The Missing Voice

The Missing Voice
| Chapter 3 : My Reason |


__ADS_3

Sebuah bangunan megah menjulang tinggi dengan label Petrenkov Hospital. Brian berdiri di depan rumah sakit keluarganya itu. tangan kanannya masih menggenggam tangan gadis bersurai pirang. Ditariknya Emma untuk masuk, namun Emma menolaknya. Ia menarik Brian kembali.


"Kenapa?" tanya Brian.


Emma hanya menggeleng yang artinya ia tak mau masuk. Ia benci bau rumah sakit, karena itu mengingatkannya pada sesuatu. Dengan perhatian Brian mendekati Emma dan meraih tangan satunya. Kini, ia menggenggam kedua tangan Emma. ditatapnya Emma dengan lembut.


"Aku akan selalu ada bersamamu, berpeganglah padaku kalau kau merasa takut" kata Brian lembut.


Emma terpana mendengar apa yang Brian tuturkan barusan, mata Emma pun berair ingin rasanya ia menangis tapi perkataan Brian selanjutnya berhasil menahan cairan bening yang hendak keluar dari mata pirangnya.


"Jangan menangis, Emma" kata Brian kemudian sembari mengusap mata Emma yang berair.


Emma tak menolak perhatian Brian padanya. Entah kenapa rasanya nyaman dan tenang ketika ia berada di dekat pemuda itu. akhirnya Brian membawa masuk Emma. di Lobi, para pegawai Petrenkov Hospital berkasak-kusuk.


{Hei-hei, bukankah itu tuan Brian? Dengan siapa dia?}


{Wuah, tuan Brian bersama seorang gadis. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dan lihat! Mereka bergandengan tangan. Apa mungkin dia kekasihnya? Oh, cantik sekali}


{Tuan Brian bersama seorang gadis? Pupus sudah harapanku}


{Kekasihnya cantik sekali. Lihat! Rambut mereka juga senada, mungkin jodoh}


{Tapi apa yang mereka lakukan disini? Jangan bilang?}


{Jangan sembarangan. Mereka masih sekolah, tidak mungkin terjadi hal seperti itu}


{Kalau aku jadi tuan Brian, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya}


{Jangan keras-keras, nanti dia dengar}


Brian yang terlalu fokus dengan tangannya yang menggenggam tangan Emma, tentu tak mendengar apa yang orang-orang sekitarnya katakan. Sementara Emma menggenggam erat tangan Brian, benaknya berkecambuk. Ada perasaan aneh ketika Brian menggenggam tangannya. Seperti perasaan yang membuat hati Emma tenang dan nyaman.


"Baiklah, Emma ayo masuk" kata Brian dengan semangat.


Emma hanya tersenyum kecil.


"Eh? Emma tersenyum? Lagi?" tanya Brian dalam hati, wajahnya kembali mengeluarkan semburat tipis.


Mereka masuk. Di dalam, sudah ada seorang wanita paruh baya berambut salmon. Garis kerut yang ada di wajah wanita itu sangat jelas, tapi aura dokter tetap membuatnya terlihat berwibawa. Ia mempersilahkan Brian dan Emma untuk duduk.


"Ada apa Brian? Ada yang bisa kubantu?" tanya dokter.


"Permisi, Jesslyn bisakah kau mengobatinya?" pinta Brian to the point.


"Dia? Dia kenapa?" tanya Jesslyn menatap gadis yang berada di samping sang pewaris Petrenkov Hospital, ia sedikit terhenyak ketika menatap mata Emma.


Brian menunjukkan luka di tangan kanan Emma. akhirnya Jesslyn mengerti apa maksud Brian. Jesslyn membuka perban ditangan Emma. betapa terkejutnya ia mendapati Luka yang menurutnya mengerikan untuk seorang gadis pendiam seperti Emma.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Jesslyn.


"Eh?" Brian terkejut, ia tahu apa maksud pertanyaan Jesslyn. Tadi ia juga mengajukan hal yang sama dan Emma menjawab kalau itu adalah akibat keteledorannya saja.


"Dia tidak sengaja melukai tangannya" jawab Brian.


Jesslyn menoleh, ia memicingkan mata menatap Brian yang beraninya menjawab pertanyaan yang tidak dilontarkan padanya. Ia mendengus dan kembali melanjutkan mengobati luka Emma.


"Kalau kau berusaha bunuh diri, harusnya kau menyayat nadimu, bukan telapak tanganmu" kata Jesslyn.


"NENEK!" pekik Brian tiba-tiba, ia emosi.


"Kenapa kau berteriak? Lalu apa maksudmu memanggilku nenek, aku belum setua itu!?" pekik Jesslyn tak mau kalah "Dan jangan menyelaku! Aku bicara padanya! Sopanlah sedikit Brian!" kata Jesslyn kemudian.


"Dia . . ." kata Brian.


"Huh?" Jesslyn menaikkan alisnya.


"Dia tidak bicara"kata Brian tertunduk.


Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Brian mulai mengangkat kepalanya, dilihatnya Emma yang tak bergeming dan Jesslyn yang berdiri mematung. Melihat tatapan Brian, Jesslyn sadar, ia menghela nafas.


"Maafkan aku" kata Jesslyn dan mulai memperban kembali tangan Emma.


"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau diam saja diperlakukan seperti ini. Kau tahu, sebagai seorang dokter, aku tahu kalau ini bukan luka yang sengaja kau buat" kata Jesslyn kemudian.


Brian terhenyak. Ternyata bukan hanya dirinya yang berfikir demikian. Dan ia baru mengerti maksud Jesslyn mengajukan pertanyaan seperti tadi pada Emma. Emma mengambil note dan menjawabnya.


"Ini tidak sengaja dokter" tulis Emma.


"Kau tak melawan?" tanya Jesslyn sembari berdiri.


"Aku tak bisa" tulis Emma lagi.


"Begitu ya" jawab Jesslyn ringan, ia mengambil pena di saku jasnya dan menulis resep untuk Emma.


"Ini Brian obat untuknya" kata Jesslyn.


Brian mengajak Emma keluar, tak lupa mereka berdua menunduk untuk berterima kasih. Sepeninggalan keduanya, Jesslyn menghela nafas.


"Mata gadis itu sangat sedih dan terluka" kata Jesslyn.


Brian berjalan di koridor rumah sakit bersama Emma. ia memikirkan apa yang Jesslyn katakan tentang luka di tangan Emma. bukan luka yang sengaja Emma buat, melainkan ketidaksengajaan seseorang.


"Siapa?" tanya Brian dalam hati.


Seorang pria paruh baya dengan rambut charcoal berjas putih berjalan ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan Mikhailo Petrenkov ayah Brian. Ia berhenti dan menyapa putranya itu.


"Brian, tumben sekali kau kesini" sapa sang ayah.


"Iya ayah, aku ada keperluan" jawab Brian sopan.


Tuan Mikhailo memandang gadis disamping Brian, ia sedikit mengernyitkan dahinya


"Siapa dia? Temanmu?" tanya Tuan Mikhailo dengan ramah.


Brian mengangguk.


"Tidak biasanya kau bersama perempuan, apa dia memang temanmu? Bukan kekasihmu?" goda tuan Mikhailo.


