The Missing Voice

The Missing Voice
| Chapter 5 : Its Not Me |


__ADS_3

Ruang guru.


Suasana ruang guru tengah sepi, mengingat para guru sedang ditengah jam mengajar. Detik jam berputar menghiasi ruang guru dimana Emma sedang duduk berhadapan dengan Mr. Tedd. Ia sedikit gemetar, digenggamnya erat sebuah gantungan di dalam saku roknya. Mata Mr. Tedd menajam, ia menatap lekat-lekat muridnya itu, kemudian menghela nafas.


"Namamu Emma kan?" tanya Mr. Tedd yang dijawab anggukan oleh Emma.


"Kau tidak membawa baju olahraga, dan saat kuminta menunggu di kelas, kau malah mencuri ponsel temanmu?" kata Mr. Tedd.


"Aku tidak mengambilnya, pak. Sungguh" tulis Emma.


"Apa kau punya bukti?" tanya Mr. Tedd.


"Walau aku tidak memilikinya sekarang, aku tetap tidak mengambilnya. Tapi, aku akan mencari bukti bahwa aku tidaklah salah, pak" tulis Emma dengan cepat.


"Kenapa kau tidak mengaku saja?" tanya Mr. Tedd.


"Kenapa aku harus mengakui apa yang tidak aku perbuat?" tanya Emma dalam note.


"Walaupun kau tidak melakukannya, tapi pada kenyataannya kau berada di waktu dan tempat yang salah, Emma. Bapak tidak ingin memperpanjang ini hingga sampai ke telinga ketua Osis dan kepala sekolah. Jadi bapak sarankan menurut saja, Bapak tidak akan memperberat hukumanmu" kata Mr. Tedd mencoba mencari jalan tengah.


Emma menggigit bibir bawahnya. Menahan gejolak di dalam dadanya, sekarang ini ia tengah difitnah tapi tidak diizinkan untuk membela diri atau lebih tepatnya percuma membela diri. Karena, yang ingin mereka bahkan gurunya ini dengar adalah pengakuannya yang mengatakan kalau ia bersalah.


"Apa aku juga harus dihukum karena sesuatu yang belum pasti kesalahanku?" tanya Emma di note.


"Emma, bapak tahu kau tidak bersalah disini. Bapak tahu kalau kau tidak mungkin melakukan hal seperti itu, tapi sebagai seorang guru, tanpa adanya bukti bapak tidak bisa melepaskanmu begitu saja" jawab Mr. Tedd dengan bijak, kali ini ia sangat terlihat sebagai seorang guru. Padahal biasanya ia bukanlah seseorang yang bicara dengan kata-kata.


"Walaupun bapak mempercayaiku tapi bapak tetap akan menghukumku?" tanya Emma di note, matanya berkaca-kaca ingin meledak saat itu juga.


Mr. Tedd melihat sorot mata Emma. ia menghela nafas dan menurunkan note Emma dari hadapannya.


"Emma, karena kau tidak membawa baju olahraga, bapak menghukummu menyalin materi bab 8 sebanyak 50 kali. Dan, karena kau mengambil ponsel temanmu, kau dikenai hukuman membersihkan semua jendela di seluruh lantai satu selama 2 minggu" kata Mr. Tedd.


Emma lemas. Ia menjatuhkan tangannya, menatap nanar sang guru dengan pandangan tidak percaya. Akhirnya dengan gontai ia menerima hukuman itu, dan permisi meninggalkan ruang guru. Emma berjalan di koridor dengan pandangan menerawang. ia mengingat kembali saat dimana semua teman satu kelasnya menatapnya curiga, sungguh tatapan yang sangat mengerikan, lebih mengerikan dari tatapan Jack. giginya mulai bergetar, tanpa ia sadari kini ia sudah berdiri di depan kelasnya. Emma mengulurkan tangannya dengan ragu, hati kecilnya mengatakan tidak tapi tangannya terulur begitu saja.


"Tidak masalah jika aku dihukum atau mempertanggungjawabkan perbuatan yang bukan kesalahanku. Tapi, bolehkah aku meminta satu hal disini? Percayalah padaku kalau aku tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan, dan jangan . . ." kata Emma dalam hati, tangannya sudah membuka lebar pintu kelas, semua orang menatapnya.


Emma berdiri mematung, kini semua mata memandanginya dengan pandangan membunuh. Sungguh mengerikan, di dunia ini tidak ada yang lebih kejam dari tatapan orang. Suasana kelas menjadi tegang, tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Emma kembali menggenggam gantungan yang berada di dalam roknya.


"Dan jangan menatapku seolah-olah aku ini memang pencuri" kata Emma dengan lemah dalam hati.


Emma memberanikan diri untuk masuk, melewati teman-teman kelasnya yang tak henti-hentinya menatapnya dan membisikkan kata-kata yang sungguh tak pantas. Di bangku Emma, sudah ada Brian dan Mugi. Emma menatap mereka sesaat dan langsung duduk tanpa menjelaskan apapun pada kedua temannya seolah tak mengindahkan keberadaan mereka. Sedangkan yang diacuhkan, mereka malah tambah khawatir, didekatinya gadis pirang tersebut.


"Emma, apa itu benar? Jelaskan padaku kronologisnya, aku akan membuktikan bahwa kau tidak bersalah" tanya Mugi.


"Emma, katakan sesuatu (maksud Brian tulislah sesuatu) dan jangan diam saja" kata Brian.


Emma mendongakkan kepala, menatap mereka dengan pandangan kosong. Ia menulis sesuatu di notenya.


"Bagaimana kalian akan membuktikannya? Akankah semua percaya?" tanya Emma.


Pertanyaan Emma otomatis membuat Brian dan Mugi terhenyak. Mereka tidak menyangka mendapat respon seperti itu. Apakah itu artinya Emma menerima semuanya?


"Aku akan cari cara, Emma. akan aku buat semua percaya padamu" kata Brian dengan tegas.


Penuturan Brian berhasil menyedot perhatian seluruh kelas tak terkecuali Jack dan kawan-kawan. Sebenarnya Darren dan Luke juga tidak percaya dengan tuduhan yang dilontarkan pada Emma, tapi mereka tidak memiliki bukti untuk membela Emma dan memilih untuk diam. Sementara Jack, ia menajamkan telinganya guna mendengar apa yang akan dikatakan Brian selanjutnya.


"Aku tidak meminta bantuanmu, Ketua kelas" tulis Emma dan Brian pun bagai disambar petir.


"Emma" gumam Brian tidak percaya.


"Aku tidak ingin menyeretmu dalam masalahku, sudah cukup aku saja. Aku akan merasa sangat bersalah kalau kau sampai dihukum" tulis Emma kemudian.


"Dan aku sudah memutuskan menerima semuanya" kata Emma dalam hati.


Brian kembali terpana, ia benar-benar kagum dengan Emma. Emma tidak selemah yang ia kira selama ini, Emma adalah gadis yang tegar. Dan Jack yang duduk tak jauh dari mereka, mengernyitkan dahinya menebak apa yang ditulis Emma hingga membuat ekspresi Brian berubah. Ya, mata Brian melembut. Ia mengulurkan tangan dan mendaratkannya di mahkota pirang milik Emma dan diusapnya mahkota indah itu guna menenangkannya. Kali ini Brian tidak malu-malu lagi, karena ia sudah berjanji untuk selalu ada untuk Emma. ia tidak memperdulikan tatapan teman sekelasnya dan tetap melontarkan senyum yang akan membuat siapa pun yang melihatnya meleleh tak terkecuali Emma. Air mata yang ditahannya sudah memenuhi kelopak mata, wajahnya mulai memerah dan ia pun tertunduk. Menyembunyikan wajah karena ia tidak ingin semua melihatnya menangis.


"Semua akan baik-baik saja, Emma" kata Brian.


Tiba-tiba . . .


"Ehem. Aku juga ada disini Emma, jangan lupakan aku" kata Mugi memecahkan suasana romantis yang sempat mengalir. Emma segera mengusap matanya dan menengadah, ia berusaha tersenyum walaupun itu hambar, tapi itu sudah menunjukkan kalau ia sudah baik-baik saja dan membuat kedua temannya itu tersenyum. "Ya, kurasa aku akan membantumu, Brian" kata Nick.


"Terima kasih, baru kali ini aku sangat bersyukur kau menjadi sepupuku" kata Brian.


"Teganya . . ." rengek Nick dan mengaitkan tangannya di lengan Brian.


"Menyingkirlah, aku masih normal" kata Brian ketus.


Melihat pemandangan itu, Emma tak kuasa untuk menarik bibirnya dan tersenyum. Senyuman lepas, semuanya terpana. Senyuman yang sangat cantik dan menawan. Wajah Brian memunculkan semburat merah, ia benar-benar tak bisa terhindar dari virus pesona Emma Michelle yang selalu menyerangnya tanpa mengenal waktu dan tempat. Dari jauh, Jack mendengus.


