The Missing Voice

The Missing Voice
| Chapter 9 : Something Happend in My Heart |


__ADS_3

Esoknya di Sekolah.


Kali ini Jack tidak menolak diturunkan di depan sekolah seolah ia ingin mengumumkan pada dunia kalau Emma tinggal bersamanya. Berhubung sekolah sudah ramai, semua tentu melihat mereka dan mulai berkasak-kusuk. Emma tidak memperdulikannya dan melangkah begitu saja memasuki sekolah. Jack mengejarnya dan mengambil jarak 3 langkah dari gadis itu, Emma acuh. Keberadaan Jack dianggapnya angin lalu saja. Jack merasa sedikit canggung, bagaimana pun ia akan tetap berada di samping gadis itu karena ia sudah memantapkan hatinya. Ia juga perlu memastikan perasaannya, perasaan bencinya yang entah kenapa sejak mendengar kalimat pertama Emma jadi goyah.


{Kalian lihat itu?}


{Emma Michelle turun dari mobil yang sama dengan Jack.}


{Awalnya kurasa Emma yang mendapat tumpangan dari Nathalie, tapi berhubung setiap hari aku jadi curiga.}


{Apa mereka tinggal bersama?}


{Tapi aku tak pernah melihat mereka datang bersama.}


{Bahkan kudengar Jack tidak menyukainya.}


{Membencinya mungkin.}


Kalimat terakhir dari mereka benar-benar mengenai Jack. Walaupun itu benar, tapi entah kenapa jika dikatakan orang lain sungguh menyayat rasanya.


Di sepanjang koridor, semua mata menatap mereka heran. Tidak biasanya Jack berjalan dengan gadis lain selain Chloe. Sungguh pemandangan yang langka, terlebih kali ini berbeda karena terkesan Jack yang mengekori gadis itu. Ketika Emma berhenti, Jack ikut berhenti. Ketika Emma melirik dengan sinis ke belakang, Jack membuang muka dan menggaruk rambut belakangnya yang memang tidak gatal.


Sampailah mereka ke kelas 1-5. Emma membuka pintu, ia masuk dan diikuti Jack. kelas sudah ramai, Darren, Luke, Mugi yang sudah datang terkejut bukan main. Bukankah Jack selalu menghindari Emma? lalu kenapa? Batin mereka bertanya-tanya. Emma duduk begitu saja di bangkunya begitu pula dengan Jack. Luke yang penasaran segera mendekati temannya itu.


"Hei, apa kau salah makan? Atau kau salah minum obat?" tanya Luke.


"Kau yang salah makan hingga bertanya pertanyaan konyol seperti itu" jawab Jack acuh sambil memandang Emma dari belakang. Luke mengerutkan dahinya, ia mengikuti arah pandangan mata Jack dan mata itu tengah menatap lekat seorang gadis cantik bersurai pirang yang merupakan mantan idol kecil ternama.


"Hei, apa aku tidak salah lihat? Kau memandang Emma?" tanya Luke.


"Memandang? Apanya? Tidak" elak Jack tanpa mengalihkan pandangannya.


"Hei" Luke menyikut Jack dan yang disikut menoleh, ditatapnya Luke dengan datar. Betapa shocknya Luke melihat pandangan mata Jack, sebelumnya mata itu selalu menyorot tajam dan mengkilat. Tapi kini, sorot mata itu bagai langit mendung. Ia jadi khawatir, tidak biasanya temannya seperti itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Luke kemudian.


"Aku? Baik" jawab Jack dan kembali mengalihkan pandangan matanya pada objek semula. Luke menghela nafas, Jack memang tidak pernah jujur dengan apa yang dirasakannya, padahal sudah jelas-jelas ia berbohong.


"Kau tidak baik, **** head" cibir Darren, yang entah kenapa mulai nimbrung. Sepertinya ia ikut penasaran dan khawatir pada rival sekaligus sahabatnya. Sang empunya menoleh, Darren sudah menaikkan sudut bibirnya bersiap menantang namun ia begitu down ketika Jack menatapnya dengan tatapan yang sama seperti yang


dilontarkan pada Luke.


"Benarkah?" tanya Jack dan lagi-lagi kembali mengalihkan pandangannya.


Sementara Mugi juga menanyakan hal serupa pada Emma. Yang selalu dijawab dengan kata tidak tahu. Mugi sungguh bingung, tidak mungkin Jack berubah hanya dalam hitungan hari. Tiba-tiba Brian datang bersama Nick, dan pemuda amber itu langsung mendekati Emma. Diberikannya gadis itu sebuah susu kotak.


"Minumlah" kata Brian dan Emma pun menoleh. Ditatapnya pemuda itu dengan tatapan penuh rasa terima kasih dan sedikit rona tipis menghiasi pipinya, yang menurut Brian sungguh sangat menawan.


Semua mata melotot dan wajah seisi kelas langsung memerah seketika. Pasangan itu memang sungguh romantis dan serasi, mereka saling memperhatikan. Tapi semua itu minus Jack. Dadanya bergemuruh, darahnya seakan dipicu menuju ubun-ubun, nafasnya mulai memburu. Tanpa ia sadar Darren meliriknya. Namun belum berlangsung lama, Jack memalingkan wajahnya. Ia mulai berperang dengan batinnya sendiri.


"Apa yang aku lakukan? kenapa aku merasa seperti ini?" tanya Jack pada dirinya sendiri.


"Tidak seharusnya aku melihatnya, tidak seharusnya. Karena, melihatnya menatap Brian entah kenapa rasanya sakit" lanjut Jack.


"Tapi, aku ada hak untuk melakukannya (melihat). Karena dia adalah Emm" kata Jack kemudian.


Selama jam pelajaran, mata Jack tak pernah lepas dari Emma. Ia bahkan tidak memperhatikan pelajaran sama sekali. Dilihatnya Emma yang sedang serius belajar, entah kenapa perlahan bibirnya tertarik dan ia kembali tersenyum. Tanpa Jack ketahui, Darren melihatnya. Pemuda raven itu mengerutkan dahinya, ia tidak menyangka kalau sahabatnya bisa tersenyum dan itu tulus. Bahkan senyuman itu ia akui tidak pernah ditunjukkan pada Chloe sekalipun. Sungguh ia heran dan dibuat bingung olehnya.


Angin berhembus melalui jendela, tertiup dan menyapa seluruh siswa di ruang kelas 1-5. Angin itu juga tak lupa menyapa Emma, hingga membuat rambut gadis itu melambai bak tirai sutra, lembut dan indah. Emma menyangga rambutnya ke telinga, betapa terkejutnya Jack melihatnya, sungguh pemandangan yang indah?


Ia tetap seperti itu, virus pesona Emma Michelle benar-benar gila! Bisa membuat dirinya hanyut seketika. Lagi-lagi sebuah ingatan masuk ke dalam kepalanya.


~Flashback ~


Jack kecil tengah bermain catur bersama Emma di taman. Tapi dengan seenaknya Emma bermain sambil membaca sebuah buku. Lebih parahnya, Emma sudah mengambil 7 dari bidaknya dan tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya bergerak tapi matanya tetap fokus ke buku yang dibacanya. Padahal Jack sampai berkeringat dingin memikirkan taktik untuk mengskak Emma. Namun dengan lihainya, Emma malah melakukan . . .


SKAK


Jack syok. Ia kalah telak. Ditatapnya Emma yang tanpa ekspresi menanggapi kemenangannya. matanya tetap fokus pada buku. Jack mengeram kesal. Sebenarnya siapa Emma? hingga ia sepintar itu? yang selama ini ia tahu Emma adalah Emm. Temannya, sahabatnya, orang berharga baginya selain orang tua dan keluarganya. Seseorang yang mampu mengisi hari-hari membosankannya, seseorang yang selalu ia rindukan senyumnya, dan seseorang yang selalu . . .


Membuatnya frustasi.


Bagaimana tidak? setiap kali bermain, setiap kali ia menantang gadis kecil itu, ia akan selalu kalah. Bahkan ia selalu kena omelannya karena lupa mencarinya ketika mereka bermain petak umpet. Tapi, ketika ia menyentuh tangan gadis itu, ia akan selalu tertunduk dan malu. Membuat jantung kecilnya berdegup kencang. Sungguh membuat frustasi kan?


