THE WRITERS

THE WRITERS
06 ~ Kali Ini Aku peduli


__ADS_3

"Cara mudahnya, pertama kalian hitung saja jumlah keseluruhan angkanya, baru kemudian kalian..."


Satu katapun penjelasan yang disampaikan oleh guru matematikanya di depan sana tak ada yang Alice dengarkan. la fokus menatap jam dinding di depan kelas yang sekarang menunjukkan pukul 9.20, artinya ada 10 menit lagi menuju istirahat. Kaki gadis itu bergoyang sesekali mengetuk lantai tak sabar ingin segera menginjakkan kaki ke luar kelas. Ia harus bisa menemukan korban kematian ketiga agar bisa menyelamatkan dan menghalangi kematiannya.


Alice setidaknya bisa sedikit lega hari ini karena kali ini kematian akan terjadi di siang hari, tepatnya saat pulang sekolah. Bukan di jam istirahat atau pun jam pelajaran. Jadi paling tidak Alice punya sedikit waktu untuk mencari siapa yang akan menjadi korban selanjutnya dan menyelamatkannya.


Alice melompat dari tempat duduknya saat bel istirahat berbunyi. Ia bergegas ke luar kelas setelah gurunya mengucapkan salam perpisahan.


"Akh, eh Alice? Aku baru saja berniat menjemputmu ke kelas..."


"Aku tidak punya waktu King, aku harus pergi ke kelas XI IPS. Kita bicara nanti!" potong Alice saat King berbicara padanya setelah bahu mereka tak sengaja saling bersinggungan di koridor sekolah. Alice berniat kembali melangkahkan kakinya, namun King memegang pergelangan tangannya.


"Kau punya urusan apa dengan siswa IPS?" tanya King bingung. Ia hanya khawatir jika yang Alice lakukan kali ini berhubungan dengan buku sialan yang belakangan selalu kekasihnya cantiknya itu bahas.


Alice berdecak kesal, tak ingin pembicaraan mereka terdengar oleh siswa lain, Alice menarik tangan King menuju perpustakaan dan duduk di meja yang paling sudut. Alice memperhatikan sekelilingnya, setelah yakin bahwa tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraan mereka, Alice mengeluarkan selembar kertas berisi catatan soal hal-hal yang berhubungan dengan kematian yang akan terjadi berdasarkan cerita yang ada di dalam buku Caitlin yang sudah ia persiapkan malam tadi.


King menatap datar Alice, ingin rasanya ia berteriak keras agar kekasihnya itu sadar bahwa apa yang ia lakukan sekarang adalah hal gila yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Baru saja King ingin bersuara, Alice memotongnya lebih dulu.


"King, dengarkan aku. Aku tidak memintamu untuk mempercayaiku atau membantuku. Aku tidak memintamu untuk melakukan itu semua. Aku hanya memintamu untuk membiarkanku melakukan apa yang harus aku lakukan."


King mengernyit, tawa kecil kemudian terdengar dari bibir pria tampan itu. la menggeleng pelan dan menatap bingung ke arah Alice.


"Kan gila Alice. Kau benar-benar gila..."

__ADS_1


"Terserah King," potong Alice saat King belum selesai menyuarakan pemikirannya. Tapi Alice rasa percuma mendengarkan pria itu, yang keluar dari mulutnya pasti hanya larangan atas keputusannya dan umpatan atas pemikirannya. Hanya itu saja, dan itu tidak akan bisa membantu sama sekali.


"Terserah kan man percaya padaku atau tidak. Yang aku yakini sekarang adalah aku...harus menyelamatkan nyawa mereka mereka yang akan mati berdasarkan buku The Writers itu. Aku tidak butuh nasehatmu, pendapatmu, atau bantuan darimu Aku bisa melakukannya sendiri. Yang harus kau lakukan hanya jangan mencampuri urusanku."


Alice baru saja bangkit dari duduknya saat King kembali bersuara.


"Kenapa kau tidak mengabaikannya saja?"


Alice mengernyit, menatap tak percaya kepada King atas ucapannya.


