
"A- apa yang terjadi?"
Alice terpaku saat ingatannya jatuh pada cerita di halaman ketiga yang ia baca tadi malam.
KEMATIAN KEDUA
Pagi itu, di tanggal 3 Januari 2022, tepat pukul 9.40, dia menyandarkan kepalanya di atas dua lengannya yang terlipat di atas meja. Dia terlihat sangat ketakutan. Sebenarnya setelah kematianku, rasa takut terus menghantuinya. Namun ia selalu berusaha menepisnya dengan menghabiskan waktu tertawa dan bercanda dengan sahabatnya, orang yang pernah menyiramkan es padaku. Ya, mereka bersahabat. Sangat dekat hingga perlakuan, sikap dan keangkuhan mereka berdua padaku pun hampir sama. Siswi itu pernah membullyku dengan mengikat tasku di kipas angin lalu sengaja menyalakannya hingga buku-bukuku terlempar bahkan ada yang koyak. Akibatnya aku harus menyalin ulang catatanku, menghabiskan uang tabunganku untuk mengganti rugi buku perpustakaan yang rusak karena perlakuannya. Aku berusaha meminta pertanggung jawabannya tapi ia tak peduli sama sekali, seolah yang ia lakukan padaku bukanlah apa-apa.
Hari ini, aku sangat menyukai wajah takutnya. Mungkin ia bisa merasakan waktu kematiannya yang semakin dekat setelah kemarin sahabat terkasihnya telah meninggalkannya lebih dulu. Ia berusaha menghindari apa pun yang bisa membuatnya dalam bahaya, sangkin takutnya ia bahkan tak melangkah keluar saat bel istirahat berbunyi.
Pagi itu cuaca sangat cerah namun akibat AC di kelas rusak, ia dan beberapa siswi yang masih tinggal di kelas untuk mengerjakan tugas merasa gerah. Para siswi itu memintanya untuk menyalakan kipas angin mengingat ia sedang tidak melakukan apa-apa, kebalikan dari mereka yang sibuk dengan pelajaran. Gadis itu langsung berdiri dari tempat duduknya karena ia juga sama gerahnya. Si cantik itu tidak tahu, atap kelas mereka ada yang bocor, air hujan yang turun pukul lima pagi tadi mengalir membasahi kabel-kabel yang ada di kolong atap, salah satunya kabel kipas angin. Tepat setelah ia menyalakan kipas angin itu, percikan api terlihat, kipas lalu berputar sangat kencang. Siswi lain berlindung di bawah meja, meneriakinya untuk ikut berlindung juga. Bodohnya, dia yang sedang berdiri malah menatap ke atas melihat apa yang terjadi. Gadis malang... kipas itu lepas dari tempatnya dan melayang cepat ke arahnya. Daging lehernya terkoyak hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya. Tubuhnya masih menggelepar bak ikan yang terlalu lama di daratan. Kepalanya yang jatuh berdekatan dengan daun kipas menimjukkan wajah ketakutan, mata terbelalak dan bibir menganga, ekspresi terakhir yang ia tunjukkan didetik-detik menuju kematian. Darahnya mengotori lantai, percikannya bahkan terlempar mengenai meja siswa. Hari itu pukul 9.46 dia kehilangan nyawanya, hanya berjarak 24 jam dari teman baiknya. Sungguh manis sekali kisah persahabatan mereka. Selamat tinggal cantik, semoga kau dan sahabatmu menghabiskan waktu bersama dengan bahagia di neraka.
Kaki Alice bergetar, ia jatuh terduduk saat dirasa terlalu lemah untuknya berdiri.
"AC sedang rusak, karna kami merasa kepanasan kami meminta Nayla untuk menyalakan kipas angin. Ka- kami tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba kipasnya memercikkan api dan berputar sangat kencang hingga terlepas dari tempatnya. Kami berlindung di bawah meja tapi Nayla di- dia... kami sudah minta satpam untuk memanggil ambulance, guru sedang rapat jadi ... kami tidak tahu harus apa. I- ini tasmu. Kau beruntung tasmu tidak terkena percikan darah karna tersimpan di dalam laci meja. Kami..."
