The Purple Eyes

The Purple Eyes
Vishkanya..


__ADS_3

Di kediaman Egi..


"Yes, akhirnya rencana awal berjalan dengan mulus." Ucapku dengan mengembangkan senyuman kepada Jenni dan Egi.


"Bagus Lita, itu yang kita tunggu-tunggu." Egi menjawab dengan senyum manis di wajahnya.


"Ta, apa kau yakin akan masuk ke dunia Bos P? Aku khawatir sekali kau kenapa-kenapa." Jenni melingkarkan tangannya di tanganku.


"Aku yakin Jen. Kalau aku tidak melakukan ini, bagaimana kita tahu kejadian yang sebenarnya?" Aku mencoba menenangkan Jenni yang sangat mengkhawatirkan aku.


"Egi, sekarang bagaimana rencana selanjutnya?" Aku bertanya kepada Egi, karena dia yang paling cerdas di antara kami bertiga.


"Ikut ke kamarku. Biar kita susun rencana di sana."


Kami mengikuti Egi menuju kamarnya. Sekarang aku dan Jenni sudah tinggal di sini bersama Egi. Karena kami merasa tidak aman tinggal di apartemen lagi setelah Sam datang untuk yang kedua kalinya.


Ketika pintu di buka, aku melihat seisi kamarnya tertata sangat rapi. Wangi khas pria menyeruak masuk ke dalam hidungku, wanginya lembut dan enak sekali untuk di cium.


"Egi, kamarmu wangi sekali.. Aku jadi nyaman berada di kamarmu." Jenni memulai pembicaraannya.


Aku hanya mendelik ke arahnya. Sedangkan Egi hanya tersenyum melihat Jenni.


"Sini. Aku akan memberitahumu apa yang harus kita lakukan lagi."


Egi memulai pembicaraannya. Saat kami mulai menyusun rencana, Jenni menyenggol buku yang ada di meja. "Eh," Jenni mengambil buku itu dan membaca judul bukunya. Terlihat menarik, tapi aku lebih fokus kepada Egi.


"Egi, bukankah ini buku yang kemarin ada di ruang kerjamu?" Tanya Jenni. Yang memang kemarin dia mencari-cari buku untuk mendapatkan info katanya.


"Iya kau benar, itu buku yang kemarin kau cari. Dan aku belum pernah menemukannya. Baca saja jika kau ingin tau isinya."


"Aku pinjam ya bukunya." Ucap Jenni.

__ADS_1


Egi hanya menganggukkan kepalanya.


"Lita, sepertinya kau harus bergerak sendiri sekarang. Aku dan Jenni tidak bisa mengawasi mu, karena ku rasa kau harus masuk ke rumahnya. Dan kami berdua tidak mungkin untuk menyelinap."


"Kenapa tidak bisa?" Tanyaku kepada Egi.


"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari info tentang tempat tinggal Putra. Di sana banyak sekali yang berjaga-jaga, dan kita tidak akan bisa menyelinap."


"Baiklah. Besok aku akan ke rumahnya. Dan aku akan membuatnya jatuh cinta kepadaku."


"Iya. Setelah dia mencintaimu, kau cari info darinya mengenai orang tua atau kakaknya itu. Jika dia menanyakan dimana kau tinggal, jawab saja di apartemen."


"Aku mengerti."


Jenni malah sibuk membaca buku itu, Aku melihat judul buku itu dan sepertinya menarik. Vishkanya, kelompok pembunuh yang cantik dan mematikan.


"Lita, apa ARPE meniru yang di lakukan kelompok ini? Coba deh kamu baca ini. Ini seperti apa yang sudah di sampaikan Egi tempo hari." Aku dan Jenni melihat ke arahnya, tapi Egi hanya tersenyum.


Gadis yang dilatih ini kemudian akan dikirim ke kamp musuh atau ditugasi untuk mendekati raja saingan, memberikan racun ke dalam hidangannya sambil bisa makan dan minum dari wadah yang sama untuk menghilangkan kecurigaan.