Brian langsung memerah, wajahnya terasa panas, sedikit asap keluar dari dahinya.


"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, ayah. Dia temanku, teman" jawab Brian terbata-bata.


"Cantik, kapan-kapan bawa ke rumah ya" kata ayah Brian dan berlalu meninggalkan putranya yang sudah malu bercampur kesal, empat siku-siku sudah muncul di kepalanya.


Melihat ekspresi Brian, Emma jadi khawatir.


"Kau baik-baik saja? wajahmu merah?" tulis Emma.


"Aku baik-baik saja, Emma. Dan . . ." kata Brian dan menatap Emma.


"Jangan hiraukan apa yang ayahku katakan" lanjut Brian, Emma mengangguk.


Obat sudah ditebus, hanya obat luar. Brian mengajukan diri untuk mengantar Emma pulang, namun Emma menolaknya dengan halus. Ia tidak ingin ada yang tahu kalau ia tinggal bersama keluarga William. Karena, dari awal Jack tidak menginginkan siapapun tahu tentang ini. Sudah cukup ia merepotkan keluarga William, ia tidak mau memperparahnya. Brian hanya menghela nafas saja, karena gadis di hadapannya sangat keras kepala.


"Kalau tidak mau, bagaimana kalau pulang bersama. Toh aku turun sebelum kau" ajak Brian.


"Baiklah" tulis Emma.


Mereka pulang naik taksi. Suasana menjadi canggung karena Brian hanya diam, kalau duduk seperti ini, entah kenapa pikirannya seketika kosong. Emma mengibaskan tangannya, ia merasa panas, tapi Brian tidak menyadarinya. Brian tak tahu harus bicara apa dan bersikap bagaimana, juga tak ingin Emma menganggapnya sebagai laki-laki aneh. Dengan canggung, Brian membuka pembicaraan.


"Oh ya Emma, kalau boleh tanya darimana kau belajar taekwondo?" tanya Brian.


Emma sedikit berfikir. Ia ragu akan mengatakannya atau tidak, ditatapnya Brian sejenak. Dan ia memantapkan hatinya untuk mengatakannya. Karena Emma berpikir Brian orang yang dapat dipercaya juga bisa membuatnya nyaman.


"Dari Daniel, pengawalku" jawab Emma dalam notenya.


"Heh? Sejak kapan kau belajar? Tempo hari kudengar kau membekuk Lewin. Pasti kau adalah profesional" tanya Brian sambil memegangi dagunya.


"Sejak kecil" tulis Emma singkat.


"Apa kau tidak kesulitan, mengingat dulunya kau adalah seorang idol" tanya Brian lagi.


"Awalnya iya, tapi selanjutnya tidak. Daniel mengatakan itu untuk keadaan darurat karena ia tidak bisa selalu mengawasiku. Ada kalanya juga ia lengah" tulis Emma.


"Wuah, kau hebat Emma!" kata Brian mengacungkan jempolnya.


Sang supir taksi merasa aneh. Menurutnya Brian tengah ber-monolog. Ia sedikit menggelengkan kepalanya, tidak ambil pusing dengan sikap penumpangnya.


...******...


Emma tiba di kediaman William yang kini menjadi tempat ia berteduh. Ia keluar dari taksi, namun kepalanya terasa berat. Bahkan lebih berat dari tempo hari, nafasnya mulai tersengal-sengal. Ia menguatkan diri untuk segera masuk. Para pelayan di kediaman William menyapanya, Emma hanya tersenyum hambar. Mereka khawatir, karena wajah Emma memerah dan tidak terlihat baik. Emma membuka pintu, saat itu juga ia tumbang. Para pelayan langsung menghampiri Emma. mereka membawa Emma masuk. Virginia yang tengah bersih-bersih sampai membuang kemoceng di tangannya. Ia segera mengikuti para pelayan yang membawa Emma ke kamar. Emma dibaringkan, mereka permisi. Hanya Virginia yang tinggal.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya Virginia khawatir, ia mendekati Emma dan menyentuh keningnya. Panas, sangat panas, Emma demam.


"Anda demam?" tanya Virginia panik.


Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras. Nyonya Azzury masuk dengan nafas terengah-engah seperti atlet yang tengah lari marathon. Ia segera mendekat dan memberondongi Virginia dengan banyak pertanyaan.


"Ada apa? Kenapa Emma pingsan? Apa dia sakit? Bagaimana bisa? Apa kau sudah memanggil dokter? Kapan dokter akan datang?" tanya Nyonya Azzury bertubi-tubi.


"Dia demam, Nyonya. Entahlah, padahal semalam saat makan malam baik-baik saja" jawab Virginia.


"Saya akan memanggil dokter, mohon tunggu sebentar" lanjut Virginia.


Virginia bingung. Ia tidak tahu harus menghubungi dokter siapa, karena kini mereka ada di kediaman keluarga William.


"Mikhailo" kata Nyonya Azzury.


Virginia mengerti. Dicarinya nama dokter Mikhailo, ia menelfon dokter tersebut dan memintanya datang secepat mungkin.


"Emma, maafkan tante. Tante kurang memperhatikanmu, harusnya tante lebih peka lagi mengingat kau selalu memendam apa yang kau rasakan. Kumohon maafkan tante" kata Nyonya Azzury yang tengah duduk di samping tempat tidur Emma sambil memegang tangan Emma yang terasa panas


"Maafkan saya nyonya. Harusnya tadi pagi saya mengatakan kalau ada yang aneh dengan nona. Wajahnya memerah, saya kira itu karena kurang tidur. Saya benar-benar menyesal" kata Virginia menyalahkan diri sendiri.


"Saya mendengar suara air dari kamar Nona Emma semalam" kata seseorang tiba-tiba, yang tak lain adalah Hendy.


"Air? Apa mungkin Emma mandi tengah malam?" tanya Nyonya Azzury tidak mengerti.


"Haruskah aku mengatakannya? Tidak, aku akan menyelesaikannya diam-diam" kata Hendy dalam hati.


~ Flashback ~


Jack keluar dari kamar dan diketuknya kamar Emma dengan keras. Tak ada jawaban, ia masuk begitu saja karena pintu memang tidak dikunci. Tanpa Jack ketahui, Hendy melihatnya, ia heran. Apa yang akan diperbuat tuan mudanya di tengah malam di kamar seorang gadis. Hendy mendekat. Ia mendengar sesuatu dari dalam kamar Emma. suara isakan tangis dan suara yang tentunya sangat ia kenal.


"Hoi! Sadarlah! Kau mengganggu tidurku!" kata Jack ketus.


"Sudah kubilang sadarlah! PARASIT!" hardik Jack.


"Sadarlah atau aku yang menyadarkanmu!" ancam Jack.


Tak lama setelah gertakan Jack yang terakhir, samar-samar Hendy mendengar suara air. Gemericik air yang keluar dari shower. Hendy terbelalak, ia bisa menduga apa yang tengah terjadi di dalam sana. Dengan segera ia pergi sebelum Jack memergokinya..


