
Emma pergi meninggalkan Jack, dilewatinya pemuda itu begitu saja. para tamu undangan memberinya jalan, ia tak peduli lagi dengan cibiran mereka. Bahkan ia juga tak peduli kalau keadaannya sekarang ini sangat memalukan, rambut yang berantakan dan gaun yang basah kuyup. Di dalam ruang, seketika semua pasang mata menoleh, betapa terkejutnya mereka melihat seorang gadis pirang dengan rambut compang-camping dan gaun yang basah kuyup terlebih menenteng heels. Teman-teman Emma shock tak terkecuali Mugi yang sedang mengobrol dengan Axel .
"Emma?" kata Mugi tidak percaya.
Emma mempercepat langkahnya dan keluar begitu saja dari pesta. Keluarga William panik, dengan segera nyonya Azzury beranjak dari tempatnya, namun belum sempat ia melangkahkan langkah pertama, sang suami sudah menahannya dan memberi kode untuk tenang. Dengan kesal, ia menuruti kata suaminya itu. Tuan Mark memberi kode pada Hendy, sang pelayan mengiyakan dan pergi menyusul Emma.
Keluarga Petrenkov.
Brian terbelalak, matanya membulat sempurna. Pasalnya belum ada setengah jam ia meninggalkan Emma, tapi gadis itu malah sudah menjadi seperti itu. Dengan segera, Brian meninggalkan keluarganya dan melesat keluar.
Hendy beserta orang-orangnya keluar, dan tidak mendapati Emma. ia memerintahkan mereka berpencar dan menemukan Emma secepatnya. Brian berlari kesana kemari di lantai 5, tapi matanya tak mampu menangkap bayangan gadis bersurai pirang itu. Ia berlari menuju lift dan menekan-nekan tombol disana berharap lift segera terbuka. Nafasnya sudah terengah-engah, dan keringat sudah menghiasi dahinya. Pintu lift terbuka dan ia segera masuk dan menekan tombol 1.
"Emma, kemana kau? Kumohon, jangan pergi jauh. Aku akan kesana dan mengatakan semua akan baik-baik saja. jadi kumohon tunggu aku" kata Brian dalam hati.
Pesta menjadi gaduh, Chloe sangat khawatir dengan Emma, tapi bukan saatnya untuk itu. ia harus mencari tunangannya, dicarinya Jack di luar ruangan. Ia melihat Jack yang berdiri mematung dengan baju yang basah kuyup. Tak jauh berbeda dengan Emma. didekatinya pemuda itu, setiap langkah ia mengingat suara air beberapa saat lalu. Kini, ia berada tepat di belakang Jack, dan menyadari apa yang terjadi. Mungkin Jack menolong Emma yang terpeleset ke kolam.
"Jack" panggil Chloe lembut. Yang dipanggil masih mematung, hingga Chloe mengulangi panggilannya.
"Jack" panggil Chloe lagi. Kali ini, perlahan Jack menoleh. Tapi sorot matanya kosong, ia bahkan tidak menatap Chloe sama sekali, membuat gadis bersurai silver itu khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanya Chloe perhatian.
"Ya, aku baik-baik saja" jawab Jack dan pergi meninggalkan Chloe begitu saja. tentu yang ditinggalkan memiliki seribu tanda tanya dengan perubahan sikap Jack.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja" gumam Chloe dengan sedih.
Jack masuk ke dalam ruangan, nyonya Azzury tak kalah panik. Ia segera memanggil Virginia, dan dengan sigap Virginia mengambil handuk dan memberikannya pada Jack.
"Jack, apa yang terjadi? Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya sang ibu.
Jack diam, tidak menjawab. Pandangannya masih kosong.
"Bagaimana bisa kau dan Emma . . ." tanya nyonya Azzury, belum selesai ia menyelesaikan perkataannya, Jack menoleh dan menatap ibunya tajam. Begitu mendengar nama Emma, ia bereaksi.
"Jack?" Nyonya Azzury sedikit terhenyak dengan tatapan putranya. Melihat sang ibu, seakan ada petir yang menyambar benaknya. Ia sadar seketika dan memalingkan wajah. Pandangannya berubah menjadi sulit untuk diartikan. Antara bingung, marah, dan terluka.
"Lebih baik kau istirahat di hotel malam ini. Virginia, cepat bantu Jack ke kamarnya" kata nyonya Azzury.
Virginia menuntun Jack keluar ruang pesta dan menuju ke lantai 10. Selama di lift, Jack tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sebenarnya, Virginia cemas pada Nona-nya, namun bagaimana lagi, ia tidak diperbolehkan keluar karena hari sudah malam dan tuan Mark sudah meminta Hendy mengerahkan orang untuk mencari Emma. pintu lift terbuka, lantai 10.
******
Kembali ke Pesta.
Tuan Mark menenangkan keluarga Chloe dan tamunya. Untung saja, keluarga Chloe sangat pengertian dan tidak mempermasalahkannya, malah mereka khawatir dengan keadaan Jack.
"Maafkan kami, pestanya jadi kacau" kata Tuan Mark.
"Tidak apa, Jack sangat jantan mau menolong seseorang di tengah pestanya" jawab Rick.
"Rick, terima kasih. Maafkan juga karena Jack tidak bisa menemani Chloe sampai akhir acara" kata Tuan Mark.
"Tidak apa, om Mark. Biarkan dia istirahat" jawab Rick dengan bijak.
"Jangan dikhawatirkan, om. Para Tamu biar kami yang urus" kata Sarah menenangkan.
Ya, Rick adalah kepala keluarga Chloe sekarang mengingat orang tuanya meninggal pada kecelakaan pesawat ketika mereka kecil dan ia yang satu-satunya anak laki-laki yang diharuskan memikul tanggung jawab perusahaan dan menjaga kakak serta adiknya. Ia bahkan menikah lebih dulu daripada kakak perempuannya, Marie.
******
Kini, Jack sudah berada di kamar nomor 1002. Virginia sudah menyiapkan handuk dan permisi pergi. Ia tahu kalau sekarang ini Jack perlu sendiri. Tepat setelah kepergian Virginia, Jack terduduk lemas, kakinya sudah tidak kuat untuk menyangga tubuhnya. Tenaganya serasa hilang begitu saja. diingatnya kembali perkataannya pada Emma beberapa saat lalu.
Bagaimana rasanya dipermalukan, nona?
Bukankah tatapan orang itu mengerikan?
Kurasa kau harus berterimakasih padaku setelah ini karena aku telah membuatmu jadi artis utama malam ini.
Kau menghinaku? Mana rasa terima kasihmu? Aku bahkan dengan baik hatinya mau menolongmu. Atau kalau tidak kau sudah kehabisan nafas dan mungkin mati mengambang disana.
Semua perkataannya pada Emma kembali terngiang di kepalanya. Jack mulai berkeringat dingin, tangannya gemetar.
Harusnya kau berfikir dua kali untuk datang ke pesta ini. kau pikir karena ini adalah sebuah pesta aku tidak akan menyiksamu? Jangan mimpi, lihat kan? Aku bahkan tak segan-segan melakukannya.
Kau pasti ingin berteriak dan mencaci makiku sekarang, tapi sadarlah! Kau bahkan tidak bisa bicara. atau bisa kusebut bisu?
aku akan selalu menikmati hari-hari dimana aku menyiksamu lagi dan lagi.
Aku akan terus menyiksamu sampai aku bosan dan lelah melakukannya.