"Hei, Emm. Bisakah kau menutup bukumu?" pinta Jack dengan nada kesal.


"Sebentar lagi, Jack" jawab Emma.


"Kau menang. Tidakkah kau senang? Kau ini sengaja atau apa? Daritadi aku memutar otak, tapi kau tidak menoleh dan dengan santainya meng SKAK" jelas Jack.


"Jadi intinya kau ingin aku melihatmu berpikir keras, dan aku akan memujimu dengan 'oh betapa kerennya' begitu?" tanya Emma santai tanpa memperdulikan temannya yang sudah sangat emosi.


"APA? AKU MEMANG KEREN, EMMA. DILIHAT DARI PELUPUK MATA DAN SEBERANG LAUTAN PUN AKU KEREN PLUS TAMPAN. KAU TIDAK LIHAT? HUH?" ungkap Jack menggebu-gebu, ia benar-benar terpancing amarah.


Tak ada jawaban. Emma hanya diam dan tetap fokus. Jack geram dan merebut buku yang dibaca Emma.


"Sebenarnya apa yang kau baca sih?" kata Jack dan membaca buku itu, betapa terkejutnya ia melihat tulisan aneh disana. Ia memiringkan kepalanya dan mulai mengeja, ia terbata-bata. Melihat itu, Emma terkekeh.


"Seorang yang keren itu ketika ia bisa membaca dan mengetahui apa yang dibacanya" kata Emma menyindir Jack.


"A . . . Ap- apa? Aku bisa membacanya. Judul buku ini adalah o-n-e par-ti-son two sai-des " eja Jack dengan terbata-bata, kemudian setetes keringat dingin menetes di dahinya.


"Maksudmu one partition two sides " kata Emma membenarkan.


Tahu kalau ejaannya salah, Ia nyengir, antara malu, syok kalau ia dengan kerennya memplesetkan sebuah kata indah menjadi bahasa Alien. Tiba-tiba Emma tertawa, ia terbahak-bahak melihat ekspresi Jack yang menurutnya lucu. Dalam hati, Jack mengumpat sejadi-jadinya. Seharusnya ia tidak menantang Emma Michelle, karena ia kalah lagi dan berujung dipermalukan seperti ini.


"Hahaha, kau suka baca buku ya, Emm" kata Jack mengalihkan pembicaraan.


"Hmm, begitulah, Jack" jawab Emma disela-sela tawanya.


"Hentikan, Emm, aku malu" kata Jack kemudian dan sukses membuat Emma berhenti tertawa. Ia sadar harusnya ia tidak menertawai Jack, teman macam apa yang menertawai temannya hanya karena salah mengeja kata?


Pada akhirnya Emma memutuskan mengajari Jack membaca huruf latin. Sejak itu setiap kali mereka bermain, Emma akan selalu mengambil waktu untuk mengajar walau hanya sebentar. Dan setiap kali Emma dengan wajah serius mengajarinya, diam-diam Jack tersenyum. Menurutnya Emma sangat mempesona jika dalam mode serius.


~ Flashback End ~


"Bahkan wajah serius Emm masih sama mempesonanya seperti dulu" kata Jack dalam hati.


"EHH? Apa yang aku pikirkan? Tidak, aku hanya mengingat masa lalu saja" lanjut Jack menyadarkan dirinya.


Bel berbunyi, jam makan siang. Brian dan Mugi mengajak Emma ke kantin, melihat itu Jack bergegas berdiri dan mengajak teman-temannya ke kantin. Ketika Jack dan teman-temannya berjalan di koridor, tiba-tiba sebuah suara menginterupsinya. Suara yang biasanya sangat ia rindukan, entah kenapa sekarang rasanya sedikit berbeda, seperti hambar mungkin. Biasanya pula, hatinya akan berdebar dan senang mendengarnya tapi entah kenapa ia merasa terganggu. Jack berhenti berjalan, ia menoleh. Chloe menghampirinya dengan membawa sekotak bekal yang tentunya akan ia makan bersama tunangannya.


"Jack, aku membawa banyak, mau makan siang bersama?" tanya Chloe penuh harap.


Jack hanya memandangnya datar. Sangat datar, bahkan tanpa ekspresi.


"Maaf, Chlo, aku ingin makan bersama mereka di kantin, mungkin lain kali" jawab Jack dan berlalu, Luke dan Darren permisi dan pergi mengikuti Jack. Segera mereka susul sahabatnya itu, namun Darren menoleh sebentar melihat ekspresi sedih Chloe. Bagaimana pun Chloe gadis yang baik, dan bukannya selama ini Jack tidak pernah menolak Chloe? Sungguh Darren tidak tahu jalan pikiran Jack, tapi satu hal yang pasti dan bisa membuat Jack berubah adalah karena satu orang. Siapa lagi kalau bukan Emma Michelle, gadis yang sangat dibencinya namun tanpa ia sadari ia mulai err jatuh cinta padanya.


Sementara yang ditinggalkan tertunduk sedih. Ia bertanya-tanya, kenapa Jack tega padanya. Bukankah pertunangan sudah diselenggarakan, dan orang yang paling ingin melakukannya dari awal adalah Jack. Pemuda itu yang sempat kesal karena pertunangannya sempat diundur. Dan, pemuda itu juga yang sudah berjanji kalau ia tidak akan pernah meninggalkannya, tapi kali ini . . .


"Jack, ada apa denganmu? Aku tahu kau tadi tidak benar-benar menatapku. Karena hati dan pikiranmu tidak berada disini" gumam Chloe dengan sedih. Ketika ia terpuruk seperti itu, seseorang menepuk pundaknya. Ia adalah Cheryl.


"Tenanglah, Chlo. Jack hanya banyak pikiran. Mungkin kejadian di acara itu masih membuatnya tertekan. Percayalah padanya" kata Cheryl menenangkan.


"Aku sudah biasa diacuhkan, jadi menurutku Jack belum ada apa-apanya, Chlo" kata Cheryl dalam hati.


Kantin sekolah, jaraknya memang agak jauh dari gedung utama. Brian duduk bersama Nick, Mugi dan Emma tentunya. Selama mereka makan, Emma tidak benar-benar makan, ia merasa tidak nafsu. Ia terus memikirkan perlakuan lembut Jack padanya kemarin. Saat dengan perhatian Jack mendekatinya, saat dimana senyum Jack merekah. Sungguh membuatnya terlena untuk sesaat. Sudah semalaman ia menguatkan diri untuk tidak terbuai, namun hati dan tubuhnya bertolak belakang. Semakin ia berusaha melupakannya, semakin ia teringat olehnya. Bahkan ketika ia menatap sinis Jack, hati kecilnya tidak tahan dan menolak melakukannya.


"Em, makananmu akan menangis nanti karena kau hanya mengaduk-aduknya" kata Mugi.


"Apa kau sakit, Emma?" tanya Brian.


Emma sadar, ia menggeleng dan mulai menyendok makanannya. Namun belum sempat ia memasukkannya ke mulut, sebuah suara mengagetkannya.


"Yo, kalian. Bolehkah aku bergabung? Disini sangat ramai rupanya" tanya Jack dengan innocent atau lebih tepatnya dengan cengiran bodohnya yang entah ia pelajari darimana. Semua bengong tak terkecuali Brian. Ingin sekali ia mengatakan tidak, tapi ia tidak boleh egois karena kantin memang ramai dan tempat yang tersisa hanya tempat mereka, yang biasanya muat 8 orang.


"Silahkan" jawab Brian sukses membuat Nick melotot padanya, ia memberi kode apakah sepupunya itu sudah gila dan hanya diacuhkan saja oleh sang empunya. Jack, Luke dan Darren duduk, sedangkan Jack duduk tepat disamping Emma. Entah ia sengaja atau tidak, yang jelas hal itu membuat Emma menjatuhkan makanan di sendoknya dan sedikit bumbu dari makanan itu menyiprat mengenai jas sekolahnya. Emma diam.


"Hati-hati, bajumu bisa kotor, Emm" komen Jack dengan nada perhatian. Kemudian dengan cueknya ia memakan makanannya tanpa mempedulikan semua pasang mata minus Emma tentunya sedang menatapnya syok kuadrat.