~ Flashback End ~


"Tidak mungkin, tadi malam angin sangat kencang, Nona tidak akan melakukannya. Kecuali ia tidur tidak memakai selimut" jawab Virginia.


"Lalu bagaimana dengan suara airnya?" tanya nyonya Azzury.


"Saluran airnya bermasalah, Nyonya" kata Hendy berbohong.


"Benarkah?" tanya Nyonya Azzury menaikkan satu alisnya.


"Saya sudah meminta orang untuk memperbaikinya, tenang saja" lanjut Hendy.


Kamar Emma diketuk. Seorang pria paruh baya berambut charcoal masuk. Ia adalah Mikhailo Petrenkov, ayah Brian dan juga dokter pribadi keluarga William. Nyonya Azzury menyambutnya. Hendy permisi, ia pergi untuk menyiapkan minuman untuk Mikhailo.


"Ada yang bisa kubantu? Azzury?" tanya Mikhailo akrab.


"Kau lama! Cepat! Dia demam tinggi!" kata Nyonya Azzury menarik temannya itu ke arah Emma berbaring.


Betapa terkejutnya ia mendapati siapa yang tengah terbaring disana. Gadis berambut pirang yang beberapa jam lalu bersama putranya di rumah sakit. Ia seperti mengingat sesuatu, rambut pirang yang tak asing.


"Emma demam tinggi, cepat lakukan sesuatu! Jangan diam saja!" kata Nyonya Azzury tak sabar.


"Siapa? Emma?" tanya Mikhailo, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati pelayan perempuan berambut coral, pelayan yang sangat tak asing lagi diingatannya.


"Dia? Pelayan keluarga Michelle kan?" tanya Mikhailo.


"Tentu saja! cepat! Kau disini bukan wartawan yang datang untuk wawancara!" kata nyonya Azzury mulai kesal.


Mikhailo memeriksa Emma. 40 derajat celcius. Mikhailo memberi obat penurun panas dan meminta nyonya Azzury meminumkannya selang 4 jam sekali.


"Oh ya Azzury, bisa kita bicara sebentar?" ajak Mikhailo.


Virginia yang tahu situasi, memilih keluar dan menutup pintu kamar Emma. Di dalam, Mikhailo menghela nafas.


"Apa dia putri Sebastian?" tanya Mikhailo.


Nyonya Azzury mengangguk, raut wajahnya berubah.


"Ya" jawab Nyonya Azzury lirih.


"Kenapa dia ada disini? Bukannya ia sedang belajar ke luar negeri?" tanya Mikhailo.


"Benarkah? Sebastian berkata demikian?" tanya Nyonya Azzury tersenyum sinis.


"Ya, belum lama ini aku bertemu dengannya. Ketika aku tanya keberadaan putrinya, ia mengatakan kalau putrinya sekolah ke luar negeri. Kurasa aku maklum mengingat sudah 2 ,5 tahun lebih Emma menghilang dari dunia peridolan" kata Mikhailo.


"Dia sangat pandai berbohong" kata Nyonya Azzury.


"Tadi aku juga melihat Emma ke rumah sakit bersama Brian" cerita Mikhailo.


"Kukira ia kekasih Brian, jadi aku menghiraukannya, aku tak tahu kalau itu adalah Emma" lanjut Mikhailo.

__ADS_1


"Emma ke rumah sakit? Why?" tanya Nyonya Azzury.


"Brian memaksa Emma untuk mengobati Lukanya" jawab Mikhailo.


"Apa lukanya separah itu? aku sungguh tak tahu. Kupikir hanya terkena pisau saat memasak" kata Nyonya Azzury panik.


"Ia sudah ditangani dengan baik. Tenang saja" kata Mikhailo berusaha menenangkan "Tapi, kenapa dia bisa disini? Kau belum menjawab pertanyaanku, Azzury" kata Mikhailo meminta jawaban.


"Itu, karena . . . Sebastian mengusirnya" jawab Nyonya Azzury singkat, tapi tatapan matanya tiba-tiba menajam, seakan kemarahannya meluap.


"Apa? Tidak mungkin" kata Mikhailo.


"Emma bahkan tak mau bicara" lanjut nyonya Azzury.


"Apa? Bagaimana bisa?" Mikhailo shock.


"Selama ini, selama 2,5 tahun Sebastian mengurung Emma di rumah. Ia melarang Emma bertemu siapa pun. Ia bahkan rela melukai putrinya jika membantah ucapannya. Karena siksaan Sebastian lah Emma jadi tak mau bicara. Ia jadi penyendiri. Virginia mengatakan, Sebastian bahkan tak mau memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Emma" kata nyonya Azzury bercerita.


"Kenapa dia melakukannya? Apa alasannya mengurung Emma?" tanya Mikhailo.


"Entahlah, sejak dulu Sebastian memang keras kepala" keluh nyonya Azzury.


"Apa Sebastian tahu kalau Emma disini?" tanya Mikhailo lagi.


"Tidak. jangan sampai ia tahu. Atau Emma akan kembali menderita" kata nyonya Azzury.


Mikhailo menghela nafas.


"Jadi, apa Emma mengalami depresi?" tanya Mikhailo.


"Virginia mengatakan Emma menderita Mayor Depressive Disorder " jelas nyonya Azzury.


"Separah itukah?" Mikhailo khawatir.


"Ya. Jadi bisakah kau mengobatinya? Mikhailo?" tanya nyonya Azzury.


"Kalau ia mau menjalani pengobatan, itu tidak mustahil" jawab Mikhailo.


...******...


Brian makan malam bersama ibunya, Chassandra Petrenkov. Brian makan dengan lahap, ia bahkan sampai menambah porsi makannya. Sang ibu heran tak alang kepalang mendapati perubahan sikap putranya. Ditegurnya Brian dengan lembut.


"Kau sangat bersemangat, apa ada hal baik terjadi? Brian?" tanya sang ibunda.


"Tidak ibu, hanya saja . . ." kata Brian terhenti.


"Seorang gadis?" tebak nyonya Chassandra.


Brian tersedak. Ia segera mengambil gelas dan meneguk habis air di gelas. Ia mengerutkan dahinya dan marah pada sang ibunda.


"Dari mana ibu tahu? Aku kan belum mengatakannya?" tanya Brian dengan kesal.


"Kau pikir ibu tidak tahu, kau selalu mengigau kalau tidur sambil menyebut nama Emma Emma . begitu" jawab nyonya Chassandra dengan wajah innocent.


Brian memerah. Ia tak menyangka ibunya akan mengintipnya disaat tidur. Ia mengerutuki dirinya yang selalu lupa mengunci pintu dan berakibat demikian.


"Jadi, siapa Emma? gadis seperti apa dia?" tanya nyonya Chassandra dengan wajah manis.


"Apa? Yah . . . dia gadis yang tidak bicara, tapi dia baik dan perhatian. Dia suka merendah dan terlalu pemalu, tapi dia sangat kuat. Maksudku, dia berhasil membekuk Lewin" cerita Brian pada sang ibunda.


"Heh? Sangat menarik. Apa dia cantik?" tanya nyonya Chassandra lagi.


"Heh? Itu, kurasa begitulah, ibu" jawab Brian malu-malu.