Jack mulai memegangi kepalanya, ia menjambak rambutnya. Pelan dan pelan, namun perlahan-lahan ia mulai melakukannya dengan keras. Tiba-tiba kalimat Emma terngiang di kepalanya, bagaikan lebah yang tiba-tiba menyengat begitu saja.
Aku membencimu.
Jack menegang, ia menjambak rambutnya dengan sangat keras dan mengeram seraya menendangkan kakinya.
"ARRGGGHHHHH" eram Jack kemudian ia terkulai lemas. Nafasnya naik turun, Matanya berkaca-kaca.
"Emm" gumam Jack.
"Emm" panggil Jack.
"Emm" panggil Jack, seakan berharap orang yang dipanggil ada di depannya dan menoleh padanya.
"Emm" panggil Jack dengan nada bergetar, ia mulai memegangi dadanya. Rasanya sakit, sangat sakit. Bukankah harusnya ia senang karena berhasil meluapkan kebencian dan dendamnya? Tapi kenapa rasanya seperti ini? berbagai macam pertanyaan berkecambuk di benak Jack.
"Bukankah ini yang aku inginkan? Aku menyiksanya demi memenuhi kebencian dan hasrat dendamku. Tapi apakah ini benar? Kenapa aku tidak merasa senang? Kenapa perasaan puas yang tadi sempat aku rasakan berubah menjadi seperti ini?" tanya Jack dalam hati.
Aku membencimu.
Lagi-lagi kalimat Emma terngiang di kepalanya. Jack memegangi kepalanya, rasanya sakit. Entah kenapa kalimat itu bagaikan mantra yang membuat telinga dan kepalanya berdengung. Sungguh menyakitkan. Gigi Jack bergetar, ia berusaha membuka matanya berusaha melihat dengan jelas, namun pandangannya kabur. Setelah beberapa detik, ia bisa melihat dan rasa sakit di kepalanya mereda.
"Rasanya sakit, ngilu dan bagai tersayat" kata Jack dalam hati.
"Emm, katakan. apa ini? kenapa aku merasakan ini? Aku membencimu. Sangat membencimu. Tapi entah kenapa diriku tidak benar-benar bisa melakukannya. Ketika aku menyiksamu, aku sekuat tenaga menahan gejolak untuk memeluk dan mendekapmu. Aku terus menyiksamu demi menguatkan diriku kalau apa yang aku yakini adalah benar. Itu semua hanya demi memastikan perasaanku. Tapi . . . kenapa pada akhirnya seperti ini? setelah aku benar-benar bisa meluapkan segala emosiku, kau malah . . ." kata Jack dalam hati dan tertahan.
Aku membencimu.
Kalimat Emma kembali terngiang, Jack memejamkan matanya. Ia menelungkup memegangi lututnya. Berbagai macam perasaan menyerangnya, membuat tubuhnya bergetar hebat. Tatapan Emma kembali memenuhi ingatannya, tatapan yang sama dengan tatapan Emma waktu kecil, namun kali ini sedikit berbeda. Tersirat amarah dan kebencian disana.
Otak Jack berputar, entah kenapa sebuah memori menghinggapinya. Diingatnya kembali memorinya dengan gadis itu ketika mereka masih kecil. Memori indah yang selama ini sempat ia benamkan.
~ Flashback ~
"Jack! Jack! lihat aku berhasil membuat istana" kata Emma dengan semangat. Sedangkan sang empunya nama sedang kejar-kejaran dengan Nico tanpa mengindahkan perkataan Emma, merasa diabaikan Emma menoleh dan mengembungkan pipinya. Hingga Jack tiba-tiba berlari ke arahnya.
"Emma awas!" teriak Jack dan . . .
BUK
Nico berhasil kabur dari kejaran Jack. Istana pasir milik Emma sudah hancur akibat tertindih kedua anak kecil yang . . .
Jack terbelalak. Ia terjatuh dan menindih Emma. bibirnya bersentuhan dengan bibir Emma. walaupun hanya sedikit, itu mampu membuat dirinya membeku seketika. Begitu pula dengan Emma yang tak kalah syok. Nico mengeong dan menyadarkan keduanya. Kini mereka tak bisa menatap satu sama lain dikarenakan wajah yang sudah memanas dan rona merah menjalari kedua pipi imut mereka.
Hari-hari berikutnya.
Jack dan Emma bermain petak umpet di taman. Dimana Jack yang selalu mencari, dan tentu Emma sangat lihai bersembunyi. Hingga satu jam berlalu, Jack tidak menemukan Emma. akhirnya ia bosan mencari dan bermain dengan Nico. Mereka bermain kejar-kejaran lagi.
Sementara Emma, ia bersembunyi di sebuah tong besar yang kebetulan kosong. Para serangga kecil pengisap darah mulai menyerangnya.
"Nyamuk! Pergi sana! Hush!" usir Emma.
"Ih, Jack. ini sudah lebih dari satu jam" keluh Emma dan suara nyamuk kembali berdengung seakan meledeknya.
Jack kelelahan kejar-kejaran dengan Nico dan berbaring di bawah pohon. Ia menghirup udara segar sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya.
"Sungguh menyenangkan ya, Nico" kata Jack.
"MENYENANGKAN APANYA?" bentak seseorang yang berdiri dengan menatap Jack lekat.
"Emm?" panggil Jack dan terbangun, belum sempat ia bangun. Dengan kesalnya Emma mendorong kepala Jack dengan jari telunjuknya dan entah kenapa dorongan kecil itu membuat Jack terjengkang dan kembali terbaring.
"Emm?" Jack tidak percaya, ia heran dengan sikap temannya itu.
"APA EMM EMM? KAU INI! DASAR MENYEBALKAN! KAU MEMBIARKANKU DIGIGIT NYAMUK DAN MALAH ENAK-ENAKNYA TIDUR DISINI? KAU TAHU BERAPA LAMA AKU MENUNGGU DENGAN BERSEMBUNYI DI TONG KOTOR ITU?" Bentak Emma dan Jack terbelalak, dengan sigap ia duduk dan menarik tangan Emma, yang tentu membuat gadis kecil itu jatuh terduduk di depannya. Kini mereka berhadapan.
"Maafkan aku" kata Jack dengan wajah serius dan sangat menyesal.
Seketika rona merah menghiasi kedua belah pipi Emma. ia kembali mengingat kejadian tempo hari disaat mereka terjatuh dan Jack tidak sengaja menyentuh bibirnya. Darah seakan naik ke ubun-ubun Emma. membuat rona tipis itu merambat ke seluruh wajahnya dan memerah bak kepiting rebus. Terlebih kini, tangan Jack dengan lembut menggenggamnya. Sungguh membuat gadis penyandang marga Michelle itu meleleh seketika.
"Kau baik-baik saja? Emm?" tanya Jack dengan perhatian.
~ Flashback End ~
Perlahan tubuh Jack mulai rileks, nafasnya mulai stabil. Rasa sakit di kepalanya menghilang dengan sepenuhnya dan dibuka tutup matanya secara perlahan, namun rasanya sangat berat.
"Kau baik-baik saja? Emm?" gumam Jack kemudian ia terpejam seutuhnya dan tertidur.