Telinga Alice berdengung kuat, tak lagi mendengar penjelasan teman sekelasnya tentang apa yang terjadi pada Nayla, yang ada di pikiran Alice hanya perkataan Nayla padanya malam tadi dan cerita yang ia baca yang lagi-lagi terjadi di dunia nyata. Pandangan Alice seketika berubah gelap, hal terakhir yang ia lihat hanya King yang memanggil namanya.
__ADS_1
*******
Alice merasa Dejavu saat sadar dari pingsannya. Ia bangkit dari baringnya, mendesis pelan karena kepalanya yang terasa sakit akibat tersentak dari tidurnya.
la lalu menatap sekeliling, hal terakhir yang ia ingat adalah King yang memanggil namanya khawatir. Pandangan Alice beralih pada pintu UKS saat ada seseorang yang masuk ke dalam, ia menghela napas saat orang itu ternyata adalah sang kekasih dengan sebotol minuman dingin di tangannya.
"Aku berusaha mencari botol air minuun yang biasa kau bawa tapi sepertinya hari ini kau lupa membawanya jadi aku pergi membeli minum sebentar."
Alice tidak berbicara, tak juga memeluk sang kekasih erat seperti kemarin, meski rasa takut terus menghantui dirinya dan kian parah kian detiknya.
King berdecak saat minuman yang ia ulurkan tidak disambut oleh Alice. Ia lalu menarik kursi di samping ranjang untuk diduduki.
Alice terdiam, tatapan tajam ia berikan pada King,
"Gila? Kau bilang ini hal gila? Kau tidak tahu rasanya jadi aku King! Aku melihat kematian Angel, demi Tuhan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri tepat setelah aku membaca cerita di buku terkutuk itu!"
"Alice..."
__ADS_1
"Aku berusaha mempercayaimu King. Aku berpikir... aku mengatakan pada diriku sendiri. Ayolah Alice! apa yang King katakan pasti benar. Semua hanya pemikiranmu saja. Apa yang terjadi pada Angel dan apa yang dikatakan di buku itu, meskipun sama tapi itu pasti hanya kebetulan saja. Tapi tidak King. Itu bukan hanya pemikiranku saja! Itu juga bukan hanya kebetulan! Itu nyata! Semuanya nyata. Tanggal kematiannya, jamnya, hal-hal yang terjadi pada Angel, semuanya benar!"
"Oke cukup! "
"Belum, aku belum selesai. Aku tidak bisa hidup dalam ketakutan terus menerus jadi aku bertanya pada Nayla tadi malam, dan lagi-lagi apa yang dikatakan di buku itu benar. Dan kau tahu apa yang paling gila? Aku membaca buku itu lagi, aku membuka halaman ketiga dan yang diceritakan di sana benar-benar terjadi pada Nayla. Dia... hiks... dia mati King, persis seperti apa yang dikatakan di buku itu. Nayla bilang dia takut tapi aku mengabaikannya. Aku... hiks... aku takut King. Kau tidak paham...."
Alice terisak. Tubuhnya selalu bergetar ketakutan setiap kali mengingat buku yang ia temukan di makan Caitlin itu dan apa saja yang terjadi setelahnya. Rahang King mengeras melihat hal itu. Dengan kesal ia meraih tas Alice dan mengeluarkan buku-bukunya. Saat matanya menemukan buku yang Alice tunjukkan padanya kemarin, ia langsung mengambilnya.
"Ini kan? Ini yang membuatmu takut? Lihat! Buku ini
sekarang akan aku hancurkan. Aku akan mengoyak setiap lembarnya menjadi potongan kecil hingga satu kata pun tak bisa lagi kau baca. Tingkahmu jadi aneh setelah menemukan buku ini Alice! Kau gila!"
King baru saja berniat merobek buku itu di hadapan Alice namun pergerakannya terhenti saat Alice menahan tangannya. King mengernyit saat Alice menatap dirinya seolah ia sedang menatap makhluk yang sangat menakutkan. Matanya berair, tangannya bergetar dan basah karna keringat dingin serta wajahnya... berubah pucat.
"King... buku itu, a- aku sudah membakarnya di depan asrama malam tadi."
*******
__ADS_1
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