The Purple Eyes

The Purple Eyes
Malam Kelabu..


__ADS_3

Pada malam berikutnya Agensi kami di undang untuk makan malam oleh stasiun tv yang telah berjasa menjadikan mereka model profesional. Para model yang sekarang menjadi artis terkenal ibukota pun ikut hadir.


Aku dan Jenni yang sudah berdandan dengan maksimal menunggu teman-teman di lobby. Mereka akan berangkat bersama-sama.


"Kenapa mereka lama sekali sih. Ini sudah pukul 20.00 " Keluh Jenni.


Tak berapa lama kemudian teman yang lain pun sudah berdatangan dengan dandanan yang cetar membahana. Mereka pun berangkat bersama-sama.


Ada sekitar 8 model di Agensi nya yang ikut untuk acara malam itu. Sisanya mereka ada acara lain yang tidak bisa di tinggalkan. Yang penting ada yang mewakili dari Agensi kami.


Kami pun sampai di sebuah aula yang sangat luas dan dekorasi yang indah seperti akan ada pesta untuk malam ini, padahal hanya makan malam saja. Mungkin karena akan mengundang banyak artis papan atas, jadi harus istimewa begitu pikirku.


Ruangan yang luas untuk sekitar 50 tamu undangan. Terdapat beberapa meja bundar berukuran sedang berwarna biru pastel yang di kelilingi 4 buah kursi dengan warna senada menambah kesan elegan.


Tamu-tamu undangan mulai berdatangan, banyak pria-pria tampan dari Agensi sebelah datang dengan gaya kasual nya. Pria-pria itu hampir semuanya memiliki bola mata biru, kulit putih dan badan yang tinggi. Persis artis-artis Hollywood.


Saat makan malam tiba, para pelayan sibuk menata makanan di meja-meja tamu dengan rapi. Tersaji beberapa makanan pembuka, dessert dan minuman dengan gelas yang cantik.


Semua para undangan berbincang-bincang dengan tamu lain nya.. Seperti sudah lama sekali mereka tidak bertemu bercerita tentang ini dan itu, menambah suasana menjadi semakin ramai. Saat semua tamu sedang asyik mengobrol, sebagian dari mereka tiba-tiba...


Bruk...


Bruk...


Bruk...


Bruk..


Bruk..


"Aaaaaaaa... " (Terkejut)


.


.


.


.


.


Beberapa tamu undangan berjatuhan. Entah pingsan atau apa aku tidak tahu. Yang pasti setelah mereka selesai makan dan minum di gelas yang cantik itu mereka langsung jatuh pingsan.


Aku terpaku.


Kenapa?

__ADS_1


Ada apa ini?


Jenni menatapku dengan tatapan kekhawatiran.


Seorang tamu undangan yang tidak makan dan minum di tempat itu segera melapor ke polisi, Panik.


Tak lama setelah itu polisi datang dan menginterogasi kami semua termasuk aku, Jenni, dan kawanku yang lain untuk memberikan keterangan. Hampir setengahnya tamu undangan yang berada di aula itu mati secara tiba-tiba..


Aku kira mereka pingsan. Tapi setelah polisi mengecek nadi nya, mereka sudah tiada. Semua polisi sibuk membawa jenazah tamu itu untuk di autopsi. Dan yang di tuduh menjadi tersangka sementara adalah pengelolaan stasiun tv yang mengundang kami semua.


Setelah kami di tanya keterangan mengenai kejadian di TKP, kami di biarkan pulang karena tidak ada indikasi bahwa kami yang melakukannya atau ada hubungannya dengan itu.


***


Di apartemen.


Aku dan Jenni masih saling pandang. Apa yang sebenarnya terjadi di aula tadi. Siapa yang telah memberikan racun di minuman mereka semua. Untung kami tidak meminum minuman itu. Kalau saja kami minum, mungkin saat ini kami sudah di tanya malaikat maut.


"Jen, Apa mungkin Pak direktur tv yang melakukan itu?


"Aku rasa bukan Ta. Sepertinya dia hanya di tuduh."


"Apa kau merasa ada yang aneh?"


"Ya, kurasa ini ada hubungannya dengan 4 12 V 3. "


Jenni menceritakan kejadian yang tadi dia alami saat dia di aula..


"Aku kasian sama Pak direktur, Kita tidak punya bukti apa-apa Jen."


"Sepertinya kita harus bertindak sekarang, kita cari tau semuanya Ta. Aku akan meminta cuti kepada Bos untuk libur satu Minggu ini. Biar Sabrina CS yang menggantikan aku."


"Kau yakin Jen?"


"Iya.. Mulai saat ini Misi di mulai. Kita cari bukti-bukti di aula dan menghubungi pria bermata biru itu.. Aku yakin dia ada di sana."


"Oke, besok pagi kita harus ke sana dan mempersiapkan segalanya malam ini."


Kami pun sepakat melakukan penyelidikan kasus itu secara diam-diam. Bukan tanpa alasan, karena saat mereka berjatuhan, Jen melihat ada seseorang di balik gorden tembok yang sedang mengawasi mereka, dan melihat gelang yang mereka pakai itu.. Gelang milik Organisasi ARPE..


Gelang itu tidak di miliki oleh siapa pun. Corak khas dan terdapat berlian ungu yang mencolok itu sangat langka di dunia. Hanya anggota ARPE yang memiliki barang langka itu sebagai tanda kepemilikan Secret Organization.


Jadi bukan tidak mungkin semuanya berhubungan dengan kisah masa lalu mereka yang suram. Hidup sebatang kara, tidak ada tempat untuk bersandar.


Ya Allah, kenapa hidup kami jadi seperti ini..?


Ayah, ibu... Aku akan memulai menyelidiki kematian kalian. Aku ingin tau siapa dalang di balik semua ini, yang sudah membenci kalian hingga tega menghabisi nyawa yang tak berdosa.

__ADS_1


* Jenni POV


Saat aku hendak meminum minuman di gelas cantik itu, aku merasa ada yang sedang mengawasi ku. Aku mencari sosok itu di sekeliling tapi tidak ada yang mencurigakan.


Saat hendak meminum minuman itu, tiba-tiba seseorang menabrak ku dan membuat gelas itu pecah. Aku terkejut, seorang pria dengan Mata biru yang indah itu meminta maaf padaku dan memberikan ku secarik kertas bertuliskan '4 12 V 3 , 3 6 1 . '


Dia berkata, "Maaf telah menabrak mu." Lalu dia berbisik, "Kau pasti mengerti angka itu, hubungi aku jika kau butuh bantuan. Kita punya Misi yang sama."


Dia pun berlalu begitu saja dan pergi tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Siapa dia? Misi yang sama? Apa maksudnya??


Saat aku melihat ke arah gorden, Aku melihat seorang laki-laki hendak berlalu dari aula, tetapi mataku tertuju pada gelang yang dia pakai. Berwarna ungu berkilauan.. Berlian langka yang sangat indah itu menyita perhatianku.


Itu artinya.. Semua yang terjadi di sini...


.


.


.


.


Aku sudah mengerti sekarang.


.


.


.


Baik aku akan kembali ke aula itu besok. Jika kita punya Misi yang sama.. Itu berarti berkaitan dengan....


.


.


.


.


.


.


ARPE 4 12 V 3


* Jenni POV End

__ADS_1


...****************...


__ADS_2