THE WRITERS

THE WRITERS
01 ~ The Writers


__ADS_3

"Perempuan sialan ini sampai mati pun masih menyusahkan."


"Apa untungnya menghadiri pemakamannya begini? Karna dia tidak punya keluarga jadi kita yang harus menangisinya begitu?"


"Lachesis terlalu baik pada gadis pelacur sepertinya."


"Tapi bagus juga kan dia mengakhiri hidupnya sendiri? Itu artinya dia sadar diri. Kita tak perlu lagi repot-repot menyadarkannya."


Berbagai bisikan berupa olokan dan umpatan terus terdengar dari bibir siswa siswi Lachesis High School sore itu di pemakaman. Pagi tadi, Caitlin, seorang gadis yang sering menjadi korban perundungan ditemukan tewas tergantung di pohon beringin besar di depan asrama putri. Sebenarnya keadaannya cukup mengenaskan, beberapa lebam ditemukan di wajah dan tubuhnya, petugas rumah sakit bahkan mengatakan pada pihak sekolah bahwa ada kekerasan seksual yang dialami gadis itu sebelum ia meninggal. Tapi apa lagi yang dilakukan oleh pihak sekolah selain menutup rapat fakta itu hingga rela mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk menutup mulut pihak rumah sakit? Apa lagi mereka semakin diuntungkan dengan tidak adanya keluarga dari Caitlin mengingat anak itu hanyalah seorang yatim piatu dari panti asuhan yang mendapatkan beasiswa. Tidak ada sesiapapun yang akan menuntut pihak sekolah karna kejadian ini. Sekolah swasta ternama se Indonesia itu tentu tidak mau nama mereka terpuruk dan tercoreng hanya karna kasus bunuh diri seorang siswi biasa.


Begitu saja, keberadaan seorang Caitlin seolah terlupakan. Semua orang pulang dari pemakaman dengan senyum lebar di wajah mereka seolah yang baru saja mereka antar pergi bukanlah manusia. Alice menatap sendu makam teman sekamarnya itu. Bukan, Alice bukanlah sahabat Caitlin. Sikapnya yang tidak peduli pada siapapun di sekitarnya membuatnya juga berakhir abai pada Caitlin. Meski sesekali gadis kutu buku itu sering mengajak Alice berbicara, tapi pembicaraan mereka akan selalu berakhir tanpa perkembangan apa-apa. Alice tentu tahu apa yang terjadi pada Caitlin. Tapi sekali lagi, ia tidak perduli. Itulah mengapa rasa penyesalan sedikit banyaknya timbul dalam hati gadis cantik itu. Saat semua orang sudah pergi dari pemakaman, gadis itu masih berdiri tegak menatap nisan di mana nama lengkap Caitlin terukir apik.


Tangan Alice terulur perlahan berniat mengusap makam Caitlin sebagai penghormatan terakhirnya. Berharap kehidupan setelah kematiannya akan terasa lebih indah. Namun belum sempat tangan itu sampai pada tujuannya, sebuah buku jatuh di hadapannya.

__ADS_1


Alice mengernyit menatap bingung buku yang terlihat sedikit kusam dan basah itu. Tanpa pikir panjang, ia lalu mengambilnya dan menatap sekeliling apakah ada seseorang di sekitarnya yang masih tinggal di pemakaman seperti dirinya lalu tak sengaja menjatuhkan buku ini. Tapi sejauh mata memandang tidak ada seseorang pun di sekitarnya. Mengangkat kedua bahunya, Alice lalu memutuskan untuk memasukkan saja buku itu ke dalam tas. Siapa tahu esoknya akan ada orang yang mencari buku ini.


"Tidurlah dengan tenang. Setelah ini tak akan ada yang menyakiti dirimu lagi."


Setelah mengusap pelan nisan Caitlin, Alice melangkah pergi dari pemakaman.


