
Pikiran Rein tak bisa fokus. Mulai dari bel istirahat kedua berakhir sampai sekarang bel pulang sudah berbunyi, remaja tampan itu masih melamun di tempat duduknya, memikirkan soal kematian yang kata Alice akan terjadi siang ini.
"Hei Ketua! Kau berniat tidur di kelas ini?""
Rein tersentak saat bahunya ditepuk pelan oleh salah satu teman sekelasnya, Ariel, yang terlihat masih berada dalam kelas bersama teman karibnya Fajar. Mereka tampak tertawa saat Rein tersentak dari lamumannya. Rein berdecak kesal.
"Pulanglah duluan, aku masih ada sedikit urusan."
Ariel menatap Fajar seolah bertanya tentang sikap Rein yang membingungkan, tapi bukannya jawaban, ia malah menerima gelengan pelan dari temannya itu. Mengangkat kedua bahunya, Ariel kemudian memberi isyarat pada Fajar agar pulang saja dan membiarkan Rein menyelesaikan urusannya.
*******
"Baru jadi ketua kelas saja gayanya sudah solangit, sial!" ujar Ariel kesal.
Fajar hanya menghela nafas saat lagi-lagi Ariel, teman karilinya terdengar mengeluh soal Rem Sebenarnya Fajar sudah tahu sejak lama tentang Ariel yang mudah iri dan mudah percaya pada cerita-cerita buruk yang sejatinya banyak tersebar di sekolah. Termasuk soal Rein yang menurut Fajar merupakan saingan terberat temannya itu, baik dalam segi akademik dan non akademik. Hal itu yang membuat Ariel sering berbicara buruk tentang ketua kelas mereka itu. Hanya saja, sikap Ariel itu tidak pernah merugikannya, dan lagi temannya itu juga selalu memperlakukannya dengan baik, jadi Fajar lebih memilih diam dan mengabaikan sikap buruknya, atau hanya menanggapinya sesekali.
"Eh, Ariel... bisa bantu ibu?"
Seorang wanita paruh baya yang merupakan guru biologi di Lachesis menghentikan langkah dua remaja tampan itu.
"Oh, tentu saja bu. Ada apa?" tanya Ariel ramah dengan senyum lebar di bibirnya. Fajar hanya menatap datar temannya itu, ia lah yang paling tahu bahwa Ariel sedang sangat kesal sekarang. Namun pria itu terpaksa menelannya agar nama baiknya di antara para guru tetap terjaga. Ciri khas siswa Lachesis.
"Siswa ibu baru saja praktek. Ada beberapa benda tajam yang harus dikembalikan ke gudang. Sebenarnya ibu sudah minta bantuan pada petugas kebersihan sekolah, tapi sepertinya dia sibuk karna sampai sekarang dia behun juga datang, Kebetulan kalian lewat, bisa tolong ibu sebentar? Ibu masih harus membereskan beberapa barang"
__ADS_1
"Ah, baik bu. Tak masalah," jawab Ariel.
Wanita paruh baya yang merupakan guru biologi itu kemudian mengambil baki berisi benda tajam berupa beberapa pisau dan gunting, lalu menyerahkannya pada Ariel, Ariel menyambutnya dengan senang hati, setidaknya sampai beberapa langkah melewati ruang laboratorium itu. Karena setelah itu, senyum Ariel langsung menghilang.
"Ini! Kau saja yang bawa!" Ariel menyerahkan baki yang ada di tangannya pada Fajar.
"Hari ini sepertinya hari sial untukku. Berurusan dengan ketua kelas menjijikkan dan sekarang diperintah oleh Guru yang bahkan tak mengajar di kelasku. Aku heran kenapa dia sering memintaku membawakan peralatannya ke gudang. Apa dia tidak punya siswa di kelasnya yang bisa dimintai bantuan? Atau dia menganggap siswa yang tidak dia ajar seperti kita sebagai babu? Tanganku rasanya gatal îngin memukul sesuatu," sambung Ariel. Fajar hanya memutar matanya malas. Ia hanya diam dan mendengarkan keluh kesah teman karibnya itu, tak berniat menanggapinya sama sekali. Dua remaja itu melanjutkan langkah mereka memiju lift untuk turun ke lantai bawah menuju gudang sebelum akhirnya pulang ke asrama.
*******
Rein menarik nafas panjang la berdecak kesal kemudian saat sadar waktunya habis hanya untuk memikirkan cerita tak masuk akal yang disampaikan oleh Alice. Dengan cepat remaja berusia 17 tahun itu memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas.
Pandangan Rein jatuh pada jam dinding kelas yang sudah menunjukkan pukul 13.27. Rein tersentak saat ingatannya jatuh pada cerita yang ia baca beberapa jam lalu dari buku aneh yang Alice temukan. Ia merasa tak nyaman saat mengingat bahwa Fajar dan Ariel, teman sekelasnya, pulang lebih lambat dari siswa lainnya, persis seperti yang diceritakan Mengikuti instingnya, pria itu kemudian berlari cepat keluar kelas.
