THE WRITERS

THE WRITERS
05 ~ Caitlin


__ADS_3

Alice meletakkan tas kecil yang ia bawa saat kencan dengan King beberapa jam lalu di atas meja belajarnya. Sekolah mereka hanya mengizinkan siswa dan siswinya untuk keluar dari asrama dua kali sebulan, itu sebabnya biasanya Alice memanfaatkan waktu untuk kencan bersama King sekali dan pulang ke rumah orang tuanya sekali. Pun dengan King, pria tampan itu juga melakukan hal yang sama. Beruntungnya, sekolah membebaskan para siswa dan siswinya untuk menggunakan ponsel, hanya saja jika nilai mereka di bawah rata-rata maka ponsel mereka akan ditarik. Jadi meski jarang bertemu dengan sang kekasih, Alice tetap bisa berkomunikasi dengannya. King dan Alice sudah pacaran sejak sekolah menengah pertama, mereka bahkan mengambil keputusan untuk bersekolah di Lachesis bersama-sama.


"Oh, kau sudah pulang?"


Alice hanya mengangguk pelan, ia bahkan enggan menatap wajah gadis yang sedang berbicara padanya itu. Setelah selesai berganti pakaian, ia lalu merapikan kasurnya agar nyaman untuk ditiduri. Alice berbaring dan menarik selimutnya, pandangannya jatuh pada gadis yang tadi mengajaknya berbicara Gadis itu sedang duduk di meja belajarnya seperti yang biasa ia lakukan.


"Kau menulis lagi?" tanya Alice penasaran. Setiap malam, gadis berkacamata itu selalu menghabiskan waktunya dengan buku dan pena. Entah apa yang akan ia dapatkan dari kegiatannya itu.


Gadis itu berbalik, tersenyum cerah pada Alice dan mengangguk pelan.


"Yup, ini hobbyku... akan kujadikan cita-cita juga kalau bisa," ujar gadis itu sambil tertawa, meski bagi Alice tak ada yang lucu.


Alice menatap sekeliling kamarnya, sedikit berusaha mencari pelarian untuk matanya yang tak mengantuk. Kamar ini cukup luas sebenarnya, satu kasur di sudut kiri dan satu di sudut kanan, satu lemari besar yang bisa dipakai untuk dua orang, dua meja belajar yang berdekatan dengan masing-masing kasur, satu televisi kecil yang siarannya sudah diatur sekolah untuk hanya menampilkan berita saja dan satu kamar mandi kecil yang hanya muat untuk dimasuki satu orang saja. Tak terlalu mewah, tapi fasilitas seperti ini tak akan ditemukan di boarding school lain selain Lachesis.


"Kenapa kau suka menulis? Menurutku... tak ada masa depan yang cerah yang terlihat dari sana. Tolong jangan jadikan J. K. Rowling sebagai alasan, kau tahu dia hanya satu dari seribu."


Alice kembali bersuara. Ah, sepertinya tak ada salahnya untuk menghabiskan sedikit waktunya untuk berbincang. Paling tidak ada yang bisa dijadikan hiburan saat ponselnya mati total setelah pulang kenean. Orang yang Alice ajak bicara terlihat tertawa lepas, merasa kalimat Alice berhasil menggelitik telinganya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Aku tidak senaif itu untuk bermimpi kalau suatu saat aku akan sejajar dengan J, K. Rowling. Hanya saja... aku berbeda dari kalian. Bagi kalian, dunia nyata adalah apa yang sekarang sedang kalian alami, sekolah, berteman, pacaran dan lainnya. Tapi bagiku... dunia nyataku adalah apa yang aku tulis, sesuatu yang aku karang, di mana aku bisa bahagia. berteman dan menjalani kehidupan normal lainnya. Di mana waktu refreshing yang ku dapatkan dua kali sebulan bisa aku gunakan untuk pergi berkencan atau pulang pada keluarga. Di sini mustahil bagiku untuk merasakannya, itu sebabnya aku selalu menganggapnya mimpi. Gila ya?"


Gadis itu tertawa renyah. Alice tak bersuara. Ia hanya menatap punggung mungil orang yang selama ini selalu mendapatkan penderitaan itu.


"Tapi kau bisa bayangkan tidak jika suatu hari apa yang aku tulis benar-benar terjadi padaku di dunia nyata? Atau aku akan mendapatkan kesempatan untuk menjadikan cerita yang ku tulis untuk menjadi nyata? Kalau bisa maka aku akan balas dendam pada mereka yang jahat padaku. Bukankah itu terdengar menyenangkan?"


