseret. Maka Emma hanya mengangguk dan tersenyum. Dapat Darren lihat di ujung mata gadis itu ada sisa tangisan. Tanpa siapa pun ketahui, Darren menggigit bibir bawahnya.
"Begitu ya, lain kali hati-hati ya, Emma" kata Darren senormal mungkin.
Tiba-tiba.
"EM" teriak Mugi dengan suara kecil nan melengkingnya. Ia menghambur ke arah Emma dan memeluknya.
"Apa yang terjadi, kenapa kepalamu dibalut perban? Apa kau terjatuh?" tanya Mugi yang dijawab anggukan oleh Emma.
"Ih, Em. Kau ini ceroboh sekali, lain kali hati-hati. Jantungku hampir copot melihatmu seperti ini" kata Mugi dan berhasil membuat Emma mengembangkan senyumnya.
Jack kembali duduk, begitu pula dengan Darren yang duduk pada tempatnya. Bibirnya sudah terbuka, tapi suara Luke menghentikannya. Ia sadar kalau ia tidak seharusnya ikut campur pada masalah Jack dan Emma, namun Jack kali ini sangat kelewatan. Itulah yang dipikirkan oleh Darren. Ia hanya menghela nafas, ia akan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.
"Wuah, Emma. apa yang terjadi?" tanya Luke dengan pertanyaan yang sama, ia bahkan meraih kedua tangan Emma bak Princess.
"Em. Kau pasti kesal untuk menjawab si mesum ini. Iya kan?" singgung Mugi pada Luke dan langsung mendapat tatapan maut dari pemuda itu.
"Si mesum" Kata Mugi dengan santai.
Tepat saat itu muncul lah empat siku-siku di dahi Luke. Ia bersiap melontarkan ejekan pada Mugi. Namun sebuah tangan kekar berhasil mendarat di bahu Luke, tentu Luke kesal bukan main acara merayu-nya digagalkan.
"Apa lagi?" tanya Luke setengah berteriak.
Brian berdiri sambil menatap Luke dengan pandangan membunuh. Sorot matanya seolah mengatakan.
'Lepaskan tanganmu itu dari Emma'
Luke merinding, bulu kuduknya berdiri semua. Dengan gagap akhirnya ia melepaskan Emma disertai dengan perasaan kesal. Tapi mau bagaimana lagi, ia takut dengan ketua kelas mereka. Melihat itu Mugi dan Emma pun tersenyum, bahkan Mugi menertawakan Luke dan membuat pemuda itu tersipu saking malunya. Brian kembali ke dirinya dan ikut tersenyum, sebenarnya ia tidak bermaksud menakuti Luke, tapi melihat itu entah kenapa ia merasa kesal dan tanpa sengaja menatap Luke seperti tadi.
"Tunggu, apa aku cemburu?" tanya Brian tidak percaya.
Emma yang menyadari perubahan mimik Brian, jadi khawatir. Baru saja Brian tersenyum, sekarang sudah diam mematung dengan raut wajah yang bingung. Ditulisnya note untuk Brian.
"Kau baik-baik saja?" tanya Emma.
"Apa? Hahaha. Aku baik, Emma" jawab Brian seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
******
Matahari mulai bergerak menuju tengah. Hari sudah mulai siang, kini sudah tepat pukul 12.00. Bel berbunyi, jam istirahat. Para siswa merebahkan diri dan melepas penat. Brian berdiri dan keluar kelas begitu saja. membuat sepupunya, Nick terheran. Ia bingung dengan sikap Brian akhir-akhir ini, sungguh pria yang sedang jatuh cinta itu sulit ditebak. Nick pun menghela nafas. Selang beberapa menit sejak kepergian Brian, Jack mendapatkan pesan, tertanda dari Brian
From : Brian
To : Jack
Kau yakin tidak akan mengakuinya?
From : Jack
To : Brian
Sudah kubilang kan sebelumnya, aku tidak akan mengatakan apapun.
From : Brian
To : Jack
Kau yakin tidak akan meyesalinya?
From : Jack
To : Brian
Jangan remehkan aku, aku Jack William. Camkan itu, Petrenkov!
Jack menyeringai menatap ponselnya.
Di ruang pusat server, Brian duduk menatap lekat laptop milik Melvin dengan tangan menggenggam ponselnya erat. Ia tidak menyangka kalau Jack akan seberani itu. Melvin mendampinginya atau lebih tepatnya mengawasi keadaan takut Earlene masuk. Atau akan timbul masalah baru karena mengizinkan Brian mengakses jaringan. Dengan cekatan, Brian memulai aksinya. Ia meng-hack jaringan dan mengirim video kebusukan Jack ke seluruh siswa di sekolah. Video yang berdurasi kurang dari 5 menit itu dengan cepat langsung terkirim ke seluruh siswa di sekolah.