{Apa ini tidak salah?}


{Seorang Jack perhatian pada Emma?}


{Dunia pasti akan segara kiamat.}


"Emm?" Mugi mengulangi panggilan Jack, ia mengerutkan dahinya dan sedikit memiringkan kepala mungilnya.


"Aku heran, kenapa selama ini kau tidak pernah memanggil Emma dengan benar. Apa hanya perasaanku saja, atau memang kau sengaja?" tanya Mugi pada Jack.


"Benar, kenapa aku baru menyadarinya" kata Darren, Luke, Nick dalam hati secara bersamaan.


Brian hanya menatap Jack, tentu ia juga penasaran. Apakah dugaannya benar atau tidak, sulit menerka. Lebih baik mendengar dari orangnya langsung. Merasa ditatap, Jack mendongakkan kepala, mulutnya penuh makanan. Dikunyahnya makanan itu kemudian menelannya dengan segera.


"Entahlah, aku sudah memanggilnya begitu dari dulu" jawab Jack ala kadarnya, memang dari pertama ia bertemu Emma bahkan sampai sekarang ia tidak pernah menyebut namanya dengan benar. Tapi, terkutuklah lidahnya, karena pertanyaan selanjutnya membuatnya mati kutu.


"Dulu? Kau mengenal Emma, dulu?" tanya Brian.


Setetes keringat mengalir di dahi Jack. ia mengerutuki dirinya sendiri yang sampai kelepasan omong.


"Tentu saja, lagipula siapa yang tidak mengenalnya. Ia idol ternama kan" dalih Jack.


Tiba-tiba Emma berdiri. Ia meninggalkan semua temannya begitu saja. Mugi meneriakinya dan memakan makanannya dengan rakus agar segera habis kemudian menyusul Emma. Kini, tinggal lah kelima pemuda dengan surai berbeda. Brian menghela nafas dan memakan makanannya.


"Kalau saja kau tak kesini, dia mungkin masih duduk dengan tenang" sindir Brian.


"Kalau saja kau tidak mempersilahkanku, mungkin aku juga tidak berani bergabung" jawab Jack kembali memakan makanannya. Keduanya mengangkat kepala, dan saling melempar tatapan maut. Luke merinding dan bersembunyi dibalik lengan Darren.


******


Di sebuah perusahaan. Michelle Corp lebih tepatnya, seorang pria paruh baya dan berkumis tengah serius duduk di meja kerjanya. Di hadapannya terdapat setumpuk dokumen yang harus dibaca dan ditandatangani, kepalanya sudah mau pecah rasanya. Ia mulai berkeringat dingin dan pucat. Dengan segera dirogohnya sebuah botol obat di laci meja kerjanya dan memakan dua butir pil. Kemudian ia meminum segelas air. Diusapnya peluh yang menetes di dahi keriputnya. Pintu terbuka, Daniel masuk membawa setumpuk berkas lagi. Catatan, Daniel adalah kepala pelayan keluarga Michelle sekaligus sekretaris Sebastian. Karena ia merasa Daniel dapat dipercaya dan kerjanya juga sangat bagus.


"Tuan, anda terlihat lelah. Tidakkah lebih baik hari ini sudah cukup. Lebih baik anda pulang dan istirahat. Atau perlukah saya menghubungi dokter?" kata Daniel.


"Tidak, tidak perlu. Lagipula ini baru jam satu. Aku masih bisa bekerja" jawab Sebastian.


"Tuan, apakah anda tidak ingin memberitahu putri anda?" tanya Daniel kemudian.


"Dia sangat membenciku, bagaimana reaksinya jika tahu? Mungkin ia akan menyumpahiku sejadi-jadinya" jawab Sebastian seraya tertawa ringan.


"Nona bukan anak seperti itu tuan, jika tuan menjelaskan semuanya dan meminta maaf saya yakin ia akan memaafkan anda" saran Daniel.


"Emma, aku sudah menyakitinya. Aku telah mengekang dan menyakitinya bahkan karena aku kalap waktu itu, aku mengusirnya tanpa uang sepeser pun" kata Sebastian dengan mata yang sendu.


"Mungkin anda memang salah, tapi sebagai seorang ayah takut kehilangan putrinya adalah hal yang wajar" kata Daniel menanggapi.

__ADS_1


"Cih, aku bahkan tak segan-segan memukulnya. Apa aku ini masih pantas disebut ayah?" tanya Sebastian dengan seringaiannya.


"Itu adalah kesalahan anda di masa lalu, sebaiknya anda memperbaikinya sebelum terlambat. Ingat, Michelle Corp hanya memiliki pewaris tunggal yaitu Emma" kata Daniel mengingatkan.


Sebastian hanya tertawa ringan mendengarnya. Ia tahu kalau Michelle membutuhkan Emma sekarang, tapi keadaan berkehendak lain. Ia tahu pasti putrinya tidak akan mau diajak pulang setelah apa yang terjadi. Ia juga yakin kalau permintaan maaf akan percuma, ia sudah sangat kejam. Bahkan ketika ia sudah menata hati dan pikirannya, melihat Emma yang yang ketakutan akan dirinya membuat ia merasa dihina. Ia Sebastian Michelle dihina oleh putrinya sendiri?


Tapi sebenarnya jauh di lubuk hati Sebastian, ia sangat merindukan Emma. Putri kecilnya yang selalu menatapnya dengan mata bulat sapphirenya, sungguh mengingatkannya selalu pada Lyla. Tapi, bagaimana pun Emma berbeda, ia keras kepala. Setiap saat Sebastian memerintahkan ini itu dan mengatur semua aktivitas Emma. Ia berusaha menjadikan putrinya duplikat istrinya, sikapnya, semua harus sama. Karena Emma putri Lyla, maka ia harus bisa dan harus menjadi seperti ibunya. Tuntutan itulah yang mengekang Emma, ia bahkan tidak diizinkan menemui sembarangan orang. Hingga ketika ia memasuki Junior High School, ia nekat mendaftar ke sekolah biasa karena sudah bosan dengan home schooling yang menyebabkannya tidak memiliki satu pun teman. Alhasil, Sebastian marah besar tapi amarahnya berhasil diredam oleh Emma yang mengatakan akan melakukan apapun permintaan sang ayah.


Mengingat semua itu, miris rasanya. Sebastian memegangi dadanya yang sakit dengan tangan kiri. Ia berulang kali meminta maaf dalam hati pada Lyla yang tidak bisa merawat Emma dengan baik. dilihatnya jam yang sudah mulai menunjukkan pukul 02.00 PM. Ia menaruh pena dan berkasnya seraya menghela nafas.


"Daniel, kau punya waktu? Antarkan aku ke Chorea Academy" kata Sebastian dan langsung diiyakan oleh Daniel.


******


Bel panjang tanda jam pelajaran terakhir sudah berbunyi. Mr. James menyudahi pelajarannya di kelas 1-5. Ia mengambil buku paket yang ia pinjamkan ke muridnya dan menatanya di meja.


"Salah dua dari kalian tolong kembalikan ini ke perpustakaan" perintah Mr. James. Namun tak ada yang merespon, bahkan Brian tidak merespon. Pertanyaannya, kenapa tidak ada yang merespon?


Karena semua siswa tengah menyalin catatan sepapan tulis penuh. Mr. James memang hobi memberikan banyak catatan. Tapi, diantara mereka ada salah satu yang sudah selesai, siapalagi kalau bukan Emma. Melihat kesibukan temannya, Emma pun berdiri dan menuju ke depan kelas. Ia menawarkan diri mengembalikan buku itu.


"Emma, kau baik sekali. Tapi ini berat, sangat sulit membawanya sendirian" kata Mr. James. Tepat setelah ia menyelesaikan perkataannya . . .


"Aku akan membantunya" kata Jack yang sudah berada di belakang Emma. Emma menoleh, ia heran.


"Sejak kapan?" batin Emma.


Pada akhirnya Emma dan Jack membawa setumpuk buku paket sejarah ke perpustakaan. Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan, mereka hanya diam. Walaupun bibir tak bicara, namun mata dapat melakukannya. Setidaknya itu yang kini tengah Jack lakukan. sesekali ia melirik Emma yang terlihat biasa saja membawa setumpuk buku yang bisa dibilang lumayan berat untuk ukuran seorang gadis.