"Masih bisa-bisanya dia tersenyum!" gumam Jack.


Bel panjang berbunyi, menandakan kelas telah berakhir. Para siswa menyandarkan punggungnya, menghela nafas melepas penat dan ketegangan selama belajar. Kemudian dengan cepat mengemasi barang-barang dan peralatan sekolah bersiap untuk kegiatan selanjutnya. Ada yang langsung pulang, piket, mengikuti kegiatan klub atau berjalan-jalan dengan teman.


Dengan cepat, Emma mengemasi barang-barangnya. Hari ini tidak ada kegiatan Klub. Mugi pun heran, ia menoleh dan ditanyainya temannya itu.


"Hei, Emma. kenapa buru-buru?" tanya Mugi.


"Aku ada hukuman, Mugi. Kalau tidak segera dikerjakan tidak bisa pulang. Aku duluan ya, maaf" tulis Emma dan segera meninggalkan kelas.


"Emma mau kemana?" teriak Brian dan dijawab dengan lambaian tangan saja.


******


Kelas 1-5 sudah kosong. Mereka sudah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Di lantai satu, Emma membawa kain lap, cairan pembersih dan sebuah kursi untuk injakan. Ia mulai membersihkan jendela. Debu berterbangan membuat Emma bersin-bersin tapi tidak mengurungkan niatnya untuk meninggalkan hukuman tersebut.


Jack berjalan dengan malas menuju kebun belakang sekolah setelah menolak ajakan Chloe untuk pulang bersama. Darren sudah pulang karena tidak ada kegiatan klub, dan Luke tentu pergi berkencan. Jack duduk di kursi yang menjadi favoritnya. Ia menghela nafas panjang dan mulai berbaring dengan tas sebagai bantal. Ditatapnya langit dengan pandangan menerawang.


"Langit yang cerah" gumam Jack.


Menatap langit seperti itu membuat Jack mengingat memori yang telah lama ia lupakan.


~ Flashback ~


Di musim panas, Jack kecil tengah berlari mengejar seekor kucing. Ia terus mengejar hingga tidak menyadari kalau ia sudah berada jauh dari tempat keluarganya mengadakan piknik. Kini, Jack sudah berada di hutan, namun bukan hutan menyeramkan seperti di film-film horror yang sering ayahnya lihat, melainkan pepohonan rindang dan tergolong indah di matanya. Jack tertegun untuk sesaat, tapi suara kucing memecahkan lamunannya. Ia segera sadar dan mencari sumber suara. Dari semak-semak, semakin dekat semakin jelas, ia segera masuk ke semak-semak dan menyergap si kucing. Yup, si kucing berhasil ditangkap, tapi seolah tidak mau ditangkap kucing itu mencakar-cakar wajah Jack, Jack tetap bertahan dan tidak mau melepaskannya. Si kucing mengeong-ngeong keras, Jack tetap tidak mau kalah. Hingga tiba-tiba seorang gadis kecil muncul.


"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis kecil.


Jack menoleh, didapatinya seorang gadis kecil bersurai pirang dengan mata sapphire yang sangat menawan. untuk sesaat ia terdiam, membuat genggamannya melemah dan si kucing berhasil kabur. Barulah Jack sadar.


"Oh, Nico!" kata Jack panik.


"Ah, sakit" rintih Jack seraya memegang pipinya yang sudah mendapat banyak goresan.


"Wajahmu berdarah! Tunggu sebentar! jangan kemana-mana, oke?" kata sang gadis pirang. Jack menurutinya, entah kenapa ia mau saja. Tak lama kemudian, gadis kecil datang dengan membawa kotak P3K. Ia mendekati Jack dan mengobati luka di wajahnya.


"Aduh" rintih Jack.


"Anak bodoh mana yang mau saja membiarkan dirinya dicakar kucing" kata si gadis kecil.


"Kucing itu yang memulainya, bukan aku" jawab Jack dengan lucunya.


Gadis kecil menekan luka di wajah Jack dan Jack mengaduh kesakitan. Tak butuh waktu lama untuk si gadis kecil mengobati luka Jack.


"Yosh, sudah . . ." kata gadis kecil dan terdiam sejenak melihat wajah Jack yang sekarang dipenuhi dengan plester


"Hmmp" gadis kecil menutup mulutnya menahan tawa, seolah tahu apa yang ditertawakan anak di depannya, Jack menggembungkan pipinya.


"Apa yang lucu? Apa karena aku seperti mummy?" tanya Jack kecil.


"HAHAHAHA" gadis kecil tak sanggup menahan tawanya dan Jack menjadi malu, semburat tipis muncul di kedua belah pipi imutnya.


"Jangan tertawakan aku, anak pirang" kata Jack masih dengan gaya imutnya.


"Jangan menyebutku pirang, anak lumpur" kata gadis kecil membalas Jack.


“Lumpur? Hei, walaupun aku sedang kotor sekarang, tapi aku tidak dipenuhi lumpur!” kata Jack protes.


“Aku menyebutmu anak lumpur bukan karena kau kotor, tapi karena warna rambutmu seperti lumpur.” Jawab gadis kecil dengan polos.


“Enak saja! Rambutku berwarna karamel!” balas Jack protes lagi.


"Terserahlah. Ngomong-ngomong, kenapa kau ada disini?" tanya gadis kecil.


"Tentu mengejar Nico" jawab Jack pasti.


"Maksudmu, kucing tadi?" tanya gadis kecil dan dijawab anggukan oleh Jack.


"Lain kali, hati-hati ya. Bagaimana kalau lukanya parah, bisa saja berbekas sampai kau dewasa" kata gadis kecil menasihati.


"Benarkah?" Jack terkejut dan memegangi wajahnya, ia kembali meringis kesakitan.


"Oh ya, aku harus pergi. Mama akan mencariku kalau mendapati aku tidak ada di kursi tunggu. Aku duluan ya" kata gadis kecil seraya berdiri dan mulai menjauh.


"Hei, Terima kasih, ehm . . ." kata Jack dengan malu-malu.


"Emma" kata gadis kecil yang bernama Emma. ia segera pergi dan menghilang dari pandangan Jack.


"Emm?" tanya Jack memiringkan kepalanya dan menaikkan salah satu alisnya.


~ Flashback End ~


"Emm" gumam Jack seraya memegang wajahnya.


Setelah menggumamkan nama Emma, Jack segera bangun. Ia menyambar tas dan segera pergi dari kebun. Sementara Emma, ia hampir menyelesaikan ¼ jendela di lantai satu. Ia menggeser kursinya dan kembali membersihkan jendela. Jam sudah menunjukkan pukul 4.00 sore, ia harus segera menyelesaikan ¼ bagian sebelum petang. Sekolah juga sudah sepi, karena semua siswa sudah selesai mengikuti kegiatan klub. Harus selesai atau kalau tidak, tidak ada waktu untuk menyalin materi. Keringat bercucuran di dahi Emma dan membasahi poninya. Baju Emma pun tak jauh berbeda, keringat sudah membasahi mereka. Dari jauh, sepasang mata Emerald melihatnya. Mata itu melihat lekat-lekat sosok Emma yang bermandikan keringat, ia juga melihat Emma yang susah payah membersihkan jendela dengan tangan kanan yang masih terperban. Jack memegangi dadanya, sesuatu yang aneh mulai mendatanginya. Sebuah perasaan ngilu nan menyayat batinnya.


"Kenapa ini? Tidak! Tidak mungkin. Jangan dan jangan pernah! Aku senang melihatnya seperti itu! bukankah ini pemandangan yang bagus?" kata Jack.


Merasa ada yang memperhatikan, Emma menoleh. Tapi ia tidak menemukan siapa pun. Yang benar saja, tidak ada yang masih tinggal di sekolah jam segini. Ia tak ambil pusing dan kembali menyelesaikan hukamannya hari ini.


Tak lama kemudian, tepatnya jam 4.30 sore Emma sudah selesai. Ia mengambil tasnya dan pulang. Sudah sore dan sebentar lagi menjelang malam. Emma berjalan sendirian, namun ketika sampai di luar sekolah, ia berhenti. Emma mulai was-was. Ia takut kalau-kalau sang ayah datang dan menyeretnya untuk pulang, terlebih sekarang ia sendirian. Emma mulai gemetar, keringat dingin mulai bercucuran dan giginya mulai bergemeletuk. Ia melangkahkan kakinya, namun entah kenapa terasa sangat berat.


"Ayolah, melangkah, melangkah" kata Emma dalam hati.