"Kau menyukainya?" tanya nyonya Chassandra lagi.


Brian batuk-batuk. Ia meminum segelas air lagi.


"Aku tidak mengatakan apapun kan, bu. Lagipula, Emma sepertinya tak berpikir seperti itu. tidak, kurasa hati Emma belum bisa menerima seseorang" jawab Brian dengan nada yang semakin lama semakin sendu.


"Kenapa? Apa dia terluka karena seseorang?" tanya nyonya Chassandra.


"Entahlah, kurasa bukan hanya sekedar luka. Melainkan lubang yang sangat besar hingga sulit untuk diobati" jawab Brian dengan sedih.


"Kalau begitu kau hanya harus menjadi obat untuknya" kata sang ibunda menyemangati putranya yang tengah kasmaran.


******


Jack berada di kamarnya. Ia kembali membuka loker mejanya, mengambil kotak kecil dimana sebuah kalung cantik berhias permata tersimpan. Dipandanginya kalung itu dengan tatapan sendu. Ia mengingat kembali ingatan dimasa kecilnya.


~ Flashback ~


Jack kecil berdiri di depan sebuah rumah mewah. Satu-satunya rumah mewah yang berdiri kokoh di desa kecil. Di tengah dinginnya hujan salju, Jack menggenggam kotak kecil yang terdapat kalung cantik berhias permata. Ia menunggu seseorang keluar dari rumah itu. namun tak ada yang keluar. Jack menekan-nekan bel berkali-kali tapi tak ada sahutan.


Hari-hari berikutnya, ia tetap menunggu. Hingga ia menunggu sampai menjelang malam. Udara dingin menyusupi jaket tebal yang dikenakan Jack kecil. Dingin yang menembus pertahanannya hingga menusuk tulang. Hidungnya sudah memerah akibat kedinginan, bahkan giginya bergetar akibat dingin yang terus menggodanya. Tiba-tiba, seorang gadis kecil yang mengenakan jaket tebal berwarna merah muda, dan sebuah payung berwarna kuning, keluar. Didekatinya Jack kecil. Jack tentu senang tak alang kepalang. Ia tersenyum manis sembari memperlihatkan grinsnya. Tapi . . .


"Untuk apa kau kesini?" tanya sang gadis dengan wajah yang tertutupi oleh payung.


"Apa? Emm, kita kan sudah berjanji untuk bertemu. Aku menunggumu dari kemarin-kemarin" kata Jack kecil polos.


"Menunggu? Untuk apa kau menunggu? Aku tidak pernah memintamu menungguku" kata gadis kecil yang bernama Emma.


Jack terbelalak, hatinya bergetar hebat mendengar jawaban Emma. ia menguatkan dirinya untuk kembali berkata.


"Karena kita adalah teman" jawab Jack.


Emma kecil terhenyak. Matanya bergetar mendengar jawaban Jack. Tapi, ia mengangkat sedikit payungnya. Memperlihatkan wajahnya yang serius dan terbilang mengerikan untuk dilihat oleh Jack. Jack tentu terkejut melihat tatapan Emma.


"Emm" panggil Jack dengan suara bergetar, ia menggenggam erat kotak kecil di sakunya.


"Sejak kapan aku mengatakan kalau kau temanku? Dan juga seingatku, aku tak pernah mengatakan margaku dan dimana aku tinggal. Jadi bagaimana mungkin kau bisa sampai sini?" tanya Emma kecil dengan dingin.


Jack bergetar dibuatnya. Emma yang sekarang dihadapannya sangat berbeda dengan Emma yang dikenalnya. Ia ingin mengatakan pada dirinya kalau ini adalah mimpi, dengan perlahan Jack mengulurkan tangannya dari balik pagar, berusaha meraih tangan Emma. namun Emma menepisnya. Jack shock.


"Emm" gumam Jack.


"Pergilah, aku tak mau melihatmu" kata Emma.


"Tapi Emm . . ." kata Jack terbata-bata.


"Enyah kau dari hadapanku!" kata Emma dan meninggalkan Jack yang terpaku di luar pagar di tengah dinginnya malam bersalju.


~ Flashback End ~


Jack menggenggam erat kalung yang terus disimpannya hingga sekarang. Ia berdecak, kesal dan marah.


"Sial! Setelah memintaku untuk enyah, kau malah hinggap di kehidupanku. Bahkan dengan egoisnya kau melupakan semua yang kau katakan padaku! Kau membuatku menjadi satu-satunya orang jahat disini. Aku, aku hanya melakukan apa yang sepantasnya kulakukan untuk membalas semua penghinaanmu waktu itu, Emm. Seumur hidup, aku tidak akan melupakannya. Dan jangan pernah bermimpi untukku memaafkanmu!" kata Jack kesal kemudian ia memukul meja belajarnya dengan keras.


Seseorang mengetuk pintu kamar Jack. Jack segera menyimpan kembali kalungnya. Ia menoleh, didapatinya sang adik tersenyum hambar padanya.


"Ada apa, Nathalie?" tanya Jack.


"Kak, Kak Emma sakit. Ibu melarangku untuk menemaninya, karena besok aku ada ulangan matematika. Jadi ibu memintamu untuk menemani Kak Emma dan meminumkan obat setiap 4 jam sekali" kata Nathalie.


"Dimana Virginia? Hendy?" tanya Jack sinis.


"Hendy? Baru saja Ayah menelpon memintanya mengerjakan laporan. Kak Virginia dia kelelahan karena menjaga kak Emma dari tadi siang, jadi ibu memintanya untuk istirahat" jelas Nathalie.


"Kenapa tidak ibu saja?" tanya Jack.


Nathalie hanya mengangkat bahunya. Ia menyerahkan obat demam pada kakaknya dan segera keluar, ia menguap tanda dirinya sudah siap untuk masuk ke dunia mimpi.


"Tolong kak. Besok akan aku gantikan, kumohon hanya malam ini saja" kata Nathalie seraya menutup pintu kamar Jack.


"Cih! Kenapa harus aku!" keluh Jack.


Jack pergi ke kamar Emma yang letaknya hanya di sebelah kamarnya. Kamar Emma hanya dihiasi cahaya remang-remang. Jack duduk di samping Emma, ditatapnya Emma untuk sejenak. ia kembali berdecak. Namun, perlahan Jack mengulurkan tangannya, mengambil handuk yang mengompres dahi Emma. dengan ragu Jack menyentuh dahi Emma.


"Panas" kata Jack menjauhkan tangannya.


"Dia ini iblis atau apa, kenapa panas sekali?" gerutu Jack.


Jack mengompres dahi Emma. waktu terus barlalu, kini jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Jack sesekali memejamkan matanya, rasa kantuk membuainya dan ia tidak bisa mengatakan tidak. Namun perlahan, Emma mulai berkeringat, ia mengerang dalam tidurnya. Jack yang mendengarnya langsung terbangun.


"Kenapa? Huh! Dasar! Kau mengagetkan! Kau mau membuatku jantungan? Huh? Sedang sakit saja menyebalkan, apalagi sehat?" kata Jack sadis.


