
"Kenapa tertawa? Apa bagimu ini terdengar lucu?"
Rein, remaja pria yang menyandang status sebagai ketua kelas XI IPS3 itu kembali tertawa keras. Ia bahkan memegang perutnya yang sakit akibat tawanya yang tak berhenti sejak beberapa menit lalu. Bagaimana tidak, siapapun pasti akan merasa bahwa Alice sedang menyampaikan lelucon gila. Buku terkutuk, kematian Caitlin, lalu dengan enteng dan percaya dirinya gadis cantik yang sayangnya menurut Rein suka berhalusinasi itu mengatakan bahwa salah satu teman sekelasnya akan ada yang mali siang ini Apa Alice pikir Rein akan percaya semudah itu?
"Kau harus percaya padaku! Ini soal hidup dan mati sialan!" umpat Alice kesal saat Rein terlihat menganggap remeh perkataannya. Si ketua kelas yang diajak bicara tampak menghela nafas panjang
"Kau bahkan berbohong soal ketua OSIS yang memanggilku untuk urusan penting, dan kau memintaku mempercayai perkataanmu? Konyol sekali," Rein terkekeh kecil di penghujung kalimat. La baru mengetahui fakta bahwa Alice adalah pacar King, si ketua OSIS. Padahal ia berniat melaporkan gadis ini karena berbohong mengatasnamakan pria itu. Tapi mengingat statusnya, pasti itu akan sia-sia. Hanya saja, rasanya tetap menyebalkan ditipu seseorang hanya untuk mendengarkan cerita tak masuk akalnya soal buku terkutuk berjudul The Writers yang katanya ditulis oleh korban bully yang bunuh diri yang katanya juga menceritakan tentang kematian orang-orang yang dulunya jadi pelaku pembullyan itu. Bukankah hal seperti itu hanya terjadi dalam drama saja?? Bagaimana bisa Rein mempercayainya?
"Aku punya alasan untuk itu,"
"Kalau begitu jelaskan alasannya?"
"Kenapa sulit sekali membuatmu mengerti? Salah satu temanmu akan mati Rein, mati! Kau tak paham juga?"
Baiklah, Rein mulai kesal sekarang, ia lalu berdiri dari kursinya dan melangkahkan kakinya. Rasanya ia sudah cukup baik mau mendengarkan celoteh gila dari Alice, Kalau ia mendengarkannya lebih jauh lagi, maka akan dipastikan bahwa ia juga akan ikut gila.
Alice kembali mengumpat kesal saat Rein terlihat mengabaikannya. Tapi ia tak putus asa, ia berlari mengejar Rein dan menarik kuat lengan pria itu.
__ADS_1
"Aku mohon bantu aku Rein, aku tak bisa melakukannya sendiri kali ini karena korbannya beda kelas denganku. Pa-paling tidak bacalah cerita Kematian Ketiga itu, aku membawa bukunya. Aku akan tunjukkan padamu. Meski kau tidak tahu siapa yang akan menjadi korbannya kali ini, paling tidak kau bisa memperhatikan situasi dan bisa menyelamatkannya. Sementara aku akan berusaha menuju kelasmu secepat mungkin setelah bel pulang berbunyi."
Rein sebenarnya berniat menolak permintaan itu, tapi melihat pandangan memelas yang diberikan Alice, ia akhirnya luluh. Yah, tak ada salahnya juga mengikuti permainannya.
Mengangguk pelan, Rein dan Alice akhirnya kembali duduk di kursi mereka yang tadi. Alice terlihat mengeluarkan dan memberi sebuah buku pada Rein Rein mengernyit saat melihat buku yang entah kenapa menurutnya terlihat suram itu. Ia lalu memegangnya secara perlahan.
"The Writers?"
Alice mengangguk pelan saat Rein melihatnya dengan tatapan bertanya.
"Aku juga tidak paham apa maksudnya "
Rein mengangkat kedua bahunya dan melakukan apa yang Alice perintahkan. Perasaannya berubah tak enak setelah menyentuh buku itu. Beberapa bagiannya tampak keriting, menandakan bahwa buku ini sempat basah dan kemudian mengering. Rein mulai memusatkan pikirannya pada buku itu setelah sampai di halaman ke-empat, ia lalu membacanya perlahan.