Emma masih dalam mode depresinya hingga suara seseorang menginterupsinya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang berlatih berjalan?" tanya seseorang dengan suara baritone dan nada yang sangat ketus, siapa lagi kalau bukan.


"Jack?" kata Emma dalam hati. Ia sungguh tidak percaya kalau Jack belum pulang.


Emma masih belum melangkah. Jack yang sudah melangkah beberapa langkah di depannya pun berhenti, ia menoleh.


"Kenapa kau diam saja? apa kau tidak mau pulang? Apa kau mau aku menyeretmu?" tanya Jack dengan dingin.


Emma tak bergeming. Jack kesal dan didekatinya Emma. ia meraih tangan Emma dengan kasar dan menariknya. Tarikan Jack, membuat Emma mendapatkan kembali kesadarannya dan Emma pun dapat berjalan. Jack terus menggenggam tangan Emma hingga membuat sang gadis bertanya-tanya.


"Kenapa?" tanya Emma dalam hati, ia tidak mengerti.


"Diamlah dan jangan bertanya kenapa, atau aku akan mendorongmu ke jalanan sana" kata Jack seolah bisa menebak apa yang dipikirkan Emma.


Emma tentunduk. Ia kembali merasa kecewa.


"Sebenarnya, apa yang aku pikirkan? Apa yang aku harapkan? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kecewa ketika Jack memperlakukanku demikian?" tanya Emma pada dirinya sendiri.


"Jangan senang dulu. Aku melakukannya bukan karena aku ingin. Jika aku membiarkanmu, mungkin kau tidak akan bergerak sampai malam. Dan jika itu terjadi, aku akan berada dalam masalah" kata Jack ketus.


"Jadi intinya aku ini hanya pembuat masalah" kata Emma dalam hati.


"Jika saja kau tidak ada disini, mungkin aku tidak akan mendapat banyak masalah" lanjut Jack membuat Emma down.


Seketika itu juga Emma menghentikan langkahnya, ia melepaskan genggaman Jack dari tangannya dan Jack pun menoleh, matanya mengkilat tanda ia sangat marah. Emma tak berani menatap Jack, ia tahu kalau mata Jack sangat mengerikan saat ini. Ditulisnya sesuatu di note, dan dirobeknya note itu kemudian diberikan pada Jack. Dan ia pun meninggalkan Jack.


[Maaf, Aku memang pembuat masalah.]


Jack meremas note itu dan membuangnya. Ia hanya memandangi punggung Emma hingga tidak terlihat di matanya.


"Ya, kau pembuat masalah di hidupku, Emm" kata Jack.


Emma berjalan di depan sedangkan Jack di belakang. Mereka tetap berjalan seperti itu sampai rumah. Nyonya Azzury tentu khawatir karena Emma dan Jack pulang terlambat. Di dekatinya keduanya. Tapi, seolah tahu kalau Jack baik-baik saja, ia beralih ke Emma dan memastikan tidak ada yang lecet atau kurang dari gadis itu. lagi-lagi Jack kesal, ia tak habis pikir dengan ibunya yang mengkhawatirkan parasit seperti Emma. ia meninggalkan ruang tengah dan menuju ke kamar.


"Emma, kenapa pulang larut? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Nyonya Azzury.


Emma menggeleng. Dahi Nyonya Azzury mengerut, ia bisa membaca mimik Emma yang berbohong. Terlebih seragam Emma yang kotor, sudah menjadi bukti jelas kalau ada yang menimpa gadis itu.


"Jangan berbohong, seragammu kotor, apa kau dihukum?" selidik Nyonya Azzury.


Emma tersentak, ia ketahuan. Akhirnya ia menulis di note.


"Aku baik-baik saja, tante. Jangan khawatir" tulis Emma.


"Baiklah, hanya untuk kali ini saja, Emma. selanjutnya tante tidak mau dengar kau mengatakan baik-baik saja ketika ada masalah. Mengerti?" kata Nyonya Azzury perhatian, Emma hanya mengangguk.


Telepon berdering. Hendy mengangkatnya, tapi kemudian ia memanggil sang nyonya rumah untuk menjawab telpon. Sepertinya telpon penting. ia meminta Emma untuk segera membersihkan diri dan bersiap makan malam sebelum dirinya pergi mengangkat telpon. Emma tersenyum simpul dan menuruti perkataan tante yang baik hati itu.


Sementara Nyonya Azzury mengangkat telfon yang ternyata adalah suaminya.


Mark : halo, sayang.


Azzury : ada sesuatu yang pentingkah?


Mark : kurasa aku akan pulang cepat.


Azzury : benarkah? Kapan?


Mark : sepertinya malam ini.


Azzury : APA?


Diujung telpon, Mark menjauhkan ponselnya, tak ingin telinganya berdengung akibat suara melengking sang istri.


Mark : jadi, bisakah kau membuka pintu untukku?


Dengan sekejap nyonya Azzury segera membanting telpon. Sikap yang sangat mirip dengan Jack. Nyonya Azzury membuka pintu, di depannya sang suami sudah berdiri dengan memamerkan grinsnya. Melihat itu, bukannya senang nyonya Azzury malah memukul kepala sang suami.


"Kenapa kau memukulku, sayang?" protes Mark.


"Suami macam apa yang pulang tidak bilang-bilang dan tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu dengan cengirannya? Hn?" tanya nyonya Azzury dengan mata melotot.


"Hahaha, aku hanya ingin mengagetkanmu saja. bagaimana? Aku berhasil kan?" goda Mark.

__ADS_1


"Masuklah dan bersihkan badanmu" kata nyonya Azzury ramah, mengambil alih barang bawaan suaminya.


******


Kamar Emma.


Emma sudah selesai mandi dan mengenakan gaun sederhana namun terlihat sangat cantik. Ia bercermin sebentar, ditatapnya bayangan dirinya di cermin. Tiba-tiba Virginia masuk dan meminta Nonanya itu untuk segera turun karena tuan besar sudah pulang dan ingin bertemu dengan Emma. Emma berdiri, entah kenapa ia merasa gugup.


Di ruang makan, Mark dan istrinya beserta Nathalie dan Jack sudah siap di kursi masing-masing, Emma datang diiringi Virginia. Melihat keempat anggota keluarga Mark yang lengkap, Emma sedikit tercengang. Ia jadi teringat saat dimana dulu ia juga pernah seperti itu. perasaan sedih mulai mendatanginya, namun Emma segera sadar dan menolak hal itu. ia melihat sang tuan rumah. Seorang pria berambut crimson dengan garis kerut yang terlihat jelas di wajah dan memiliki mata emerald yang tajam setajam elang. Tak heran kalau ia adalah ayah Jack William. Perlahan mata Mark melembut, ditatapnya Emma dengan tatapan sendu dan penuh kasih sayang. Tatapan yang sama seperti Nathalie.


"Emma, duduklah. Kami sudah menunggumu" kata Mark mempersilahkan dan Emma-pun duduk.


"Kau sangat cantik Emma" puji Mark dan membuat yang lain melotot minus Jack.


"Lebih cantik daripada apa yang kulihat di majalah dulu" lanjut Mark.


Dipuji seperti itu, membuat Emma malu. Ia hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bak buah plum. Melihat itu, semua terkekeh dan tentunya minus Jack.


"Emma, itu benar. Kau cantik malam ini. Kalau aku punya anak laki-laki aku pasti akan membuatnya menikahimu kelak" kata nyonya Azzury tak sadar dengan apa yang ia katakan.


Jack melotot. Di liriknya sang ibu dengan tajam. Seolah sadar apa yang dikatakannya, nyonya Azzury membungkam mulutnya. Faktanya ia memang memiliki anak laki-laki dan itu adalah Jack. Jadi jika diperjelas, nyonya Azzury berniat menjodohkan Emma dengan Jack.


"Kurasa ibumu terpeleset, Jack" celoteh Mark memecahkan suasana, Jack hanya mendengus dan mengumpat sejadi-jadinya dalam hati.


"Pria mana yang mau dengannya?" kata Jack dingin.


"A..pa?" Mark mengerutkan dahinya, mencerna perkataan anak sulungnya itu.


"Kudengar dari Mikhailo kalau putranya dekat dengan Emma" jawab Nyonya Azzury innocent.


"Wuah, benarkah? Brian Petrenkov? Tak kusangka dia bisa juga tertarik dengan seorang gadis. Biasanya ia akan menolak secara halus gadis yang ingin mendekatinya. Sungguh menarik" kata Mark dengan mata berbinar.


Tak ingin semuanya salah paham, Emma segera menulis note.


"Aku hanya berteman saja, om, tante" tulis Emma.


"Tidak apa kalau lebih dari teman, om akan mendukungmu. Brian anak yang baik, dia adalah contoh laki-laki idaman perempuan" kata Mark.