Perpustakaan, sepi. Tidak ada penjaga, hanya ada note disana yang mengatakan



Mereka meletakkan buku di trolly dan mulai mencari rak dimana buku sejarah tersimpan. Dalam diam, mereka mulai menyusun buku-buku itu kembali ke dalam rak. Naas bagi Emma karena rak tersebut cukup tinggi, hingga membuatnya harus berjinjit demi menata buku-buku itu. Jack hanya meliriknya dengan was-was, antara takut ketahuan dirinya curi pandang dan takut kalau sampai Emma terpeleset dan jatuh. Matahari siang mulai menyinari jendela, hembusan angin menyibakkan tirai, kini terlihatlah wajah Emma yang diterangi cahaya matahari. Jack terkesima, ia mematung. Jantungnya berdegup dengan kencang, darahnya seakan dipompa ke wajah, dan rona merah menjalari wajahnya. Ia masih tetap seperti itu hingga.


Emma menyelipkan buku terakhir dengan susah payah, karena rak sudah penuh. Ia menjinjitkan kakinya lebih namun belum berhasil menyelipkan buku itu. tangannya sudah mulai sakit dan kakinya sudah gemetar, dan perlahan ia bisa menyelipkan buku itu. namun tiba-tiba jinjitannya meleset, tubuhnya oleng, ia hampir jatuh namun berpegangan pada buku yang belum berhasil ia sematkan. Matanya terbelalak, menyadari tubuhnya yang akan terjengkang dengan buku-buku yang sudah lepas dari raknya. Emma menutup matanya, siap menghantam lantai dan dihadiahi hujan buku. Namun . . .


TAP


BRAK BRAK BRAK BRAK


Tidak sakit. Perlahan ia membuka mata, betapa terkejutnya ia melihat kini dirinya berada dalam dekapan Jack.


"Jack?" panggil Emma dalam hati.


Pemuda itu mendekap tubuh dan kepalanya, melindunginya dari buku-buku tebal yang akan menghujaninya. Emma terbelalak, ia tidak menyangka Jack menolong dirinya dan membiarkan tubuhnya sendiri dihujani buku-buku. Jack hanya meringis sambil memejamkan mata, menahan rasa pening akibat hujan yang menyakitkan itu. Setelah merasakan tidak ada yang jatuh di kepalanya, Jack membuka mata, ia mengarahkan pandangannya ke bawah, menatap gadis bersurai pirang yang tengah ia dekap. Emma mendongakkan kepala, mata mereka bertemu. Seakan terkena sihir, mereka diam seribu bahasa, bahkan tembok pun ikut membisu. Detik jam terus berputar, suaranya menggema ke setiap sudut perpustakaan seakan tersenyum melihat kedua insan yang sedang bergejolak dengan batin dan pikirannya.


"Apa ini wajah Emm?" tanya Jack dalam hati.


"Apa ini tangan Jack? hangat, egoku menolak untuk membiarkannya menyentuhku. Tapi tubuhku berkata lain. Mata emeraldnya entah kenapa membuatku serasa sakit. Ini bukan tatapan kebencian dan penuh amarahnya, melainkan sebuah tatapan polos nan kekanak-kanakan. Dan entah kenapa rasanya aku seperti merindukannya?" tanya Emma dalam hati.


"Aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya, Emm sudah dewasa. ia terlihat cantik, dahinya, hidungnya, bibirnya, pipinya yang sedikit merona . . ." kata Jack dalam hati.


Deg deg deg


Jantung keduanya terdengar. Mereka terbelalak dan melepaskan diri. Emma merasa sangat canggung dan memilih pergi meninggalkan Jack begitu saja.


Jack lagi-lagi diam mematung, ia memegangi dadanya. Ada perasaan senang dan berbunga disana. Apa ia baru saja memuji Emma? ia tidak pernah memuji Chloe sampai seperti itu sebelumnya. Namun suasana hati Jack tentu tidak seindah itu, dibalik bunga-bunya yang tengah bermekaran di hatinya, terciptalah langit mendung. Tiba-tiba kata-kata Chloe terngiang di kepalanya dan disusul perkataan Emma.


Cinta dan benci itu benda tipis.


Aku membencimu.


"Kini bahkan aku tidak bisa membedakan keduanya. Apa aku masih membencinya atau sudah jatuh cinta padanya" gumam Jack.


"Detak jantung ini bahkan sama dengan saat aku membencinya. Jadi bagaimana aku akan memastikannya?" lanjut Jack dengan sedih.


Emma mengumpat dalam hatinya. Ia berjalan menuju kelas guna mengambil tasnya kemudian ikut klub. Ia benar-benar kesal pada dirinya sendiri, Jack sungguh membuatnya bingung. Sebenarnya apa maunya? Kenapa setelah ia melakukan semua kejahatan padanya sekarang ia malah bersikap baik padanya? Emma menyeringai mengingatnya. Ia menepis apa yang baru saja terjadi di otaknya dan kembali menguatkan dirinya.


"Semuanya PALSU!" kata Emma dalam hati.


******


Klub Taekwondo.


Hari ini Earlene absen dikarenakan ada kepentingan. Klub jadi malas-malasan. Emma datang membuka pintu dengan keras, tentu semuanya terkejut. Jason yang tengah bersantai bersama kedua temannya sambil meminum jus kaleng, terkejut sampai menyemprotkannya. Semua pasang mata melihatnya, Emma sedang dalam mood tidak bagus. Gadis itu masuk ruang ganti dan mengganti seragamnya, hal yang belum pernah terjadi selama ia mengikuti klub. Pasalnya Emma akan selalu memakai seragam ketika ia bertanding dengan siapa pun. Emma keluar dan matanya mengkilap tajam.


"Aku kuat! Aku tidak akan terjerat dengan dramamu, King of Drama" kata Emma dalam hati. Kini ia kembali diselimuti kemarahan.


Tiba-tiba Darren tersentak. Emma menunjuknya tepat di hidungnya. Sejak kapan gadis itu di depannya? Darren bingung, ia memiringkan kepalanya.


"Lihatlah, akan kujernihkan pikiranku. Dan kupastikan tidak akan terbuai olehmu!" umpat Emma.


Darren masih loading. Belum seratus persen ia loading, Emma menarik lengannya dan membanting tubuhnya. Semua mata membulat sempurna sampai mau lepas. Darren terbelalak, sakit sekali. Emma tidak main-main, ia baru tahu alasan kenapa sekarang ini Lewin takut dengan Emma, karena gadis itu adalah Earlene kedua. Dengan susah payah ia bangun.


"Emma, kau kenapa sih?" tanya Darren dengan kesal.


"Kenapa? Aku hanya menjernihkan hati dan pikiranku saja" jawab Emma dalam hati.


"Kalau kau marah padaku katakan saja, jangan membantingku asal seperti barusan. Sakit" keluh Darren.


"Aku tidak pernah marah padamu, Darren" jawab Emma dalam hati.


Emma menarik lengan Darren dan membantingnya lagi. Kemudian ditindihnya pemuda itu dan mengunci kakinya. Darren berteriak, kuncian Emma luar biasa, sungguh malangnya nasib Darren.


Sementara di Klub basket, Brian absen dengan alasan ada kepentingan. Jadi klub itu berlatih tanpa adanya sang ketua. Jack tentu tahu maksud tersembunyi Brian, ia tahu kalau Brian tengah menghindari dirinya. Jack tidak mempermasalahkannya, karena ia sadar ia memang pantas menerima itu setelah apa yang dia perbuat pada gadis yang memiliki tempat di hati Brian. Dihati Brian? Entah kenapa mengatakannya saja Jack merasa dadanya seperti diremas. Disela-sela latihannya, ia bahkan sampai tertawa ringan nan hambar.


