
"Ya terserah sih, cuman saran gue mending udah lupain aja. Percuma juga lo pertahanin perasaan Lo cuman dia ngga peka peka dan bisa jadi dia juga cuman nganggap ini lelucon" jelas Yani.
Ana hanya termenung entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkin kali ini sahabatnya itu memang benar dia harus bisa melupakan perasaannya kepada orang yang salah.
Setelah kejadian itu tiba tiba Yani menghilang tanpa kabar. Ana yang sudah menghubunginya berkali kali pun tidak juga mendapatkan hasil apapun. Benar saja Yani pindah sekolah tanpa berpamitan dengan Ana. Hancur itulah yang dirasakan Ana saat harus kehilangan sahabat baiknya sendiri.
Namun hanya Salsa lah yang bisa menggantikan posisi Key dihati Ana. Tepat sebelum berpindahnya Yani, Yani sempat bercerita semua tentang Ana kepada Salsa termasuk perihal perasaannya kepada Dika. Yani memohon dengan sangat agar Salsa dapat menjaga Ana dengan baik dan bisa menjadi sahabat Ana.
Flashback Off..
"Ya gue ngga masalah lo suka sama Dika Sa. Lagian juga gue udah punya inceran laen kok" ucap Ana sambil mengusap air mata Salsa. Meskipun Ana sendiri hatinya sangat hancur.
"Lo beneran Na?"
Ana hanya mengangguki, dia sudah tidak kuat lagi untuk bicara sepatah kata pun.
__ADS_1
"Makasih Na. Lo sahabat gue yang paling baik" sambil memeluk Ana.
Ana memeluk kembali Salsa tanpa sadar sesekali air matanya terjatuh namun segera ia tepis agar Salsa tidak mengetahui hal itu.
π
Bel Pulang Sekolah.
Tring...Tringg..Tring...
"Na yuk balik bareng gue" ucap Salsa sambil menggendong tasnya.
"Oo yaudah gue duluan. Daa" dengan tersenyum tanpa beban dan meninggalkan Ana sendirian.
.
__ADS_1
ππ
Dijalan.
Mengendarai motor dengan kecepatan rendah, gadis itu hanya tersenyum kecil sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Udara yang semakin dingin sungguh sangat bersahabat dengan keadaan hatinya saat ini. Ya tentu siapa lagi kalau bukan Ana.
"Hmm.. sungguh luar biasa sekali ya Tuhan. Kenapa engkau seringkali membuatku tak berdaya dan hampir semua ketidak berdayaan ini sama. Sama sama perihal hati. Kapan aku bisa bahagia ya Tuhan." batin Ana sambil tersenyum tipis dan lagi lagi tak sengaja meneteskan air mata.
Sesampainya dirumah, Ana hanya bisa menangis. Ia ingin sekali bercerita kepada ibu nya namun apa daya ia meluapkan segalanya hanya lewat tulisan tangan. Ana percaya hanya buku dan pena lah yang tidak akan pernah mengkhianatinya.
Hujan turun dengan begitu derasnya. Membuat ana merasa lega karena setelah beban yang ia pikul hari ini bersama buku dan penanya akhirnya hujan turun dan menghanyutkan seluruh bebannya.
Sebagian besar orang menganggap hujan bisa membuat luka yang paling dalam hadir kembali dalam waktu sekejap. Kenapa tidak? saat hujan turunlah semua kenangan seolah olah kembali hadir menyapa. Begitupun dengan Ana, ia juga merasakan hal yang sama seperti kebanyakan orang diluar sana. Namun Ana tidak mau terus menerus hanyut dalam kesedihan dengan mengingat kembali luka luka sebelumnya. Ia berusaha dan menganggap hujan turun untuk membantu setiap insan melepaskan semua bebannya, mengikhlaskan segalanya untuk hanyut bersama derasnya air hujan.
ππ
__ADS_1
**Thank for Readinggg..
Jangan lupa Like, Coment and Voteπ₯°**