
"Siswi berinisial A ini diduga tewas karna tersengat arus listrik dari kabel yang rusak di kelasnya. Pihak keluarga..."
Alice terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak sama sekali. Sayup-sayup ia dengar berita dari TV di kamarnya yang memang sengaja ia nyalakan untuk tmenemani tidurnya. Tak ingin mendengar berita itu lebih lama, Alice langsung mengambil remot dan mematikannya. Ia tak ingin mendengar berita apapun tentang Angel karena itu akan membuatnya merasa sangat bersalah, entah kenapa.
Alice menggigit kuku tangannya. Ia masih merasa takut, tubuhnya masih bergetar. Ia lalu kembali berbaring, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran gila yang ada di kepalanya. Seperti yang King katakan, ini pasti hanya kebetulan saja. Tapi berapa kali pun Alice berusaha mengelak, semua seolah terhubung baginya, Caitlin, buku itu dan Angel. King tidak akan paham karena dia tidak menyaksikan semuanya secara langsung.
Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, gadis itu kemudian mengambil ponselnya. Terlihat beberapa notif pesan dan panggilan tidak terjawab dari King. Tapi Alice lebih memilih untuk mengabaikan kekasihnya itu. Baginya, ada sesuatu yang lebih penting sekarang. Setelah menggeser fitur kontak mencari nama seseorang, Alice lalu bergegas memanggilnya.
"Halo," ucap Alice pelan setelah panggilannya diterima oleh seseorang di seberang sana.
"Oh, Alice? Ada apa menelpon malam-malam begini? Apa ada sesuatu?" sahut seseorang itu dari seberang sana. Wajar ia heran, ini sudah tengah malam dan Alice bukanlah orang yang sedekat itu dengannya hingga bebas menelponnya kapan saja.
Alice menggigit bibir dalamnya, berpikir apakah ia harus menanyakannya atau tidak. Setelah menghela nafas panjang sembari memejamkan mata ia akhirnya mengambil keputusan untuk bertanya.
"Nayla pelan... apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Alice pelan.
"Ah, sesuatu? Sesuatu apa?"
"Itu... sebenarnya agak sulit mengatakannya, tapi aku menemukan buku... bu-buku diary Caitlin. Dia bilang ada seorang siswi yang menumpahkan air es padanya. Apa orang itu... Angel?"
Alice berubah gugup saat tak terdengar jawaban dari Nayla. Tak mau dinilai aneh atau konyol oleh teman sekelasnya itu, ia lalu berusaha mencari alasan.
"A- aku hanya memastikan saja apa yang dikatakan di sini benar atau tidak. Kau tahu, Caitlin teman sekamarku jadi aku m- merasa sedikit bersalah sejak kematiannya. Karena kau teman dekat Angel kurasa t- tidak ada salahnya bertanya," ujar Alice dengan suara terbata. Alice bukanlah seseorang yang pintar berbohong dan mencari alasan.
Masih tak ada sahutan dari Nayla. Alice menghela nafas pelan. Mungkin Nayla mengira tingkahnya sedikit membingungkan. Wajar saja, meski sekamar dengan Caitlin, semua orang tahu kalau Alice tidak berteman dekat dengan gadis kutu buku itu. Jadi agak aneh rasanya jika seorang Alice yang biasanya abai terdengar penasaran dengan masalah orang lain. Alice baru saja berniat mematikan panggilannya saat tiba-tiba terdengar suara dari seberang sana.
__ADS_1
"Iya, aku memang pernah melihatnya sengaja menumpahkan es pada Caitlin. Waktu itu Caitlin tak sengaja menabrak bahunya. Aku juga tidak tahu kenapa tapi Angel langsung marah besar dan semuanya terjadi. Aku berusaha membujuknya tapi kau pasti mengenal Angel."
Alice terbelalak saat cerita itu terdengar jelas di telinganya. Tubuhnya semakin bergetar hingga memegang ponsel pun rasanya tak sanggup lagi. Sudah ia bilang, semuanya tidak mungkin hanya kebetulan.
"Ba-baiklah. Ka- kalau begitu, aku tutup dulu. Terima kasih N- Nayla," ucap Alice terbata-bata. Ia berniat memutuskan panggilannya namun gagal saat Nayla kembali bersuara.
