The Purple Eyes

The Purple Eyes
Pertemuan Dengan..


__ADS_3

Sebelum sampai di aula tersebut, Jenni melihat sosok pria itu berada di depan kantor polisi. Jenni menghentikan taksi itu dan keluar.


Lita yang kebingungan hanya bisa menuruti Jenni. "Ada apa Jen kita turun di depan kantor polisi?"


"Tuh pria yang semalam aku temui."


Mereka berdua pun pergi ke sana untuk menemui pria itu..


"EGI.." Teriak Jenni.


Pria itu langsung menoleh ke arah Jen.


"Kau.. Ternyata kau pintar juga. Jen kan namamu?"


"Iya.. Aku tau namamu 361."


Membuat pria itu tersenyum.


"EGI.." pria itu mengulurkan tangannya.


"Jen.. "


"Lita.."


Mereka pun pergi ke sebuah tempat yang jauh dari kerumunan orang-orang. Hanya Egi yang tau tempat itu, yang nantinya akan di jadikan basecamp mereka agar tidak ada mata-mata ARPE yang mengetahui jejak mereka.


Tempat itu berada di tengah-tengah hutan, sangat amat sunyi, tidak ada orang yang tinggal di sana. kemungkinan besar anggota ARPE pun tidak mengetahui tempat ini.

__ADS_1


Di sana ada sebuah rumah kuno, seperti rumah peninggalan Belanda.. Tampak besar tapi tidak menyeramkan. Suasananya asri dan pekarangannya bersih. Sepertinya selalu di bersihkan setiap hari sehingga tidak menimbulkan kesan seram sejak pertama kali melihatnya.


Jen dan Lita berjalan di belakang mengikuti Egi yang berjalan di depan. Gerbang masuk pun di buka oleh 2 orang satpam yang berjaga.


Jen dan Lita saling pandang seperti bertanya dari hati ke hati melalu telepati, 'Apa ada orang yang mau di pekerjakan di tengah hutan begini?'. Tapi mereka tidak berucap sedikit pun, hening.. Hanya derap langkah yang terdengar..


Memasuki pekarangan mereka melihat bunga-bunga yang indah dan terawat, bunga tulip bermacam-macam warna.. Arnelita menjadi teringat ibunya, yang suka sekali dengan bunga tulip. Di rumahnya pun ada taman khusus bunga tulip kesayangan ibunya.


Sampai di depan pintu, Mereka melihat ornamen dan ukiran pintu itu terlihat sangat elegan. Menambah kesan mewah pada rumah yang berada di tengah hutan begini.


Di bukakan lah pintu oleh seorang ibu paruh baya, yang mungkin usianya sekitar 50 tahunan.


"Den Egi.. Apa ini yang nama nya nona Jenni?"


Egi hanya mengangguk lalu memperkenal Jen dan lita.


Jen yang sedari tadi heran, sehingga banyak tanda tanya yang memenuhi kepalanya, di tegur oleh Egi. Sampai ia gelagapan..


Egi berhenti di sebuah ruangan yang kemungkinan itu ruangan pribadinya. Tapi bukan kamar, karena tadi dia berkata bahwa kamarnya berada di lantai dua. Dia membuka pintu ruangan itu. Hanya ada Lemari, meja, sofa, dan furniture lain nya tanpa kasur. Ada Tv, kulkas, laptop di atas meja itu. Hampir lengkap.


Lalu dia menyuruh Lita dan Jen untuk duduk di sofa. Lalu berkata.


"Aku tau apa yang terjadi sama kalian." ucapnya.


"Darimana kau tau kisah masa lalu kami berdua? Bukankah kita tidak saling kenal?" Ucap Lita yang di sertai anggukan Jen.


"Aku adalah anak dari sahabat ayah kalian. Pak Nugroho dan Pak Fikri. Betul tidak?"

__ADS_1


Mereka berdua terkejut pria di hadapannya ini mengetahui nama ayah mereka. padahal setelah kejadian orang tua mereka meninggal, mereka menyamarkan nama ayah mereka karena takut ketahuan ARPE.


"Apa kalian terkejut aku mengetahui nama ayah kalian? Baiklah.. Sepertinya kalian sudah sangat kebingungan.. Akan aku jelaskan sekarang."


Mereka pun terdiam mendengarkan ucapan pria ini.


"10 tahun yang lalu, ayahmu (Menunjuk Lita) tidak sengaja mendengar perkataan ARPE yang akan membunuh ayahku. Lalu ayahmu menemui ayahku untuk menyampaikan itu. Saat itu usiaku baru 20 tahun. mungkin kau masih 18 tahun.. benarkan?" (Lita mengangguk).


"Mereka menginginkan sebongkah berlian ungu langka untuk di jadikan tanda organisasi mereka. Mereka menawarkan harga tertinggi, karena mereka semua dari kalangan atas, bukan tidak mungkin memiliki uang yang tak terhitung nilainya. Tapi ayahku menolaknya dan memilih menitipkan sebongkah berlian itu di rumah mu." (Masih menunjuk Lita).


"Aku? bagaimana bisa?" Tanya Lita terkejut, sementara Jen sudah tidak sabar mendengarkan kelanjutannya.


"Iya, ayahku menyerahkannya kepada ayahmu untuk menyembunyikan berlian itu. Karena kalau sampai berlian itu jatuh ke tangan mereka, mereka akan berbuat semena-mena kepada semua orang, dan terbukti sekarang mereka melakukan itu. Bahkan sampai sekarang kita belum tau siapa dalang dari semua ini. Untuk itu kita ada di sini bersama-sama."


"Ayahmu menyimpan berlian itu di kamarnya di sebuah brangkas, tapi mata-mata itu mengetahui keberadaannya sampai mereka membunuh ayahmu di malam itu. Apa kau ingat?"


Lita langsung meneteskan air mata nya mengingat kejadian itu. Jadi ini penyebabnya ayah meninggal untuk melindungi berlian itu agar Jangan sampai jatuh ke tangan yang salah. Tapi akhirnya ayah gugur juga.


"Alasan ayahku menitipkannya kepada ayahmu karena tidak akan ada yang curiga bahwa berlian itu berada di rumahmu, Jadi walaupun ayahku di bunuh oleh ARPE, berlian itu masih ada di tangan ayahmu, begitu pikir ayahku. Dan waktu itu pun aku bersamanya. Tapi semua salah besar, ARPE sangatlah cerdik. Dia mengirim seorang pelayan ke rumah ini dengan menyamar dan mengetahui rencana kami. Sehingga ayahku pun di bunuh. Sementara aku, sebelum pembunuhan itu terjadi aku disuruh untuk pergi ke tempat yang jauh ke tengah hutan. Untuk menghindari mereka dan di sinilah aku sekarang bersama orang-orang kepercayaan ayahku dari dulu."


"Dan kau Jenni, sebelum ayahmu di bunuh oleh ibu tiri mu, dia menemui ayahku untuk meminta tolong agar ayah dan aku menjagamu, karena dia tau ibu tiri mu selalu mengancamnya untuk melukai kamu. Jika ayahmu tidak menyerahkan semua hartanya atas nama dia."


"Dasar wanita iblis. Lalu bagaimana dengan kakak ku." Tanya Jen.


"Nah, itu yang menjadi misi kita sekarang, mencari kakak mu dan mencari dalang dari semua ini."


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Lita.

__ADS_1


"Mendekati orang-orang bermata ungu (Purple Eyes)". Perintahnya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2