******
Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 11.43 waktu setempat. Namun kendaraan masih berlalu lalang. Gemerlap lampu menghiasi sepanjang jalan di malam yang menyesakkan. Angin malam pun ikut berhembus, tak ingin ketinggalan meramaikan suasana. Terus berhembus menusuk gaun basah Emma. Emma berjalan dengan setengah berlari, ia tidak peduli kalau sekarang ini kakinya mulai sakit dan bibirnya mulai membiru akibat kedinginan. Di kepalanya terus terngiang perkataan kasar Jack tadi di pesta. Untuk sebelumnya mungkin ia bisa memaafkannya, namun kali ini tidak. Itu sudah keterlaluan.
"Aku membencimu, Jack" kata Emma dalam hati.
Namun, ketika Emma mengatakan kata-kata itu entah kenapa hatinya terasa sakit. Bahkan lebih sakit ketika Jack menyiksanya. Perlahan ia memegangi dadanya dan mulai memperlambat langkahnya hingga berhenti.
"Apa ini? Sakit. Rasanya sangat sakit" kata Emma dalam hati.
Tak terasa cairan bening menetes membasahi pipi pualam Emma. Emma menyentuhnya, ia sangat terkejut. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ia menangis hanya karena membenci Jack? Emma mengerutuki dirinya sendiri dan memukul-mukul kepalanya. Berusaha menyadarkan dirinya dan menguatkan batinnya kalau ia memang membenci Jack. Namun bukannya mereda, tangisnya malah pecah. Air matanya semakin deras dan ia mulai terisak-isak.
"Kenapa? Kenapa?" tanya Emma dalam hati.
Kakinya gemetar dan ia terduduk lemas di trotoar jalan. Diusap-usapnya matanya, namun dengan seenaknya cairan bening itu tetap menetes. Emma ingin sekali marah dan berteriak, tapi ia tidak sanggup melakukannya karena lagi-lagi suaranya tercengat di tenggorokan. Dengan perlahan ia menarik dirinya ke pinggir, ke pagar pembatas antara trotoar dan bangunan. Ia duduk memeluk lutut dan membenamkan kepalanya guna menyembunyikan isakan tangisnya.
Di sepanjang jalan, Brian melajukan mobilnya dengan brutal. Ia menoleh kesana-kemari guna mencari gadis yang sudah memenuhi hatinya. Dengan gusar, ia menarik dasinya dan membuka beberapa kancing kemejanya. Matanya menyelidik. Batinnya bergejolak, bagaimana kalau Emma diculik? Atau bagaimana kalau ayahnya menemukannya lagi dan menyeretnya pulang? Sungguh Brian sangat frustasi memikirkannya saja.
Di tempat lain, Hendy beserta rombongannya berjalan memasuki setiap gang. Tapi Emma tetap tidak ditemukan. Ponsel Hendy bergetar, tertanda tuan Mark.
Hendy : Halo, iya tuan. Nona Emma belum ditemukan. Kami akan mencarinya sampai menemukannya.
Mark : Temukan dia secepatnya, jangan pulang sebelum kau menemukannya!
Hendy : Tunggu, tuan. Ada yang ingin saya katakan. Mohon setelah saya mengatakannya, anda tidak akan marah dan melakukan hal yang tidak-tidak.
Mark : Baiklah, aku berjanji. Jadi, apa?
******
Hendy menutup telfon dan menghela nafas. Ya, Emma Michelle sudah bak putri keluarga Mark. Tuan Mark dan nyonya Azzury menyayanginya lebih dari anak mereka sendiri, maklum kalau Tuan besarnya sampai seperti itu. Hendy tak mau membuang waktu dan malanjutkan pencarian.
"Coba saja kalau dia punya ponsel, pasti mudah dilacak" keluh Hendy.
Pukul 00.18 waktu setempat, sudah berganti hari. Ponsel Brian berdering dan dengan kasar ia mengangkat telfon dari sang ibu.
Nyonya Chassandra : Dimana kau Brian! Sudah jam berapa ini?
__ADS_1
Brian : Di mobil bu.
Nyonya Chassandra : Cepat pulang, sayang, apa kau ingin melihat ibumu ini mati khawatir?
Brian : Aku tidak akan pulang sebelum menemukannya.
Tepat setelah itu Brian mematikan telfon. Di ujung telfon, nyonya Chassandra terbengong-bengong. Mikhailo mendekati istrinya, ia menghela nafas sejenak dan mulai menenangkan istrinya. Walaupun Brian adalah laki-laki, tapi tetap saja. Orang tua mana yang tidak khawatir anaknya belum pulang bahkan hari sudah berganti?
Tiba-tiba, Brian mengerem mobil mendadak. Matanya membulat melihat seorang gadis duduk menekuk lutut bersandar pagar pembatas. Brian membuka mobilnya dan mendekati gadis itu. disentuhnya pundak gadis itu pelan, berharap tidak mengejutkannya.
"Emma?" panggil Brian.
"Dingin, Bajunya masih basah dan dingin" batin Brian.
Yang dipanggil memiringkan kepalanya. dapat Brian lihat dengan jelas kalau mata gadis itu memerah akibat terlalu banyak menangis. Tanpa pikir panjang, ia mendekap Emma. Emma terbelalak, namun pelukan Brian hangat. Perlahan ia membenamkan wajahnya di dada bidang itu dan kembali terisak. Dengan perhatian, Brian mengusap rambut Emma, menenangkan gadis itu.
"Tenang Emma, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja" kata Brian.
Tak ada respon. Isakan Emma juga tiba-tiba berhenti, Brian merasa heran dan melirik gadis itu. Emma sudah tertidur, mungkin karena batinnya lelah dan ia juga sudah lelah menangis. Digendongnya Emma ala Bridal Style dan membawanya ke mobil atau lebih tepatnya di samping kursinya. Brian menarik sabuk pengaman, namun ketika ia melakukannya tanpa sadar wajahnya berada sangat dekat dengan Emma. ia terdiam sejenak, ditatapnya lekat wajah Emma, helaian rambutnya, matanya, hidungnya, dan bibirnya. Bibir yang sedikit pucat dan membiru akibat kedinginan, namun entah kenapa itu terlihat menggoda? . Ia mulai mendekatkan wajahnya ke Emma, menghilangkan jarak antara dia dengan gadis itu. kini, jarak antar bibir mereka tinggal beberapa centi saja, Brian semakin mendekat. Namun tinggal beberapa inchi, sebuah suara kecil nan indah menginterupsinya.
"Jack" gumam Emma pelan dan berhasil menyadarkan Brian.
Brian tercengang. Ia mematung, tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Apa? Emma bicara?" tanya Brian dalam hati.
Benak Brian bertanya-tanya. Ia sadar apa yang tengah dilakukannya dan menarik diri. Dibukanya jas hitam miliknya dan menyelimuti Emma. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju rumah. Dipegangnya setir dengan erat, entah kenapa dadanya panas sekarang.
******
Kediaman Petrenkov.
Brian memarkirkan mobilnya, decitan ban dapat terdengar hingga dalam rumah, membuat sang ibu dan ayahnya keluar.
"Brian" panggil sang ibu.
Brian tidak mengindahkan panggilan ibunya dan menuju pintu sebelah kiri, ia mengangkat Emma ala Bridal Style dan membawanya masuk, nyonya Chassandra melotot, mulutnya menganga melihat sang putra dengan gentlenya menggendong seorang gadis cantik ke rumah terlebih dini hari.
"HOH?" nyonya Chassandra membulatkan mata dan mulutnya.
"Tenanglah, ia Emma. jadi ayo kita masuk" ajak Mikhailo.
Brian membawa Emma ke kamarnya dan membaringkan gadis itu ke kasur king size miliknya. Nyonya Chassandra masuk dan langsung menginterogasi Brian.
