Time Master

Time Master
Ch. 1 : Pria Asing


__ADS_3

Besok ada ulangan Matematika. Hari ini Deva tidur lebih awal dari biasanya. Dia berniat bangun dini hari nanti untuk belajar. Tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Ini sudah menjadi kebiasaannya dari dulu jika ada ulangan atau ujian. Entah kenapa rasanya pelajaran yang telah Dia pelajari akan lebih mudah hilang kalau Dia tidur. Jika Dia belajar saat dini hari dan tidak tidur setelahnya pasti pelajaran tadi akan tetap segar hingga waktu ujian tiba, begitu pikirnya.


Saat ini jam 8 malam, Deva bersiap-siap untuk tidur. Alarm sudah terpasang untuk jam 3 pagi besok. Malam itu hujan turun dengan cukup deras. Suara monoton rintik hujan sangat nyaman di telinganya. Sepertinya malam ini Dia bisa tidur dengan nyenyak. Dia sempat berfikir suara alarm nanti tidak akan cukup kuat untuk membangunkannya. Namun seharusnya dia tidak perlu khawatir karna dia sudah menyetel banyak alarm untuk besok di Handphonenya.


Hari pun berganti, hujan pun telah berhenti. Alarm berbunyi, namun tidak berlangsung lama karna Deva langsung mematikannya. Dia langsung berdiri dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya. Deva berjalan ke dapur untuk cuci muka sekaligus membuat sarapan untuk menemaninya saat belajar.


Waktu berlalu dengan cepat, Deva merasa salah perhitungan karna materi yang dipelajarinya belum dipahami seluruhnya. Seharusnya dia menyetel alarm Jam 2 dini hari, agar bisa lebih memahami materi yang akan diujikan nanti.


Sekarang Deva bersiap berangkat sekolah. Cuaca di luar sedikit mendung saat Dia mulai mengendarai motornya menuju sekolah. Jarak sekolah agak jauh dari rumahnya. Dengan kecepatan normal memerlukan waktu tempuh setidaknya 20 menit.


Di tengah perjalanan hujan mulai turun dengan deras. Deva berteduh di halte terdekat. Dia berfikir hari ini tidak akan turun hujan karna perkiraan cuaca hari ini cukup cerah. Seharusnya tadi Dia sudah tau akan hujan saat melihat langit yang mendung. Namun karna lebih mempercayai ramalan cuaca dia malah terjebak di tengah perjalanan karna hujan.


Saat tiba di halte terdekat Deva sedikit terkejut. Disana telah duduk seorang pria paruh baya yang sepertinya bukan orang indonesia. Dia terlihat seperti orang barat.

__ADS_1


Deva mendekat ke orang barat tersebut, mencoba berbicara dengannya. Walaupun nilai bahasa inggrisnya di sekolah tidak bisa dibilang baik, Deva yakin bisa memahami beberapa kata yang akan diucapkan orang barat tersebut. Ini kesempatan baik untuk bisa berbicara secara langsung dengan orang asing. Tidak mudah menemukan orang asing di halte saat hujan sedang turun begini bukan?


"Good morning, Sir. What are you doing here?" Deva memulai percakapan.


Namun orang asing tersebut hanya menatap Deva sekilas, sebelum mengalihkan pandangannya ke ujung jalan. Ekspresi orang asing tersebut datar, dia terlihat tidak mau diajak bicara. Deva hanya bisa tersenyum kecut karna diabaikan.


"Aah, aku menyesal tadi tidak membawa jas hujan, seharusnya tadi aku tidak mendengarkan ramalan cuaca." Deva mengeluh sambil menyeka wajahnya yang basah karna hujan.


Deva hanya bergumam pelan, namun orang asing disampingnya bagai tersambar petir ditelinga. Dia menatap Deva dengan tatapan tidak percaya.


Sekarang Deva yang tersambar petir ditelinganya. Orang asing tersebut bisa berbahasa Indonesia! Tidak hanya bisa, tapi juga fasih. Deva mulai berpikir sepertinya orang disampingnya sekarang merupakan orang Indonesia berdarah campuran, bukan orang barat asli.


"Pengguna Totem?" Deva mengangkat alisnya. Apa maksudnya pengguna Totem? Sejenis istilah game online kah?

__ADS_1


"Haha, sepertinya bukan. Akhirnya! Hari ini tiba!"


Deva terkejut, sekarang orang asing disampingnya terlihat seperti orang gila. Dia tertawa sangat keras, membuat deva menjaga jarak dengannya.


"Hei, Nak. Ambil ini! Totem ini telah memilihmu."


Pria itu memberikan sebuah manik seukuran telunjuk tangan. Manik tersebut berupa hiasan batu mulia berwarna hijau terang. Bentuknya pipih dan oval. Hiasan tersebut begitu indah dan terlihat mahal. Bukan sesuatu yang bisa diberikan pada orang asing dengan cuma-cuma.


"Maaf, Om. Ini batu akik untuk saya? kalo dijual kayaknya mahal lho om. Om yakin?"


Pria itu tersenyum lebar sambil menepuk pundak Deva.


"Pokoknya Totem ini untuk kamu. Gunakan dengan bijak. Lakukan semua misi dengan baik."

__ADS_1


Setelah berkata demikian pria asing tersebut berlari menerobos hujan yang deras. Dia tertawa sambil berkata, "Bebas! Aku bebas!"


Deva hanya bisa memandangi punggung pria tersebut sampai cukup jauh. Saat ini Deva merasa senang sekaligus ketakutan. Orang tadi benar benar aneh. Namun disamping itu dia mendapatkan sebuah perhiasan yang cukup indah dari pria tersebut. Deva memasukan 'Totem' tadi kedalam tas.


__ADS_2