Klub berakhir, Emma telah berganti kembali menggunakan seragamnya dan hendak pulang. Tiba-tiba pintu klub terbuka, terlihatlah seorang pemuda berambut karamel yang sedikit berantakan. Ia mengenakan kostum basket dan menggendong tas ranselnya. Tanpa perduli anggota klub taekwondo yang terheran-heran, ia melenggang masuk dan mendekati Emma. mata Emma membulat, tidak menyangka pemuda itu akan mendatanginya. Bahkan ia tidak pernah membayangkan sebelumnya. Padahal baru saja ia meluapkan emosinya dan melupakan kejadian hari ini, tapi dengan seenaknya pemuda itu terus datang dan datang seperti hantu.


"Ayo, kita pulang" ajak Jack meraih pergelangan tangan kanan Emma.


{Kita?}


{Pulang?}


Para anggota klub syok bukan main, seorang Jack William yang terkenal tidak suka berdekatan dengan gadis lain selain Chloe mengajak Emma pulang? Lewin yang semula memapah Darren yang babak belur akibat ulah Emma, mengendurkan tangannya dan membuat Darren terjatuh. Tentu yang dijatuhkan mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Emma dalam hati. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Jack, namun bukan dilepaskan malah tangan itu menggenggamnya erat.


"Kau sudah gila?" bentak Emma dalam hati.


Jack tak gentar, ia tidak akan mundur. Tidak sebelum ia mengerti semua ini. ditariknya Emma segera tanpa mengindahkan penolakan gadis itu, mereka pergi meninggalkan ruang klub. Emma meronta-ronta, ia bahkan mengancam Jack tapi tentu tidak akan didengar oleh pemuda itu. Sudah cukup, Emma menghentikan langkahnya dan menghempaskan tangan Jack sekuat tenaga. Jack berbalik, ditatapnya gadis itu yang kini sudah menatapnya penuh amarah dan kekesalan bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Di senja sore ini, di koridor ini, ia kembali terserang sebuah sengatan listrik beribu Volt. Emma menatapnya tajam, seakan tatapannya bisa melubangi kepala Jack saat ini juga. Tatapan yang sama seperti malam itu, malam ketika Emma pertama kali bicara. Dengan segera Emma menulis sesuatu di note, namun belum selesai ia menyelesaikan tulisannya, suara Jack menghentikan tindakannya.


"Kenapa? Kenapa kau tidak bicara setelah itu? Setidaknya kau bisa mencaci makiku" kata Jack dengan wajah tertunduk.


"Haruskah aku melakukannya? Apa kau bisa mendengarnya?" tanya Emma dalam hati.


"Aku tahu kau membenciku sekarang, tapi biarkan aku meluruskannya. Aku, tidak membencimu" ungkap Jack kemudian, kini wajahnya sudah memerah. Ingin rasanya ia membenturkan kepalanya ke tembok saat ini juga, ia bahkan tidak mengerti apa yang tengah ia rasakan. Kata tidak membenci adalah sebuah kata tabu yang keluar dari mulutnya, pasalnya perkataannya sekarang ini bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya pada gadis itu selama ini.


"Tidak membenciku katamu? Menghempaskanku di gudang, mencaci makiku, menyiksaku, melukai hatiku, kau bilang itu karena kau tidak membenciku? Jangan bersilat lidah, King of Drama" jawab Emma dalam hati.


"Aku memang iblis, Emm. Tapi bukan berarti aku tidak memiliki perasaan, karena aku . . ." ungkap Jack sambil memegangi dadanya. Jantungnya sudah berpicu, detak jantungnya berdetak tidak menentu.


Belum sempat Jack menyelesaikan perkataannya, Emma sudah melewatinya. Ia meninggalkan Jack begitu saja, ia bahkan tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh Jack. Emma bertanya-tanya. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang ia tunjukkan wajah itu? kenapa ia tidak menunjukkannya saat dimana ia masih meminta belas kasihannya? Kenapa disaat ia sudah membencinya pemuda itu malah datang padanya, mengulurkan tangannya dan mengguncang hatinya. Kenapa? Emma menangis, ia terus berjalan. Jack tak tinggal diam, ini masih terlalu dini untuk dibilang menyerah. Ini baru dua hari, ia bersumpah akan merelakan lebih banyak waktu untuk mengejar gadis itu dan memastikan semuanya. Emma berjalan begitu cepatnya dan keluar dari gerbang sekolah. Tak sengaja ia menabrak seseorang, seorang pria paruh baya. Emma menengadahkan kepalanya, betapa terkejutnya ia melihat siapa yang kini ada dihadapannya.


"Ayah?" tanya Emma.


"Emma?" panggil sang ayah dan mengulurkan tangannya menyentuh tangan Emma, namun Emma menepisnya.


"Jangan sentuh aku!" pekik Emma dalam hati.


Sebastian bisa melihat air mata yang tersisa di sudut mata putrinya. Emma pasti habis menangis, hati Sebastian terasa sakit. Bahkan sampai sekarang putrinya tetap menderita, ayah macam apa dia yang membiarkan putrinya seperti itu . . .


"Emma, ayah minta maaf" kata Sebastian tiba-tiba.


"Minta maaf kata ayah? Jangan berbohong. Aku bukan Emma yang dulu lagi, jadi semua perkataan ayah tidak akan sampai pada hatiku yang sudah terlanjur hancur berkat kalian" jawab Emma dalam hati.


"Ayah tidak akan memaksa kau memaafkan ayah, tapi bisakah ayah meminta satu hal, Emma?" tanya sang ayah.


"Apa ayah akan memintaku untuk pulang, menyiksaku, lalu membuatku koma dan tertidur selama mungkin?" tanya Emma dengan geram. Matanya mengkilat menatap sang ayah. Sebastian terlonjak kaget, sejak kapan putrinya memiliki tatapan seperti itu?


"Bisakah kau tetap menjadi putri ayah?" pinta Sebastian.


Emma tersenyum sinis. Ia menyeringai dan menatap tajam ayahnya. Sungguh konyol, kenapa sekarang ayahnya dengan beraninya mengatasnamakan ayah dan anak? Sejak kapan ayahnya mempelajari hal itu? dulu, ketika Emma meronta minta dilepaskan dari penjara yang bernama rumah sakit saja, ayahnya seolah menulikan pendengarannya. Bahkan ketika ia terbius dan memejamkan mata, ia melihat ayahnya hanya berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jadi sekarang, masih pantaskah ia menyebut pria paruh baya di depannya ini ayah? Belum sempat Emma menjawab dalam hati permintaan ayahnya, seseorang menghalaunya. Memutus jarak antara ia dan sang ayah.


"Jauhi Emm" kata Jack yang datang tiba-tiba.


Mata Sebastian terbelalak. Ia terkejut dengan penampakan pemuda bersurai karamel. Memori Sebastian berputar, ia ingat kalau dulu anak itu datang ke rumahnya. Menunggu putrinya yang tengah ia kurung di rumah. Anak yang sangat dekat dengan Emma. Sebastian mematung, ia tidak sanggup berkata-kata. Selama ini ia bersyukur karena sejak kecelakaan itu Emma mengalami amnesia sebagian dan tidak mengingat anak di depannya ini. Karena jika Emma mengingatnya mungkin Emma akan tambah membencinya atau kembali tidak memaafkan dirinya sendiri.


Emma menatap punggung Jack dengan pandangan marah, dan bertanya-tanya. Kenapa lagi? Ia tidak mau berlama-lama berada di dekat ayahnya dan Jack. tanpa mereka sadari, Emma melangkah pergi, tanpa pamit dan tanpa permisi.


"Emma?" panggil Sebastian.


"Jangan pernah mendekati Emm lagi atau aku akan bertindak" ancam Jack dan menyusul Emma.


Tanpa mereka sadari, Lewin dan Darren melihat semuanya. Betapa terkejutnya mereka, sedangkan Darren mengerutkan dahinya. Ia melepaskan tangan Lewin yang memapahnya. Dan ajaib, Darren sudah sembuh dan bisa berjalan dengan sempurna. Darren mengikuti Jack dan berjalan melewati ayah Emma yang kini tertunduk dengan


pandangan mata kosong.


Emma berjalan dengan cepat. Jack meneriakinya dan memintanya untuk berhenti. Namun Emma menulikan pendengarannya. Jangan bercanda, jangan membual, jangan berlagak. Itulah yang dipikirkan oleh Emma sekarang. Semua orang memandang mereka dan berbisik. Pasti pertengkaran antara kekasih. Mendengarnya saja sungguh membuat Emma muak. Yang benar saja, ia tidak pernah dan tidak akan pernah memimpikan dan mengharapkan seorang seperti Jack menjadi kekasihnya.