KEMATIAN KETIGA
Aku tidak mengenalnya. Aku juga baru bertemu sekali dengannya. Aku tidak tahu alasan kenapa ia membenciku dan menatap tidak suka padaku.
__ADS_1
Waktu itu, aku diminta salah satu guru untuk membawakan tasnya menuju kelas XI IPS, kelas yang akan ia ajar berikutnya setelah kelasku. Karena lift yang entah kenapa tiba-tiba rusak, kami akhirnya menaiki tangga karena kelas yang kami tuju ada di lantai tiga.
Aku bertemu dengannya di sana, dia meminta izin kepada guru yang ku bawakan tasny mengatakan bahwa ia akan sedikit terlambat memasuki kelas karena guru biologi yang kebetulan laboratoriumnya ada di samping kelasnya meminta bantuannya untuk membawakan beberapa benda tajam yang digunakan untuk praktek. Setelah mendapatkan izin, ia berlalu dari hadapanku, aku masih ingat dengan jelas tatapan tidak suka yang ia tujukan padaku.
Setelah meletakkan tas guruku, aku lalu parit untuk kembali ke kelasku. Aku kembali berpapasan dengannya di tangga, yang tak ku sangka dia dengan sengaja menjulurkan kakinya padaku hingga aku jatuh. Sakit, rasanya sangat sakit. Aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas saat itu, kepalaku pusing dan berdarah, badanku rasanya remik. Tapi bukannya permintaan maaf, aku malah mendapatkan suara tawa keras darinya.
Hari ini akhirnya pembalasan dendamku tiba. Siang itu pada 4 Januari 2022, kejadian yang hampir sama kembali terulang. Beberapa saat setelah bel pulang berbunyi, guru biologi yang baru saja selesai melakukan kelasnya kembali meminta bantuannya untuk membawakan beberapa benda tajam. la tersenyum dan mengangguk mengiyakan perintah guru itu awalnya, namun setelah beberapa langkah berlalu dari laboratorium itu, ia mengumpat kesal dan memberikan baki berisi benda tajam itu pada temannya. Temannya itu hanya menghela nafas.
la semakin kesal saat lift ternyata mengalami kerusakan la dan temannya akhirnya menuruni tangga. Mereka berbincang santai, tak sadar bahwa air minum salah satu siswa tumpah di salah satu anak tangga, mengakibatkannya menjadi licin. Saat kaki mereka menginjak anak tangga itu, si tampan yang dulu menatapku seperti binatang menjijikkan itu kehilangan keseimbangannya. Ia terjatuh, terguling membentur puluhan anak tangga. Temannya yang panik berusaha menyelamatkannya, sayangnya, ia juga ikut tergelincir. Berusaha menjaga keseimbangan. dengan mendaratkan tangannya di pegangan tangga. temannya itu kemudian melemparkan baki berisi benda tajam yang dititipkan oleh guru biologi tadi.
Malang sekali nasib pria yang pernah tertawa di atas rasa sakitka itu. Benda tajam berupa pisau dan gunting yang ada dalam baki terlempar dan mendarat dengan indah, tertancap di perut dan lehernya. Darah mengalir deras mengotori lantai. Temannya bergetar ketakutan, tak berani mendekatinya. Ah, andaikan dulu si tampan memberikanku tatapan yang sama yang diberikan temannya itu padanya, aku pasti memaafkannya.
Siang itu, tepat pukul 13.30 ia kehilangan nyawanya. Selamat bergabung dengan dua wanita cantik yang lebih dulu mati sebelum dirimu, tampan. Semoga kalian mendapat tempat terindah di neraka.
Rein memitup buku itu dengan cepat. Jantungnya berdetak keras dan menatap dalam pada Alice. Perasaannya semakin tak nyaman setelah membaca cerita itu. Tak perduli pada teriakan Alice yang berkali-kali memanggil namanya, Rein melangkahkan kakinya cepat menuju kelas.
"Sial!" ujar Alice berang saat bel masuk berbunyi. Ia meremat tangannya kuat Sekarang, ia hanya bisa berdoa agar Rein bisa menyelamatkan korban kematian ketiga itu setelah membaca kisahnya dengan jelas. Alice hanya bisa berharap.
__ADS_1
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