"Bertindaklah seperti seorang Alice yang biasanya, abaikan soal buku itu, abaikan soal Caitlin dan abaikan soal kematian konyol yang kan bicarakan. Anggap lah aku mempercayaimu dan semua omong kosong yang kau yakini, kenapa kali ini kau peduli?"


Alice meremat kuat tangannya hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Abai? King menyuruhnya untuk mengabaikan semuanya setelah apa yang terjadi? Apa pria itu sudah kehilangan akalnya? Alice terkekeh pelan kemudian, menatap dalam pada King.


Alice langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan King yang terpaku di tempat duduknya. Tak peduli apa yang akan terjadi pada hubungan mereka nantinya. Yang Alice pikirkan sekarang hanya menyelamatkan salah satu siswa kelas XI IPS, sesuai petunjuk di dalam buku itu.


*******


Nafas Alice tersengal setelah sampai di kelas XI IPS³, kelas yang ia tuju karena cerita di buku terkutuk itu mengarahkannya ke sini.


Sebenarnya letak kelasnya tidak terlalu jauh dari kelas Alice, hanya saja kali ini ia harus menggunakan tangga karena lift yang padat. Wajar, mengingat ini adalah jam istirahat. Alice tak bisa menunggu lebih lama lagi karena jam istirahat yang singkat. Mengambil keputusan untuk menggunakan tangga, di sinilah gadis itu akhirnya berada.


Alice memasuki kelas, ia mengumpat kesal saat tak menemukan seseorang pun di dalam kelas yang tersisa. Tak mau usahanya gagal, gadis cantik itu memutuskan untuk menunggu beberapa menit lagi untuk paling tidak bertemu dengan salah satu siswa di kelas itu. Alice mengerang kesal saat bel akhirnya berbunyi, besertaan dengan para siswa yang bergerombol memasuki kelas. Alice tak punya waktu, mengabaikan pandangan bingung dari masing-masing siswa yang perlahan duduk di tempat mereka, Alice akhirnya berteriak kuat.

__ADS_1


"Tolong katakan padaku siapa ketua kelas kalian!"


Tak ada suara, semua siswa di kelas itu malah tertawa dan menatap Alice dengan pandangan penuh olokan. Bagaimana tidak, seorang gadis yang tak mereka kenal tiba-tiba berteriak di depan kelas mereka. Siapa saja pasti berpikir Alice adalah gadis aneh.


Alice berdecak kesal. Ia menatap pintu, berharap guru memasuki kelas lebih lama sembari berpikir apa yangvharus ia lakukan selanjutnya. Tak kehabisan akal, ia lalu menggunakan status King untuk mempercepat urusannya.


"Ini penting, aku menyampaikan pesan King. Kalian tahu kan? Ketua OSIS di sekolah kita?"


Bibir semua siswa membulat setelah mendengar pernyataan itu. Akhirnya salah satu dari mereka mengangkat tangan. Alice menghela nafas lega.


"Temui King di jam istirahat kedua nanti di perpustakaan. Kau tidak boleh terlambat, dia bilang ini urusan penting. Dia tidak sempat menemuimu, itu sebabnya dia meminta bantuanku."


Seorang remaja pria seusia Alice yang mengaku sebagai ketua kelas itu mengangguk pelan mengiyakan. Ia mengangkat bahunya saat semua temannya memberikan tatapan heran.


Setelah yakin kalau ketua kelas itu akan memenuhi permintaannya, Alice melangkahkan kaki rampingnya keluar. Ia harus pergi sebelum ada guru yang masuk dan menegurnya. Ah, tunggu! Alice harus meyakinkan pria itu untuk benar-benar menemui King yang sebenarnya hanya alasannya saja.


"Ketua kelas, aku mohon jangan terlambat. Bergegaslah ke perpustakaan setelah bel istirahatbkedua berbunyi, kau mengerti?"


Meski dengan kernyitan bingung yang ketara di keningnya, pria tampan berstatus ketua kelas XI IPS3 itu mengangguk pelan. Ia menatap kepergian Alice dengan tatapan penuh pertanyaan.


*******


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕

__ADS_1


__ADS_2