
"Aku tidak menyangka kau datang ke sekolah ini. Apa nyalimu sebesar itu?" Teriak salah satu teman satu kelasnya.
Gadis dengan rambut pendek dengan tubuh gemuk dan kulit hitam itu berjalan tanpa menghiraukan kata kata yang keluar dari mulut siapapun.
Ia menghela nafas saat sudah sampai berada di bangkunya yang penuh dengan coretan tip-x dan spidol.
Ia pun duduk tanpa memperdulikan para temannya menatapnya.
Ia pun mengeluarkan botol yang dibawanya.
Bensin.
Ia selalu membawa itu karena tau bahwa bangkunya akan dicoreti. Ia membersihkan mejanya sendirian.
Anindya Elok Rahayu, panggil saja namanya Nindya.
Gadis itu selalu saja mendapat perlakuan yang dapat dikatakan tidak seharusnya. BULLYING.
Ingin sekali dirinya melaporkan kepada kepala sekolahnya. Tapi ia tau bahwa siapa pun yang mengganggunya adalah orang tertinggi di sekolah itu.
Salah satunya adalah wanita bernama Cherry yang juga merupakan putri dari teman pemilik sekolahnya.
Ia hanya harus menahan semuanya dan tidak membuat sebuah masalah sampai ia lulus.
__ADS_1
Menginjak di tahun pertama kelas 10, bukankah sulit baginya untuk bertahan sampai ia lulus?
"Ibu!" Lirih Nindya ingin sekali menjemput ibunya yang sudah tidak berada di dunia nya.
Ibunya telah tiada. Namun penyebab kematian ibunya lah yang membuat NIndya bertahan dan berpendidikan tinggi tinggi agar dirinya dapat mencapai tujuannya.
NIndya tinggal seorang diri di sebuah kos kosan putri. Ia mendapatkan uang dari dirinya sendiri yang bekerja menjadi perawat di sebuah panti jompo.
Ia bekerja siang hari seusai dirinya pulang sekolah.
"Selamat pagi anak anak" Ujar seorang guru yang telah sampai di kelas Nindya.
"Nindya, apa kau membawa bensin lagi?" Tanya guru tersebut saat mencium adanya bau bensin yang ia tau siapa yang membawanya, bahwa dia adalah Nindya.
Semua pun tersenyum membuat guru itu menghela nafasnya.
"Nindya, ikut ibu sekarang" Pinta bu guru.
Nindya pun berdiri dan berjalan tanpa mengatakan apapun. Temannya hanya menatapnya dengan senyuman. Namun beberapa siswa juga menatapnya sendu merasa kasihan.
Ibu guru dan nIndya pun berjalan untuk keruang bk melewati kelas Cherry yang merupakan kakak kelasnya yang selalu mengganggunya.
Cherry yang melihat NIndya dengan seorang guru pun memberi kode kepada dua temannya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya salah satu temannya.
Cherry pun menunjuk ke arah NIndya membuat temannya mengerti.
Cherry pun tersenyum.
"Mengapa dia begitu betah modar madir dengan guru ke ruang bk" Gumam Cherry.
"Lo lupa Cher? Lo yang membuatnya takut" Kekeh temannya bernama Senja.
Cherry pun tersenyum sinis dan kembali menatap ke depan. Yoga yang melihat dan mendengarnya menggelengkan kepalanya.
Dan ya, Cherry satu kelas dengan Aldo dan para teman temannya.
Sesampainya di ruang bk, guru itu yang bernama Ibu Hesti pun menghela nafasnya.
"Kenapa kau tidak memberi tau saja siapa yang melakukannya?" tanya bu Hesti.
"Kenapa kau selalu melindungi seorang yang merundungmu? Ibu tidak dapat memproses kasus ini jika tidak ada pernyataan dari korban" Jelas bu Hesti.
"Aku tidak melindunginya, aku tidak tau siapa yang melakukannya" Jawab Nidya membuat Bu Hesti menghela nafasnya.
"Nindya, mungkin juga ada siswa yang akan diperlakukan seenaknya oleh orang yang sama, jadi ibu mohon padamu untuk mengatakannya" Pinta ibu Hesti
__ADS_1