Sekolah heboh. Mereka mendapatkan video yang sama secara bersamaan, dan mereka bingung apa maksudnya. sebagian mengacuhkannya dan sebagian berkomentar kalau Jack paling hanya jahil saja. Ya, mereka mengenal siapa yang ada di video itu, siapa yang tak kenal Jack William di sekolah ini? tapi berbeda dengan siswa di kelas 1-5. Apalagi rata-rata dari mereka masih belum keluar kelas. Betapa terkejutnya mereka, apalagi Jeannette. Ia tidak menyangka Jack melakukan itu pada Emma. Mugi, Darren, Luke menganga lebar-lebar. Sedangkan Jack, ia hanya menopang dagu saja, tak mengindahkan apa yang tengah seisi kelasnya bisikkan. Emma yang tidak memiliki ponsel hanya menerka-nerka apa yang mereka dapat, tapi melihat sekilas dari layar teman sekelasnya, ia tahu kalau itu adalah video yang dilihatnya kemarin sore di layar ponsel Jack. Seisi kelas menatap dingin Jack, menatapnya seolah ingin membunuhnya saat itu juga. Dan dengan amarah yang menggebu, mereka mendekati Jack. tak terkecuali Mugi, Darren dan Luke.
"Apa maksudnya ini, Jack?" tanya salah satu teman sekelasnya, ia adalah teman Jeannette.
"Hn? Apa memangnya?" tanya Jack dengan wajah innocent. Sungguh, Darren ingin meninjunya saat itu juga, namun berhasil ditahan oleh Luke.
"Kau yang melakukannya? Sungguh! Kami tidak habis pikir. Teganya kau membuat Emma difitnah dan terkena hukuman guru" tegur yang lain emosi.
"Kau tega sekali, Jack. Keterlaluan" kata Darren.
"Aku kecewa padamu" kata Luke tak kalah emosi.
"Dasar kurang ajar!" seru Mugi.
"Bisakah tidak menyebutku keterlaluan? Kalian bahkan lebih keterlaluan dariku" jawab Jack santai.
"Apa?" tanya yang lain tidak paham.
"Kalian harusnya berterima kasih padaku. Karena yang aku lakukan hanyalah menguji pertemanan kalian. Bahkan kalian lebih kejam dan keterlaluan, tanpa menindak lanjuti kalian mengklaim Emm sebagai pelakunya dan mencibirnya. Ah, kalian juga menatapnya seperti kalian menatapku sekarang ini. Jadi apa hanya aku yang bersalah disini?" jelas Jack dengan menantang.
Darren sudah mengepalkan tangannya. di wajah Jack tidak tersirat penyesalan sama sekali, ia heran kenapa ia bisa berteman dengan iblis sepertinya selama ini. Setahunya Jack tidak seperti itu, ia memanglah cuek tapi ia bukan tipe orang yang suka menyiksa orang lain terlebih perempuan walaupun Jack memang mudah emosi.
Mendengar penuturan Jack, semua diam. Mereka menyadari kalau mereka memang salah, andai saja mereka percaya pada Emma waktu itu. Tapi mereka sadar, bukan waktunya berandai-andai, yang harus mereka lakukan hanyalah meminta maaf pada Emma. tiba-tiba . . .
PLAK
Sebuah tamparan mulus mendarat di wajah tampan Jack yang masih diplester. Jeannette menamparnya, semua terpana. Tidak menyangka akan aksi Jeannette.
"Iblis! Kau tahu? Aku begitu menyesal karena tidak percaya pada Emma waktu itu. Aku terus memikirkannya dan selalu merasa bersalah. Tapi lihat wajahmu! Bahkan kau tidak menyesal sama sekali! orang macam apa kau ini?" bentak Jeannette.
Yang ditampar, terdiam sejenak, kemudian ia tertawa. Benar-benar tertawa. Ia menatap Jeannette lekat dan tawanya-pun lenyap. Jeannette terperangah, dihadapannya kini memang bukanlah sosok manusia, ia menggenggam tangannya erat.
"Orang macam apa? Jangan bertanya seperti itu kalau kalian juga tidak tahu orang macam apa kalian itu. kalian mengintimidasiku karena ekspresiku? Apa itu adil? Aku juga menyesal . . . kau tahu?" kata Jack.
"Aku sangat menyesal karena tidak berhasil membuat kalian membencinya" lanjut Jack dan dihadiahi ...
PLAK
Kali ini Mugi yang menampar Jack. Jack mengusap pipi dan bibirnya, ia menyeringai dan menoleh ke Mugi. Mata Mugi sudah berkaca-kaca, ditatapnya Jack dengan penuh kebencian.
"Kau tidak tahu kalau Emma sangat menderita dengan ulahmu? Kau ini benar-benar tidak punya perasaan. Dasar iblis!" kata Mugi dengan nada tinggi.
"Ya, aku memang tidak punya perasaan. Apalagi pada dia, kau puas?" jawab Jack.