Tiba-tiba Emma terbangun, ia duduk seketika. Membuat Jack terkejut. Emma mengedarkan pandangannya dan dilihatnya seseorang yang bagaikan hantu tengah duduk di sampingnya. Emma ketakutan, ia memundurkan tubuhnya. Jack tersinggung.


"Kau takut? Kau pikir aku hantu yang akan memangsamu? Huh?" tanya Jack.


Pertanyaan kasar Jack membuat Emma sadar siapa sosok disampingnya ini.


"Sudah 4 jam setelah kau minum obat. Sekarang minumlah obat ini dan tidur! Aku juga ingin tidur!" kata Jack sembari mengulurkan obat beserta segelas air dengan kasar.


Emma menggeleng, ia tidak mau. Ia kembali teringat saat dirinya tengah dipaksa menelan obat oleh suster di rumah sakit. Ingatan masa lalu kembali menghampirinya.


"Nona, minumlah. Anda harus sembuh" kata para suster sembari memegang erat tubuh Emma.


"Tidak! aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Emma sembari meronta-ronta.


"Anda harus meminumnya" bujuk para suster.


"Tidak! aku tidak mau merasakan mati lagi! Aku tidak mau! Ayah! Tolong aku!" teriak Emma.


Para suster yang sudah tidak sabar membuka paksa mulut Emma.


Kini Emma kembali ketakutan, ia mulai menyudutkan dirinya di sudut tempat tidur. Jack mengernyitkan dahinya.


"Kau tidak ingin mendengarku mengatakannya lagi kan?" tanya Jack.


"Cih! Bagaimana ibu meminumkannya obat tadi!" gerutu Jack dalam hati.


Emma semakin ketakutan. Pasalnya Jack mengingatkannya pada kejadian yang tidak ingin diingatnya. Jack geram, semalam ia dibuat kesal dengan tangisan Emma. Sekarang ia dibuat kesal dengan sikap Emma yang seolah jijik padanya. Jack mengela nafas, berusaha menenangkan dirinya, didekatinya Emma perlahan. Jack kembali mengulurkan air dan obat, namun Emma menepisnya. Membuat gelas terjatuh dan pecah. Obat yang semula di tangan Jack jadi berserakan di lantai. Kali ini, kesabaran Jack habis. Diambilnya obat di lantai, dan tangan Jack yang satunya meraih wajah Emma. mencengkeramnya kuat. Emma menangis, ia bergetar. Jack tak gentar, ia memaksa Emma membuka mulutnya. Namun Emma berusaha mengatupkan mulutnya. Jack memperkuat cengkeramannya hingga mulut Emma terbuka. Ia memaksa Emma memakan obatnya tanpa air. Emma menolaknya, ia meronta-ronta. Hingga mereka berdua jatuh dengan posisi Emma di bawah, Jack terus memaksa Emma, ia memasukkan obat ke mulut Emma dengan kasar. Tenggorokan Emma tersendat, Jack yang kini berada di atasnya, hanya menatap dingin Emma seolah mengatakan telan atau aku akan melakukan hal lebih dari ini.


Emma mendorong Jack. Jack terhempas ke belakang.


"Cih! Dasar tak tahu terima kasih!" kata Jack.


Emma terbatuk-batuk. Tiba-tiba . . .


TAP


Jack merengkuh wajah Emma. Didekatkannya wajahnya dengan wajah Emma.


"Kau! Sangat merepotkan! Harusnya semalam kau menuruti perkataanku maka kau tidak akan berakhir seperti ini!" kata Jack dengan nada dan tatapan yang sangat tajam.


Emma hanya bisa menangis. Jack tak melepaskan tangannya.


"Kenapa kau menangis? Apa kau punya banyak sekali cadangan air mata hingga bisa keluar kapan saja?" tanya Jack.


"Cih! Melihat wajahmu saja kurasa keberuntunganku hilang seketika. Kau benar-benar pembawa sial! Kalau kau tidak sakit, ibu tidak akan menyuruhku malam-malam menemanimu dan mengurangi waktu tidurku! Setelah ini, kau harus bertanggung jawab, parasit!" lanjut Jack dan menghempaskan Emma.


Jack berdiri dan meninggalkan Emma yang tak henti-hentinya menangis.


******


Esoknya di Chorea Academy. Kelas 1-8, kelas Chloe dan Cheryl.


Cheryl datang dengan wajah lesu, setelah melihat Darren membela Emma hingga ia bertengkar dengan Axel. Chloe heran, ditegurnya sahabatnya itu.


"Ada apa Cheryl?" tanya Chloe dengan lembut.


"Hiks, kemarin Darren membela saingan cintaku." jawab Cheryl sembari menggigit baju seragamnya.


"Saingan cinta? Siapa? " tanya Chloe tak paham.


"Anak baru itu. siapa lagi." gerutu Cheryl yang tiba-tiba muncul aura hitam di sekitarnya, membuat Chloe bergidik ngeri.


"Tenanglah, jangan berpikir negatif . Oh ayolah Cheryl." kata Chloe menenangkan.


"Kau tidak tahu. Kemarin Darren membela Emma hingga bertengkar dengan Axel. Dan berujung dihajar Earlene. Niat Darren kan baik, tapi kenapa dia malah dihajar? Tidakkah kau berfikir Emma itu pembawa sial?" jelas Cheryl dengan kesal.


"Darren bertengkar dengan Axel pasti bukan tanpa alasan. Pasti mereka saling mengolok, Emma tak ada hubungannya. Mereka saja yang kelewat emosi satu sama lain. Dan Earlene? Dia memang seperti itu, lagipula Darren kan ikut klub Taekwondo, jadi dia pasti sudah kebal dengan pukulan Earlene. Tapi . . ." kata Chloe menanggapi dengan kepala dingin.


"Menyebut Emma pembawa sial? Kurasa bicaramu kelewatan, Cheryl." kata Chloe, ia tidak suka sahabatnya mengatakan hal buruk tentang orang lain.


"Kau membelanya, Chlo?" tanya Cheryl tak percaya.


"Aku tidak membelanya, hanya saja menyebutnya seperti itu tidaklah baik. Bagaimana kalau kau nanti malah menyukainya?" kata dan goda Chloe.


"Aku ini perempuan! Dan aku akan selalu setia dengan Darren!" kata Cheryl sedikit berteriak kesal pada Chloe.


Chloe hanya terkekeh


"Bukan itu maksudku. Bagaimana kalau di masa depan kau menjadi teman atau sahabatnya?" kata Chloe mengoreksi kata-katanya.


"Huh, terserahlah" kata Cheryl pasrah, ia kalah dengan kata-kata bijak seorang Chloe Valentine.


Bel berbunyi. Jam pelajaran pertama di kelas 1-8 adalah Matematika. Kelas Mr. Richard sang guru killer. Mr. Richard masuk, semua siswa sudah duduk rapi tanpa berani berkata-kata. Bahkan mereka tak berani untuk hanya sekedar menyeka keringat yang mengucur di pelipis mereka. Mr. Richard membuka buku absennya disertai tatapan tajamnya.


Beralih ke kelas 1-5. Pelajaran sejarah oleh Mr. James. Ia mengabsen murid-nya satu-persatu. Hingga . . .