Jack tersinggung, pasalnya perkataan sang ayah itu menohok dirinya. Artinya ia bukanlah contoh laki-laki seperti yang ayahnya maksudkan.


"Tidak bisakah ayah tidak melebih-lebihkan. Belum tentu ia sebaik yang ayah kira" kata Jack menanggapi.


"Mungkin, tapi kemungkinan Brian tidak baik itu hanya 20%" jawab sang ayah.


Jack hanya menggenggam sendoknya erat, menahan gejolak amarah atas sindiran halus kedua orang tuanya.


"Hei, Kak Emma. Bagaimana kalau Kak Emma datang di acara pertunangan kakak? Akan kubuat Kak Emma secantik mungkin hingga kak Brian tak berkedip" kata Nathalie.


"Nathalie!" kata sang ibu.


"Ops, maaf ibu" kata Nathalie dan Mark pun tertawa terbahak-bahak.


Makan malam berjalan ramai berkat adanya Mark. Dan Emma pun menikmati makan malam kali ini, rasanya berbeda dengan sebelumnya karena Jack tidak mengeluarkan cibirannya, mungkin karena sekali cibiran akan dibalas dengan cibiran bertubi-tubi dari sang ayah. Dan malam ini, Emma bisa tersenyum lepas. Tentu Jack tidak suka melihatnya.


"Jangan senang hanya karena ayah membelamu. Iya disini tapi tidak untuk di sekolah" kata Jack dalam hati.


******


Kediaman Petrenkov.


Brian turun dari kamarnya menuju ruang tengah dengan wajah panik, ia tidak menemukan toples miliknya. Ia mencari sebuah toples tempat dimana ia meletakkan cookies yang dipungutnya dari tempat sampah.


~ Flashback ~


"Cih! Apa yang aku lakukan!" keluh Jack kemudian membuang bingkisan itu ke tempat sampah yang berada tak jauh darinya


Tak lama kemudian, seseorang berdiri di dekat tempat sampah dimana cookies Emma dibuang. Seseorang itu memungutnya. Ia adalah Brian.


"Tidak sepantasnya jerih payah Emma berakhir disini" kata Brian.


~ Flashback End ~


Brian mendapati toplesnya yang semula berisi cookies penuh kini hanya tinggal satu. Hanya satu. Mata Brian terbelalak.


"Oh Brian, cookiesnya enak. Darimana kau mendapatkannya?" tanya sang ibu, Chassandra Petrenkov.


Brian menoleh, sang ibu dengan wajah innocent datang sembari membawa secangkir teh hangat. Mata Brian menajam, ia benar-benar kesal. Padahal ia berniat memakannya malam ini setelah makan malam, tapi ternyata ia salah besar. Ia melupakan ancaman terbesarnya yaitu sang ibu. Yang tak henti-hentinya menjahilinya.


"Ibu memakan semuanya?" tanya Brian tak percaya.


"Apa maksudmu? Masih sisa satu kan? Ibumu ini sangat baik menyisakan satu butir untukmu" kata nyonya Chassandra sembari meminum tehnya.


"A-P-A? Satu?" Brian benar-benar syok.


"Habisnya kau menganggurkan cookies seenak itu, ibu pikir kau tidak mau memakannya, Brian" kata nyonya Chassandra.


"Ibu, aku baru mau memakannya malam ini" kata Brian pasrah sambil memeluk toples yang tersisa satu butir cookies buatan Emma.


"Maafkan ibu, Brian. Akan ibu buatkan sebanyak yang kau mau. Kau mau berapa?" tanya nyonya Chassandra merasa bersalah.


"Berapa banyak pun ibu membuatnya, tidak akan bisa menggantikan cookies ini. sudahlah, aku mau tidur" kata Brian dan pergi meninggalkan ibunya.


Mikhailo turun dan berpapasan dengan Brian di tangga, ia menyapa putra tunggalnya itu tapi tak ada respon. Ia bingung dengan sikap Brian. Dilihatnya sang istri yang memasang wajah lesu. Ia mengerti, pasti istrinya sudah menjahili Brian lagi. Ia segera turun dan mendekati sang istri tercinta.


"Ada apa, sayang?" tanya Mikhailo.


"Kurasa Brian marah padaku" jawab nyonya Chassandra.


"Kenapa?" tanya Mikhailo lagi.


"Aku memakan cookies di kamarnya, kupikir dia tidak mau jadi kumakan. Tapi ternyata ia menunggu malam ini hanya untuk memakannya" jelas nyonya Chassandra.


Mikhailo tertawa. Ia tak habis pikir dengan kelakuan kedua anggota keluarganya.


"Apa cookies itu dari seseorang? Mungkinkah" tebak nyonya Chassandra.


"Kurasa aku harus meminta maaf pada Brian ku" kata nyonya Chassandra lagi.


"Biarkan saja dulu, dia akan marah kalau kau mengganggunya sekarang" kata Mikhailo menenangkan.


"Oh ya, kau bilang seseorang, memangnya siapa? Brian tak pernah dekat dengan gadis mana pun" kata Mikhailo.


"Entahlah, sebelumnya ia bercerita tentang seorang gadis, tapi ia tidak menyebutkan nama" kata nyonya Chassandra bercerita.


"Sebelumnya aku melihat Brian dengan seorang gadis di rumah sakit" kata Mikhailo bercerita.


"Apa? Jangan-jangan? Akankah aku mendapat cucu?" tanya nyonya Chassandra berbinar.


"Jauhkan fantasimu itu" keluh Mikhailo.


Di kamarnya, Brian tidur tengkurap sambil memeluk toples yang terdapat satu butir cookies. Ia mengingat saat dimana Emma ingin memberikan cookies itu padanya. Ia benar-benar senang saat itu, tapi ia malah menolak kebaikan Emma dan berujung berdebat dengan Luke hingga Jack merebutnya. Tapi pada akhirnya ia hanya mendapat satu. Ia benar-benar sial. Dibukanya toples itu, dan ia mengambil cookies disana. Dengan ragu, ia menggigit sedikit dari cookies, dan rasanya sangat enak. Dengan segera Brian memasukkan kembali cookies tersebut.


"Aku tidak ingin menghabiskannya begitu saja, ini hasil jerih payahmu, Emma" kata Brian seraya tersenyum dan mulai terlelap.


******


Malam itu, cuaca terang. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 tapi Emma belum juga beranjak tidur, ia masih sibuk dengan menyalin catatan, ia sudah menyalin sebanyak 5 kali. Tak henti-hentinya ia menguap, matanya juga sudah tidak bisa diajak kompromi. Tapi ia tidak menyerah sebelum menyelesaikan 7 salinan, karena ia hanya memiliki waktu seminggu untuk menyalin sebanyak 50 kali. Emma mengeluarkan gantungan kunci berbentuk jimat. Ia mengamatinya dengan pandangan sendu.


Di kamar sebelah, tepatnya kamar putra sulung keluarga William, Jack belum juga memejamkan mata. Ia kembali mengingat Emma yang bersusah payah membersihkan jendela dengan tangan yang masih terperban. Ia juga terbayang Emma yang berkeringat dan sesekali bersin-bersin akibat debu. Sedangkan tadi ia sudah seperti orang bodoh menstalker gadis yang ia benci itu. Rasanya ia sudah mirip dengan Cheryl. Tapi kenapa ia melakukannya?


"Kenapa denganku? Kenapa tubuhku bergerak sendiri? Hanya untuk menunggunya pulang dari menyelesaikan hukuman?" Tanya Jack pada dirinya sendiri.


"Aku membencinya, ya . . . itu adalah alasan yang masuk akal. Kalau ia tidak ada, maka aku tidak bisa membenci dan melukainya. Aku . . . hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau ia menderita" lanjut Jack kemudian.


******


Sudah seminggu semenjak kejadian Emma dihukum. Setiap kali masuk kelas, teman-temannya selalu menatapnya dingin. Emma hanya bisa mengatakan pada dirinya sendiri kalau semua akan baik-baik saja, seperti yang dikatakan Brian. Ia sudah dihukum, jadi ia berpikir sudah mempertanggungjawabkan kesalahannya yaitu karena berada ditempat dan waktu yang salah bukan karena ia mencuri. Sedangkan Jeannette mulai tidak enak hati dengan Emma, sesekali ia melirik temannya itu yang selalu menunduk menyembunyikan wajahnya dengan poni.


