Time Master

Time Master
Ch. 2 : Windi


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian hujan mulai reda. Deva melanjutkan perjalanannya saat sudah benar benar reda. Saat ini Deva telah melewatkan jam pelajaran pertama dan kedua karna terjebak hujan. Untung mata pelajaran Matematika ada di jam pelajaran ketiga dan keempat. Deva masih sempat untuk mengikutinya.


Karna tadi hujan, siswa yang terlambat masih diperbolehkan masuk. Peraturan di sekolahnya memang agak longgar. Deva yang sedikit basah sedang berjalan ke kelasnya saat bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Dia masuk kedalam kelas tepat saat guru yang mengajar sebelumnya keluar kelas untuk menuju kelas berikutnya.


Di dalam kelas teman temannya mulai berisik. Ada beberapa yang langsung membuka buku pelajaran untuk mengulang materi yang akan diujikan nanti. Ada juga yang mengeluh tidak mengerti dengan pelajaran dan pasrah dengan hasilnya. Ada juga yang bahkan tidak peduli sama sekali. Deva pun ragu apakah mereka ingat hari ini ada ujian Matematika.


Saat memasuki kelas, seseorang langsung mendekatinya.


"Dev, ada bawa busur 2 nggak? Punya gua ketinggalan"


"Nggak. Ngapain juga punya busur 2? Udah, beli aja di kantin"


"Oh, yaudah. Minta duit buat beli dong!"


"Genta! Busur harganya cuma seribu. Masa itu aja minta ke gua!"


"Ah, dasar pelit. Padahal gua mau ngasi informasi penting kalau lu mau ngasi gua duit"


"Info apa?"

__ADS_1


Genta tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangan ke arah Deva sambil tersenyum sinis.


"Gila, parah lu ya, segitunya mau dapat duit seribu. Nih, ambil. Apa info nya?"


Genta tertawa sambil mengambil uang koin seribu yang Deva berikan padanya. Kemudian dia berkata, "Tadi Windi bertanya sama gua kenapa lu nggak hadir. Sepertinya dia khawatir lu sakit atau sejenisnya."


Genta pergi meninggalkan Deva yang masih berdiri mematung. Windi adalah gadis yang disukainya. Info tadi tentu membuatnya gembira. Namun Deva masih bisa menahan diri untuk tidak melompat kegirangan. Dia berpikir mungkin saja yang dikatakan Genta adalah bohong.


Deva kemudian langsung menuju kursinya sambil tersenyum. Dia buru buru melihat pelajaran yang telah dipelajarinya tadi. Namun baru beberapa saat setelah dia membuka bukunya, sebuah suara lembut dan manis memanggil namanya.


"Deva! Kamu kehujanan ya? Basah kuyup gitu"


"Ah, Windi. Iya, tadi aku kehujanan di jalan"


Windi balas tersenyum manis, membuat gula darah deva naik. Windi kemudian menyodorkan sebuah sapu tangan padanya.


"Nih, buat lap bagian yang basah. Biar kamu nggak masuk angin karena kedinginan."


Deva menatap sapu tangan tipis berwarna pink itu dengan terpana. Mimpi apa dia semalam hingga gadis impiannya memberikan perhatian seperti ini padanya?

__ADS_1


Deva menerima sapu tangan itu dan berterimakasih. Walaupun sebenarnya sapu tangan itu tidak terlalu berguna karna terlalu tipis untuk mengeringkan badannya. Lagi pula Deva juga tidak mau mengotori kesucian sapu tangan itu dengan tubuhnya. Kemudian Deva berjanji akan mengembalikan sapu tangan itu besok setelah dicucinya.


Deva dan Windi akhir akhir ini memang mulai dekat. Hampir seisi kelas sudah tahu ada yang istimewa dari hubungan mereka berdua. Namun belum ada yang mau mengutarakan perasaanya masing masing.


Setelah Deva menerima sapu tangannya, Windi kemudian berjalan menjauh menuju kursinya. Namun baru beberapa langkah, windi tiba tiba jatuh tersandung. Dia nampaknya menginjak tali sepatunya yang belum terikat sempurna.


Deva yang masih memperhatikan Windi sedari tadi terkejut, dia berniat menangkap windi yang akan terjatuh. Namun jarak keduanya diluar jangkauan Deva.


Untung saja ada seorang cowok lain di dekat Windi dengan sigap menangkapnya. Dia adalah laki-laki paling tampan, pintar, dan atletis di kelas. Windi dan si cowok ganteng tersebut berpose layaknya pemain sinetron ataupun drama korea. Pose yang biasanya menimbulkan benih cinta di antara kedua tokohnya. Mereka saling bertatapan dengan posisi si cowok merangkul Windi. Mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian seisi kelas


Deva yang melihat itu tentu saja terbakar api cemburu. Walaupun Windi bukan pacarnya, namun beberapa waktu terakhir dia telah berusaha dekat dengan Windi. Baru saja Windi memberikan tanda yang positif padanya. Deva tidak mau usaha-usaha sebelumnya jadi sia-sia.


Namun semuanya telah terjadi. Deva tidak bisa berbuat apa apa. Dia hanya bisa berharap kejadian itu tidak berdampak buruk terhadap hubungan Dia dengan Windi kedepannya.


Beberapa menit kemudian ujian dimulai. Deva mengerjakan semua soal dengan hati hati. Dia masih tampak tenang, berbeda dengan Genta yang duduk disampingnya. 40 menit terakhir Genta berhenti menulis jawaban. Bukan karena telah selesai mengerjakan, melainkan karena tidak mengerti dengan soal dihadapannya.


Saat ujian selesai Genta mulai mengeluh.


"Aah, ini semua gara gara tadi malam gua kurang belajar karena ketiduran. Andaikan tadi malam gua nggak ketiduran pasti ujian tadi lebih mudah"

__ADS_1


Deva kemudian tertawa. Namun hanya sebentar karena sesaat kemudian penglihatannya mulai kabur. Pandangannya terlihat bergetar dengan kencang. Hal tersebut berlangsung beberapa detik.


__ADS_2