"Emma Michelle" panggil Mr. James.


Hening. Tak ada sahutan, Mugi mengernyitkan dahinya, ia menoleh ke belakang dan Emma tak ada di tempat. Pelajaran pertama sudah dimulai, tapi Emma belum juga datang.


"Kemana kau, Emma?" gumam Mugi.


Jack menyipitkan mata emeraldnya melihat bangku kosong milik Emma. Tentu saja, karena Emma sedang terserang demam dan tidak memungkinkan untuk masuk ke sekolah. tapi, Jack tak mau repot-repot menjawab panggilan Mr. James untuk memberitahu keadaan Emma. ia tak mau ada yang tahu kalau parasit seperti Emma tinggal bersamanya. Akan jadi berita besar kalau sampai semua orang tahu. Dan harga dirinya sebagai seorang Jack William akan tercoreng."Emma Michelle" panggil Mr. James sekali lagi.


"Dia sakit, sir." sahut sang ketua kelas, Brian Petrenkov.


Seketika semua orang menoleh pada Brian. Tak terkecuali Jack yang membelalakkan mata dengan sempurna mendengar pembelaan Brian yang menurutnya diluar wajar. Harusnya ia yang mengatakan demikian, tapi egonya menolak. Jack berdecak dan menggenggam tangannya kesal. Ingin rasanya ia meninju wajah sang ketua kelas dan ketua klub basket itu dan menyadarkannya untuk tidak terbuai dengan sikap lemah nan minta untuk diberi simpati macam Emma Michelle. Sikap Jack tak luput dari pandangan salah satu teman sekaligus rivalnya, Darren.

__ADS_1


Darren mulai curiga dengan Jack. Ia merasa sikap Jack kelewatan. Pasti ada alasan dibalik itu. alasan yang mungkin di dunia ini tak ada yang tahu kecuali kedua orang yang terlibat.


"Begitukah? Apa kau dekat dengan Emma, Brian?" tanya Mr. James.


"Iya, mister, tapi aku tidak terlalu dekat dengannya" jawab Brian.


"Benarkah itu, ketua? Kulihat kau kemarin berlari ke ruang klub taekwondo untuk sekedar menemuinya" sindir Nick.


Brian langsung menoleh, ia menatap tajam sepupunya itu, yang tak tahu tempat dan keadaan untuk mencibirnya. Semua langsung bertanya-tanya.


{Apa mungkin Emma dan ketua pacaran?}


{Mungkin, keduanya lumayan dekat.}


{Woah, baru beberapa hari masuk sudah bisa menggaet Brian.}


Brian yang mendengarnya langsung memerah, tapi ia berusaha untuk menahan dirinya di hadapan teman sekelasnya. Ia menghela nafas.


"Kurasa sekarang waktunya pelajaran dimulai, bukan begitu? Mr. James?" tanya Brian berusaha mengalihkan perhatian sembari melihat Mr. James.


Betapa terkejutnya Brian, mendapati sang guru ikut tertarik dengan topik pembicaraan barusan. Brian kesal karenanya, ia duduk dan mendengus kesal. Membuat Mr. James tersenyum.


"Tidak biasanya kau Brian. Tapi baiklah, kurasa aku harus memulai pelajaran. Tapi Brian, apa benar . . ." kata Mr. James.


"MISTER" panggil Brian dengan menekankan setiap katanya.


Mr. James hanya tersenyum innocent. Sementara Luke, empat siku-siku muncul di keningnya. Lagi-lagi Brian dan Emma.


"Huh, kenapa sepertinya Emma lebih memilih dekat dengan ketua daripada aku" kata Luke.


"Siapa yang mau dekat dengan playboy sepertimu" sahut Mugi datar.


"Apa? Hei!" kata Luke dengan suara sedikit meninggi.


"LUKE! TIDAK BISAKAH KAU DIAM?" tanya Jeannette dengan dingin, membuat Luke mati kutu seketika.


******


Emma masih terbaring, demamnya sudah turun. Tapi badannya masih lemas. Kini, ia bermimpi. Mimpi jauh dimana sebelum mamanya meninggal. Mimpi ketika dirinya tinggal bersama keluarganya di desa kecil.


~ Emma's Dream ~


"Mama, papa bilang ada hamparan bunga di sekitar sini. Apa itu benar?" tanya Emma kecil. "Hmm, mama akan ada pemotretan disana besok, Emma mau ikut?" tawar nyonya Lyla.


"Boleh?" tanya Emma kecil antusias.


"Tentu. Tapi selesaikan tugasmu dulu hari ini" kata nyonya Lyla.


Esoknya nyonya Lyla Michelle dan putrinya pergi ke bukit bersama agensi untuk pemotretan. Emma yang tidak ada jadwal hari itu, duduk di bawah pohon rindang sambil menatap hamparan bunga yang kini tengah menjadi background mamanya. Semilir angin bertiup, membuat Emma kecil merasa nyaman dan terbuai untuk memejamkan mata. Tiba-tiba ia mendengar suara dari balik semak-semak. Emma kecil terganggu, ia mencari sumber suara dan didapatinya seorang anak kecil . . .


~ End of Emma's Dream ~


Emma terbangun. Handuk yang mengompres dahinya terjatuh.


"Siapa anak itu? kenapa aku tidak pernah bisa melihat wajah dan mendengar suaranya?" tanya Emma dalam hati.


Pintu diketuk. Hendy permisi untuk masuk, ia membawakan bubur dan susu hangat untuk Emma. disodorkannya nampan yang ia bawa.


"Bagaimana keadaan anda, nona? Nyonya dan yang lain khawatir pada anda. Ini bubur dan susu buatan Virginia untuk anda, makanlah" kata Hendy.


Emma mengulurkan tangannya. Meraih sendok dan memakan sedikit buburnya. Hendy mengulurkan beberapa obat. Melihat obat, Emma jadi ketakutan. Ia kembali ingat kejadian semalam saat Jack memaksa dirinya untuk meminum obat dengan cara yang sangat kasar. Hendy menaikkan sedikit alisnya, ia tak mengerti kenapa Emma terlihat takut.


"Anda harus segera sembuh" kata Hendy.


Emma menggeleng, ia mencari notenya. Ditulisnya sesuatu.


"Aku sudah baik. Jadi tolong jauhkan obat ini dariku" tulis Emma.


"Apa anda ada masalah dengan obat?" tanya Hendy.


"Kumohon, jauhkan dariku" tulis lagi, kali ini ia hampir menangis.


Hendy menurutinya. Ia mengambil obat itu dan meminta pada Emma untuk menghabiskan makanannya. Emma tenang dan mulai memakan kembali buburnya, hingga pertanyaan Hendy menginterupsinya.


"Nona, katakan. Alasan nona demam, itu karena Tuan Jack kan?" tanya Hendy tiba-tiba.Emma terhenyak. namun dengan segera ia menggeleng, berusaha melindungi Jack yang jelas-jelas melakukan kesalahan.


"Jangan berbohong, malam itu saya mendengar semuanya" kata Hendy.


Tangan Emma gemetar. Ia menjatuhkan sendoknya, merasa kebohongannya terbongkar, ia menjadi tertunduk. Seolah menjawab pertanyaan Hendy dengan jawaban iya.