Semua orang mundur beberapa langkah. Jack William benar-benar mengerikan sekarang ini. Sang jagoan basket, dan pewaris perusahaan ternama ternyata memiliki sisi yang sangat mengerikan. Melihat itu, Jack meniup poninya dengan bibir bawahnya. Ia pun berdiri dan menatap mereka satu persatu. Layaknya elang yang sedang mengabsen mangsanya.
Emma tetap di tempat duduknya. Mendengarkan dengan seksama. Ia menggenggam jimat keberuntungannya dengan erat. Ia memanjatkan doa untuk mengontrol emosinya, karena walaupun ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak menangis, cairan bening itu dengan seenaknya membasahi pipinya dan tak mau berhenti mengalir. Ia bergetar seraya menggigit bibir bawahnya. Semua perkataan Jack lagi-lagi menyayatnya. Luka kemarin saja masih belum sembuh, sekarang dengan sadisnya malah disayat lagi. Ia juga manusia, ia memiliki batas.
Darren sudah sangat emosi, namun Luke menahan bahunya. Kalau sampai Darren lepas kendali, maka mereka akan berakhir di ruang OSIS. Tentu Luke tak mau kedua temannya itu saling mengadu tinju sungguhan. Jack menghela nafas.
"Baiklah, aku akan minta maaf" kata Jack kemudian. Semua tentu terperangah, tak terkecuali Darren, Luke, Mugi, Jeannette dan Nick yang masih duduk di tempatnya. Mereka benar-benar dibuat bingung dengan sikap Jack. Jack melangkahkan kakinya, dan langsung diberi jalan. Didekatinya Emma dengan lembut, kini ia berdiri di belakang Emma.
"Emm, dengarkan aku. Aku akan meminta maaf, jadi berdirilah dan tatap aku" bisik Jack lembut, sang empunya nama merinding. Ia tahu kalau Jack mempunyai maksud terselubung, tidak mungkin seorang Jack mau dengan mudahnya mengucapkan maaf. Dunia akan runtuh jika itu terjadi. Tak punya pilihan lain, Emma pun berdiri dan menghadap ke Jack, perlahan ia menatap mata Jack dengan mata sapphirenya yang dipenuhi dengan sisa air mata. Mata Jack sangat lembut, setidaknya itulah kesan yang ditangkap oleh Emma. Melihat mata Emma, entah kenapa dada Jack sesak dan hatinya terasa ngilu dan sakit. Ingin sekali ia memeluk gadis itu saat ini juga, tapi egonya menolak dan menyadarkan dirinya untuk tidak terbuai dengan manik itu. ia menguatkan dirinya sekali lagi, dan merubah pandangannya, Emma menyadari perubahan itu dan sekali lagi bergetar, benar dugaannya.
"Setelah aku mengatakannya, jabat tanganku. Kau dengar?" bisik Jack dengan suara pelan. Tentu hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Dari jauh Nick menerka apa yang diucapkan Jack, namun sulit. Jack sangat pintar menyembunyikan sesuatu. Mendengar bisikan Jack, Emma mengangguk pasrah. Hatinya benar-benar sakit, dadanya panas dan sesak sekarang ini.
"Emm, maafkan aku" kata Jack dengan suara lumayan keras seraya mengulurkan tangan kanannya. Emma menatap tangan itu, ia ragu. Ia tahu kalau Jack tidak sungguhan mengatakannya, ia melakukan semua itu untuk mengatasi tatapan teman sekelasnya. Tapi ia sudah meng-iyakan tadi. Jadi mau tidak mau ia harus menjabatnya. Akhirnya dengan ragu ia pun menjabat tangan Jack. Jack tersenyum, PUAS? Namun perlahan lagi-lagi sensasi aneh menghiasi benaknya. Sebuah perasaan yang menggelitik dan merambat ke seluruh tubuhnya. Ya, ia merasakan tangan kanan Emma yang lembut tapi juga sedikit kasar karena ada bekas luka disana. Tangan gadis itu dingin, membuat hati Jack seakan membeku seketika. Senyumnya lenyap digantikan pandangan sendu, ia diam untuk beberapa saat. Emma menarik tangannya namun Jack menahannya, ia malah menggenggam tangan itu erat, seolah tidak mau melepasnya begitu saja.
__ADS_1
"Apa lagi ini? Apa aku sudah gila? Egoku ingin sekali melepasnya, tapi dengan seenaknya tubuh ini memberontak dan menolaknya" kata Jack dalam hati.
"Lepaskan aku!" teriak Emma dalam hati.
Emma kembali menarik tanganya, tapi Jack tetap tidak mau melepaskannya. Hingga pada akhirnya dengan sekuat tenaga Emma menarik tangannya dan berhasil. Saat itu juga Jack sadar. Ia menatap Emma datar dan seolah bertanya-tanya. Apa yang baru saja ia lakukan. Emma hanya membalas tatapan Jack dengan tatapan datar nan sulit untuk diartikan.
******
Di kelas 1-7.