*******


Lachesis berarti takdir dalam bahasa Yunani. Sesuai dengan namanya, sekolah swasta ternama selndonesia ini menjanjikan takdir dan masa depan yang cerah bagi setiap siswanya. Memang terbukti, siswa yang lulus dari sekolah ini selalu menjadi rebutan bagi banyak universitas. Alumninya banyak menjadi orang-orang sukses dan memiliki nama, mulai dari pejabat, artis, aktor, penyanyi dan lain sebagainya, semua bidang dibabat habis oleh mereka. Sayangnya, ada sesuatu yang kelam yang seolah menjadi kebiasaan atau bahkan budaya yang melekat di sekolah ini, yaitu adanya perundungan. Setiap tahimnya korban perundungan akan selalu ada. Pihak sekolah tentu tahu hal itu, tapi daripada berbicara dan memberikan keadilan, mereka lebih memilih abai. Siswa yang menjadi korban seolah hanya punya dua pilihan, bertahan dalam neraka yang mereka hadapi lalu memiliki masa depan menjanjikan, atau berhenti lalu menjalani kehidupan yang kelam. Seorang siswa atau siswi yang keluar, berhenti, atau dikeluarkan dari Lachesis selalu dianggap orang yang gagal. Sayangnya, Caitlin tidak memilih salah satu di antaranya. Ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Bel istirahat sudah berbunyi. Semua siswa dan siswi Lachesis High School berbondong-bondong pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar setelah menghabiskan dua jam di kelas untuk belajar. Begitupun dengan kelas Alice, kelas XI IPA¹. Ruangan berubah sunyi setelah siswa siswinya beranjak keluar kelas. Hanya tersisa Alice di sana, duduk di kursinya, melamun menyesali keputusan Caitlin mengakhiri hidupnya. Pandangan Alice jatuh pada kursi Caitlin di sudut sebelah kiri paling belakang, berlawanan dengan tempat duduknya di sudut sebelah kanan. Alice menatap sendu kursi yang mulai sekarang akan selalu kosong itu.


Alice tercekat saat ingatannya kemudian jatuh pada buku yang ia temukan di pemakaman Caitlin kemarin. Tanpa pikir panjang ia lalu menarik tasnya dan mengeluarkan buku itu. Malam tadi, ia tak sempat melihat-lihat atau bahkan membacanya. Itu sebabnya pagi tadi gadis itu memutuskan untuk memasukkannya ke dalam tas untuk kemudian dibawa ke sekolah.

__ADS_1


Buku yang kemarin basah itu sekarang sudah kering, meninggalkan jejak yang tercetak jelas di beberapa lembar hingga membuat tulisannya sedikit buram. Namun Alice masih bisa membacanya dengan baik. Jarinya mengusap perlahan tulisan besar yang ada di sampul buku.


"The Writers?" Alice mengernyit bingung saat membaca judul buku itu. Nama lengkap Caitlin tertulis dengan baik di bawahnya. Kalau dilihat dari bentuknya, orang-orang pasti akan berpikir bahwa yang Alice temukan hanya diary biasa, begitupun dengan Alice. Ia awalnya juga berpikir kalau buku itu adalah buku diary Caitlin yang semua orang tahu bahwa gadis yang sekolah di Lachesis berkat beasiswa itu memang hobby menulis. Ah, Alice baru ingat. Caithn juga pernah bilang ia bercita-cita menjadi seorang penulis.


Alice menarik nafas panjang, membuka perlahan halaman pertama buku itu. Alice tak bisa lagi menahan air matanya saat di sana diceritakan bagaimana tersiksanya seorang Caitlin hingga ia berakhir bunuh diri. Gadis itu dijambak hingga kepalanya luka, diolok dan difitnah tidur dengan gurunya karena nilainya selalu di atas rata-rata, serta yang lebih membuat Alice tidak percaya adalah malam sebelum gadis itu mengakhiri hidupnya, ia diperkosa oleh seorang siswa. Alice meremat kuat tangannya setelah mengetahui fakta ini. Ingin rasanya ia menarik pelaku-pelaku biadab itu ke penjara. Tapi ia beran saat tidak ada nama yang disebutkan sebagai pelaku di cerita itu. Berapa kalipun Alice membacanya ia tetap tak menemukan petunjuk tentang siapa pelakunya. Meski begitu Alice masih berpikir bahwa buku ini hanya buku diary biasa. Alice lalu beralih pada halaman kedua, berharap ada sesuatu yang ia temukan di sana.


"Kematian Pertama?"


*******


hayy guys ini cerita kedua aku ya semoga kalian suka🫢❤️‍🔥


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕

__ADS_1


__ADS_2