"Kenapa anda diam saja? kenapa anda tidak mengatakan pada nyonya kalau Tuan Jack memperlakukan anda dengan kasar?" tanya Hendy.


Hening untuk sesaat, dengan perlahan, Emma kembali menulis note.


"Dan kenapa kau hanya bicara padaku? Kenapa tidak kau saja yang mengatakan pada tante Azzury?" tanya Emma dalam Note.


Hendy terhenyak membacanya. Emma kembali menulis note, kali ini ia menulisnya dengan cepat.


"Apa yang aku dapatkan setelah aku mengatakannya?" tanya Emma lagi.


Kali ini Hendy bagai disambar petir. Ia tidak menyangka Emma berfikir sejauh itu. ia mengerti maksud Emma. kalau Emma mengatakannya, ia takut kalau Jack akan melakukan hal lebih dan yang paling parahnya. Jack akan mengusinya, tanpa mengindahkan perkataan orang tuanya. Hendy menghela nafas, itu semua memang mungkin terjadi.


"Oh ya, Nona Emma. Ini dari nyonya Azzury, kumohon anda mempertimbangkannya" kata Hendy menyodorkan selembar kertas dan meninggalkan kamar Emma.


Emma membacanya. Itu adalah form untuk pasien yang memiliki gangguan psikologi, di ujung form terdapat label Petrenkov Hospital. Dengan dingin, Emma merobeknya. Dan membuangnya.


"Tidak kusangka, disini aku juga akan dikirim ke rumah sakit" keluh Emma.


"Tidak akan terjadi kedua kali. Kalian pikir bisa memasukkanku ke penjara lagi? Dan membuatku koma selama yang kalian inginkan?" tanya Emma penuh amarah dalam hatinya.


Emma segera bangun, walaupun ia masih sedikit terhuyung-huyung, ia berusaha tetap menegakkan kakinya. Ia membuka lemari dan mengambil beberapa pakaian kemudian memasukkannya ke tas. Emma berganti pakaian, bukan pakaian yang biasa ia pakai. Melainkan pakaian yang membuat dirinya terlihat seperti laki-laki. Pakaian yang ia sembunyikan dan digunakan di keadaan darurat seperti sekarang ini. Ia mencari sesuatu yang lain. Sesuatu yang dapat menutupi rambut pirangnya. Tapi Emma tak menemukan satu pun. Dengan sedikit gemetar, Emma menguatkan dirinya untuk menyelinap ke kamar sebelah.


Emma keluar kamar, ia melihat kanan kiri, memastikan tak ada orang. Ya, karena Jack dan Nathalie tengah sekolah dan yang lain tengah sibuk. Sementara nyonya Azzury mendadak pergi ke kantor. Emma membuka kamar Jack perlahan, ia masuk dengan segera. Ia sedikit heran melihat kamar Jack yang tergolong rapi dan memiliki bau yang khas. Khas Jack. Emma segera mencari topi. Ia mendapatkannya dan segera dikenakan dengan menyembunyikan rambut panjangnya di balik topi. Emma tersenyum sinis dan segera keluar lewat pintu kamar Jack yang mengarah ke balkon. Ia melihat ke bawah, sepi. Emma mengaitkan tali dan turun dari lantai dua dengan sukses. Tanpa sepengetahuan siapapun, Emma pergi meninggalkan kediaman William yang beberapa hari ini sudah menaunginya.


"Maafkan aku, Virginia" kata Emma dalam hati dan segera berlari menjauh dari perumahan tersebut.


******


Malam pun tiba. Jack melangkah lunglai menuju kamarnya. Hari ini ia terlalu lelah karena latihan yang berlebihan atau lebih tepatnya dirinya yang berlebihan. Ia membuka kamarnya dan angin pun berhembus membuat tirai di kamarnya melambai seolah menyapanya. Jack mendekat ke arah balkon dan hendak menutup pintu, tapi ia melihat tali yang terikat di balkon. Ia keluar dan melihat tali tersebut, tali yang menjulur hingga bawah. Jack mengernyitkan keningnya.


"Kenapa ada tali disini?" tanya Jack dan menarik tali kemudian merapikannya.


******


Makan malam. Nyonya Azzury, Nathalie sudah berada di bangku masing-masing. Jack turun sendirian.


"Dimana Emma? apa dia masih tidur?" tanya nyonya Azzury pada Virginia dan Hendy.


"Saya akan memanggilnya" jawab Virginia.


Jack duduk dengan acuh. Virginia naik, tapi tak lama kemudian, Virginia turun dengan tergesa-gesa, wajahnya panik.


"Nona, Nona . . ." kata Virginia panik.


"Kenapa? Kak Virginia?" tanya Nathalie.


"Nona tidak ada di kamarnya" jawab Virginia dalam paniknya.


"APA!" nyonya Azzury berdiri, matanya melotot.


"EMMA KABUR?" pekik nyonya Azzury.


Nyonya Azzury, Nathalie, Virginia dan Hendy bergegas naik ke kamar Emma. benar saja, Emma tak ada disana. Mereka melihat kertas yang telah dirobek menjadi beberapa bagian. Nathalie memungutnya, ia mengulurkan sobekan kertas tersebut pada sang ibu.


"Apa ini? Form ini . . ." nyonya Azzury terbelalak, ia mulai bergetar.


"Kenapa Emma kabur hanya karena melihat Form ini? Apa dia tidak ingin diobati?" tanya nyonya Azzury.


Virginia ikut memungut sobekan form di lantai, ia tahu form apa itu. ia menautkan kedua alisnya.


"Nona, kenapa? Mereka hanya ingin mengobatimu. Bukan menyiksamu seperti apa yang tuan besar lakukan" kata Virginia dalam hati.


"Virginia, bisa kau jelaskan ini?" tanya nyonya Azzury serius, ditatapnya Virginia yang tak bergeming sama sekali karena menatap sobekan form di tangannya.


Jack melihat dari luar kamar, ia ingat tali yang menjulur dari balkonnya. Jack terhenyak, tapi kemudian ia tersenyum sinis.


"Apa ini akhirnya? Baguslah, aku tak perlu repot-repot menyiksanya lagi" gumam Jack dan pergi masuk ke kamarnya.


Di kamar Emma. nyonya Azzury berhadapan empat mata dengan Virginia.


"Bukankah Emma belum sembuh?" tanya nyonya Azzury.


"Maafkan saya nyonya, saya lengah" jawab Virginia.


"Emma kabur setelah merobek form ini. Katakan, kalau dugaanku ini salah" selidik nyonya Azzury.


"Bukankah kau sudah menjelaskan semuanya? Virginia?" tanya Nyonya Azzury berusaha untuk tenang.


"Maafkan saya, Nyonya. Tapi itu benar" jawab Virginia dengan mata berkaca-kaca, perasaannya campur aduk.


"Sebenarnya apa yang membuat Emma takut dengan rumah sakit?" tanya nyonya Azzury lagi.