Earlene menaikkan salah satu alisnya mencerna video yang baru didapatnya. Sedangkan Jason, Gabriel, dan Nate menyadari apa maksud video itu. Mereka mengumpat sejadi-jadinya dan menyumpahi Jack. Namun, Gabriel sadar kalau itu bukan yang harus dilakukan saat ini, diliriknya Earlene. Kalau sampai Earlene tahu kalau Emma difitnah oleh Jack, akan panjang masalahnya. Mereka memutuskan untuk menemui Melvin dan atau menghapus sendiri video itu, namun belum sempat keluar kelas, Jason dan kawan-kawan dihentikan oleh titah sang ketua.
"Jason!" panggil Earlene.
"Ya" jawab Jason memposisikan siap layaknya tentara.
"Bantu aku menghapus semua video ini. kalau sampai kepala sekolah tahu, maka OSIS akan berada dalam masalah" pinta Earlene.
"Eh?" Jason memiringkan kepalanya.
"Haruskah aku mengulanginya? HUH?" Earlene mulai marah.
"Siap! Kami akan menghapusnya segera" kata Jason dan langsung pergi. Sepeninggalan mereka, Earlene mengumpat sejadi-jadinya. Siapa yang sudah berani meng-hack jaringan dan menyebarkan isi CCTV. Jika ia menemukannya, habislah orang itu. Earlene menggenggam tangannya dan menggebrak meja dengan keras. Membuat seisi kelas berkeringat dingin, tak kecuali Axel yang tengah bermain gitar dan mematung seketika.
******
Kantin sekolah.
Chloe memandang serius video itu, ia mengerutkan dahinya. Namun nihil, ia tidak mengerti apa maksudnya. baru saja ia memencet tombol reply, namun tiba-tiba video itu hilang digantikan layar buram. Tak hanya milik Chloe, melainkan milik seluruh siswa, videonya hilang begitu saja. bahkan walaupun sudah disimpan di storage, tetap hilang. Sungguh ajaib.
Jason bekerja dengan cepat. Ia berada di atap sekolah dengan tablet miliknya, karena atap merupakan tempat yang tepat untuk mendapatkan sinyal. Karena tidak mungkin ia ke ruang server. Karena hanya Melvin dan Earlene yang bisa mengaksesnya. Perlu diketahui, bahwa Jason dan kawan-kawan adalah anggota OSIS dan merupakan anak buah Earlene.
Sementara di ruang kendali Server. Brian terkejut jaringannya diputus. Ia memeriksa ponselnya dan menyadari video telah dihapus. Ia menoleh pada Melvin, dan yang ditoleh hanya menghela nafas. Tentu ia tahu kalau itu adalah ulah Earlene.
"Kita tinggalkan ruang ini sebelum Earlene mengetahuinya" kata Melvin.
"Oh" jawab Brian.
******
Semenjak kejadian di gudang dan kejadian permohonan maaf palsu Jack pada Emma, Emma selalu menghindari Jack, karena begitu melihat pucuk rambutnya saja, dada Emma sesak dan panas rasanya. Rasa sakit juga kembali menghinggapinya, sangat sakit bahkan ia sampai lupa dengan bernafas, dan berakibat terengah-engah.
Di sekolah, setiap berpapasan dengan Jack, Emma memalingkan wajahnya. Bahkan di rumah, ketika makan malam dan sarapan juga Emma tak memandang Jack sama sekali. Emma terus berusaha menghindar.
Hari ini hari minggu, tepat 1 bulan Emma tinggal di kediaman Wiliam. Dan akhir bulan ini, pertunangan antar Jack dan Chloe akan diselenggarakan. Nyonya Azzury sibuk dengan designer yang akan mendesain gedung tempat dimana acara akan diadakan. Hendy sibuk dengan koki yang akan memasak makanan di pesta. Dan tuan Mark sibuk dengan undangan, ia mengundang para rekan bisnis dan koleganya. Atau siapa pun yang menurutnya harus diundang dan melihat putranya bertunangan. Nathalie dan Emma berdiri di lantai dua dan melihat keadaan di lantai satu. Nathalie pun menghela nafas.
"Pertunangan ya?" gumam Nathalie.
"Kak Chloe memang baik hati dan cantik, tapi entah kenapa kurasa ia tidak cocok dengan kakak" lanjut Nathalie.
Emma hanya menatap Nathalie, tanpa tahu harus menjawab seperti apa.
"Daripada disini, lebih baik kita keluar. Aku ingin membeli gaun pesta, mau menemaniku? Kak Emma?" pinta Nathalie tiba-tiba dan dijawab anggukan oleh Emma.
******
Di sebuah taman, Jack duduk bersama Chloe. Ia tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Ia merasa canggung. Hingga . . .