"Emm, berhenti!" teriak Jack.


"Berhenti memanggilku seperti itu!" jawab Emma dalam hati.


"Emm, kumohon berhenti!" Teriak Jack lagi.


"Jangan sebut aku dengan nama itu!" jawab Emma lagi dalam hati.


Mereka melewati kompleks pertokoan, dimana jalanan sangat ramai. Banyak orang dan kendaraan yang berlalu lalang. Ia kehilangan Emma, Jack panik. Ia mengedarkan pandangannya berusaha menangkap sosok gadis pirang itu. Dengan susah payah ia menerobos para pejalan kaki, peluh menetes di pelipisnya. Tiba-tiba ia menangkap surai pirang yang dicarinya, ia segera memanggil nama gadis itu.


"Emm!" panggil Jack, sedangkan yang dipanggil tak menoleh sama sekali.


Dengan secepat kilat Jack berlari dan tak mempedulikan sumpah serapah para pejalan kaki yang menyumpahinya karena menerobos tanpa mengucapkan kata maaf sama sekali. dilihatnya Emma yang terus berjalan dan hendak menyeberang jalan, ia mempercepat larinya. Emma sudah panik, nafasnya naik turun. Dilihatnya lampu lalu lintas yang tidak kunjung merah, sedangkan Jack semakin mendekat. Tinggal beberapa meter lagi, Emma melihat jalanan dan langsung menyeberang. Jantung Jack berdegup kencang karena gadis itu dengan nekatnya menyeberang jalan yang tengah ramai. Para pejalan kaki meneriakinya, semua mata memandang mereka.


"Emm, berhenti! Kumohoh berhenti! Kau tidak mendengarku!" teriak Jack yang kini sudah berdiri di pinggir jalan, tempat Emma berdiri semula.


Dari jauh, sebuah mobil melaju kencang, Jack kalap. Pasalnya mobil itu melaju ke arah Emma. Mobil semakin mendekat dan sang pengendara kaget, melihat seorang siswa yang berjalan dengan santainya tanpa mengindahkan dirinya akan tertabrak mobil. Suara ban berdecit dan . . .


"EMMA MICHELLE BERHENTI!" teriak Jack.


BRAKKK


Tepat saat ia meneriaki nama Emma dan untuk pertama kalinya menyebut nama gadis itu dengan benar, mobil yang tadi melaju kencang sudah menabrak Emma. membuat gadis itu terkulai lemas di jalan. Emma terkulai dengan mata terbuka, setetes darah menetes di pelipisnya. Jantung Jack serasa mau copot saat ini juga, tak terasa matanya berair dan cairan itu menetes membasahi pipinya. Jack terdiam, tubuhnya serasa mati rasa dan kaku saat ini juga, membuat air matanya mengalir semakin deras. Namun tidak disangka Emma berdiri. Ia berdiri layaknya tidak terjadi apa-apa.


"Dasar gadis gila!" teriak pengendara mobil menyumpahi Emma.

__ADS_1


"Jangan bunuh diri dengan menggunakan mobilku!" teriak pengendara mobil lagi.


Emma terus melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Bahkan ia menghiraukan lutut dan sikunya yang lecet serta pelipisnya yang berdarah. Sedangkan Jack?


Kini, Jack tengah tertawa. Ia tertawa dengan air mata yang tak henti-hentinya membasahi pipinya. Semua orang memandangnya aneh.


"Kalian lihat? Dia baik-baik saja" ungkap Jack dengan suara serak di dalam tangis beserta tawanya. Namun, tubuhnya tiba-tiba lemas dan ia kehilangan tenaga. Ia terduduk di jalanan. Tiba-tiba sebuah suara baritone menginterupsinya.


"Hoi, Jack. apa yang kau lakukan? apa kau sudah gila?" tanya Darren yang sudah berdiri tepat di belakang Jack.


Jack memutar kepalanya menatap Darren. Betapa terkejutnya Darren melihat keadaan Jack sekarang ini. kostum Jack bahkan sudah basah akan keringat dan wajahnya kusut. Ditambah temannya itu meneteskan air mata sambil tertawa. Tak hanya itu, kini tubuh Jack juga gemetar hebat.


"Ya, aku sudah gila, Darren" jawab Jack.


******


Di sebuah pinggir sungai kini Jack dan Darren berada. Matahari semakin tenggelam. Suasana sore yang menyesakkan untuk Jack. Bahkan kali ini, angin tak mau berhembus hanya untuk sekedar meramaikan suasana. Tak ada yang berani memulai pembicaraan. Jack hanya tertunduk sambil menatap riak air yang seolah mengejeknya. Matanya sembab. Tak tahan, akhirnya Darren memulai pembicaraan. Ditanyainya temannya itu apa yang telah terjadi. Namun Jack tak mau bicara. Geram, Darren mencengkeram baju Jack.


"Apa yang terjadi, kau tahu aku tidak bodoh hingga tidak menyadari apa yang baru saja terjadi antara kau dan Emma!" bentak Darren.


Jack memalingkan wajahnya, ia tertunduk membuat wajahnya tertutupi oleh poni.


"Jawab! Bodoh! Apa kau sudah gila?" teriak Darren.


"Ya, aku sudah gila, Darren" jawab Jack.


"Aku gila karena terus dihantui semua perasaan ini" ungkap Jack kemudian. Tangan Darren melemas, dilepaskannya cengkramannya dari baju Jack. Jack terduduk di hadapan Darren, ia menghela nafas sejenak. Mungkin sudah saatnya ia bercerita, siapa tahu setelah ini bebannya berkurang atau ia mendapat sedikit jawaban atas perasaannya yang tidak menentu.


"Aku membenci Emm" kata Jack.


"Aku tahu" kata Darren ketus.


"Aku membencinya bukan tanpa alasan. Aku seperti itu karena ulahnya juga. aku hanya membalasnya" kata Jack memulai cerita, Darren terhenyak ia menajamkan telinganya.


"Dia, telah mengkhianatiku. Semua yang telah aku lakukan padanya hanyalah angin lalu baginya. Dan, di tengah hujan yang melanda Allison waktu itu aku menunggu. Aku menunggu berhari-hari bahkan sampai malam. Aku terus menunggu berharap ia akan datang, namun setelah ia datang, ia malah memintaku untuk enyah. Setelah aku bertanya lagi, kau tahu apa yang kudapat? Dia menghempaskanku. Dia bahkan tidak memperdulikan tubuhku yang bergetar dan mataku yang sudah berarir saat itu" cerita Jack dengan suara parau.


"Sejak saat itu aku membencinya. Ketika ibu mengatakan kita akan tinggal bersama, aku sangat marah. Hingga dendamku menggelapkan hatiku, aku melukainya. Hati, batin, bahkan fisiknya. Kupikir aku tidak akan bergetar ketika melakukannya, tapi jauh di lubuk hatiku ingin sekali kudekap dia namun egoku menolak. Aku bersumpah tidak akan memaafkannya yang sudah mengkhianatiku dan dengan egoisnya melupakan semua yang telah ia lakukan. namun . . ." kata Jack tertahan, matanya mulai berkaca-kata.


"Namun . . ." tak terasa cairan bening itu sudah memenuhi matanya dan menetes kembali membasahi pipinya. Darren tersentak, ia tak percaya apa yang didengarnya.


Aku membencimu.


Lagi-lagi mantra itu kembali terngiang di kepala Jack dan kali ini kata itu mengintimidasi sangat keras. Ia sampai memegangi kepalanya.


"Dia membenciku" kata Jack kemudian ia terisak dan menarik tubuhnya. Ia memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya yang sangat tidak pantas dilihat oleh teman sekaligus rivalnya. Ia merasa lega karena sudah bercerita, namun disatu sisi dadanya kembali terasa sesak dan sakit.


"Aku tidak tahu alasan kenapa Emma tega melakukan itu padamu. Tapi aku tidak sependapat denganmu yang langsung membencinya tanpa menyelidiki lebih dulu. Dan, setelah apa yang kau lakukan padanya aku tidak heran ia membencimu" ungkap Darren.