"Sebenarnya daripada menyenangkan, itu lebih terdengar menakutkan. Lagi pula itu mustahil kan?" sahut Alice. Entah kenapa perasaan tak nyaman timbul di hatinya.


Gadis itu kembali tertawa mendengar jawaban Alice, ia kembali menggoreskan tinta penanya di atas lembaran buku.


"Tidak mustahil kalau aku menjual jiwaku..." gumam gadis itu.


"Ah, tidak. Lupakan saja... kan tidurlah. Ini sudah larut."


Alice mengangkat bahunya dan berusaha mencari posisi paling nyaman untuk memejamkan mata.


"Kau juga... jangan tidur terlalu larut, Caitlin."

__ADS_1


*******


Alice menatap kosong langit-langit kamarnya saat ingatannya jatuh pada Caitlin. Barang-barang hingga pakaian Caitlin masih ada. Karena hidup sebatang kara, akhirnya tidak ada orang yang membenahi dan megambil barang gadis itu. Pihak sekolah bilang kalau merasa terganggu Alice bisa mengemasinya dan membuangnya atau menyumbangkannya. Tapi sampai sekarang, Alice masih belum melakukan apapun pada barang-barang gadis itu. Buku-bukunya masih tersusun rapi di meja belajar, pakaiannya juga masih menggantung apik dalam lemari. Alice biasanya tidak peduli, namun kali ini rasa penasaran terus menghantuinya.


Bangkit dari tidurnya, Alice bergerak menghampiri meja belajar Caitlin. Ia memegang susunan buku yang ada di sana. Alice menghela nafas, mengutuk dirinya sendiri yang sudah mulai merasa gila. Merasa tak ada yang aneh di meja belajar Caitlin, Alice akhirnya kembali melangkah ke kasurnya. Namun pandangan gadis itu tiba-tiba tertuju pada tas sekolahnya, tempat di mana buku yang seingatnya sudah ia bakar kemarin malam tersimpan, ia pikir kemarin buku itu akan hangus tak bersisa tapi pada kenyataannya buku itu malah masih utuh dan tak ada cacat sedikitpun. Ia sampai berdebat dengan King, kekasihnya siang tadi. Tapi King bilang itu mungkin hanya mimpi Alice saja. Dan memang benar, saat mereka pergi ke pohon beringin besar di depan asramanya, tidak ada sisa-sisa bekas bakaran di bawah pohon itu. Rumputnya bahkan masih hijau. Alice sangat bingung sekarang, karena ketakutannya ia bahkan tak tahu mana yang mimpi dan mana yang kenyataan. King meminta Alice untuk membakar buku itu saja dan Alice menyetujuinya. Tapi sampai sekarang, gadis itu masih belum menyentuh buku itu setelah pulang dari sekolah.


Alice menarik nafas dalam. Ini semua terlalu nyata untuk dikatakan sebagai halusinasi, ini juga terlalu aneh untuk dikatakan sebagai kebetulan. Mengesampingkan rasa takutnya, Alice berjalan cepat mengambil buku itu. Meletakkannya di meja belajar. Alice menyalakan lampu belajarnya dan membuka buku itu.


"Kematian Ketiga... Keempat... Kelima...." Alice terus membolak-balik buku itu hingga halaman terakhir.


"Kematian keempat puluh empat...." gumam Alice pelan saat halaman terakhir sudah ia buka. Judul setiap halaman untuk setiap cerita sama, hanya urutan saja yang membedakan.


"Apa ini artinya akan ada 44 korban? Itu artinya ada 42 korban lagi yang akan mati," monolog Alice. Ia lalu mengambil pena serta buku kosong miliknya dan mencatat poin-poin penting yang ada dalam buku itu. Ia mencatat beruntut siapa yang akan mati, meski tidak ada nama di sana, paling tidak ada petunjuk tentang apa yang mereka lakukan pada Caitlin. Ia juga mencatat tanggal, jam, dan penyebab mereka terbunuh. Alice menyadari tanggal kejadiannya beruntut, dimulai dari kematian Angel di tanggal 2 Januari 2022. Itu artinya, besok kematian ketiga itu akan terjadi.


"Siapapun kau dan apapun yang sedang kau lakukan sekarang, aku tidak akan duduk dan diam saja menonton pertunjukanmu. Aku akan menghentikan semuanya!"


*******

__ADS_1


Tinggalkan  like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕


__ADS_2