"Kenapa kau membawanya?" tanya nyonya Chassandra.
"Untuk malam ini, biarkan dia tidur disini" jawab Brian.
"Tenanglah Brian, Ayah tidak melarangmu. Ayah akan menghubungi Mark kalau kau berhasil menemukan Emma" kata Mikhailo dan berlalu.
"Tunggu, Sayang. Apa maksudnya? kenapa Mark?" tanya nyonya Chassandra polos.
"Nanti kujelaskan" jawab Mikhailo seraya pergi.
Brian memandang Emma lekat, pandangan matanya sayu. Digigitnya bibir bawahnya, ia bisa menduga kalau semua ini adalah ulah Jack. Tapi yang lebih membuatnya bingung bercampur kesal adalah. Kenapa kata pertama Emma adalah Jack?
"Setelah semua yang ia lakukan padamu, kenapa kata pertamamu adalah dia?" tanya Brian dalam hati.
Sakit, Brian merasa sakit. Sorot mata sayunya berubah menjadi kecewa dan terluka. Nyonya Chassandra yang menyadari perubahan sikap putranya pun mendekat.
"Apa gadis ini?" tanya Nyonya Chassandra lembut yang dijawab anggukan oleh Brian.
"Dia yang tadi bersamamu di pesta kan?" tanya sang ibu lagi, Brian menoleh. Ditatapnya sang ibu seolah bertanya bagaimana ibu tahu?
"Ibu melihatmu membawanya keluar ruang tadi. Dan kau menggenggam tangannya" jawab sang ibu datar. Brian terbelalak, ia tidak menyangka ibunya tahu. Padahal tadi di pesta tujuannya mengajak Emma keluar tidak hanya sekedar untuk melihat kembang api, melainkan menjauhkan Emma dari tatapan ingin tahu ibunya.
"Tidak ibu sangka, Brianku sudah dewasa dan mengerti akan cinta" lanjut sang ibu yang sukses membuat wajah Brian memerah, ia tidak bisa menjawab pernyataan ibunya. Karena semua itu adalah benar.
"Dia basah, apa tadi ia yang tercebur ke kolam?" tanya nyonya Chassandra memandang Brian.
"Gantikan bajunya ibu, aku tidak ingin dia jatuh sakit" jawab Brian dan pergi meninggalkan ibunya.
Di luar ruangan, Brian memegangi dadanya. Jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya naik turun. Sungguh efek memandang lama Emma memang luar biasa, membuat jantungnya berpicu melebihi batas normal. Brian berpikir kalau jatuh cinta hampir sama dengan penyakit jantung, sungguh ia baru mengerti. Jadi selama ini, perasaannya pada Emma adalah cinta?
"Jadi aku jatuh cinta pada Emma?" tanya Brian dalam hati.
Brian masih memegangi dadanya, ketika suara sang ayah menyadarkannya. Ia mendengar sang ayah yang bicara lewat telfon di lantai satu.
Mikhailo : Ya, dia disini. Brian sudah menemukannya. Untuk malam ini biarkan ia tinggal disini. Bagaimana keadaan Jack?
Mark : Terima kasih. Dia baik-baik saja. dia menginap di hotel malam ini.
Mikhailo : Apa kau yakin? Kurasa ada yang aneh dengan Jack tadi, sepertinya ia begitu syok akan sesuatu. Apa kau yakin membiarkannya sendiri?
Mark : Benarkah? Tadi Azzury juga bilang seperti itu. Aku akan mengecek keadaannya lagi besok pagi. Oh ya, boleh aku bertanya, hanya tanya saja. Hmm . . . menurut dokter sepertimu, bagaimana dengan orang yang menyiksa orang lain tapi tidak merasa bersalah? Seakan ia menikmati itu, tapi ada kalanya ia menjadi baik dan perhatian sesaat.
Mikhailo : Itu adalah gejala awal psikopat.
Mark : Maksudmu gila?
Mikhailo : Psikopat tidak sama dengan gila. Karena seorang psikopat menyadari penuh perbuatannya. Akan sangat berbahaya jika tidak segera dikonsultasikan, memangnya siapa?
Mark : Tidak, hanya salah satu anak rekanku, hahaha.
Percakapan sang ayah dengan om Mark tentu dapat Brian dengar. Ia mengerutkan alisnya, tidak mungkin kan kalau itu anak rekannya. Setidaknya itu yang dipikirkan Brian, namun perlahan ia tercengang. Bukannya menyiksa seseorang seperti halnya psikopat itu mirip dengan tindakan Jack?
"Tidak mungkin kan, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya bertindak seekstrim itu pada Emma. terlebih tadi Emma menggumamkan 'Jack'. Padahal sebelumnya ia tidak bicara. Dan, Jack tidak pernah memanggil nama Emma seperti yang lain. Ia selalu menyebut 'Emm'. Aku tidak pernah menyadarinya karena menurutku mungkin Jack hanya malas memanggil namanya. Tapi . . . kenapa benakku mengatakan kalau mereka saling mengenal dulu?" gumam Brian.
******
Jack check out. Setelah kepergiannya, para pegawai hotel berkasak-kusuk. Mereka tidak habis pikir dengan Jack yang masih muda tapi sudah memiliki saham di perusahaan ayahnya dan menyewa kamar hotel selama 10 tahun kedepan. Mereka juga bergosip tentang pertunangan Jack dengan anak bungsu keluarga Rick dan kekacauan di acara pertunangannya. Mereka sungguh tidak habis pikir dengan anak orang kaya.
Jack keluar hotel dan berjalan kaki menjauhi Hotel berbintang 5 tersebut. Ia melangkahkan kakinya dan otaknya mulai mengingat kejadian semalam, saat ia sengaja menyuruh orang untuk menabrak Emma agar terjatuh ke kolam. Saat ia menolong gadis itu, saat ia mengeluarkan segala kata-kata kasarnya dan saat Emma mengatakan kata pertamanya.
Aku membencimu.
Lagi-lagi kata-kata itu kembali terngiang di kepalanya. Jack memejamkan matanya sejenak, namun kata itu tetap tidak mau hilang. Kata-kata yang seakan adalah sebuah mantra sihir yang telah mengutuknya, yang mungkin tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Rasa sakit kembali menjalari relung batinnya, membuat dirinya meringis kesakitan. Sungguh, sebelumnya ia pasti akan menolak perasaan itu, tapi kenapa kali ini ia malah menerimanya? Menerima segala sayatan yang mengoyak hati bekunya selama ini.
Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menoleh ke kiri jalan, sebuah taman disana. Dan entah kenapa di taman itu, ia melihat dirinya dan Emma bermain sewaktu kecil. Mereka tertawa dan bahagia bersama. Tak terasa, bibir Jack menyunggingkan sebuah senyum. Walaupun kecil, kali ini senyuman itu tulus dan tidak ia buat-buat. Untuk beberapa detik, ia membiarkan dirinya tersenyum, namun kemudian ia sadar.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Jack dengan tawa yang tidak dapat diartikan.
Sedangkan di tempat lain, Emma terbangun. Ia membuka matanya dan melihat langit-langit berwarna seperti awan. Putih dan biru, sungguh indah. Itulah kesan pertama Emma. ia mendudukkan dirinya dan mengedarkan pandangannya. Ruangan bernuansa biru yang sangat manly dengan aroma parfum khas seseorang.
"Brian?" Emma terbelalak.