"Sebenarnya . . . 2,5 tahun lalu Nona dibuat koma oleh ayahnya selama 1 tahun. Ketika Nona sadar, Tuan selalu memerintahkan dokter untuk segera membuatnya tertidur. Seperti meminumkan obat dan menyuntiknya secara paksa" jelas Virginia dengan suara lirih.


"Kemudian, setelah itu dia memberontak dan berhasil terbangun dari komanya. Tapi, bukan berarti ia terbebas begitu saja. Tuan kembali mengurungnya bahkan menyiksanya seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Hingga akhirnya Nona menjadi seperti sekarang ini" kata Virginia melanjutkan penjelasan.


"A ... ap ... apa?" nyonya Azzury tak sanggup berkata-kata lagi.


Jack berdiri di balkon dengan tali yang kini berada di genggamannya. Diliriknya Virginia dan ibunya yang tengah berhadapan di kamar Emma. ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi tidak semua. Jack mendengar penjelasan Virginia tentang Emma dibuat koma selama 1 tahun. Entah kenapa mendengarnya saja membuat hati Jack terasa ngilu, serasa disayat beribu pedang. Jack memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Cih! Merepotkan!" gerutu Jack dan masuk kembali ke kamar.


"Apa itu benar, Virginia?" tanya nyonya Azzury."Sebenarnya apa yang diinginkan Sebastian? Apa dia sudah gila!" teriak nyonya Azzury frustasi.


Nathalie makan malam sendirian. Ia makan sambil melamun. Keadaan rumah sedang kacau. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk mendinginkan suasana. Ibunya tengah kalap, sedangkan kakaknya acuk tak acuh. Sebagai salah satu anggota keluarga, ia tidak ingin tinggal diam, tapi apa yang bisa ia perbuat?


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting. Nathalie terlonjak kaget, tentu itu adalah ulah sang kakak. Nathalie hanya menghela nafas.


"Hei, kak Hendy. Menurutmu, kapan kakak mengubah sikapnya pada Kak Emma? Semenjak berita kedatangan sampai tinggalnya Kak Emma disini, kakak jadi banyak berubah. Ia menjadi sangat kasar. Aku sungguh tidak mengerti" tanya Nathalie.


"Entahlah Nona Nathalie" jawab Hendy.


******


Kemana Emma?


Emma berjalan kemana pun kakinya melangkah. Ia tak peduli pandangan orang disekitarnya yang menganggapnya aneh. Awan mendung mulai berkumpul, tak lama kemudian terdengar suara gemuruh dari langit. Menandakan hujan akan turun. Emma terus berjalan dan berjalan. Hingga tetesan hujan menghentikan langkahnya. Semakin lama hujan semakin deras. Emma menengadah, ia mengingat dimana dirinya menangis di makam ibunya disaat hujan kala itu. matanya mulai mengeluarkan cairan bening, ia menangis.


"Mama, aku rindu padamu" kata Emma dalam hati.


Tiba-tiba . . .


"HOI! Kau yang disana!" panggil seseorang dengan suara baritone dan nada yang sinis.


Emma tak bergeming. Seseorang itu pun mendekat.


"LEPASKAN TOPIKU! DASAR PENCURI!" kata seseorang dengan kasarnya.


Emma mengenal suara itu, ia menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat Jack berdiri di depannya dengan membawa payung berwarna kuning. Jack menautkan kedua alisnya. Emma sadar dan mengacuhkan Jack, ia melangkah pergi.


"Kalau kau mau pergi, jangan pakai barangku!" kata Jack menghentikan langkah Emma, Emma menoleh dengan tatapan tajam, Jack sedikit terperangah melihatnya. Namun ia segera menutupi hal tersebut.


Emma melepaskan topi milik Jack. Kini rambut pirang panjangnya terurai kebawah. Diberikannya topi itu pada Jack lalu mulai beranjak. Jack menerima topi itu, ia memandangi topi itu sesaat dan . . .


"Kemana kau akan pergi? Kau bahkan belum berterima kasih pada keluargaku yang dengan baiknya mau memungutmu" tanya Jack dengan berteriak.


"Baiklah. Terima kasih" jawab Emma dalam hati


"Kau tidak menulis sesuatu untuk menjawabku?" tanya Jack.


Emma mengambil notenya dan menulis jawaban


"Terima kasih" tulis Emma dalam note lalu mendekat pada Jack untuk memberikan jawabannya.


Tapi Jack malah menariknya, atau lebih tepatnya menarik Emma ke dalam pelukannya. Emma terbelalak. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang, wajahnya memanas dan perasaan-perasaan aneh menggelitik benaknya. Jack membisikkan sesuatu ke telinga Emma.


"Kau mau jadi gelandangan diluar sana? Nona Michelle?" tanya Jack dengan nada menggoda.


Emma sadar, ia mengerutuki dirinya sendiri yang terbuai oleh sikap Jack William barusan. Ia mendorong Jack seketika. Jack tersenyum sinis, ditatapnya Emma dengan tajam.


"Lebih baik aku jadi gelandangan daripada harus tidur seperti orang mati" jawab Emma dalam hati.


"Beraninya kau! Apa ini perlakuanmu setelah mendapatkan segala kenyamanan di rumahku? Huh?" tanya Jack dengan sinisnya.


Emma bergetar. Perkataan dan sikap Jack selalu melukainya. Dan sekarang pun juga demikian.


"Mendekatlah" kata Jack kemudian dengan lembut.


Emma menggeleng.


"Kau mau mendekat atau aku yang menyeretmu?" ancam Jack.


"Seret saja kalau kau memang bisa!" kata Emma dalam hati.


"Kau menantangku?" tanya Jack lagi.


Emma membalikkan badan. Ia tak mau berlama-lama berdebat dengan kepala karamel macam Jack. Atau ia akan ketahuan. Jack habis kesabaran dan menarik tangan Emma hingga membuat gadis itu menghadap padanya. Ditatapnya Emma dengan tajam. Mata emeraldnya bertemu dengan mata sapphire Emma. Emma menarik paksa tangannya, meronta dan batinnya berteriak minta untuk dilepaskan. Tapi cengkraman Jack lebih kuat. Jika saja dirinya sedang dalam keadaan prima, mungkin Jack sudah ia banting dengan serangan paling mematikan. Tapi tuhan berkehendak lain, Emma sekarang masih lemah karena ia belum seratus persen pulih. Mereka beradu untuk beberapa saat hingga Jack menarik dengan kuat lengan Emma, membuat wajah sang gadis pirang tersebut mendekat tepat beberapa centi ke wajahnya.


"PULANG" kata Jack.


Emma terhenyak. lagi-lagi ia dikagetkan oleh sikap Jack. Tadi Jack meneriakinya, mencemoohnya, lalu memeluknya, kemudian mencemoohnya lagi dan sekarang memintanya untuk pulang. Emma sungguh tidak mengerti jalan pikiran Jack. Melihat Emma yang tak bereaksi, Jack segera menarik Emma untuk kembali. Emma sadar dan berusaha melepaskan diri, tapi Jack tetap menariknya dengan kasar tanpa mengindahkan penolakan Emma sedikit pun.


"Cih! Aku melakukannya bukan karena aku ingin. Tapi kalau kau kabur seperti ini, maka aku juga akan celaka" kata Jack dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2