"Tapi bukannya itu yang kau inginkan?" tanya Darren. Tak ada jawaban, Jack hanya terisak tak mau menjawab lebih. Lagipula ia juga tidak tahu apa jawaban yang pantas untuk pertanyaan Darren.


"Jangan bilang kau . . ." kata Darren agak ragu.


"Jatuh cinta padanya?" tebak Darren.


Di balik isakannya, mata Jack membulat. Ia tidak menyangka akan pertanyaan Darren selanjutnya. Cinta? Segila itukah ia hingga ia jatuh cinta pada gadis yang dibencinya? Jack sedikit berfikir, ia kembali mengingat sikapnya dua hari ini. Ketika ia menolong gadis itu di kebun, ketika ia mengekori gadis itu, ketika ia menatap wajah cantik gadis itu di perpustakaan, ketika ia mendekapnya, ketika ia menggenggam tangannya, ketika ia mengejarnya, ketika ia . . . menangis melihat gadis itu tertabrak mobil. Jack memukul dadanya, ia berharap itu tidak benar, ia tidak mungkin jatuh cinta. Ia mencintai Chloe, hanya Chloe yang ia inginkan untuk bersanding dengannya. Namun, kenapa lidahnya serasa pahit ketika menyebut kata cinta untuk Chloe? Kenapa sekarang tidak ada rasa berdebar ketika memikirkan Chloe? Tapi ketika memikirkan Emma, jantungnya berdebar dan hatinya sakit dalam waktu yang bersamaan. Jadi, apakah Darren benar? Tidak. Ia harus memastikannya sendiri.


******


Emma lelah berjalan dan duduk di depan minimarket. Dipandanginya lututnya yang lecet, ia juga mengelap darah di pelipisnya. Diingatnya Jack yang meneriaki namanya. NAMA. Dada Emma terasa sesak, ia berusaha mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin namun percuma, dadanya tetap sesak bahkan semakin menjadi-jadi. Diremasnya bajunya.


"Sakit! Kumohon jangan sebut namaku" kata Emma dalam hati.


Seseorang keluar dari minimarket sambil meneguk minuman kaleng, seseorang itu juga masih mengenakan seragam. Ia menoleh melihat seorang gadis bersurai pirang yang sangat dikenalnya. Melihat luka di lutut gadis itu, ia menjatuhkan minumannya dan segera mendekat dan berjongkok di depannya.


"Kau baik-baik saja? Emma?" tanya Brian.


"Brian?" panggil Emma.


"Kenapa disaat seperti ini Brian selalu ada? Disaat dimana aku sangat tertekan karena ulahmu, ia selalu ada untuk memberikan sandaran dan menghiburku?" tanya Emma.


"Jack, kalau saja dulu kau seperti ini, mungkin aku tidak akan membencimu" lanjut Emma.


"Namun nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa diputar kembali. Semua sudah terjadi, kau yang berbuat dan kau juga yang menuai hasilnya. Kau menanam duri jadi tidak salah kalau kau terkena tusukannya" lanjut Emma kemudian.


Brian masuk kembali ke minimarket dan membeli obat merah beserta plester. Kemudian ia kembali ke tempat Emma berada dan mengobati luka gadis itu. Ingin sekali ia bertanya bagaimana gadis itu mendapatkan lukanya namun lidahnya kelu. Tatapan sendu Emma seolah menyuruhnya untuk diam. Akhirnya Brian hanya diam dan menekan perasaan sakit yang menjalari relung batinnya. Kenapa Emma selalu terluka? Disaat ia berpaling sebentar saja, gadis itu akan selalu berakhir terluka dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menyesal, harusnya ia tidak mengindari Jack dan membiarkan Emma sendirian di dekatnya. Brian hanya menggigit bibir bawahnya sambil terus mengobati luka Emma.


******


Semenjak kejadian itu, Jack mulai menjauhi Chloe. Ia tidak pernah membalas telfon atau pesan dari tunangannya itu. Ia bahkan selalu menolak untuk makan siang bersama, tidak hanya itu, ia juga tidak pernah mengangkat matanya hanya untuk sekedar memandang Chloe. Miris. Chloe sakit hati, ia selalu menangis sendirian di kebun belakang tempat dimana Jack sering duduk atau tiduran. Namun kini, pemuda itu selalu mengekori Emma. Dimana pun dan kapan pun. Dan yang lebih membuatnya sakit adalah ketika ia bertanya apakah Jack mencintainya, pemuda itu selalu menjawab.


"Aku mencintaimu, Chlo" jawab Jack.


Ya, dia memang menyatakan cintanya. Namun tidak dengan mata, pikiran dan hatinya. Mata itu tidak mau menatapnya dan pikirannya tidak disini. Atau mungkin hatinya sudah pergi ke tempat yang tidak mungkin Chloe jangkau sekarang. Hati itu mungkin sudah pergi untuk mengejar dan menerjang hati Emma Michelle. Gadis yang selalu Jack sebut-sebut sebagai gadis yang sangat ia benci, gadis yang tidak dianggapnya dan bahkan dianggapnya sebagai parasit. Tapi apa? Chloe terisak pilu. Lalu mana janji Jack yang berjanji tidak akan meninggalkannya?


Sudah sekitar 2 minggu Jack selalu mengekori Emma kemana pun gadis itu pergi. Bahkan Jack tak segan mengikuti Emma ke toilet dan menunggu di luar toilet. Melihat perubahan sikap Jack tentu semua orang heran tak alang kepalang, kemana perginya Jack yang angkuh? Sekarang pemuda itu tak lebih dari seorang


Stalker sejati. Cheryl sampai bergidik ngeri melihatnya.


Tak hanya di sekolah, di rumah juga. Nyonya Azzury sampai pingsan melihat kelakuan putranya yang berubah drastis. Jack mengikuti Emma ke dapur, ruang tamu, perpustakaan, kebun. Bahkan menunggui Emma tidur siang dengan duduk di depan pintu kamar gadis itu. Ia juga tak segan-segan memberikan makanan ke piring Emma ketika gadis itu makan. Sampai Nathalie mengatakan dimana ada Emma disitulah ada Jack.


3 Minggu berlalu. Sedangkan Emma, ia gerah selalu diikuti. Ia sangat membenci Jack, kali ini tak ada rasa lain selain rasa benci. Ia sudah menyingkirkan dilemanya dalam waktu singkat. Ia juga berusaha bersembunyi agar Jack tidak menemukannya. Namun naas baginya, entah kenapa di sekolah ketika ia bersembunyi di bawah pohon di lapangan Jack sudah ada disana. Ketika ia pergi ke atap menenangkan diri dari Stalker Jack, pemuda itu sudah dengan seenaknya tiduran disana. Ketika ia hendak makan sendirian di balik tangga, Jack sudah disana dengan


berdalih membersihkan tempat itu. Emma selalu mencoba kabur namun Jack selalu menemukannya. Ia mengerutuki nasibnya, apa dunia ini sempit? Atau apa Jack itu paranormal hingga tahu kemana dan dimana ia berada? Hingga . . .


"Emm, tunggu aku. Bisa kita bicara sebentar? kau menghindariku selama 3 minggu ini. tidak bisakah kau memberiku sedikit saja waktu?" pinta Jack dengan berjalan mengikuti Emma di sepanjang koridor lantai 2. Semua hanya menggelengkan kepala, tanda kasihan pada Jack yang diacuhkan atau memang tidak dianggap? Tiba-tiba Chloe menghadangnya. Jack mendongakkan kepala.


"Chlo? Ada apa?" tanya Jack innocent.


"Jack aku ingin bicara" kata Chloe.


"Maaf, Chlo, kumohon nanti saja. aku ada perlu" kata Jack dan hendak pergi. Namun perkataan Chloe selanjutnya berhasil menghentikannya.


"Perlu untuk mengejar Emma Michelle?" tuding Chloe yang tepat sasaran. Jack menoleh, ia tertunduk tidak berusaha mengelakkan. Mata Chloe berkaca-kaca, yang ia tahu Jack-nya akan selalu mengelak dan berteriak tidak, namun pemuda itu memilih diam yang artinya adalah iya. Chloe menggigit bibir bawahnya.


