
Jenni yang masih kesal kepada Egi masih enggan untuk berbicara. Dia memanyunkan bibirnya ke depan, menambah kesan imut kalau di pandang. Egi masih bingung dengan tingkah konyol Jenni. Dia bingung harus bagaimana, tidak biasanya Jenni diam begitu. Biasanya kan dia udah kaya petasan yang di nyalakan, ngomongnya nggak bisa di rem.
Egi merasa ada yang aneh, lalu dia bertanya. "Jen, kau kenapa dari tadi diam terus? Aku merinding loh kalau kau begitu."
"Kau kira aku mba Kun sosialita pake merinding segala. Dasar semua cowok nyebelin." Mood Jenni tiba-tiba nggak jelas. Dia kesal, sebel, malu, marah. Semua di rasakan nya.
Tapi marah-marah juga nggak ada untungnya. Niatnya ke situ kan untuk mengawasi Lita sama Bos P.
Egi melihat Lita dan Bos P semakin asyik mengobrol. Suasana terlihat mencair dan sepertinya Lita sudah bisa mengambil hati pria itu. Egi melihat Jenni yang ada di depannya, anting Jenni terbuka dan tersangkut di rambutnya.
Egi hendak mengambil anting itu dan membenarkan rambut Jenni yang masuk ke celah anting tersebut. Dia berpindah duduk ke samping Jenni, Wajah Egi semakin mendekat ke arahnya. Hati Jenni berdebar-debar. Dia sudah baper, di kira Egi akan meminta maaf dan peka karena kejadian tadi. Jenni sudah menutup matanya, tapi ternyata di tunggu beberapa lama tidak terjadi apa-apa.
Jenni membuka matanya dan melihat Egi sedang mengambil antingnya yang tersangkut dan jatuh ke lantai. "Nih antingnya benerin. Tadi tersangkut rambutmu."
Wajah putih Jenni berubah menjadi merah karena malu. Dia mengomeli dirinya sendiri, dia mengambil anting itu dan memasangkannya kembali. Dia berpikir, 'Di sini yang otak mesum itu Aku atau dia ya?'
"Jen, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang sakit."
__ADS_1
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Wajahmu merah begitu. Apa kau kepanasan?"
Jenni tidak menjawab pertanyaan Egi. Dia minum air dingin yang ada di depannya banyak sekali. Seketika wajahnya menjadi normal lagi. Suasana hati Jenni mulai membaik, dia berkata kepada Egi. "Hei, apa kau yakin Bos P ada hubungannya dengan organisasi?" Berbisik kepada Egi.
"Aku kira dia ada hubungannya Jen. Inilah alasannya Lita harus membuat pria itu jatuh cinta kepadanya."
"Kalau dia tidak jatuh cinta kepada Lita, bagaimana?"
"Aku yakin, pria ini pasti akan mencintai Lita."
"Satu persatu kita selesaikan dulu Jen."
"Baiklah."
***
__ADS_1
"Kedua orang tuaku sudah tidak ada."
"Oh maaf Lita, aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
"Iya, kau kan hanya bertanya. Lalu bagaimana dengan orang tua mu?"
"Ayahku tidak ada di sini. Sudah lama dia tidak kembali ke Indonesia, Katanya ada urusan bisnis yang membutuhkan dirinya. Sedangkan ibuku memilih tinggal sendiri di luar negeri."
Putra menceritakan keadaan dirinya kepada Lita. Dia mengatakan bahwa ayahnya sekarang ada di Italia, sedangkan ibunya ada di Inggris. Orang tuanya bercerai 15 tahun yang lalu, tepatnya saat Putra berusia 10 tahun.
Dia tidak mengetahui alasan di balik perceraian kedua orang tuanya. Sejak saat itu Putra ikut ayahnya, dan di ajarkan mengelola perusahaan dan cara membedakan berlian asli dan palsu.
Tapi sudah 5 tahun ini ayahnya tidak pernah kembali, hanya video call via ponsel saja, katanya sibuk. Putra mempunyai seorang Kakak, tapi Kakaknya yang ikut dengan ayahnya tidak ada kabarnya sama sekali sampai sekarang.
Lita belum berani membahas tentang kejadian racun itu, dia merasa itu bukan waktu yang tepat. Bahkan terkesan sangat terburu-buru. Lita ingin semua berjalan step by step tanpa menimbulkan kecurigaan apapun.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.45 . Putra mengajak Lita pulang. Tapi Lita menolaknya karena akan ada pemotretan, alasan yang di buatnya.
__ADS_1
Putra mengerti, Dia pulang sendiri ke kantornya lagi dan meninggalkan Lita di restoran tersebut. Lita pun masuk menemui Jen dan Egi.
...****************...