"Aku membaca pesanmu. Maaf karena sebelumnya aku terlalu emosi" kata Chloe dan membuat Jack terperangah, ia tidak menyangka kalau Chloe begitu perhatian dan pemaaf. Ia memandang kekasihnya itu dengan tatapan haru dan tidak percaya. Chloe memegang tangan Jack.
"Aku memaafkanmu" kata Chloe kemudian.
Mereka tersenyum bersama, hingga Chloe berdiri dan menagih janjinya. Jack tentu tahu apa itu. Dan pada akhirnya ia membiarkan Chloe menyeretnya menuju ke sebuah butik. Ya, disana Chloe mencoba beberapa gaun untuk dikenakannya di pesta pertunangan. Melihat kecantikan Chloe, senyuman tak pernah hilang dari bibir Jack.
Nathalie dan Emma juga berada di butik. Tentu butik yang berbeda dari Jack dan Chloe berada. Butik itu milik keluarga Earlene. Dengan riang Nathalie mencoba banyak gaun, dan Emma mengacungkan jempolnya untuk menilai penampilan gadis kecil itu.
"Hei, Kak Emma. Kau mau mencoba?" pinta Nathalie.
Kali ini Emma yang mencoba. Nathalie selalu berbinar melihat betapa cantiknya Emma. maklum kalau Emma dulunya seorang idol dan kecantikan alaminya dituruni dari sang ibu yang juga merupakan model ternama.
Jack dan Chloe keluar dari butik begitu pula dengan Nathalie dan Emma, mereka sama-sama menuju ke sebuah restoran. Paradise Resto, itulah namanya. Nathalie dan Emma tiba lebih dulu, mereka menuju meja nomor 7 dan memesan makanan. Tak selang lama, Jack dan Chloe pun masuk, Chloe mengedarkan pandangannya guna mencari meja kosong. Betapa senangnya ia ketika melihat Nathalie ada disana. Ia segera menarik sang kekasih ke meja 7 tempat Nathalie berada.
"Hai, Nathalie. Kebetulan" sapa Chloe.
"Ah, kak Chloe, Kakak" jawab Nathalie ramah.
Mendengar kata Kakak dari mulut Nathalie, Emma menegang. Jack menaikkan sudut bibirnya seolah mengejek melihat Emma yang sepertinya terkejut dengan kedatangannya.
"Cih! Dia masih menghindariku rupanya!" kata Jack dalam hati.
Chloe duduk di sebelah Nathalie, sedangkan Jack duduk di sebelah Emma. dengan ramah, Chloe menyapa Emma. Bagaimana pun ia tidak menyalahkan Emma atas kejadian beberapa hari lalu. Emma hanya tersenyum hambar. Sedangkan pemuda karamel di sebelah Emma mengumpat sejadi-jadinya dalam hati.
"Cih! Sialan. Kenapa harus duduk di sampingnya? Bisa mati sesak nafas aku" umpat Jack.
"Lagipula, beraninya dia mengacuhkanku dan tidak mengindahkan keberadaanku! PARASIT saja sombong!" kata Jack dalam hati.
Mereka makan bersama. Namun Emma sepertinya tidak nafsu makan, ia hanya makan sedikit dan memainkan makanannya. Tidak ingin membuat Nathalie khawatir, ia permisi dan berpamitan untuk pergi ke toilet. Karena Emma pergi, entah kenapa Jack merasa tersinggung, ia berdiri dan pamit untuk ke toilet sebentar. Nathalie dan Chloe mempersilahkan dan tidak menaruh rasa curiga sama sekali.
Di toilet, Emma berkeringat dingin. Bahkan ia sampai memuntahkan kembali makanannya. Mungkin ini efek karena ia menahan sesak dan rasa panas di dadanya. Benar-benar, ia sudah berusaha menghindari Jack. tapi entah kenapa hari ini ia tidak beruntung. Ia menyeka dahinya dan mengatur nafas, berusaha menenangkan diri. Setelah tenang, ia hendak keluar dari toilet. Namun di pintu seseorang menghalanginya. Ia memblok jalan, siapa lagi kalau bukan Jack.
"Hoh, kau berusaha menghindariku, nona?" tanya Jack dengan seringaiannya.
Emma berusaha melewati Jack, namun Jack menarik tangannya dan membawanya masuk kembali ke toilet dan mengunci pintu. Emma memberontak, ia menarik tangannya, namun tiba-tiba tangan Jack menarik rambutnya. Emma meringis kesakitan. Didekatkannya wajahnya pada Emma.
"Beraninya kau, sudah beberapa hari ini menghindariku. Atau kau sedang berusaha melawanku? HUH?" tanya Jack dengan nada yang mengerikan, membuat Emma gemetar dan ketakutan. Melihat tatapan Emma, bukannya kasihan Jack malah semakin merasa terhina dan kesal.
"Kalau kau berniat melawan, lakukan dengan benar. Dasar pengecut! Parasit! Sampah!" kata Jack dengan kesalnya dan menghempaskan gadis itu ke westafel. Didekatinya Emma lagi, kali ini ia mencengkeram wajah Emma.