Ia mengingat kejadian semalam saat Brian menemukannya dan mendekapnya. Emma mengerutkan dahinya dan menyadari kalau sekarang ia sudah berganti pakaian.
"Apa yang terjadi?" tanya Emma dalam hati.
Tiba-tiba pintu terbuka. Muncul lah seorang wanita paruh baya dengan rambut crimson yang dikuncir satu kesamping dan bermata coklat. Sungguh cantik dan elegan, dari luarnya saja tersirat kalau ia pasti adalah seorang yang sangat perhatian. Nyonya Chassandra mendekati Emma, ia tersenyum manis dan meletakkan tangannya di dahi gadis itu.
"Syukurlah kau tidak demam" kata nyonya Chassandra. Kemudian tangannya beralih ke perut Emma, diusapnya perut gadis itu lembut dan pelan, pandangan matanya sayu. Tentu Emma heran tak alang kepalang diperlakukan seperti itu.
"Bagaimana? Apa dia baik-baik saja. kuharap ia akan lahir secantik ibunya" kata nyonya Chassandra.
"Apa!?" Emma shock dengan pernyataan wanita di depannya.
Nyonya Chassandra masih dalam fantasinya, dan Emma masih dalam keadaan syoknya. Hingga sebuah suara yang sangat familiar menyadarkannya.
"Ibu, jangan macam-macam" kata Brian yang tiba-tiba muncul di ambang pintu. Nyonya Chassandra kaget dan menoleh, ia tersenyum innocent pada putranya.
"Apa maksud ibu dengan 'lahir secantik ibunya?' ibu pikir Emma hamil?" tanya Brian tajam, sementara sang ibu hanya memalingkan wajah dan menggaruk tengkuknya yang memang tidak gatal, setetes keringat menetes di dahi hingga pipinya, tanda ia panik.
"Hamil!?" tanya Emma tidak percaya.
"Ah, namanya Emma ya" kata nyonya Chassandra mengalihkan pembicaraan.
"Ibu mengalihkan pembicaraan" kata Brian mengskak sang ibu. Nyonya Chassandra mengeluh dalam hati.
"Ibu pikir akan mendapatkan Brian kecil-kecil. Maafkan ibu karena berharap lebih, Brian sayang" jawab Nyonya Chassandra sambil memainkan kedua telunjuknya.
"Ibu, aku tidak akan melakukan sesuatu seperti itu" jawab Brian dengan nada serius
"Heh? Kenapa tidak? Emma cantik, ibu suka. Jadi kenapa kau tidak melakukannya dan segera beri ibu cucu?" tanya Nyonya Chassandra dengan puppy eyes.
Sementara Emma tercengang dengan percakapan Ibu dan anak itu. Wajahnya memerah, tentu ia mengerti ke arah mana percakapan itu. ia tertunduk guna menyembunyikan wajahnya.
"AKU MASIH SEKOLAH! IBU!" teriak Brian dan berhasil membuat ibunya memejamkan mata. Bahkan Emma kaget kalau Brian bisa menaikkan suaranya dan berteriak seperti itu. Yang ia tahu Brian itu adalah pribadi yang selalu tenang dan baik. Sungguh, keluarga Petrenkov tidak bisa ditebak. Nyonya Chassandra tidak menyerah begitu saja, ia menguatkan diri untuk bertanya sekali lagi, berharap sang putra mau menuruti perkataannya.
"Jadi setelah lulus kau mau melakukannya?" tanya Nyonya Chassandra lagi.
"AKU HARUS MENIKAH DULU, IBU!" teriak Brian lagi.
"KALAU BEGITU CEPAT NIKAHI DIA!" bentak Nyonya Chassandra tak mau kalah. Tentu Emma Blushing berat, ia tidak pernah membayangkan menikah dengan Brian. Bahkan sebelumnya ia belum pernah berciuman dan memiliki seorang pun kekasih. Kata menikah sungguh tabu baginya. Tapi itu berhasil membuat ubun-ubun Emma mengeluarkan asap.
"Fiuh, ibu . . . keluar" kata Brian menghela nafas dengan sabar dan mengusir ibunya.
"Iya, Brianku sayang" jawab sang ibu dan menuruti perkataan Brian.
Nyonya Chassandra meninggalkan kamar Brian. Sepeninggalannya, Brian menghela nafas beberapa kali dan mendekati Emma. Mendudukkan dirinya di samping tempat tidur dan menatap Emma yang masih tertunduk. Melihat itu, ia jadi khawatir dan ditepuknya tangan Emma pelan dan sukses membuatnya mendongakkan kepala. Kini terlihatlah wajah merah Emma, seketika rona merah menjalari wajahnya. Di hadapannya kini adalah Emma yang baru bangun tidur dengan wajah yang merona, sungguh sangat cantik. Brian tercengang sesaat, Emma benar-benar tahu cara menyerangkan virus pesonanya. Brian sadar dan mengurutuki dirinya sendiri, ia bersumpah tidak akan seperti itu lagi atau Emma akan menganggapnya aneh.
"Mandilah, setelah itu kita sarapan" kata Brian seraya tersenyum ramah.
"Aku akan meminta ibu membawakan baju ganti" kata Brian kemudian dan menepuk puncak mahkota Emma.
"Dia kembali tidak bicara" batin Brian.
Di ruang makan keluarga Petrenkov. Kedua anggota keluarga sudah siap di tempat masing-masing. Diantara mereka, yaitu anggota termuda tengah menghentak-hentakkan kakinya tanda ia tidak sabar menunggu. Mikhailo hanya menghela nafas menanggapi sikap putranya. Sungguh, Brian sangat mirip dirinya saat muda. Tanpa Brian sadari, ayahnya pun tersenyum. Sesaat kemudian, Emma dan nyonya Chassandra masuk ruang dan duduk di depan Brian. Betapa terkejutnya ia melihat Emma sekarang ini. walaupun sederhana, Emma tampak cantik. Gadis itu bahkan hanya mengenakan sedikit bedak. Melihat itu, Mikhailo berdehem guna menyadarkan sang putra, dan berhasil. Brian jadi salah tingkah.
"Dia cantik kan? Lihat sayang, ini adalah baju yang aku kenakan saat pertama kali kencan denganmu. Ternyata sangat pas dengannya" kata nyonya Chassandra pada suaminya.
"Iya, tidak kusangka kau masih menyimpannya" kata Mikhailo seraya tersenyum.
"Tentu. Aku menyimpan semua bajuku untuk kuberikan pada anakku kelak, tapi yang terlahir malah Brianku. Padahal sebelumnya aku yakin kalau anakku akan lahir perempuan" kata nyonya Chassandra.
"Itu hanya harapanmu. Tiga kali USG hasilnya adalah laki-laki. Kau tidak ingat?" tanya Mikhailo sweatdrop.
Emma tersenyum mendengarnya, tentu senyuman itu dapat mereka lihat dengan jelas. Kecantikan alami Emma memang luar biasa, bahkan ketiga anggota keluarga Petrenkov sampai tertegun untuk sesaat. Bersama keluarga Petrenkov benar-benar membuatnya melupakan kejadian semalam. Dan akhirnya mereka melanjutkan acara sarapan mereka yang selalu dihiasi dengan keceriaan, membuat Emma tak henti-hentinya tersenyum.
Setelah sarapan, Mikhailo dan Brian pergi mengantarkan Emma pulang. Ya, pulang ke keluarga William. Brian dan Emma duduk di belakang sedangkan Mikhailo menyetir di depan. Sepanjang perjalanan, Brian tak hentinya mengajak Emma mengobrol yang tentu selalu dijawab melalui note.