Nalas Rein tersengal begitu sampai di depan lift. Ia lalu memencet tombol lift berkali-kah. Dahinya mengernyit saat pintu lift tak kunjung terbuka. Jantung Rein kemudian berdetak cepat saat sadar bahwa lift yang biasa digunakan oleh para siswa termasuk dirinya itu sedang rusak. Lagi-lagi ingatan Rein jatuh pada cerita 'Kematian Ketiga' itu.
"Sial!" umpat Rein, la benar-benar akan menyesal seumur hidupnya jika apa yang dikatakan Alice tentang buku terkutuk itu memang benar-benar terjadi di dunia nyata. Ia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya jika itu benar-benar terjadi. Melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 13-28, Rein sadar masih ada kesempatan dan waktu untuk bisa menyelamatkan Ariel dan Fajar. yang entah siapa di antara mereka yang merupakan korban kematian ketiga itu. Mengerahkan seluruh tenaganya, Rein lalu berlari menuju tangga, berusaha menyusul dua orang teman sekelasnya itu.
Satu persatu anak tangga Rein jejald. Waktu seolah berjalan sangat cepat tiap detiknya. Waktu adalah pedang, untuk pertama kalinya Rein merasa bahwa pribahasa yang ia anggap tidak bermakna itu benar-benar terjadi dalam hidupnya. Hanya saja kali ini kalimat itu bukanlah sekedar pribahasa, melainkan kenyataan. Waktu itu akan benar-benar jadi pedang jika Rein tak bisa mengejarnya.
Rein bernafas lega saat akhirnya matanya mendapati eksistensi kedua teman sekelasnya yang berusaha ta. susul, Ariel dan Fajar. Sayangnya, baru saja pria itu berniat menegur mereka, dengan mata kepalanya sendiri Rein menyaksikan dengan jelas bagaimana seorang Ariel tergelincir saat menginjak salah satu anak tangga.
Ariel jatuh tak sadarkan diri, tergeletak pingsan setelah menghantam puluhan anak tangga. Kepalanya terlihat berdarah, mengalir deras mengotori lantai.
__ADS_1
Selama beberapa detik Rein terpaku di tempatnya, ia tak bisa bergerak, jantungnya berdetak cepat, seluruh badannya merinding ketakutan, dan wajahnya …... berubah pucat.
Rein sontak berlari cepat menghampiri Fajar saat
melihat pria yang merupakan teman karib Ariel itu berniat melangkah menyelamatkan Ariel Rein tak bisa membiarkan hal itu terjadi, karena ia lah yang paling tahu apa yang akan terjadi berikutnya jika Fajar melangkahkan kaki dari tempatnya.
Brug
Fajar terjatuh saat kerah belakangnya ditarik kuat oleh Rein, begitupun dengan Rein yang menariknya, juga ikut terduduk di salah satu anak tangga. Nafas pria itu terdengar sesak, berkali-kali ia menarik nafas mengais udara. Ia memejamkan matanya erat. bersyukur saat. baki yang Fajar bawa mendarat di bawah kaki mereka Meski beberapa pisau dan gunting terlihat keluar dari tempatnya, setidaknya barang-barang berbahaya itu tak berakhir menghilangkan nyawa seseorang, seperti yang Rein perkirakan.
"Kau tak apa? Maaf, tapi tangga yang akan kau injak terlihat licin. Sepertinya ada air yang humpah di sekitar sana," ucap Rein memberikan Alasan atas perbuatannya. Fajar hanya mengangguk gugup
"A-apa yang terjadi? Ya Tahan Ariel? Kenapa kalian diam saja? Selamatkan dia!"
Pandangan kein jatuh pada bu guru biologi yang tadi masih berada di laboratorium Wanita paruh baya itu tampak khawatir. Ia lalu melangkah cepat memuruni anak tangga, berniat menyelamatkan Ariel yang notabenenya juga merupakan muridnya.
Rein hanya bisa berteriak saat ia menyaksikan bagaimana guru biologi itu tergelincir dan berakhir memegang pinggiran tangga. Hal yang paling membuat Rein bergetar ketakutan adalah saat ia sadar bahwa guru itu ternyata juga membawa bali berisi benda tajam yang sama seperti yang Fajar bawa dan benda-benda itu berakhir menancap di leher dan perut Ariel, sama persis seperti cerita yang ia baca.
Telinga Rein rasanya berubah tuli, ia tak lagi mendengar jeritan gurunya atau Fajar yang menangisi keadaan temannya. Matanya yang membulat kemudian bertemu tatap dengan sepasang mata Hazel milik seorang gadis yang sejatinya membuat ia berakhir terlibat dalam kejadian ini.
"R-Rein….. aku pagal lagi. Maafkan aku, hiks maaf,”
*******
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