"Kau, Jangan pernah berfikir untuk menghindari atau melawanku. Tetaplah seperti biasanya. Berdiri seolah tidak terjadi apa-apa. Dan jangan pernah menatapku dengan mata seperti itu. aku membencinya, atau aku akan melakukan sesuatu dengan matamu itu" ancam Jack dan kembali menghempaskan Emma kemudian meninggalkan gadis itu.
Emma menangis sejadi-jadinya sambil meremas dadanya. Benar-benar sakit, ia sudah tidak kuat lagi.
******
Hari H. Acara pertunangan Jack dan Chloe digelar. Pesta digelar di hotel berbintang lima milik keluarga Melvin. Pesta diadakan di lantai 5 gedung itu. Di lantai 5, sebuah ruangan megah dibalut dekorasi bernuansa beige dan thistle sudah siap, di luar ruangan juga terdapat kolam renang yang di pingirannya sudah dihiasi dengan meja yang bernuansa sama.
Pesta sangat ramai, banyak tamu berdatangan, mereka tak lain adalah teman-teman Jack dan Chloe juga rekan bisnis dari kedua belah keluarga. Jack menyambut tamu ditemani Chloe. Kini Jack mengenakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna merah dan rambut yang tertata rapi. Sedangkan Chloe, ia mengenakan gaun selutut dengan lengan buntung berwarna pink. Tak lupa di lehernya terdapat kalung berlian dengan liontin berbentuk 3 bambu kecil. Sungguh manis, kalung itu sengaja menerangkan kalau ia adalah anak ketiga. Melvin datang bersama Earlene, keduanya tampak tidak bergandengan. Namun dengan lembut mereka memberi selamat pada teman mereka itu dan dibalas senyuman dari keduanya. Darren datang bersama Luke. Ia menjabat Chloe dan Jack bergantian, tapi ketika melihat Jack, rasa kesal kembali menghinggapinya. Pasalnya ia belum bisa sepenuhnya memaafkan Jack, dan ia datang kesini karena ayahnya bukan karena temannya itu. Jack sedikit heran dengan Darren, namun berhubung ini hari bahagianya, ia mengacuhkannya.
"Darren, Luke, kalian hanya berdua?" tanya Chloe.
"Tentu. Dengan siapa lagi?" kata Luke menggaet leher Darren, dan yang digaet tentu risih dan tidak nyaman.
"Hei, apa jangan-jangan kau . . ." tebak Chloe.
"TENTU SAJA TIDAK!" teriak Darren dan spontan ia mendapat tatapan dari orang di sekitarnya. Muncul lah empat siku-siku di kepala Darren. Ia menjauhkan tangan Luke kemudian dipukulnya kepala temannya itu. Luke kesal dan membalas pukulan Darren, alhasil terjadilah aksi saling memukul kepala. Chloe terkekeh, dan Jack hanya menghela nafas bosan. Baik Luke ataupun Darren sama saja, selalu mengundang masalah.
"Luke! Darren! Apa kalian berkelahi?" tanya Earlene tiba-tiba. Mendengar pertanyaan Earlene, spontan keduanya diam dan saling memeluk. Seolah tidak terjadi apa-apa. Dari jauh Melvin terkekeh melihatnya. Sementara itu, mata Jack menelusur, pesta sudah berlangsung selama 1 jam tapi ia tidak menemukan sosok gadis yang dibencinya. Tidak mungkin ia pulang begitu saja kan? Dan di sebuah meja, Emma sedang tersenyum bersama Jason dan kawan-kawan. Malam ini, gadis itu mengenakan gaun dark blue yang sangat elegan, rambutnya disisir ke samping dengan ujung rambut di blow, sungguh cantik. Melihat itu, mata Jack menyipit, entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia kembali mengingat tatapan Emma satu bulan ini dan tak terasa Ia melamun hingga sebuah suara yang sangat tidak ingin didengarnya menginterupsinya.
"Chloe, Jack. selamat" kata seseorang dengan rambut amber, dan setelan jas hitam dengan dasi berwarna biru. Siapa lagi kalau bukan Brian Petrenkov. Ia mengulurkan tangannya pada Jack. Jack memandang datar Brian kemudian dengan enggan membalas uluran tangan Brian. Brian tersenyum hambar kemudian pamit.
Brian mencari sosok gadis pirang di antara tamu undangan. Butuh waktu beberapa menit untuk menemukan Emma. Didekatinya gadis itu, namun setelah dekat ia mendapatkan tatapan maut dari ketiga fans berat Emma. Brian menautkan alisnya.
"Hei, siapa yang mengundangmu untuk mendekati Emma kami?" tanya Nate.
"Apa? Emma kami?" tanya Brian tidak percaya.
"Iya. Jangan mencoba merayu Emma ya. Kau harus berurusan dengan kami dulu" kata Jason menyombongkan diri.
