
"Jadi maksudmu dia akan mati tertimpa pohon begitu?"
"Iya, setidaknya begitulah yang diceritakan di halaman kelima tentang kematian keempat," jawab Alice yakin.
"Besok malam akan ada badai, lampu akan mati sedangkan dia takut kegelapan dan baterainya lowbat. Dia turun ke bawah untuk meminta lilin pada pengurus asrama. Kau tahu pohon beringin besar di depan asrama putri? Pohon itu yang akan membunuhnya," sambung gadis cantik itu.
Rein tercekat, ia tak bisa berkata-kata. Baru saja in memutuskan untuk menelpon Alice untuk membahas kematian keempat dan sekarang ia menyesali keputusannya karena ia tak tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan
"Kau tahu siapa korban selanjutnya?"
Rein meremat kuat tangannya saat tak ada sahutan dari Alice di seberang sana. Itu saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa Alice tidak mengetahui siapa yang akan jadi korbannya.
"Kau menemukan petunjuk?" tanya Rein sekali lagi. paling tidak mereka harus berusaha kan?
"Satu-satunya petunjuk hanyalah... korbannya perempuan, karena dia menyebut soal siswi dan pohon beringin besar yang hanya ada di asrama putri, mustahil seorang laki-laki berkeliaran di asrama putri," ujar Alice menyampaikan apa yang ia ketahui.
"Hanya itu saja?" tanya Rein lagi, karena jika hanya jenis kelamin, maka itu saja tidak akan cukup. Sangat mustahil bagi mereka menyelamatkan korban tersebut jika yang mereka ketahui hanya gendernya saja di antara ratusan siswi lainnya.
"Dia pernah mengikat Celine di pohon itu,"
Rein menghela nafas panjang setelah mendengar cerita menyedihkan itu. Sebenarnya ia tidak mengenal Celine, sama sekali tak mengenalnya. Ia hanya tahu tentang Celine dan segala kisahnya dari Alice dan buku yang gadis itu temukan di pemakaman teman sekamarnya itu. Tapi entah kenapa ia turut merasakan kesedihan yang gadis kutu buku itu alami. Rein tak bisa bayangkan bagaimana kesehariannya. Mungkin itulah sebabnya orang-orang yang pernah menyakitinya berakhir mati dalam keadaan mengenaskan.
"Hanya ada info itu di cerita itu? Itu sangat sedikit, Alice. Mustahil menemukan siapa yang akan jadi korban jika kita hanya mengetahui dua fakta itu saja," ucap Rein terdengar putus asa.
Selama beberapa detik tak ada sahutan dari seberang sana. Rein tentu paham karena Alice pasti juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Bisakah kau datang lebih pagi besok? Aku akan pikirkan rencananya malam ini. Jika kita hanya bicara di jam istirahat, maka waktu kita tidak akan cukup."
__ADS_1
Rein tampak lega saat Alice menyetujui sarannya.
"Baiklah kalau begitu aku tutup dulu." pamit Rein. Alice baru saja ingin menutup panggilan itu sebelum akhirnya Rein kembali bersuara.
"Alice... kali ini aku tak bisa banyak membantu karna kejadiannya berlangsung di asramamu, bukan di sekolah ataupun asramaku. Kau harus lebih berusaha kali ini. Meski begitu, aku akan berusaha sebisaku."
Alice mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya mengakhiri panggilan itu. Gadis cantik itu tersenyum lembut, menyadari ada seseorang yang mendukungnya, percaya padanya dan menemaninya. Ini adalah sebuah langkah yang bagus untuk menyelamatkan mereka-mereka yang akan kehilangan nyawanya. Bagaimanapun 2 pikiran akan bekerja lebih baik dibanding satu.
*******
Alice memasuki ruang perpustakaan perlahan setelah satpam membukakan pintu untuknya. Tak ada seorang pun di dalam ruangan penuh rak berisi segala jenis buku ini. Wajar saja, mengingat hari masih cukup gelap. Tak ada seorang pun yang datang ke sekolah sepagi ini. Alice bahkan menjadikan alasan lupa mengerjakan tugas agar satpam percaya padanya dan membukakan perpustakaan untuknya.