Perjalanan tak membutuhkan waktu lama, hanya 10 menit mengingat jarak perumahan mereka tidak terlalu jauh. Emma turun dari mobil diikuti Brian dan tuan Mikhailo. Mereka masuk ke halaman yang langsung disambut oleh para pelayan. Ditekannya bel rumah besar itu, seorang pelayan perempuan berambut pink membukakan pintu. Betapa terkejutnya ia melihat Nonanya, tanpa pikir panjang ia segera memeluk Nonanya dengan sayang.
"Nona, syukurlah" kata Virginia dengan berderai air mata, Emma hanya menepuk punggung Virginia guna menenangkannya.
"Maaf. Nona, Tuan, silahkan masuk" kata Virginia kemudian.
Mereka masuk dan disambut hangat oleh Mark beserta Istri dan putrinya. Nyonya Azzury mengucapkan terima kasih pada Brian karena sudah menemukan Emma. Disaat mereka tengah bercakap-cakap, tiba-tiba pintu utama terbuka. Jack masuk dan semua pasang mata menoleh padanya. Mark berdiri, saking senangnya akan kepulangan Emma, ia jadi melupakan putranya. Padahal ia sudah berniat menjenguknya pagi ini, Mark mengerutuki dirinya sendiri yang kelupaan.
"Jack, Ayah baru saja akan menjemputmu setelah ini" kata Mark.
Jack menatap mereka atau lebih tepatnya menatap Emma, begitu pula sebaliknya. Pandangan mereka bertemu dan tetap seperti itu untuk sesaat, namun Jack memalingkan wajahnya dengan raut yang terluka dan sedih. Karena, semakin ia melihat Emma rasa sakit di hatinya semakin menjadi-jadi dan kata-kata “aku membencimu” semakin terngiang keras. Sedangkan Emma, dadanya bergemuruh bak guntur yang membelah langit. Amarah, kebencian, rasa sakit, terluka, menghiasi relung batinnya. Sungguh perasaan yang membingungkan dan menyesakkan. Tidak hanya itu, segala intimidasi, penyiksaan raga dan batin yang telah Jack lakukan padanya kembali menghantuinya. Sungguh, membuatnya ingin berteriak saat ini juga, namun ia menahannya, karena percuma berteriak pada iblis seperti Jack. Akhirnya Emma hanya menggenggam tangannya erat, menguatkan dirinya agar tidak sampai termakan hasrat. Kalau seperti itu, nanti apa bedanya ia dengan Jack? ia adalah Emma Michelle, sekali lagi Emma menguatkan dirinnya dan menggigit bibir bawahnya. Tanpa Emma ketahui, Brian melihat ekspresi itu. ia kembali bertanya-tanya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan mereka?" tanya Brian dalam hati.
__ADS_1
Jack membungkuk memberi salam pada Mikhailo dan naik ke kamarnya di lantai 2. Nyonya Azzury menyadari perubahan sikap Jack dan permisi.
"Kau yakin ia baik-baik saja?" tanya Mikhailo.
"Entahlah, tidak biasanya dia seperti itu" jawab Mark dengan raut khawatir.
"Ia seperti sedang tertekan. Apa ada sesuatu yang telah menimpanya? Bukankah seharusnya ia bahagia karena pertunangan yang diidamkannya sudah diselenggarakan?" tanya Mikhailo lagi.
"Aku tidak tahu, aku akan bertanya pada Jack nanti. Yah . . . walaupun kurasa percuma, karena Jack sangat lihat menyembunyikan sesuatu" jawab Mark.
"Kalau ada sesuatu, jangan segan-segan menghubungiku" kata Mikhailo dan dijawab senyuman oleh Mark.
Mikhailo dan Brian pamit undur diri. Virginia, Emma dan sang tuan rumah, Mark mengantar mereka. Sepeninggalan kedua pria bermarga Petrenkov itu, Mark menghela nafas. Diliriknya Emma, dilihatnya gadis itu yang tertunduk dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Mark mulai penasaran apa yang terjadi hingga membuat putranya dan gadis bermarga Michelle itu seperti ini. Diajaknya Emma ke ruangannya, dan Emma menyetujuinya.
******
Ruang kerja Mark.
Tuan Mark mempersilahkan Emma duduk.
"Emma, maafkan om jikalau om lancang. Tapi, ada yang perlu om katakan. jika kau tidak ingin menjawabnya tidak apa" kata Tuan Mark membuka pembicaraan.
"Apa . . . Jack menyiksamu?" tanya Tuan Mark kemudian.
Bagai disengat listrik beribu Watt, Emma menegang, walaupun masih tertunduk, ia membulatkan matanya. Ia bingung, bagaimana ia harus menjawab. Disini ia hanya menumpang berteduh dan tidak memberi balasan apapun. Tidak mungkin ia menjawab iya. Karena jika ia melakukannya, ia merasa akan menjadi orang yang tidak tahu terima kasih. Tapi, hati kecilnya berkehendak lain. Ingin sekali rasanya berkata iya maka masalah akan selesai. Jack akan dihukum dan Emma akan bebas. Tapi jika itu juga terjadi, Emma merasa sangat jahat karena membalas Jack dengan perbuatan serupa. Ia tidak ingin hal itu. Jadi, ia memilih untuk diam. Tuan Mark mengeluh.
"Om tahu semuanya dari Hendy" jelas Tuan Mark.
~ Flashback ~
Hendy mengangkat telfon dari Tuan besarnya. Tuan besarnya memastikan apakah ia sudah menemukan Emma atau belum. Namun, di ujung pembicaraan, disaat Mark hendak menutup telfon, Hendy menahannya.
Mark : Baiklah, aku berjanji. Jadi, apa?
Hendy : Tuan, Tuan Jack, ia tidak menyukai Nona Emma.
Mark : Aku tahu.
Hendy : Tidak, bukan hanya rasa tidak suka tapi sesuatu yang lebih. Seperti kebencian yang teramat sangat.
Mark : Hmm . . . Aku rasa juga seperti itu.
Hendy : Tuan, maafkan saya kalau saya lancang. Tapi perlu anda ketahui, kalau selama ini Tuan Jack sering menyiksa Em . . . Nona Emma. Saya bisa mengatakan ini karena sebelumnya Tuan Jack mengguyur Nona Emma dengan air tengah malam. Semenjak itu saya curiga dan menyuruh orang mengikuti Tuan Jack. Dan hasilnya, seperti yang saya bilang tadi. Selebihnya akan saya jelaskan lain kali, dan saya harap anda tidak terkejut mendengarnya.
Mark terbelalak mendengarnya. Ia tidak menyangka akan hal itu. tangannya bergetar, ia sangat marah. Putranya yang sangat ia sayangi tega berbuat hal keji pada orang lain terlebih seorang gadis. Padahal ia membawa Emma ke rumah dengan tujuan agar ia terbebas dari siksaan ayahnya, tapi tanpa ia ketahui gadis itu malah masuk ke lubang buaya. Mark menggigit bibir bawahnya, ingin sekali ia memberi pelajaran Jack saat ini juga.
~ Flashback End ~
Emma memegangi ujung roknya dengan erat. Rahasianya sudah terbongkar, ia khawatir bagaimana kalau Jack tahu semua ini? ia pasti akan mendapat penyiksaan lebih, karena Jack pasti menuduhnya telah mengadu. Membayangkannya saja sudah membuat tangannya gemetar, ia sudah tidak sanggup jika disiksa lagi. Dirogohnya note miliknya dan ia menuliskan sesuatu disana.
