THE WRITERS

THE WRITERS
09 ~ Sekarang Kau Tidak Sendiri


__ADS_3

Rein menatap sendu Alice yang sejak tadi menangis di depannya. Mereka sedang berada di ruang UKS sekarang, setelah mayat Ariel dibawa oleh ambulance. Fajar, guru biologi yang tadi bersama mereka dan seorang guru BK ikut pergi ke rumah sakit. Rein yakin, nanti di sana juga akan ada polisi yang memintai keterangan mereka Mengingat bahwa Ariel bukanlah anak orang biasa. Kali ini, uang dari pihak sekolah) pasti tak akan cukup untuk menutup mulut pihak keluarga korban seperti sebelum-sebelumnya.


"Sudahlah semuanya sudah terjadi. Kau, aku, atau siapapun tidak ada yang bersalah. Memang sudah saatnya dia mati," ucap Rein berusaha menenangkan gadis cantik di hadapannya. Meskipun sebenarnya, Rein juga kalut. Ia tak menyangka baliwa apa yang Alice katakan benar adanya.


"Reinaku-harusnya aku datang lebih cepat agar aku, bisa mencegah semuanya. Aku... ini semua salahku hiks... seharusnya..."


"Hei... "


"Seharusnya aku tidak masuk kelas saja. Seharusnya aku...."


"Alice..."


"Berhenti bicara omong kosong dan dengarkan aku!" Alice tersentak di tempatnya saat Rein meremat kedua bahunya. Dua pasang mata itu saling menatap dalam Rein dapat melihat dengan jelas rasa takut yang Alice miliki. Setelah tatapan Alice beralih padanya, Rein kemudian melanjutkan ucapannya.


"Kau tidak bersalah, kau sudah berusaha menghentikan semua ini dengan memperingatiku. Tapi aku juga tidak mungkin bisa langsung mempercayaimu karena bagiku itu semua mustahil.Hingga akhirnya Ariel tetap mati sesuai cerita di buku itu Jadi, berhenti menyalahkan dirimu."


Untuk beberapa saat Ahce tak menunjukkan reaksi apa-apa. Otaknya yang kini hanya berisi rasa takut dan penyesalan berusaha memahami apa yang Rein ucapkan hingga akhirnya gadis cantik berusia 17 tahun itu mengangguk pelan. Perasaannya sekarang bisa sedikit lebih tenang. Terimakasih pada Rein yang ada untuknya.


Rein menghela nafas lega setelah Alice mulai terlihat tenang. Perlahan ia melepaskan rematannya di dua bahu Alice Menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu, tatapan Rein kemudian jatuh pada atap UKS


"Setelah ini aku yakin kau pasti akan menganggapn gila. Ini memang sulit dipercaya Rein...


"Aku percaya padamu...”


Alice terbelalak saat telinganya mendengar dengan jelas apa yang Rein neapkan. Ia menatap pria itu, menunggu kalimat berikutnya.


"Mustahil aku tidak percaya setelah aku menyaksikan semtianya dengan mata kepalaku sendiri," sambung Rein, tatapannya beralih pada Alice.

__ADS_1


Rein tersentak saat Alice tiba-tiba memelukanya. Ia terpaku di tempatnya, tak berealesi ataupun membalas pelnkan Alice


"Terimakasih... terimakasih karena sudah mempercayaiku. Ku pikir kau akan sama dengan King yang menyudutkanku dan menyalahkan pemikiranku."


Rein terkekeh pelan mendengar ucapan gadis itu Tanpa sadar tangan kanannya terangkat, mengusap pelan rambut hitam milik Alice.


"Kita tak bisa menyalahkannya karena dia tak menyaksikan semuanya sendiri. Seperti yang ku katakan, akan sulit bagi siapapun untuk berpikir bahwa apa yang kau ucapkan benar adanya."


Alice merenggangkan pelukannya Sepasang hazel itu menatap Rein berbinar. Ia lalu mengangguk pelan tanda paham atas apa yang pria itu jelaskan.


"Mulai sekarang kau tak akan sendiri. Setelah ini akut akan membantumu menghentikan kematian yang diceritakan di buku itu sebisaku.”


Senyum lebar terbit di wajah Alice. la kembali memeluk Rein seolah menyampaikan rasa terimakasihnya.