Jam pelajaran Mr. Aldrick selesai. Mr. Aldrick meminta salah satu mengumpulkan catatan. Tapi dengan egoisnya, salah satu dari mereka meminta Emma yang mengumpulkan. Emma tak menolak, ia menerima dengan begitu saja. Emma ke depan kelas dan menulis di papan tulis untuk meminta semuanya mengumpulkan di depan, dengan dingin mereka mengumpulkan sembari melirik Emma dengan tatapan tajam. Darren dan Luke maju, mereka hanya menatap Emma dengan iba. Mugi maju, ia menawarkan diri untuk membantu Emma, tapi langsung ditolak, mengingat ini tanggung jawabnya seorang, ia juga tidak ingin merepotkan temannya itu. Brian dan Nick maju.


"Kau bisa sendirian?" tanya Brian.


"Brian akan membantumu" kata Nick yang langsung disikut oleh Brian.


Emma menggeleng, yang artinya ia menolak. Melihat Emma yang berusaha gigih memegang kepercayaan yang dilontarkan padanya, Brian-pun hanya pasrah. Mungkin ini cara Emma untuk mendapatkan kembali kepercayaan teman-temannya. Jeannette maju, ia sudah membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tapi suara baritone mengusirnya.


"Hoi! Minggir!" kata Jack mengusir Jeannette, Jeannette menahan kesal dan pergi sebelum sempat mengatakan sepatah kata pun pada Emma.


Jack meletakkan catatannya, ia yang terakhir. Ditatapnya Emma dengan intent.


"Kau pikir dengan begini bisa mendapat kepercayaan semua?" tanya Jack berbisik.


"Jangan pernah bermimpi dimaafkan setelah kau melukai kepercayaan mereka, nona Michelle" lanjut Jack dan kembali ke bangkunya.


Emma hanya menggenggam buku-buku ditangannya dengan erat. Rasanya hatinya bagai dihantam palu besar, dan remuk seketika. Sangat sakit, bahkan obat paling mahal pun tidak akan bisa mengobati. Dengan perlahan dan tetap dengan wajah tertunduk, Emma meninggalkan kelas.


"Hoi, bagaimana? Kau sudah berhasil membujuk Melvin?" bisik Nick pada Brian.


"Belum, ia tetap tidak mau memperlihatkan rekaman CCTV-nya" jawab Brian.


"Bagaimana kalau minta tolong Earlene?" kata Nick berpendapat.


"Tidak, Earlene pasti akan marah besar kalau mendengar Emma difitnah, dan semua orang pasti akan tahu. Masalah ini sudah di rahasiakan oleh Mr. Tedd, aku tidak boleh bertindak gegabah" kata Brian.


Emma turun melewati tangga dengan membawa banyak buku. Tanpa ia sadari sesuatu terjatuh dari sakunya.


Jack keluar dari kelas, ia hendak pergi ke toilet. Di koridor, tak sengaja ia menendang sesuatu. Ia mendekat dan mengamati benda yang ditendangnya itu. sebuah gantungan berbentuk jimat yang sudah sangat lusuh. Bahkan tidak bisa disebut gantungan lagi, menurut Jack itu lebih tepat dikatakan sebagai . . .


"Sampah?" tanya Jack.


"Siapa yang membuang sampah sembarangan?" gumam Jack dan memungutnya kemudian ia membuang gantungan itu ke tempat sampah.


Jam pelajaran berikutnya sudah hampir dimulai. Kelas 1-5 ada jadwal Mr. Richard yang tak lain tak bukan adalah sang wali kelas. Emma segera berlari ke kelas, untung saja, ia belum terlambat. Mr. Richard mempersilahkan Emma masuk, kenapa? Karena ia tertarik dengan muridnya satu ini yang tergolong cerdas. Emma-pun duduk, ia memasukkan tangannya ke saku guna mengambil gantungan yang tadi di kantunginya, namun tidak ada. Ia meraba kantung kanan, kiri, saku jas bahkan saku kemeja, tapi tidak ada. Gantungan berharganya, hilang? Emma panik. Dahinya mulai mengeluarkan keringat dingin.


Selama jam pelajaran Mr. Richard, matematika, Emma tidak bisa fokus sama sekali. Gantungan itu adalah satu-satunya. Ia gelisah dan tak hentinya menggerakkan kaki dan mengetuk-ngetuk meja tak sabar menunggu bel istirahat.


Bel istirahat berbunyi, tanpa komando, Emma langsung keluar kelas tanpa memperdulikan sang guru yang belum keluar dari kelas. Ia bahkan menghiraukan teriakan Mugi yang mengajaknya untuk makan siang.


Emma mencari di sepanjang koridor menuju kelasnya, tapi tak ada. Ia mencari di tangga, tapi tetap tidak ada. Di ruang guru, tidak ada. Hanya tempat itu yang ia datangi hingga siang ini. Emma benar-benar down, ia bingung harus mencari dimana lagi, hingga ia melihat seorang nenek tua tengah menyapu di koridor lantai dua. Sang nenek juga membawa tong sampah besar untuk membuang sampah dari keranjang kecil di depan kelas. Emma segera mendekat, ia menulis sesuatu guna bertanya pada sang nenek.


"Nek, apakah anda melihat sebuah gantungan di sini?" tanya Emma.


"Gantungan? Seperti apa?" tanya nenek tersebut tidak mengerti.


Emma segera menggambarnya di note dan diacungkannya gambar itu pada sang nenek hingga membuat dahi wanita tua itu mengernyit.


"Aku tidak melihatnya" jawab sang nenek.


******


Jack bersama Darren dan Luke keluar dari kantin sekolah yang berada tak jauh dari gedung sekolah. Luke mengusap-usap perutnya tanda ia kekenyangan.


"Kau terlalu banyak makan, Luke. Lihat! Perutmu sudah seperti ibu hamil saja" cibir Darren.


"Lebih baik daripada lemak perut lembekmu itu" balas Luke.


"Ini bukan lemak, tapi otot. Otot kau tahu?" tanya Darren.


"Tidak tahu!" Jawab Luke seolah tidak mendengar Darren.


"Jelas kau tidak tahu, kau kan bodoh" ledek Darren lagi.


"Aku tidak bodoh, tapi pintar yang tertunda, ingat itu" jawab Luke tak mau kalah.


"Iya tertunda, tertunda 100 tahun lebih tepatnya" kata Darren seraya tertawa.


"Kau mengajak berkelahi? Hn?" tantang Luke memicingkan matanya.


"Kalau iya, memang kenapa? Memangnya kau bisa menghajarku?" tantang Darren menyipitkan mata dan mendekatkan wajahnya ke arah Luke.


"Jangan sombong karena kau jago taekwondo ya" kata Luke membenturkan dahinya pada dahi Darren.


Jack menghela nafas, ia mengeluh karena Darren memang suka membuat parameter kemarahan siapa pun menyulut. Tak mau ambil pusing, Jack berlalu dan meninggalkan mereka berdua. Yang ditinggalkan sudah saling beradu kepalan dan mulai bergulat. Kegaduhan yang sudah sering terjadi dimana pun Darren berada.


******


Emma terus mendesak nenek tersebut, ia bahkan meminta sang nenek untuk mengingat kembali apakah ia pernah melihat gantungan itu di salah satu tempat. Sedangkan yang didesak terus mengingat tapi ia memang tidak pernah melihatnya. Seorang siswa dengan tangan yang dimasukkan saku melangkahkan kaki menuju lantai dua. Dilihatnya Emma dan nenek sedang berdebat, ya . . . kalau dilihat orang lain lebih tepatnya sang nenek yang sedang berdebat dengan monolognya sendiri. Jack melewati mereka begitu saja tanpa Emma sadari, tapi matanya melirik ke arah note Emma yang memperlihatkan gambar sebuah gantungan.


"Nenek tidak melihatnya, sungguh. Nenek belum membersihkan semuanya, tapi jika kau menjatuhkannya mungkin sudah diambil orang" kata nenek tersebut.


Jack yang berjalan belum jauh dari mereka sempat mendengarnya, ia ingat dimana ia membuang sebuah gantungan lusuh di tempat sampah di depan kelas 1-3 beberapa jam yang lalu. Dengan segera ia mencari tempat sampah itu sebelum nenek membersihkannya. Yup, gantungan itu masih ada disana walaupun tertutupi sampah-sampah kertas. Digenggamnya gantungan itu erat, sebuah seringaian mulai menghiasi wajah tampannya.


Di tempat lain, ruang OSIS. Brian tengah berhadapan empat mata dengan Melvin Stream. Sang ketua Osis Chorea Academy. Seorang siswa berambut pathalo gondrong. Ia juga adalah kekasih sang ketua klub taekwondo, Earlene Carmine. Tapi hubungan mereka bisa dibilang dirahasiakan mengingat profesionalitas sebagai anggota OSIS. Tak mau berlama-lama, dibujuknya Melvin agar ia mau memperlihatkan rekaman CCTV di sekitar Lantai dua padanya.


"Kak Melvin, kumohon kali ini saja" pinta Brian.