"Om tidak akan berbuat sesuatu padanya kan?" tanya Emma.
Mark tentu terkejut bukan main dengan respon Emma, ia tidak mengira gadis itu sebaik itu bisa memaafkan kekejaman putranya.
"Maafkan om, yang tidak bisa menjagamu dengan baik" jawab Mark.
"Om tidak akan melakukan apapun, karena kau yang memintanya. Bukan karena om kasihan dengan putra om" lanjut Mark kemudian.
******
Kamar Jack. Jack tengah berdiri di balkon, menatap halaman belakang rumahnya yang luas nan asri. Berbagai macam bunga dan sayuran tertanam dengan apik disana. Tak lupa sebuah meja dan kursi ikut menghiasi di area pinggir mempercantik kebun tersebut. Ia terus memikirkan semua yang sudah terjadi, Emma yang dulu menepisnya, Emma yang dulu memintanya untuk enyah, dan Emma yang dulu dengan kasarnya mengusir dirinya. Dan, ia juga memikirkan semua yang telah ia perbuat pada gadis itu, dari hari pertama mereka kembali bertemu hingga sekarang. Sungguh tak terhitung penyiksaan yang sudah ia lakukan, baik secara batin maupun fisik. Juga, semalam untuk pertama kalinya ia mendengar Emma bicara, suara lembut yang ia rindukan. Tapi, kalimat pertama gadis itu sungguh menusuknya. Mengingat semua itu, rasanya sangat sakit, terlebih ketika dirinya menatap mata gadis itu tadi di ruang tamu, sungguh menyayat rasanya. Entah sudah berapa kali ia merasakan sakit dari semalam. Semilir angin meniup pucuk kepalanya, dan Jack-pun perlahan memejamkan mata sejenak. ia mengatur nafas dan detak jantungnya yang tidak beraturan. Tiba-tiba sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya. Nyonya Azzury menghampiri putranya, ia sangat khawatir.
"Jack, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan?" tanya sang ibu lembut.
"Aku baik, ma" jawab Jack seraya membuka matanya, pandangan matanya kosong.
"Bohong" kata Nyonya Azzury dalam hati.
"Kau tidak terlihat bahagia setelah pertunanganmu, apa ada masalah dengan Chloe?" tanya sang ibu lagi.
"Tidak ma, semua baik. Aku senang" jawab Jack datar masih dengan tatapan kosongnya.Nyonya Azzury hanya menghela nafas, Jack memang keras kepala. Ia tahu kalau semua yang dikatakan putranya itu berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Nyonya Azzury memutar otaknya, kalau bukan Chloe, siapa lagi? Ia mulai mengerutkan dahinya, dan terlintaslah sebuah nama.
"Apa karena Emma?" tanya Nyonya Azzury dan sukses membuat tatapan kosong Jack berubah, ia menoleh dan terlihatlah sorot matanya yang tengah bingung, sedih dan terluka. Melihatnya saja, membuat hati sang ibu terasa miris. Ternyata benar.
"Emma baik-baik saja, ia sempat menghilang semalam tapi Brian berhasil menemukannya dan mengantarnya pulang tadi" lanjut sang ibu.
"Begitu ya" kata Jack menanggapi dengan datar dan kembali menatap kebun, lagi-lagi pandangan matanya berubah menjadi kosong.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka" batin Nyonya Azzury.
"Daripada kau disini, bagaimana kalau membantu ibu? Ibu mau menanam sayur di kebun" kata Nyonya Azzury berusaha mengalihkan.
"Baik, ma" jawab Jack dan pergi meninggalkan ibunya.
"Benar dugaanku" kata Nyonya Azzury dalam hati.
******
Emma keluar dari ruangan kerja Mark. Dilihatnya Virginia yang mengenakan topi dan sarung tangan, ia menebak kalau Virginia pasti akan pergi berkebun. Dengan segera ia mendekat dan bertanya padanya. Virginia tentu tahu maksud tersembunyi Nonanya, ia memberi peringatan kalau berkebun itu kotor dan bla bla bla. Tapi seolah tidak mengindahkan peringatan itu dengan sigap Emma merebut topi Virginia dan mengenakannya kemudian berjalan mendahului Virginia ke kebun belakang. Tak mau kalah, Nathalie juga ikut. Ia berlari dari tempat duduknya yang tak jauh dari mereka dan langsung menggandeng tangan Emma. mereka tersenyum bersama. Melihat itu, Virginia ikut tersenyum. Apapun akan ia lakukan asalkan Nona dapat tersenyum. Setidaknya itu yang dipikirkannya.
Matahari mulai bergerak, jam sudah menunjukan pukul 10.00 pagi waktu setempat. Nyonya Azzury memilah benih sayur dengan seksama. Sedangkan pelayan yang lain dan Jack tengah mencangkul lahan. Nathalie yang baru datang terkejut, ia tidak menyangka kalau kakaknya bisa mencangkul, sungguh diluar dugaan.
"Jack tinggal bersama kakek dulu, Nathalie" jelas sang ibu menjawan keterkejutan Nathalie.
"Benarkah? Kakak dan kakek tidak pernah bercerita" kata Nathalie.
"Kau tahu sifat kakakmu kan?" tanya Nyonya Azzury, dan Nathalie pun menganggukkan kepalanya, ia sangat paham betul. Kakaknya adalah orang yang berharga diri tinggi jadi maklum-lah.
Nyonya Azzury memberikan Virginia, Nathalie dan Emma benih sayur yang sudah berumur 3 minggu. Kemudian ia mengarahkan mereka untuk menanamnya. Tempat dimana mereka menanam berbeda karena jenis benih juga berbeda. Emma dan Nathalie mendapatkan benih yang sama sedangkan Virginia dan Nyonya Azzury masing-masing berbeda. Mereka pergi ke lahan masing-masing, Tukang kebun mengarahkan Emma dan Nathalie bagaimana cara menanam, dan dengan otak brilliant mereka, mereka langsung paham seketika. Emma menanam dari ujung kanan dan Nathalie dari ujung kiri. Emma menanam dengan baik, satu berhasil, dua berhasil, tiga berhasil. Ia tidak menyadari Jack yang tengah mencangkul tidak jauh darinya.
Sedangkan pemuda bersurai karamel yang tengah mencangkul mulai berkeringat, ia menyeka keringatnya dengan tangan kotornya. Ia bahkan tidak memperdulikan wajah tampannya yang dihiasi oleh tanah. Ia terus mencangkul hingga sesuatu mencuat dari tanah yang ia cangkul hingga tiba-tiba . . .
BRAK
Jack menoleh, dilihatnya Emma yang terjengkang dan menumpahkan serta merusak sekotak benih. Emma panik, dengan segera Jack meletakkan cangkulnya dan mendekati gadis itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jack khawatir.
Emma gemetaran, ia menunjuk kakinya yang sekarang terhinggapi oleh ulat yang ukurannya lumayan besar. Ditambah ulat itu berwarna hitam pekat dan memiliki bulu yang banyak. Emma merinding, matanya sudah berair dan ingin sekali ia menangis sekarang juga.
"U-U-Ulat" kata Emma gemetar dalam hati.
Melihat ekspresi ketakutan Emma, entah kenapa Jack terkekeh dan tersenyum. Kali ini bukan senyuman palsu atau senyum iblis. Melainkan senyuman polos nan tulus miliknya yang entah sejak kapan tidak pernah ia tunjukkan. Karena semua itu mengingatkannya pada saat itu.