"Kau bilang kau mencintaiku kan?" tanya Chloe lagi.


"Ya, aku mencintaimu" jawab Jack tanpa memandang Chloe, kali ini sama seperti sebelumnya. Ketika ia mengatakan itu rasanya ia memberi harapan palsu pada gadis silver itu.


"Kau berubah, Jack" kata Chloe.


"Aku tidak berubah. Aku memang seperti ini" jawab Jack.


"Kau bilang kau mencintaiku, tapi aku tahu kalau kau sedang berbohong sekarang. Tidak masalah jika kau membohongiku tapi tidak bisakah kau tidak membohongi dirimu sendiri?" tanya Chloe kemudian, ia mengatakan dengan suara serak karena menahan tangis.


"Apa yang kau bicarakan, jika yang kau maksud itu Emm. Aku tidak tahu, aku tidak bisa menjawabnya. Aku bahkan tidak tahu apakah aku ini sedang berbohong atau tidak" jawab Jack jujur.


Tangis Chloe pecah. Mereka jadi tontonan, Jack tak berusaha menenangkan Chloe. Tanpa mereka ketahui, Emma melihat semuanya, ia tidak benar-benar pergi. Jack bingung, sudah 3 minggu ia mengikuti Emma namun belum juga mendapat jawaban. Tapi ketika Chloe mengatakan kalau ia sedang berbohong, ia kembali berpikir


apakah ia memang seperti itu. Semua perkataan Chloe yang mengatakan Benci dan Cinta itu beda tipis, kemudian perkataan Darren yang mengatakan ia jatuh cinta, juga saat ini. Saat Chloe menyebutnya membohongi diri sendiri, dan berubah. Belum sadar dari alam pikirannya, sebuah suara menginterupsinya.


"Em" panggil Mugi dari arah belakang Emma, ia sedikit berlari menghampiri temannya sambil membawa dua buah jus kaleng.


Barulah Jack sadar kalau Emma belum pergi, ia menoleh dan mendapati Emma berdiri tidak jauh darinya. Pandangan matanya tak dapat dibaca, Jack terbelalak. Selama 3 minggu ini gadis itu menatapnya penuh benci, namun kenapa sekarang berbeda? Tanpa mempedulikan Chloe yang masih menangis, Jack mendekati Emma. Emma hendak kabur namun tangan kekar itu tidak membiarkannya.


"Aku bilang aku ingin bicara" kata Jack, Emma menoleh dan kembali menatapnya penuh benci, Jack tersentak. Ia menggigit bibirnya dan menguatkan batinnya untuk bicara, ia tidak peduli kalau seluruh siswa tengah menatapnya bak melodrama.


"Haruskah kau menatapku seperti itu?" tanya Jack dengan suara berat.


"Seperti apa memangnya?" tantang Emma.


"Kau tahu, itu sakit rasanya" lanjut Jack.


"Sakit? Lebih sakit mana daripada apa yang telah kau perbuat padaku?" tanya Emma.


"Aku minta maaf, Emm" kata Jack.


Semua mata terbelalak. Seorang Jack William meminta maaf? Katakan kalau ini tidak benar. Bahkan Emma juga terbelalak dibuatnya, seseorang tolong sadarkan ia. Tampar atau katakan ini adalah mimpi. Namun genggaman erat Jack menyadarkannya kalau ini bukan mimpi.


"Aku tidak minta kau memaafkanku karena aku memang tidak termaafkan. Tapi setidaknya tidak bisakah kau tidak menghindariku?" kata Jack mulai meninggikan nada bicaranya.


"TIDAK" jawab Emma pasti, matanya semakin tajam dan mengintimidasi.


"TIDAKKAH KAU TAHU, KAU MEMBUATKU HAMPIR GILA?" bentak Jack, semua terkejut tapi minus Emma tentunya.


"Aku terus mimikirkanmu, semua yang telah kulakukan padamu hingga detik ini. Kau membuatku menjadi seorang stalker sejati. Kau terus mengacuhkanku dan mengindariku bahkan tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Aku akui aku memang kejam, tapi tidak bisakah kau sedikit saja melihatku? Aku sudah berusaha semampuku agar kau mau melihatku yang sekarang. Tapi apa? Kau terus menghindar dan menatapku seperti itu, kenapa huh?" teriak Jack. ia meluapkan segala emosinya.


Tiba-tiba . . .


"Aku tidak memintamu memikirkanku dan aku juga tidak menyuruhmu mengikutiku. Dan percuma saja, apapun yang kau lakukan aku tidak akan pernah melihatmu, karena mataku sudah tertutup sekarang, bagiku kau hanyalah sebuah bayangan" kata Emma datar namun sinis menjawab semua perkataan Jack.


TERCENGANG


Semua orang tercengang mendengar perkataan Emma. Telinga mereka tidak salah kan? Emma bicara? EMMA BICARA? betapa shocknya mereka. Bukankah Emma sudah tidak biacara selama ini? bahkan ada rumor yang mengatakan gadis itu tidak bicara selama 2,5 tahun. Tapi kenapa ia bicara saat ini? Sedangkan Jack tidak mengindahkan perkataan Emma, kali ini habis sudah kesabarannya.


"Kau bahkan membuatku tidak bisa tidur, aku terus meyakinkan diriku kalau aku ini membencimu tapi seberapa keras aku mencoba aku tidak bisa melakukannya, bayanganmu selalu ada di setiap langkahku. Kau bagaikan penyakit yang tak tersembuhkan yang datang dan datang lagi entah berapa kali aku membuangmu" teriak Jack lagi.


"Kalau begitu tinggal buang dan hapus saja kan?" teriak Emma.


"Kalau aku bisa melakukannya maka sudah kulakukan" balas Jack.


"Kalau begitu kenapa kau tidak memintaku untuk enyah?" tantang Emma.


"DASAR EGOIS!" teriak Emma.


"YA AKU MEMANG EGOIS! JADI BERENTI KERAS KEPALA!" Teriak Jack tak mau kalah.


"TIDAK BISAKAH KAU BERCERMIN TUAN? KAU YANG KERAS KEPALA! KAU MENGIKUTIKU DAN MEMBUATKU GERAH! KAU TIDAK PEDULI DENGAN PERASAANKU YANG KESAL AKAN ULAHMU!" teriak Emma lagi.


"AKU TIDAK AKAN SEPERTI INI JIKA KAU TIDAK MENGHINDARIKU!" teriak Jack.


"HAK ASASIKU AKU MAU MENGHINDAR ATAU TIDAK" jawab Emma.


"HAK ASASIKU JUGA MAU MENGIKUTIMU ATAU TIDAK" jawab Jack meng-skak perkataan Emma.


Wajah Emma memerah, beraninya Jack mempermalukannya. ia menggigit bibir bawahnya.


"TUTUP MULUTMU!" bentak Emma.


"Kau yang harusnya menutup mulutmu" kata Jack datar dan menarik tangan Emma.


"Ap . .-"


Jack membungkam Emma dengan bibirnya. Mata Emma membulat sempurna. Pasalnya kini Jack tengah menciumnya di hadapan semua orang. Ia meronta, dipukulnya dada Jack. Jantung Emma berdegup dengan kencang, wajahnya memanas, ia berusaha menyadarkan dirinya, namun bibir lembut Jack membuainya dan seakan menghilangkan akal sehat dan seluruh keras kepalanya. Chloe mematung melihatnya, ia lemas dan terduduk di lantai.


"Meskipun kukatakan untuk berhenti, hatiku terus pergi ke arahmu bahkan tidak bisa beristirahat untuk sejenak, ini menjadi beban yang sulit untuk kukendalikan, Mengapa aku tak bisa bahkan untuk membuangmu? Apa yang telah terjadi denganku?" kata Jack dalam hati.

__ADS_1


"Aku mengulurkan tangan dan melihat dengan mataku, tapi tak peduli berapa kali kusebut namamu, kau selalu menjauh dariku. Aku telah gila karena semua ini. tak bisakah kau melihatku? Tak bisakah kau menyadari betapa frustasinya aku?" kata Jack dalam hati.


__ADS_2