Brian meraih pundak Emma dan menariknya untuk mendekat. Tentu ketiganya syok bukan main. Brian mengarahkan Emma untuk berbalik dan mengikuti dirinya. Emma pun tersenyum dan menuruti perkataan Brian. Sementara yang ditinggalkan hanya mematung, mereka shock karena kalah saing, bagaimana pun Brian terlalu tampan juga pintar. Tak lupa, ia juga pewaris Petrenkov Hospital, rumah sakit ternama di negara ini. Mereka menangis meratapi nasib malang mereka.
Suara kembang api bergemuruh menghiasi langit. Para tamu undangan terperangah dan keluar ruangan untuk melihat pemandangan indah itu. Brian membawa Emma keluar ruangan, dari kolam renang, gemerlap cahaya kembang api terpantul. Di bawah malam berbintang yang dihiasi kembang api, tangan Brian yang semula memegang bahu Emma menjadi turun. Ia menggenggam tangan Emma dengan lembut, dan Emma tak menolaknya. Mereka tersenyum bersama dengan mata masih menatap kembang api di langit.
"Kau cantik malam ini" puji Brian dengan berbisik kemudian.
Seketika wajah Emma memerah. Rona tipis menjalari pipinya bahkan telinganya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tanpa mereka ketahui, sepasang mata Emerald menatap mereka penuh benci dan amarah.
Brian dipanggil oleh sang ayah, ia pun pamit untuk pergi sebentar. Dengan canggung keduanya melepaskan genggaman tangan mereka. Brian pergi dengan wajah tak jauh beda dengan Emma. Membuat bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Melihat Emma sendirian, seringaian licik muncul di wajah Jack. ia permisi sebentar pada tunangannya.
Jack mendekati salah satu pelayan hotel. Ia membisikkan sesuatu dan memberikan selembar cek pada pelayan itu. Awalnya si pelayan ragu, namun melihat nominal di cek, akhirnya ia menyetujuinya. Jack tersenyum penuh arti dan mendekati Emma.
"Terima kasih sudah datang" kata Jack datar, Emma pun menoleh dan heran. Perasaan panas yang awalnya menjalarinya ketika melihat Jack jadi hilang seketika.
"Kau sudah menyempatkan diri untuk datang, kenapa tidak makan apapun?" tanya Jack.
"Bagaimana kalau kita makan macaroon disana. Akan aku panggil pelayan" kata Jack kemudian. Ia mengedarkan pandangannya namun tak ada satu pelayan pun disekitar sini. Ia menggerutu kesal. Emma menoleh meja yang tak jauh darinya. Meja yang terletak agak dipinggir kolam, ia mengeluarkan notenya.
"Biar aku saja yang mengambilnya" tulis Emma dan pergi mengambil macaroon yang dimaksud oleh Jack tanpa curiga sedikit pun.
Emma mengambil piring dan mengambil macaroon cukup banyak. Setelah kiranya cukup, ia berjalan kembali ke
tempat Jack berada. Kembang api semakin banyak meledak di langit, membuat sebagian tamu undangan keluar memenuhi pinggir kolam. Emma menjadi kesulitan untuk mencari jalan. Ia berjalan dengan hati-hati agar piringnya tidak oleng dan macaroon-nya tidak jatuh. Tiba-tiba . . .
BUKK
Seorang pelayan menabrak Emma. membuat Emma yang mengenakan heel jadi tidak seimbang, ia berusaha mempertahankan macaroon ditangannya dan . . .
BYURRR
Emma terpeleset dan jatuh ke kolam. Semua pasang mata seketika menoleh ke sumber suara. Semua yang mengelilingi kolam hanya melihat. Emma gelagapan, ia tidak bisa berenang, tangannya melambai-lambai namun tidak ada yang mau menolong atau sekedar mengulurkan tangannya. Dan kebetulan teman-teman dekat Emma sedang asyik berbincang di dalam ruang. Dan ditambah, di dalam ruangan suara musik mengalun cukup keras. Emma sudah hampir kehabisan nafas, hingga sebuah tangan meraih tangannya dan membawanya ke atas. Emma duduk dan terbatuk-batuk, ia menggigil hebat. Gaunnya jadi melekat dan sedikit transparan.
"Kau kedinginan?" tanya suara baritone yang sangat dikenalnya. Dan Emma pun mendongakkan kepalanya. Di hadapannya terdapat Jack yang basah kuyup, rambutnya yang semula tertata rapi menjadi berantakan. Emma tidak percaya apa yang dilihatnya. Jack menyelamatkannya? Tapi, sesaat kemudian dengan sigap Jack membuka jasnya dan menutupi tubuh Emma. Semua tamu merasa tidak senang, mereka mencibir Emma.