"Aku tanya, untuk apa. Setidaknya jelaskan alasannya" jawab Melvin.


"Aku tidak bisa memberitahunya padamu" kata Brian.


"Kalau begitu aku juga tidak bisa, rekaman CCTV sangat rahasia, jika aku membiarkan orang lain selain anggota OSIS dan guru melihatnya, maka kami akan berada dalam masalah" tegas Melvin.


"Aku melakukannya untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah" kata Brian.


"Ada OSIS disini, kenapa kau melakukannya sendirian?" selidik Melvin.


"Karena kami berusaha merahasiakan masalah ini" jawab Brian pasti.


"Harusnya kau mengatakan bisakah kau membantu dan bekerjasama denganku ketua? " kata Melvin yang artinya ia setuju.


Kode yang diberikan Melvin membuat hati seorang Brian Petrenkov senang tak alang kepalang. Melvin mengunci pintu, ia mengajak Brian untuk masuk ke ruangan server. Disana adalah pusat informasi Chorea Academy. Terdapat banyak CPU dan monitor berjajar disana, tak lupa sebuah panel besar yang menyangga tegangan listrik Academy. Melvin duduk dan mulai mengakses jaringan dengan akunnya.


"Tanggal berapa jam berapa dan dimana?" tanya Melvin.


"Tanggal 14 sekitar jam 11.00 siang, tepatnya disaat pergantian jam pelajaran di sekitar lantai 2" jawab Brian mendekat, tangan kanannya memegang sandaran kursi Melvin dan tangan kirinya ia letakkan di meja guna menyangga tubuhnya.


Melvin membuka semua rekaman di tanggal yang disebutkan, kemudian ia mulai mengecek rekaman di jam 11.00. Rekaman berasal dari sudut dinding tersembunyi di tangga, ia melihat Jack turun dari tangga sendirian, menurut Brian di jam itu seharusnya ia sudah berada di lapangan. ia mengernyitkan dahinya tidak percaya.


"Bisa kau tajamkan gambarnya?" pinta Brian dan Melvin menuruti.

__ADS_1


"Stop! Repeat, lambatkan" perintah Brian membuat Melvin *sweatdrop , ia yang notabane seorang senior dan ketua OSIS diperintah oleh seorang junior, ia menghela nafas membiarkan hal tersebut, toh jarang-jarang ada yang berani dengannya.


Kini rekaman memperlihatkan Jack yang keluar dari kelas, dan diikuti Emma yang masuk ke kelas. Brian menggenggam kursi sandaran Melvin dengan erat, urat-urat kemarahan menyembul di kepalanya.


"Apa ada CCTV di setiap kelas?" tanya Brian dengan suara berat, tanda ia sangat serius sekarang.


"Tentu. Kau tidak menyadarinya?" tanya Melvin balik.


"Aku tidak melihat kamera di kelas" jawab Brian.


"Payah" komen Melvin.


"Jadi, kau mau memperlihatkannya?" tanya Brian kembali ke mode seriusnya.


"Yang ini tidak cuma-cuma, kalau kau mau ya silahkan kalau tidak ya sudah" kata Melvin dengan senyum yang tidak dapat dideskripsikan.


"Apa maumu, Ketua?" tanya Brian.


"KAU!" tunjuk Melvin.


"Aku?" Brian mengernyitkan dahinya tanda tak paham.


"Tahun ajaran depan, kau harus jadi Ketua OSIS menggantikanku" tawar Melvin.


"Tidak mau! Apa pun asal jangan itu" tolak Brian.


"Ya Sudah, pergi saja. Aku tidak tanggung jawab kalau mulutku ini bocor dan memberitahu Earlene atas kelakuanmu ini" ancam Melvin.


"Ya Ampun, jangan kedunya. Tapi kalau aku menolak, aku tidak akan bisa membantu Emma dan membersihkan namanya. Ya, akan kulakukan apapun untuk membuat Emma kembali tersenyum" kata Brian dalam hati.


"Baiklah. Aku setuju" jawab Brian kemudian.


"Eh?" Melvin heran, tak biasanya Brian langsung setuju, sudah sering ia meminta sang ketua klub basket itu untuk bergabung tapi selalu ditolak, bahkan ancaman apapun tidak akan menyulutkan pendiriannya. Tapi kali ini, hanya dengan sekali desakan saja, ia sudah setuju. Melvin jadi bertanya-tanya, siapakah yang dibela Brian hingga membuatnya berubah seperti itu. Seseorang itu patut diberi penghargaan.


Melvin membaca database dimana rekaman CCTV kelas 1-5 disimpan. Loker 2E. Ia mengambil sebuah DVD yang tertanggal 14 bulan ini. mereka kembali melihat rekaman, kali ini gambar beresolusi kecil, rekaman memperlihatkan suasana kelas di pagi hari dan dipercepat ke jam 10.30, 15 menit sebelum pergantian jam pelajaran ketiga di kelas 1-5.


"Kecil sekali gambarnya. kamera apa yang kau gunakan?" tanya Brian.


"Tentu kamera yang digunakan untuk mengintai. Ukurannya kecil jadi kualitas gambarnya juga kurang bagus. Tapi ini sangat berguna hingga membuat siapapun tidak menyadari keberadaannya" jawab Melvin.


"Dimana kau meletakkannya?" tanya Brian dengan mata yang tetap fokus ke layar.


"Tentu di foto kakek Connor maksudku kepala sekolah yang terpasang di depan kelas, lebih tepatnya di mata kanan beliau" jelas Melvin.


"Pantas saja. . . . tunggu, kenapa Emma keluar kelas?" tanya Brian diikuti tatapan bingung Melvin. Ia melihat Brian dan layar secara bergantian, berusaha mencerna dan menerka apa yang sedang terjadi. Dan seperti mendapat klik, ia menyadari sesuatu.


Tak lama setelah Emma keluar dari kelas, Rekaman menunjukkan . . .


~ Flashback ~


Jack sudah berada di lapangan, namun ia beralasan ingin pergi ke toilet. Itu hanyalah sebuah kebohongan belaka, padahal ia melangkahkan kakinya kembali ke kelas, tepat dan timing yang pas. Emma sedang pergi meminjam baju olahraga ke kelas 1-1. Kelas yang cukup jauh dari kelas mereka. Sebuah seringaian terukir di wajahnya. Ia mendekati bangku milik Jeannette, diambilnya sebuah ponsel berwarna biru tosca dan kemudian matanya tertuju pada tas Emma. Dengan Ekspresi datar seakan tanpa dosa, ia memasukkan begitu saja ponsel Jeannette ke tas Emma.


"Lihat apa yang akan terjadi, Emma Michelle" kata Jack dan segera pergi karena mendengar suara derapan kaki yang mulai mendekat, ia bisa menduga kalau itu adalah Emma. ia keluar lewat pintu depan tepat saat Emma masuk melalui pintu belakang kelas.


~ Flashback End ~


Brian mengepalkan tangannya, matanya memerah menahan amarah yang bisa meledak saat itu juga. Aura panas menyeruak dari tubuhnya, membuat sang ketua OSIS yang berada di dekatnya terpana.


******


Jam pelajaran terakhir, kelas 1-5. Semua sudah masuk kelas kecuali Emma dan Brian. Jack duduk dengan tangan kanan yang menopang dagu. Matanya tak lepas melihat ke arah bangku kosong Emma. jari jemari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja. Perlahan, pintu depan kelas digeser, masuklah Emma dengan kepala yang tertunduk. Sekali lagi, semua melihatnya dengan tatapan sinis kecuali Mugi, Darren, Luke, dan Nick tentunya. Emma melangkah dengan gontai menuju bangkunya, Mugi segera menoleh dan bertanya pada sang teman pirangnya itu.


"Em, kau kemana saja? aku mencarimu, apa kau tidak makan siang?" tanya Mugi berubi-tubi.


Pertanyaan Mugi seakan hanya lewat di telinga Emma. yang ada di otak dan pikirannya adalah menemukan gantungan. Gantungan yang selama ini selalu menemaninya, karena gantungan itu selalu membawanya ke keadaan dimana ia akan baik-baik saja. Mugi yang merasa tidak ditanggapi hanya menghela nafas dan mendekap tangan Emma.


"Emma, katakan padaku kalau kau butuh bantuanku" kata Mugi dengan mata yang sedikit melirik Jeannette, yang dilirik salah tingkah dan tertunduk lesu. Setelah itu Mugi tersenyum.


Pelajaran terakhir adalah bahasa dan sastra Inggris oleh Miss Bella. Emma tak bergeming dan tetap dalam pikirannya, tiba-tiba suara baritone lirih berhasil menyedot perhatiannya. Jack duduk di bangku belakang Emma, ya . . . karena sang pemilik sudah diusir Jack atau lebih tepatnya dipaksa bertukar tempat duduk dengan dirinya.