Dalam kasus lain, gadis itu mungkin sengaja diinfeksi dengan racun (yang biasanya akan menyebar melalui darah atau kontak seksual) atau penyakit menular, sebelum dikirim ke ibukota atau kamp musuh.


"Hah? (Terkejut) Ini benar-benar mirip dengan organisasi itu kan Gi?" Tanyaku kepada Egi yang sedari tadi hanya mendengarkan aku membaca buku itu.


"Ya, aku pun baru mengetahuinya tadi malam. Kalau Jenni tidak mencari buku-buku yang di rak itu, mungkin kita tidak akan tau."


"Aku jadi ingin tau, apa yang melatarbelakanginya melakukan hal ini." Ucapku menatap mata Egi yang bersinar seperti bintang. Matanya sangat indah. Biru berkilauan.


Wajah Egi memang tampan, berkulit putih, tubuh yang tinggi dan tegap. Serta mata birunya yang membuat dia semakin tampan dan enak di pandang. Wajahnya memberikan kesan hangat dan lembut. tapi sayang, sepertinya dia bukan tipe pria romantis.


"Aku ingin membunuh bos mereka dengan tanganku sendiri. Tapi itu tidak mungkin. Pengikutnya sangat banyak sekali, dan aku pun tidak tau rupa dari bos mereka." Ucap Egi sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Aku sudah mencari info tentang bos mereka, tapi hasilnya nol besar. Bahkan tidak ada celah sedikit saja untuk menemukan titik terangnya." Sedikit emosi saat Egi menyampaikan informasi itu.


Aku mengatakan kepada mereka berdua, bahwa aku harus secepatnya bisa mendekati Putra. Karena aku merasa, ini ada hubungannya dengan dia. Entah mengapa perasaanku seperti mengatakan bahwa salah satu anggota keluarga Putra adalah bos besar ARPE. Atau bisa saja Bos nya adalah dia sendiri.


Aku tertarik untuk mengetahui semuanya dan menyelidikinya bersama kedua temanku ini. Ku rasa dia sudah mulai nyaman dekat denganku. Pelan tapi pasti aku harus mendapatkan info darinya. Tanpa menimbulkan kesan 'MENCARI TAU' atau tergesa-gesa melakukan semua ini.


Apa aku melamar di perusahaannya saja ya sebagai sekretaris?


Ide itu muncul secara tiba-tiba di kepalaku.


"Gi, apa aku melamar saja di perusahaannya agar aku bisa semakin dekat dengannya.?"


"Ide yang bagus. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu ya. Boleh, itu lebih baik." Jawab Egi.


"Jen, hari ini kita hubungi bos agensi dan mengajukan pengunduran diri kepadanya. Apa kau mau?"


"Aku sih mau-mau aja Ta. Masalahnya, apa bos akan setuju? Kau kan anak emas bos. Bagaimana kalau pengajuan pengunduran mu di tolaknya?"


Yang di katakan Jenni ada benarnya juga. Aku adalah model yang sangat berkontribusi terhadap agensi untuk menghasilkan uang yang lebih banyak. Kalau dia mengundurkan diri, bos pasti tidak akan setuju.


"Kita belum mencobanya Jen, mungkin sekarang Sabrina yang menjadi pundi-pundi uang mereka."


"Okelah, kalau gitu tapi besok saja kita ke sana. Dan bagaimana denganku Lita? Apa aku juga harus melamar di sana? Aku juga kan ingin bekerja sepertimu."


"Jangan Jen. Kau kan tahu kalau Sam masih mengincar mu. Aku tidak mau kehilangan sahabatku."


"Iya, kau di sini saja bersamaku. Masalah biaya hidup kalian biar aku yang menanggungnya. Jangan khawatirkan uang, aku sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari sebelum bertemu dengan kalian."


Aku dan Jenni hanya saling pandang. Kami berdua merasa tidak enak kepada Egi karena sudah merepotkan nya. Tapi, walau bagaimanapun ayahnya sudah menyeret ayahku ke dalam masalah ini. Begitupun dengan Jenni.


Semoga semua bisa berhasil sesuai dengan rencana kita.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2