"Alice...," suara Nayla terdengar pelan memanggilnya Alice hanya diam menunggu gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"Aku... aku takut. Entah kenapa sejak kematian Caitlin aku merasa ada sesuatu yang mengancam kehidupanku. Alice... Aku..."
Tuut
Tuut
Tuut
"Kematian Kedua?"
Alice memejamkan matanya. Nafasnya teramat sesak. Bahkan buku yang ia baca sekarang turut basah karena keringat dingin yang mengalir dari tangannya. Setelah berhasil memberanikan diri, dengan teliti ia kembali membaca cerita itu. Satu kata pun tak akan ia lewatkan kali ini. Jika memang buku ini berisi tentang hal omong kosong menjijikkan, maka ia akan langsung memusnahkannya.
"3 Januari? B-besok? Artinya besok akan ada k- korban lagi?" Alice terbelalak, terpaku di posisinya dan tak bisa berkata apa-apa.
"Haha... tidak. Ini gila, ayolah Alice! Kenapa kau bisa percaya pada hal gila seperti ini?" monolog gadis itu, ia berusaha mengurangi rasa takut dengan menertawai dirinya sendiri. Tapi menghilangkan rasa takut tak semudah itu. Merasa pemikiran sinting mulai menghampirinya setelah selesai membaca cerita di halaman ketiga dari buku itu, Alice langsung menutupnya.
"Tidak, aku tidak akan biarkan buku terkututk ini terus membuatku takut. Persetan dengan kematian siapapun itu, itu bukan urusanku!" Alice kemudian melangkah keluar dari kamarnya, membawa korek dan minyak tanah bersamanya, melangkah cepat menuju pohon beringin besar di depan asrama.
__ADS_1
Malam itu, Alice membakar buku terkutuk yang ia temukan di makam Caitlin, di tempat di mana sang pemilik buku mengakhiri hidupnya, tanpa tahu apa yang akan terjadi ke depannya.
*******
"Kau sudah lebih tenang sekarang?"
Alice mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan King, la memasang senyum di wajah cantiknya untuk meyakinkan sang kekasih. Mereka sedang berada di kantin sekarang, menikmati makan siang.
Dari pagi sampai bel istirahat pertama berbunyi, tak ada satupun guru yang memasuki kelas. King bilang setelah menghadiri pemakaman Angel pagi tadi, para guru mengadakan rapat bersama kedua orang tua Angel. Mungkin mereka sedang berdebat tentang kematian Angel sekarang. Orang tua manapun tak akan menerima kematian anak mereka apa lagi secara mengenaskan seperti yang Angel alami. King yakin, mereka pasti akan menuntut pihak sekolah untuk bertanggung jawab.
"Oh, bel sudah berbunyi. Ingin aku antar?" tawar King saat bel tanda istirahat telah berakhir berbunyi. Alice terkekeh pelan, ia lalu menggeleng menolak tawaran kekasihnya itu. Syukurlah, di antara semua ketakutannya, ia masih memiliki King yang selalu ada untuknya dan selalu mencintainya.
"Kau pergi saja ke kelasmu, nanti kau terlambat masuk kelas. Sepertinya rapat sudah selesai. Kalau terlambat reputasimu sebagai ketua OSIS kan akan buruk," nasehat Alice. King tertawa mendengar ujaran sang kekasih.
"Hm, kau benar. Reputasimu sebagai pacar ketua OSIS juga pasti akan buruk."
King dan Alice tertawa bersamaan. Sepasang kekasih itu kemudian beranjak dari kursinya. Mereka berpisah di depan kantin sebab arah kelas mereka yang berlawanan.
Alice mengernyit saat dari kelasnya terdengar kerusuhan. Ia yang penasaran lalu berlari cepat menerobos kerumunan di depan pintu kelas. Alice terbelalak ketika sesampainya di sana, Nayla terbaring kaku dengan badan yang terpisah dari kepalanya. Darah berserakan di mana-mana, lantai terlihat merah seolah kehilangan warna aslinya. Pandangan Alice jatuh pada kipas angin kelas yang sebenarnya hanya dipakai sesekali saat AC sedang rusak. Kipas itu terjatuh ke lantai tepat di samping penggalan kepala Nayla. Jejak darah terlihat jelas di daun kipas.
"A- apa yang terjadi?"
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕
__ADS_1