"Kau mencari sesuatu?" bisik Jack dan sang pemilik mahkota pirang panjang itu menoleh. Emma mengangguk.


"Apa yang kau cari?" tanya Jack sok perhatian, kali ini ia mengubah nada bicaranya menjadi lebih ramah dan bersahabat, Emma mengulurkan notenya. Sebuah gambar gantungan yang tadi sempat Jack lihat.


"Apa itu?" tanya Jack penasaran, kali ini ia memang benar-benar penasaran. Kenapa? Pasalnya gantungan yang dicari Emma adalah gantungan sudah lusuh dan tak jelas aksara yang tertulis di atasnya.


"Gantungan yang sangat berharga bagiku" tulis Emma.


"Benarkah?" mata Jack membulat, kali ini ia tampak seperti anak kecil yang polos. Padahal dalam hati, ia sangat senang mendengar akan fakta tersebut.


"Aku tak sengaja menjatuhkannya tadi, tapi aku tidak bisa menemukannya dimana pun" tulis Emma lagi.


"Kalau begitu, kenapa tak tanya nenek di belakang sekolah? Dia sering bersih-bersih, jadi siapa tahu kalau tersapu dan terbuang di tempat sampah?" kata Jack memberi nasehat.


"Sudah kutanyakan, tapi beliau bilang tidak tahu" keluh Emma dalam notenya.


"AH!" Kata Jack berbinar seraya mengetuk telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanan.


"Kalau begitu pasti dipungut orang dan sudah berakhir di tempat pembuangan akhir" kata Jack kemudian.


"Apa?" tanya Emma dalam hati, ia tidak percaya.


"Kalau kau tidak segera mencarinya, mungkin itu akan raib. Sebentar lagi nenek akan membakar sampah di pembuangan akhir" kata Jack.


Emma berdiri. Miss Bella yang melihat meminta Emma kembali duduk, tapi bukannya menuruti sang guru, ia malah pergi keluar kelas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Di dekat kelas, lebih tepatnya ketika ia membuka pintu, ia mendapati Brian berdiri di hadapannya. Pemuda itu hendak bicara, bibirnya sudah terbuka, tapi ia dilewati dan ditinggalkan begitu saja. sedangkan Miss Bella hanya menggelengkan kepala mendapati kelakuan muridnya.


"Yang satu sudah keluar, jadi bisakah kau masuk, Brian?" pinta Miss Bella dan Brian pun masuk.


Kemana Emma?


Emma pergi ke tempat pembuangan akhir seperti yang dikatakan oleh Jack. Tempat itu berada agak jauh dari gedung sekolah. Disana berbau sedikit menyengat, Emma tak menutupi hidungnya. Kini mata dan pikirannya sudah buta, yang ia tahu hanyalah menemukan gantungan itu di gundukan sampah sesegera mungkin sebelum semuanya dibakar habis. Tanpa pikir panjang, Emma membuka jas sekolahnya, sepatu dan kaus kakinya. Tak lupa ia menggulung lengan kemejanya dan masuk ke gundukan sampah. Tangannya mengobrak-abrik sampah disana, matanya mulai berkaca-kaca. Siang itu, matahari seakan tidak bisa diajak kompromi, dengan riangnya sang matahari menyinari seorang gadis bersurai pirang yang sekarang sudah kotor dan berantakan. Sangat panas dan Emma mulai haus, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, bahkan poni dan rambutnya sampai basah seperti habis keramas.


"Dimana? Dimana? Dimana?" tanya Emma dalam hati, kini ia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


Cairan bening itu mengalir dengan mulus keluar dari pelupuk mata pirang Emma. dengan tangan gemetar akibat menahan isakan, Emma tetap mencari.


Sudah berjam-jam Emma mencari. Tubuhnya mulai kelelahan dan ia tumbang di gundukan sampah itu, namun Emma menguatkan dirinya untuk segera bangkit dan tetap mencari. Walaupun tenaganya sudah habis, tapi dengan semangatnya membuat tangan dan kakinya masih bisa digerakkan. Matanya juga sudah bengkak akibat terlalu banyak menangis, kini ia hanya sensenggukan sembari membongkar-bongkar sampah di hadapannya.


******


Jam pelajaran berakhir. Jack tampak gembira, ia melihat keluar dan menatap awan yang berarah.


"Mungkin sekarang ia sudah kelelahan dan menyerah" kata Jack dalam hati.


Jack senyum-senyum sendiri, senyuman iblis. Hingga suara Darren membuatnya kembali ke alam nyata.


"Hoi! Kau tidak ikut Klub? Brian dan Nick sudah pergi lo" tanya Darren.


"Tentu aku pergi!" jawab Jack dengan gembira.


Emma menyeka keringat dengan tangan kotornya. Sudah jam 2 siang tapi ia tidak berhasil menemukan apa yang ia cari. Tiba-tiba nenek datang, ia terkejut melihat seorang murid yang sudah tidak jelas identitasnya karena wajahnya terlalu kotor dan pakaiannya berantakan juga kotor dan bau.


"Astaga, apa yang kau lakukan disana, nak? Apa kau masih mencarinya?" tanya nenek pembersih sekolah dan Emma-pun keluar dari tempat itu. Nenek mendekati Emma dan memarahinya.


"Apa yang kau pikirkan, nak? Itu semua sampah, kenapa kau mengobrak-abriknya sampai kau seperti ini? bagaimana kalau orang tuamu tahu ini, pasti mereka akan marah besar" kata nenek pembersih sekolah.


Kata orang tua adalah hal tabu di telinga Emma. Tidak akan ada yang khawatir, karena jika itu ayahnya maka ia malah akan mencaci maki Emma karena dengan bodohnya mau menyentuh sampah seperti itu. Andaikan saja mamanya masih hidup, pasti apa yang dikatakan nenek itu akan benar terjadi.


"Cepat pulang dan bersihkan badanmu, nak" kata nenek.


Emma mengeluarkan note dari roknya, note itu juga ikut kotor.


"Aku masih ada hukuman membersihkan jendela, nenek. Aku pergi dulu" tulis Emma kemudian pamit.


Nenek menatap tak percaya. Sudah seperti itu tapi masih mau menjalankan hukuman? Ia berpikir Emma sudah kelewat standar sabar. Dan akhirnya nenek tidak jadi membakar sampah.


******


Ruang klub taekwondo.


Earlene mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis pirang bermata sapphire yang akhir-akhir ini meramaikan klubnya. Ia melihat Darren datang sendirian, didekatinya pemuda berambut raven itu.


"Dimana Emma?" tanya Earlene.


"Entahlah, dia membolos pelajaran terakhir dan belum kembali sampai jam pelajaran berakhir" jelas Darren.


"Emma? membolos? Yang benar saja? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Earlene dan Darren hanya tersenyum.


Di belakang mereka, Jason dan kawan-kawan tengah berkasak-kusuk. Mereka mendengar gosip kalau Emma kena hukuman Mr. Tedd dan diharuskan membersihkan jendela di seluruh lantai satu selama 2 minggu. Tapi yang menjadi pertanyaan mereka adalah, kenapa Darren tak mengatakan apapun? Sangat mencurigakan.


"Kenapa Darren seperti merahasiakan sesuatu?" tanya Jason dengan nada berbisik.


"Kurasa terjadi sesuatu di kelas mereka. Tidak mungkin Mr. Tedd memberikan hukuman seberat itu hanya karena tidak membawa baju olahraga? Aku saja paling-paling disuruh menyalin materi atau berlari mengelilingi lapangan" jawab Gabriel.


"Ini aneh" kata Nate memegangi dagunya.


"Kita selidiki" kata Jason dan mereka bertiga pun berpose aneh membuat semua anggota sweatdrop melihatnya.


"Selidiki apa?" tanya Earlene membuyarkan pose mereka, Jason dan kawan kawan salah tingkah, bagaimana pun mereka menjaga gosip agar tidak sampai ke telinga sang ketua berambut marun tersebut hingga ada fakta yang benar-benar membuktikan.


"Itu . . . kurasa Emma dihukum oleh Mr. Tedd" kata Gabriel keceplosan.


"Hn? Dihukum? Kenapa?" tanya Earlene dengan aura iblisnya.


"Kudengar Emma tidak membawa baju olahraga dan dihukum membersihkan jendela selama 2 minggu" lanjut Gabriel tanpa dosa, Jason menyikutnya tapi terlambat. Gabriel sudah mengatakannya dengan mulus tanpa hambatan sedikit pun.


"Tidakkah itu berlebihan?" tanya Earlene lagi, dan mereka bertiga mulai berkeringat dingin. Nate menyalahkan Gabriel yang sudah kelepasan bicara, dan Gabriel hanya meringis dan memukul bibirnya.