Alice menyalakan lampu setiap sudut ruangan. Ia tersenyum lega saat Rein bilang ia sudah dalam perjalanan menuju perpustakaan. Syukurlah, gadis cantik itu jadi tak perlu menunggu lebih lama.
Alice memilih tempat duduk paling sudut. Ia lalu mengeluarkan buku yang ia temukan di makam Caitlin jika saja Rein ingin membacanya lebih jelas nanti..
"Maaf membuatmu menunggu," ucap Rein tak enak karna sadar Alice datang lebih dulu darinya. Alice yang mendengar permintaan maal itu hanya tersenyum kecil dan menggeleng pelan, seolah mengatakan bahwa keterlambatan Rein bukanlah apa-apa.
"Kita langsung ke intinya saja, aku sudah menemukan cara bagaimana agar kita bisa menemukan korban berikutnya."
Mata Alice membola, ia lalu memperbaiki posisi duduknya, berniat untuk mendengarkan dengan jelas apa yang akan Rein sampaikan.
"Kau bilang kau pacar King kan? Si ketua OSIS?""
Alice mengangguk cepat. Keningnya mengernyit saat Rein menyebut nama King. Meski bingung, ia memutuskan untuk mendengarkan penjelasan Rein lebih dulu.
"Ketua OSIS pasti punya seluruh nomor ketua kelas Lachesis, sebab dia lah orang pertama yang akan meneruskan informasi sekolah pada ketua kelas yang kemudian akan disampaikan pada kita."
__ADS_1
Alice mengangguk pelan menanggapi perkataan Rein, Lapi ia masih bingung apa ujung dari perkataan pria tampan itu.
"Setiap ketua kelas pasti punya nomor seluruh teman sekelasnya. Tugasm adalah mendapatkan nomor setiap siswi Lachesis. Mintalah bantuan pada kekasihmu."
Dua alis Alice bertaut. Ia menatap bingung pada Rein Rein yang paham akan tatapan pentih pertanyaan itu kemuchan kembali bersuara, berusaha menjelaskan.
"Dengar, dapatkan nomor seluruh siswi dan kirim pesan secara serentak. Katakan bahwa kau adalah teman Caitlin yang punya rekaman saat dia diikat di pohon oleh si pemilik nomor itu, ancam si pemilik nomor untuk menemuimu atau videonya akan disebar di seluruh sosial media dan dilaporkan ke pihak sekolah hingga ia dikeluarkan. Jika pemilik nomor itu memang bukan pelakunya, maka ia akan mengabaikanmu atau hanya memakimu. Tapi jika dia benar-benar pelakunya, maka ia akan mengajakmu bertemu dan berdiskusi denganmu. Saat itulah kita akan menjelaskan padanya."
Alice menggigit bibir dalamnya. Sebenarnya ide yang Rein sampaikan adalah ide yang sangat brillian. Tapi yang jadi penghambat kali ini adalah King. Alice ragu jika kang mau membantunya. Apa lagi jika Alice bilang ini berhubungan dengan buku yang ia temukan.
"Rein...sebenarnya apa yang kau sampaikan itu adalah cara terbaik dan paling cepat yang bisa kita lakukan. Tapi King..."
"Aku yakin jika kau meminta tolong padanya dengan sungguh-sungguh dia pasti mau membantumu meski awalnya ia menolak," potong Rein saat Alice terlihat ragu
"Tapi aku tidak yakin," sambung Alice kemudian. Rein terdengar menghela nafas pelan.
"Setidakpercaya apapun dia padamu, pada akhirnya dia adalah kekasihmu la tak akan membiarkanmu berkutat pada pemikiranmu sendiri. Aku yakin ia pasti bersedia membantu, percaya padaku," ucap Rein berusaha meyakinkan.
Alice memejamkan matanya erat dan mengangguk pelan.
"Tapi Rein — kalau pun berhasil, bagaimana kalau semuanya tidak berakhir seperti yang kita inginkan?"
Rein mengusak rambutnya. Ia menatap lama sepasang mata hazel di halapannya.
"Dari awal kita sudah tahu bahwa akhir dari usaha kita adalah takdir. Alice... sesempurna apapun rencana kita untuk menyelamatkan para korban kematian itu, kita masih bisa kalah oleh takdir. Itu sebabnya, kita harus berusaha semaksimal yang kita bisa.”
*******
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