Rein melepaskan pelikan Alice cepat saat tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Alice mengernyit saat melihat wajah serius Rein. Ia lalu berusaha memasang dan membuka lebar telinganya agar satu katapun yang Rein neapkan tidak ia lewatkan.


"Aku memang terlambat menyelamatkan Ariel dari jatuhnya. Tapi kau tahu? Aku sempat menarik kerah Fajar agar tak menuruni anak tangga. Baki berisi benda tajam yang ia bawa berakhir jatuh di dekat kaki kami. Kau sudah baca cerita Kematian Ketiga itu kan? Kan pasti tahu jelas apa yang menyebabkan Ariel kehilangan nyawanya.”


Kening Alice mengerut, otaknya berusaha mencerna apa yang Rein katakan.


"Aku sangat-sangat lega setelah berhasil menghentikan Fajar Aku pikir setelah itu, Ariel akan selamat, dia hanya perlu dibawa ke rumah sakit untuk mengobati lukanya akibat jatuh dari tangga.”


"Tunggu dulu, maksudmu? Peralatan tajam yang melukai tubuh Ariel bukan karena Faiar?"


Rein menggeleng pelan, ia lalu melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Bukan. Yang melukai tubuh Ariel bukanlah benda tajam yang dibawa Fajar, tapi baki lain yang dibawa oleh guru biologi, yang isinya sama dengan yang Fajar bawa."


Seketika ingatan Alice jatuh pada seorang guru biologi di Lachesis yang tadi ada di tengah-tengah mereka. Seorang wanita paruh baya yang menatap takut sekaligus khawatir pada Ariel. Tahulah Alice sekarang kenapa guru itu melakukan hal itu.


"Jadi maksudmu bagian akhir dari cerita itu melenceng?" tanya Alice memastikan. Rein mengangguk cepat sebagai jawaban.


"Aku juga baru menyadarinya. Tapi aku jadi berpikir, jika seandainya kita menghalangi kematian berikutnya, apa ada kepastian kalau korban akan selamat? Atau justru seperti Ariel yang tetap mati dengan cara yang sama meski melalui orang yang berbeda?"


Alice menggigit bibir dalamnya. Rasa takutnya semakin parah setelah mendengar apa yang Rein katakan. Apa itu artinya tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan 44 nyawa yang sudah ditetapkan cara kematiannya itu? Apa ia hanya bisa diam saja dan menyaksikan semuanya?


"Hanya ada satu cara, kita harus bisa menyelamatkan korban kematian keempat. Setelah itu baru kita tahu apakah usaha kita berhasil atau sia-sia.


*******


King berdecak kesal saat tak ada satupun jawaban atas panggilan atau pesan yang ia kirim pada Alice, kekasihnya sejak kemarin. Yang ada hanya pesan menumpuk dari grup kelas dan OSIS yang demi Tuhan, sama sekali tidak menarik di mata King.


King mengerang jengkel. Padahal, jadwal kencannya dengan Alice, yang biasa mereka lakukan sebulan sekali akan tiba. King berharap saat itu hubungannya yang belakangan merenggang bisa kembali utuh. Tapi sayangnya, sepertinya sang kekasih lebih tertarik pada buku terkutuk yang sampai sekarang masih King anggap tak masuk akal itu, hingga satupun pesan dan panggilan dari King tak in pedulikan.


King melemparkan ponselnya ke kasurnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Rasanya ia tak berminat memainkan benda berbentuk persegi panjang itu. Pria tampan itu kemudian menyalakan TV. mendengarkan berita yang sejatinya sama sekali tak membuatnya tertarik. Namun saat satu topik yang berhubungan dengan dirinya dibahas oleh sang pembawa berita, matanya langsung melebar.


"Lagi-lagi, seorang siswa kehilangan nyawanya akibat kelalaian yang terjadi di salah satu sekolah paling ternama di Indonesia, Lachesis High School. Seorang siswa kelas XI IPS, dikabarkan meninggal dunia setelah tergelincir di salah satu anak tangga..."


King bergegas mematikan TV di kamarnya dan bergegas mengambil ponselnya, membaca pesan menumpuk yang ada di grupnya. Mata pria itu terbelalak seketika.


"Sial! Ada korban lagi?"


*******

__ADS_1


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕


__ADS_2