"Walaupun begitu, Emma tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya" lanjut Earlene, dan mereka pun bisa bernafas lega.


Sementara di lapangan indoor. Tempat klub basket berada, semua anggota berlatih, tapi tidak dengan Brian. Sedari tadi ia hanya diam dan menatap tajam Jack dari jauh, sedangkan yang ditatap merasa risih. Ia merasa ada yang aneh dengan Brian, akhirnya ia keluar dari permainan disaat pergantian pemain. Di dekatinya sang ketua, Brian hanya memasang wajah datar berusaha menyembunyikan kemarahannya.


"Ada sesuatu, ketua?" tanya Jack.


"Begitulah" jawab Brian dengan nada yang berat.


"Kau menatapku seolah tatapanmu melubangi kepalaku" sindir Jack.


"Begitukah? Baguslah" kata Brian menaikkan sudut bibirnya, Jack melihat itu dan tentu tidak suka, ia merasa tersinggung.


"Aku merasa tidak melakukan sesuatu hingga membuatmu marah" kata Jack.


"Ya, memang bukan padaku, tapi pada orang lain yang memiliki tempat di hatiku" kata Brian. Mendengar penuturan sang ketua, urat-urat di kepala Jack menyembul keluar, ia menggenggam erat tangannya.


"Haruskah kau seperti ini, ini terlalu berlebihan, ketua" kata Jack dengan dingin.


"Kau yang berlebihan hingga menjadi sepengecut itu" kata Brian dan Jack pun berdiri, Brian hanya mendongakkan kepala menatap Jack penuh arti.


"Apa maksudmu?" tanya Jack menaikkan nada bicaranya.


"Haruskah aku mengatakannya, kalau aku mengatakannya semua orang akan tahu. Kau yakin akan itu?" tantang Brian.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan" kata Jack. Brian pun berdiri, ia berdiri tepat di hadapan Jack, jarak mereka sangat dekat. Petir menyambar dari mata Brian seolah ingin membunuh Jack saat itu juga.


"Kenapa kau lakukan itu pada Emma?" tanya Brian tajam.


"Apa?" tanya Jack innocent, ia mulai mengerti arah bicara ketua klub sekaligus ketua kelasnya itu.


"Haruskah aku mengatakannya? Bukankah kau sudah dengar sebelumnya?" tanya Jack.


"Karena . . . AKU MEMBENCINYA" kata Jack tajam.


Brian meraih baju Jack dan mencengkeramnya, ia benar-benar marah saat ini. habis sudah kesabaran yang ia tahan, menurutnya Jack sangat kelewatan. Bahkan di wajahnya tidak tersirat penyesalan sedikit pun.


"Kau menantangku, ketua?" tanya Jack.


"Apa aku mengatakan aku menantangmu? " tanya Brian balik.


"Sadarlah, Ketua. Dia itu hanyalah seonggok parasit yang bisa hinggap dimana pun dia mau. Dan dengan bodohnya kau mau saja dihinggapi" kata Jack sinis.


"Jaga bicaramu, Jack!" teriak Brian, giginya sudah bermeletuk.


"Sadarlah, Brian!" kata Jack memukul wajah Brian keras, pukulan itu mampu merobek bibir seorang Brian Petrenkov dan ia terhempas ke belakang. Tak mau kalah, Brian mengepalkan tangannya dan membalas pukulan Jack. Pukulan yang sama kerasnya. Mereka pun berkelahi, saling beradu tinju dan tatapan maut. Tapi kali ini bukan perkelahian tidak bermutu seperti yang biasa Darren dan ia lakukan, melainkan perkelahian antar ideologi dan keyakinan mereka.


Para anggota klub yang mendengar gaduh-gaduh pun menghentikan latihan, mata mereka melotot mendapati sang ketua mereka tengah berkelahi dengan sang jagoan mereka, Jack William. Dengan segera mereka mendekat dan beusaha melerai, tapi seakan sudah dirasuki setan, keduanya tidak mau dipisahkan, mereka malah menghempaskan siapa pun yang berusaha untuk melerai. Di antara mereka ada yang gemetaran mengingat Brian tidak pernah semarah ini dan ia bukan tipikal orang yang akan melayangkan tinjunya hanya karena hal sepele.


"Brian! Hentikan!" teriak Nick.


"Persetan dengan kepercayaanmu itu, Brian!" kata Jack di sela-sela berkelahinya.


"Tutup mulutmu, Jack!" kata Brian membalasnya.


Di lantai satu, Emma membersihkan jendela dengan lunglai, ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Badannya gemetar dan ia terkulai lemas di lantai. Mr. Richard keluar hendak pulang, ia tak sengaja melihat Emma yang terduduk di lantai. Ia mendekat dan terkejut mendapati keadaan siswanya.


"Emma, apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini? huh?" tanya Mr. Richard dengan suara garangngya namun tersirat kalau ia tampak khawatir.


"Melaksanakan hukuman" tulis Emma.


"Lalu bagaimana dengan seragammu? Kenapa kau sekotor ini?" tanya Mr. Richard lagi. "Aku tidak sengaja terpeleset di kebun belakang, pak" tulis Emma berbohong.


"Lupakan soal hukuman. Sekarang juga, kau pulang. Ini sudah jam 3 sore, sudahi hukuman hari ini, bapak yang akan mengatakannya pada Mr. Tedd" kata Mr. Richard.


Dengan perlahan, Emma berdiri, ia tidak seimbang, membuat jantung sang wali kelas sedikit melonjak. Namun ia mampu berdiri dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Mr. Richard menghela nafas dan pergi meninggalkan Emma karena ia ada kencan dengan Miss Marie sore ini. Sebelum pergi, lagi-lagi ia mengingatkan muridnya itu untuk segera pulang, karena mungkin akan turun hujan sore ini.


Emma mengemasi peralatan yang dibawanya dan menuju ke kelas.


Jack berjalan di koridor seraya mendengus kesal, ia benar-benar kelelahan setelah berkelahi dengan Brian. Wajahnya babak belur, bibirnya robek, dan matanya bengkak. Sungguh mengerikan, dalam hitungan menit saja wajah tampannya sudah tidak bisa dikenali. Ia mengumpat, menyalahkan Emma.


"Kurang ajar kau, Emma Michelle. Kau berhasil membuatku bertengkar dengan ketua" umpat Jack.


Sementara Brian sudah pulang duluan, kali ini ia memilih untuk dijemput daripada harus malu karena wajahnya sudah seperti monster. Sekolah sudah sepi, Jack tak kunjung meninggalkan sekolah. ia berdiri di depan lobi, menengadah melihat awan mendung yang mulai berkumpul, dirogohnya ponsel berwarna merah dari sakunya. Ia menekan tombol cepat nomor 5, Hendy. Namun belum sempat tersambung, ponselnya sudah mati.


"Sial! Kenapa disaat seperti ini!" keluh Jack. tepat saat itu, rintik hujan mulai turun membasahi daratan. Menyejukkan suasana yang beberapa jam lalu disapa oleh sang matahari. Angin mulai berhembus, meniup rambut karamel miliknya yang kini berantakan dan luka-lukanya, sangat perih. Jack meringis kesakitan. Dalam hitungan detik, hujan mulai semkain deras.


"Apa tidak ada hari yang lebih buruk dari ini!" umpat Jack lagi, ia tidak bisa pulang karena tidak ada jemputan dan ia tidak membawa payung. Ia mengambil dompetnya guna mencari uang yang bisa ia gunakan untuk menyogok penjaga sekolah agar meminjamkannya payung, namun nihil. Uangnya sudah ia habiskan untuk jajan tadi di kantin, Jack benar-benar kesal hingga tiba-tiba hidungnya mencium bau yang sangat tajam. Bau kotoran, sampah, debu, pokoknya sangat menjijikkan. ia menoleh, di sampingnya sudah berdiri gadis pirang dengan tampang berantakan dan seragam serta wajah yang sangat kotor. Sungguh tidak bisa disebut manusia. Jack mengernyitkan dahinya. Emma menatap pemuda bersurai karamel disampingnya, mata mereka saling menatap. Waktu seakan berhenti, hanya hujan seolah menjadi musik pengiring tatapan keduanya.


"Emm? Dia? Kenapa? Disaat seperti ini, dititik dimana aku sangat tidak ingin melihatnya dia malah berada di hadapanku? Menatapku dengan mata bulat sapphirenya yang seolah bisa menelanjangiku. Kenapa?" tanya Jack dalam hati.


Note :

__ADS_1


Sweatdrop : Umumnya digunakan di anime dan manga. Digunakan untuk mendiskripsikan reaksi seseorang pada suatu hal bodoh.


__ADS_2