
Deva yang baru saja terbangun dari pengulangan sebelumnya terus mendengar suara suara aneh berdengung di kepalanya. Deva khawatir dia sudah mulai gila.
Sekarang pukul 9 malam lebih sedikit. Suara itu menyuruh Deva untuk membangunkan temannya. Tapi siapa? Dan kenapa?
Deva kemudian memutuskan untuk pergi ke rumah sahabat terdekatnya, Genta. Sebelumnya Deva memang cukup sering menginap di rumah Genta, baik untuk mengerjakan tugas bersama maupun untuk sekadar bermain sampai larut malam. Namun selama pengulangan Deva belum pernah mampir ke rumah sahabatnya itu karena beberapa faktor, seperti karena saat itu hujan deras serta besoknya juga ada ujian. Akan aneh rasanya jika Deva tiba tiba ingin menginap di rumah Genta.
Setelah beberapa menit menempuh hujan yang cukup deras Deva akhirnya sampai di rumah Genta. Suara suara tadi masih terdengar berbisik dalam kepala Deva. Dengan tergesa gesa Deva mengetuk pintu rumah Genta. Namun pintu tak kunjung dibuka. Rumah tersebut tampak seperti tak berpenghuni.
Kemudian Deva berjalan ke samping rumah. Tampak jendela kamar Genta bercahaya, tanda lampu kamarnya masih menyala. Deva mengetuk jendela kamar tersebut dengan keras, namun suara hujan nampaknya mampu meredam suara ketukan Deva.
Kesabaran Deva pun habis. Saat Deva berniat memecahkan kaca jendela tersebut dengan batu yang cukup besar tiba tiba tirai jendela terbuka dengan lebar, memperlihatkan wajah kantuk Genta dengan matanya yang memerah. Dia terlihat seperti baru bangun tidur.
"Deva! Ngapain lu di luar?"
"Akhirnya! Buka pintunya dulu! Di luar dingin."
Genta pun membuka pintu rumahnya. Setelah Genta bangun Deva tidak lagi mendengar suara suara aneh di kepalanya.
"Ngapain lu kesini malam malam?"
Genta yang matanya masih setengah terbuka bertanya pada Deva.
__ADS_1
"Ah, itu, anu, hmm, Cuma kebetulan lewat aja. O iya, lu di rumah sendirian ya? Orang tua lu mana?"
Deva yang kesulitan mencari alasan mencoba mengalihkan perhatian.
"Orang tua gua di luar kota. Seharusnya sih udah balik sekarang. Tapi karena cuaca buruk pesawatnya harus delay."
Deva mengangguk. Dia sebenarnya bingung kenapa ramalan cuaca untuk besok tidak memperingatkan akan hujan? Padahal malam ini hujan begitu deras, dan cukup diragukan cuaca besok akan berbeda.
"Astaga! Gua lupa belom belajar. Untung lu bangunin gua."
Genta berterimakasih pada Deva karena membangunkannya. Genta baru saja selesai makan saat mulai terlelap di-nina bobo-kan oleh hujan.
Setelah merasa terbebas dari suara bisikan, Deva kemudian berniat pulang. Genta tidak berusaha menghentikannya, karena jika Deva ada di sana Genta tidak akan fokus belajar dan akan tergoda untuk bermain game bersama.
Hingga suatu pagi di hari itu handphone Deva berbunyi. Deva mengerutkan dahi karena belum pernah menerima panggilan setelah beberapa tahun. Dahi Deva semakin mengerut saat melihat nama orang yang menelponnya, Windi.
"Halo, Windi. Ada apa?"
"Deva! Kamu kemana? Kenapa nggak masuk? Kata Genta kamu kemaren hujan hujanan kerumahnya, jangan jangan kamu sakit ya?"
Deva tersenyum gembira, Windi begitu peduli padanya.
__ADS_1
"Ah, enggak. Aku cuma lagi malas aja. Toh nanti juga akan ada pengulangan lagi. Mending nonton drama korea"
"Apa? Bicara apa kamu? Kamu melewatkan ujian matematika hanya karena mau nonton drama korea?"
"Melewatkan ujian matematika?"
Deva kemudian melirik jam bekernya. Alangkah terkejutnya dia melihat jarum panjang jam tersebut menunjuk angka 3, sekarang sudah pukul 10.15!
Deva yang terkejut secara spontan menjatuhkan HP-nya, mengabaikan Windi yang sekarang terus memanggil namanya.
'Apa yang terjadi? Aku tidak kembali mengulang waktu di jam 10.10! Apa waktu kembali berjalan seperti semula?'
Deva memastikan jamnya tidak rusak. Semua jam menunjuk waktu yang sama. Hampir setengah jam tidak ada yang terjadi. Sekarang Deva yakin dia telah bebas dari penjara pengulangan. Walaupun totem misterius miliknya masih tetap ada.
Deva kemudian bersiap siap pergi ke sekolah walau sesungguhnya dia telah benar benar terlambat.
Saat itu langit begitu cerah dan matahari bersinar terang. Pemandangan yang sudah bertahun tahun tidak pernah dilihatnya. Cuaca sangat cerah, seakan akan hujan beberapa jam barusan hanya mimpi. Setidaknya itu yang tengah dirasakan Deva, dia baru saja terbangun dari mimpi buruk bertahun tahun.
Setibanya di sekolah Deva langsung memeluk Genta sambil tertawa, membuat seisi kelas merasa jijik. Untung saat itu tidak ada guru karena free-class, jika tidak mereka berdua pasti sudah dibawa ke ruang BK.
Alasan Deva memeluk Genta karena dia yakin Genta lah yang menyebabkan dia keluar dari pengulangan, karena hal berbeda dari biasanya yang dilakukan Deva pada pengulangan terakhirnya adalah pergi ke rumah Genta. Tidak mungkin drama korea yang mengeluarkannya dari pengulangan bukan?
__ADS_1
Setelah mendapat pukulan uppercut dari genta karena memeluknya terlalu lama, Deva kemudian mendatangi Windi. Deva berterima kasih padanya dan minta maaf karena bersikap aneh di telepon tadi, disertai beberapa alasan masuk akal tentunya.
Hari itu Deva merasa sangat bahagia, namun itu tidak berlangsung lama.