The Romance Story Gadis Berkulit Hitam

The Romance Story Gadis Berkulit Hitam
episode 3 kelebihan dan kekurangan?


__ADS_3

Nindya sama sekali tidak ingin untuk mengatakan bahwa dirinya yang dirundung.


Membuat bu Hesti kesulitan.


Karena jika tidak ada pernyataan korban dan bukti, maka yang berwenang tidak akan menanggapi serius atas kasus perundungan.


CCTV pun juga tidak ada gunanya, Seperti ada yang mensabotase, reaman seakan hilang begitu saja.


Bu Hesti tau jika itu memang disengaja, namun ia juga tidak dapat bertindak gegabah karena semua akan dikaitkan dengan hukum.


"Aku sendiri yang akan mencari tau" Gumam bu Hesti.


Bu hesti hanyalah satu satu orang yang sangat tertarik dengan istilah perundungan. bahkan dirinya hampir saja dipecat karena usulnya yang mengenai sosialisasi mengenai perundungan dan kenakalan remaja.


Ia seorang ibu dan perempuan. hanya seorang ibu dengan hati lembut dan sejatilah yang memahami perasaan itu.


Nindya pun kembali ke kelasnya dan tak lama kemudian bu Hesti pun masuk dan memulai pelajaran.


Kepala sekolah pada saat itu berkeliling untuk mencatat kebersihan dan juga kerapian kelas.


Kepala Sekolah pun memasuki kelas Nindya dan mengecek kelas tersebut.


Kepala sekolah mencium bau bensin namun ia mengabaikannya. Ia sangat tertarik pandangannya saat melihat sebuah karya sangat kecil berbentuk pohon yang tergantung di jendela.


Karya itu terbuat dari kertas bekas, semacam pulp atau bubur kertas dan dibentuk dengan teliti dan dikeraskn menggunakan cairan kimia khusu.

__ADS_1


Perpaduan warna dan proporsinya benar benar menarik perhatian.


"Siapa'


Semua terdiam saat kepala sekolah tengan berucap.


"Menaruh benda ini disini?" Tanya kepala sekolah dengan serius.


Membuat semua siswa berpikir bahwa karya itu jelek dan merusak pemandangan.


"Nidya p yang membuatnya!"


Karya itu memang milik Nindya. Karena saat ia merasa bosan dan pikirannya kemana mana, ia akan selalu membuat hal yang lain.


"Yang mana Nindya?" Tanya Kepala Sekolah.


"Semua memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing" Batin kepala sekolah saat melihat Nindya.


Ia merasa bangga jika salah satu muridnya berprestasi.


"Baiklah kalau begitu saya permisi, mari bu" Ujar kepala sekolah yang pada akhirnya semua memberi hormat.


"Jangan pernah menaruh hal jelek tentangmu di kelas" bisik siswa yang berada di belakang bangku Nindya.


Nindya hanya menundukkan kepalanya dan kembali fokus ke arah dimana bu Hesti menjelaskan.

__ADS_1


Sementara di sisi lain kini kepala sekolah pun berkeliling dan berhenti di kelas Aldo.


Disana semua bersikap tegak begitu juga dengan Aldo.


Kepala sekolah melihat sekeliling dan menganggukkan kepalanya.


Kepala sekolah pun berpamitan membuat semuanya bernafas lega.


Namun tiba tiba kepala sekolah menghentikan langkahnya.


"Dimana tas kalian?" Tanya kepala sekolah membuat Cherry, kedua temannya dan juga para teman Aldo menggerakkan mulut mereka.


"Bagaimana mata tua itu sangat jeli sekali" Gumam Cherry.


Aldo pun mengusap rambutnya dan menatap ke arah kepala sekolahnya.


"Berdiri kalian"


Semua para siswa yang tidak membawa tas pun berdiri, begitu juga dengan Yoga yang walaupun ia membawa bukunya, ia tetap berdiri bersama teman temannya.


Namun tidak dengan Aldo yang mala duduk tidak mengikuti apa yang diperintahkan kepala sekolah.


"Aldo kau membawa tasmu?" tanya kepala sekolah.


"Apa harus seorang siswa membawa tasnya?" Tanya balik aldo kembali kepada sekolah.

__ADS_1


Semua di sana benar benar menggelengkan kepalanya.


Namun pada akhirnya Aldo berdiri.


__ADS_2