~ Flashback ~
Jack kecil dan Emma bermain bola di taman. Awalnya Emma menolak karena ia adalah perempuan, tapi mau bagaimana lagi, karena ia kalah suit. Dengan kesal akhirnya Emma mau menuruti permainan Jack. namun, ternyata Emma sangat lihai. Bahkan Jack tidak menyangkanya. Ketika ia menendang bola ke Emma, gadis kecil itu dengan baik kembali menendangnya tepat ke kakinya.
"Kau keren Emma, seperti Hercules" puji Jack dengan polos. Tepat setelah ia mengatakan itu, Emma menyipitkan matanya dan menatap Jack lekat. Ia menaikkan satu alisnya, tanda ia marah. Bagaimana mungkin idol secantik dirinya disamakan dengan Hercules?
"Kau memujiku atau meledekku?" tanya Emma sinis sembari tetap mengoper bola.
"Tentu aku memujimu" jawab Jack pasti, dan mengoper bola lagi pada Emma.
"Dasar!" kata Emma dan menendang bola dengan keras, akibat tendangannya itu, bola melambung tinggi dan terlempar jauh kedalam semak-semak. Jack shock bukan main, ia mengerutuki dirinya sendiri yang tidak akan meledek Emma lagi.
Mereka mencari bola di semak-semak. Sudah beberapa menit mencari tapi tidak ada, padahal Emma yakin kalau bolanya ke arah situ. Tiba-tiba . . .
"KYAA!" teriak Emma dan terjengkang ke belakang. Jack panik, ia segera mendekati temannya itu.
"Apa? Apa?" tanya Jack kelabakan.
Emma menunjuk kakinya yang kini dihinggapi oleh ulat kecil berwarna hijau. Ia berkeringat dingin dan gemetaran. Jack tertawa seakan terhibur, ternyata memang salah ia menjuluki Emma sebagai Hercules, karena Emma itu penakut.
"Apa yang kau tertawakan? Huh?" tanya Emma kesal.
Dengan sigap Jack mengambil ulat itu dengan tangannya, tentu aksi Jack membuat Emma bergidik ngeri.
~ Flashback End ~
Melihat senyum Jack, Emma terdiam mematung. Tidak mungkin seorang Jack William tersenyum, terlebih padanya kan? Emma sungguh tidak mengerti, namun perlahan ia dapat mengerti. Mengerti kalau senyum itu palsu, senyum itu adalah salah satu seringaian iblisnya, ia tidak akan terjebak untuk yang kedua kalinya. Ditatapnya Jack dengan pandangan penuh kebencian.
"Walaupun dunia mengatakan senyummu itu tulus, tapi aku tidak akan pernah menganggapnya. Karena di mataku semua itu hanyalah kebohongan semata" kata Emma dalam hati.
Jack mengambil ulat itu dengan tangannya lalu membuangnya. Emma tidak bergeming, ketakutannya pada ulat sudah tergantikan dengan kemarahan dan kebencian yang luar biasa. Merasa ditatap, Jack pun mendongakkan kepala. Matanya bertemu dengan mata sapphire milik Emma, betapa terkejutnya ia melihat mata itu. Jack mematung, ia tidak bisa berkutik. Mata itu seolah memerintahkannya untuk diam dan menerima semuanya.
Menatap mata polos Jack sekarang, entah kenapa membuat perasaan aneh mendatangi benak Emma. Seperti sebilah belati yang menyayat pucuk hatinya. Walaupun kecil, itu sangat sakit. Tatapan matanya mulai berubah, mata itu bergetar. Menyadari itu, Jack sadar. Dengan perhatian, ia memegang lengan Emma dan membantu gadis itu untuk berdiri kemudian membersihkan rok gadis itu dengan menepuk-nepuknya pelan. Pemandangan itu tentu dilihat oleh seluruh orang yang berada disana, mereka heran dan takjup melihat perubahan sikap Jack yang menjadi baik dan perhatian.
"Kenapa?" tanya Emma.
Setelah melakukan itu, Jack berlalu dan kembali ke tempat ia semula. Sedangkan Emma yang ditinggalkan, memiliki tanda tanya besar.
"Kenapa setelah menyiksaku dan melukaiku, sekarang kau bersikap baik padaku? Terlebih disaat aku telah mengatakan kalau aku membencimu? Kenapa?" batin Emma bertanya-tanya.
******
Malamnya. Angin malam bertiup, udara dingin masuk melalui celah-celah fentilasi. Menusuk setiap tulang seakan memberitahu kalau hari sudah malam dan saatnya untuk terjun ke alam mimpi. Tapi berbeda halnya dengan seorang gadis bersurai pirang. Emma menahan dingin itu, ia duduk menulis buku harian. Hanya cahaya kecil di meja belajar yang menemaninya. Ia mengambil pena dan mulai menorehkan tinta disana.
Hari telah berubah dan mulai berubah lagi.
Pada titik tertentu, kita telah berubah.
Kenangan membasuhku lagi dan lagi hari ini.
Membasuh diatas bekas lukaku yang dingin.
Kenangan yang sebelumnya kubiarkan, menghantamku dengan keras.
Membuat aku berubah.
Hidup di bawah langit dan atap yang sama adalah suatu kebahagiaan untukmu.
Karena kau dapat menyiksaku, batin dan ragaku.
Aku menangis, hari-hari ketika kau menatapku dengan dingin.
Kemudian hari dimana kau mendekapku.
Membuatku bertanya dan meragukan apa yang telah aku ucapkan.
Jika boleh aku berharap.
Aku ingin kembali.
Kembali ke hari hari dimana aku tidak pernah melihat dan mendengar suaramu.
Sebuah cairan tiba-tiba menetes membasahi buku harian Emma. Emma meletakkan penanya dan menutup wajahnya. Menahan isakan tangis yang mungkin akan terdengar oleh Jack dan menyebabkan pemuda itu marah. Ia tidak ingin Jack masuk ke kamarnya lagi dan mengguyurnya dengan air di malam buta begini. Sudah cukup.
Di kamar sebelah, Jack tidak bisa tidur, seberapa keras ia berusaha memejamkan mata tapi matanya menolak untuk dipejamkan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.29 malam. ia memiringkan tubuhnya dan teringat kejadian tadi dikebun, Jack kembali tersenyum. Namun senyumnya sirna ketika sebuah kalimat kembali terngiang di kepalanya.
Aku membencimu.
Jack memegangi dadanya, rasanya sakit. Dipegangnya guling dengan erat, berharap bisa meredamkan rasa sakit itu, tapi bukannya reda tapi malah semakin menjadi. Mata Jack mengkilat dan berkaca-kaca.
"Kemarin dengan kasar aku memegangmu. Dan kini aku merasakan sesuatu yang mencekik batinku dengan tajam hingga membuatku tidak dapat mengambil langkah lain selain diam dan menerima semuanya. Senyum bahagia yang datang dari mata jernihmu telah membeku di tempat seperti layaknya sebuah patung. Aku tak bisa menahannya lagi, perasaan ini, rasa sakit ini, semua kenangku tentangmu, Emm" kata Jack dalam hati.
__ADS_1
"Akankah aku mampu untuk mengatakan bolehkan aku berada di dekatmu? Tak peduli kalau kau membenciku, aku akan terus berada di sisimu hingga aku mengerti semua ini" lanjut Jack kemudian.