{Apa yang dilakukan gadis itu?}
{Darimana asalnya? Sungguh memalukan.}
{Lihatlah! Dia bahkan membuat Jack turun tangan hanya untuk menolongnya.}
{Sungguh memalukan.}
{Harusnya ia tidak usah datang kalau hanya ingin mempermalukan dirinya.}
{Kurasa lebih baik ia tidak diundang.}
{Baik sekali Jack mau menolong gadis rendah sepertinya.}
Jack membantu Emma berdiri. Kepala gadis itu tertunduk, tentu ia mendengar cibiran itu begitu pula dengan Jack. Emma sudah sangat malu karena terjatuh di kolam, kini malah dihujani cibiran demi cibiran. Ia bergetar, matanya mulai berair. Dengan perlahan Jack melirik sekitar kemudian mencondongkan wajahnya tepat ke telinga Emma.
"Bagaimana rasanya dipermalukan, nona?" bisik Jack dengan seringaian iblisnya.
Jantung Emma serasa mau copot saat itu juga.
"Bukankah tatapan orang itu mengerikan?" bisik Jack lagi.
"Kurasa kau harus berterima kasih padaku setelah ini karena aku telah membuatmu jadi artis utama malam ini" bisik Jack yang secara tidak langsung mengatakan perbuatannya.
Emma mendorong Jack, semuanya tercengang tidak habis fikir dengan perbuatan Emma yang menurut mereka tidak punya rasa terima kasih. Mata Emma panas rasanya, jantungnya berdegup dengan kencang, ingatan demi ingatan memenuhi otaknya. Semua perlakuan kasar dan tidak manusiawi dari Jack menghampiri kepalanya. Dadanya mulai sesak dan nafasnya mulai tidak beraturan.
"Jadi, dia yang melakukan semua ini? dia memintaku untuk makan tapi pada akhirnya aku dipermalukan! Dia menolongku tapi pada akhirnya dia menghinaku!" kata Emma dalam hati.
Emma sungguh tidak percaya. Darahnya naik ke ubun-ubun, matanya mengkilat. Ditatapnya Jack dengan pandangan penuh kebencian dan amarah. Melihat itu, Jack tersenyum iblis dan mendekati gadis itu. dibisikkannya lagi sesuatu yang membuat Emma merasa sangat panas.
"Kau menghinaku? Mana rasa terima kasihmu? Aku bahkan dengan baik hatinya mau menolongmu. Atau kalau tidak kau sudah kehabisan nafas dan mungkin mati mengambang disana" bisik Jack dan mata Emma membulat sempurna.
"Hentikan!" kata Emma dalam hati.
"Harusnya kau berpikir dua kali untuk datang ke pesta ini. kau pikir karena ini adalah sebuah pesta aku tidak akan menyiksamu? Jangan mimpi, lihat kan? Aku bahkan tak segan-segan melakukannya" lanjut Jack.
"Kubilang berhenti!" kata Emma dalam hati.
"Dan, sudah kubilang untuk tidak menatapku seperti itu? apa kau tuli hingga tidak mendengar semua perkataanku?" kata Jack.
"BERHENTI!" teriak Emma dalam hati.
"Kau pasti ingin berteriak dan mencaci makiku sekarang, tapi sadarlah! Kau bahkan tidak bisa bicara. atau bisa kusebut bisu?" sindir Jack lagi.
Gigi Emma bergemelutuk, nafasnya naik turun dengan cepatnya.
"Ya, tetap tutup mulutmu seperti itu. aku akan selalu menikmati hari-hari dimana aku menyiksamu lagi dan lagi" kata Jack.
"Aku akan terus menyiksamu sampai aku bosan dan lelah melakukannya" kata Jack.
"Jadi . . ." kata Jack tambah mendekatkan bibirnya ke telinga Emma.
Posisi mereka sekarang seperti berpelukan. Wajah Jack di telinga Emma begitu pula sebaliknya. Badan Emma bergetar hebat. Ia sudah tidak bisa menahan panas dan sesak didadanya lagi. Parameter amarahnya sudah mencapai batasnya, ia menggenggam tangannya erat dan menggigit bibir bawahnya dengan keras. Melihat reaksi Emma, Jack seakan terhibur. Ia sangat senang bisa membuat Emma sampai seperti ini, mungkin setelah ini ia harus merayakannya. Namun tiba-tiba . . .
"Aku . . . membencimu" kata Emma pelan, tepat di telinga Jack.
Jack terbelalak. Matanya membulat dengan sempurna. Emma mendorong Jack dan membuang jasnya dengan kasar. Ditatapnya Jack dengan tajam, seolah pandangannya bisa melubangi kepala pemuda itu saat itu juga. Bagaikan disambar petir, Jack diam mematung dan tidak bereaksi.
"Aku, apa yang baru saja kudengar?" tanya Jack dalam hati.
Note :
__ADS_1
Tsundere : Salah satu bentuk pengembangan karakter Jepang yang menggambarkan perubahan sikap seseorang yang awalnya dingin dan bahkan kasar terhadap orang lain sebelum perlahan-lahan menunjukkan sisi hangat kepadanya.