
Deva telah selesai melaksanakan ujian. Kali ini dia benar benar merasa ada yang salah dengan dirinya. Soal yang diujikan sangat dia pahami karena soal soal itu telah muncul dalam mimpinya semalam.
Genta yang duduk disamping Deva mulai mengeluh seperti dalam mimpinya kemarin.
Kemudian pandangan Deva mulai kabur lagi. Semuanya terlihat bergetar. Beberapa hitungan nafas saja Deva sudah kembali terbangun di atas kasurnya. Dengan nafas memburu dan keringat mengucur deras tentunya.
Jam menunjukan pulul sembilan malam. Kali ini Deva sadar ini bukan mimpi biasa. Tidak mungkin mimpi bisa senyata itu. Tidak mungkin dia bisa mengingat mimpi sedetail itu. Padahal setiap bermimpi dia tidak pernah mengingat dengan jelas apa yang baru saja dimimpikannya. Dia merasa seakan baru saja kembali ke masa lalu.
Meskipun begitu, Deva masih mencoba untuk tidur. Melupakan hal aneh yang baru saja dialaminya. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanya mimpi
Namun tentu saja itu tidak mudah. Dia sulit untuk tidur. Mimpi aneh itu terlalu membebani pikirannya. Akhirnya setelah lebih dari 1 jam berguling guling di atas kasur Deva memutuskan untuk belajar. Dia ingin memastikan soal apa yang akan keluar saat ujian nanti.
Sesaat kemudian Deva teringat sesuatu. Dia mengambil tasnya, memeriksa sesuatu di dalamnya. Deva kaget ternyata ada sesuatu yang seharusnya tidak ada disana. Perhiasan manik batu berwarna hijau, sebuah totem.
Sekarang semakin sulit baginya untuk menerima mimpi tadi cuma sekadar mimpi. Dia mencubit pipinya untuk memastikan saat ini dia tidak sedang bermimpi lagi, namun hanya rasa sakit yang didapatinya.
Deva meletakkan totem itu di atas mejanya. Dia berencana ingin membuang atau memberikan totem itu pada orang lain besok. Dia bisa membuangnya saat perjalanan ke sekolah atau memberikan totem itu pada salah satu temannya. Dia merasa bukan hal baik jika terus menyimpan totem tersebut.
Setelah kejadian itu deva membutuhkan beberapa jam untuk bisa tidur. Itupun tidak nyenyak.
Karena kurang tidur, Deva akhirnya bangun kesiangan. Jam menunjukkan pukul 8.30 pagi. Deva langsung bersiap siap pergi ke sekolah. Karena hujan mulai reda, dia tidak membawa jas hujan bersamanya.
__ADS_1
Deva secara kebetulan kembali melewatkan jam pelajaran pertama dan kedua. Dia hanya sempat mengikuti jam pelajaran ketiga dan seterusnya.
Setibanya di sekolah Deva lagi lagi disambut sahabatnya, Genta. Namun sebelum sempat bicara, Deva langsung memotongnya.
"Gua ga punya busur 2! Beli di kantin sana! Nih duitnya"
Genta berdiri dengan tatapan heran dan mulut sedikit terbuka. Kemudian dia berniat berkata sesuatu namun kembali dipotong oleh Deva.
"Iya, iya. Gua dah tau Windi tadi nanyain gua. Dah pergi sana, guru mau masuk."
Deva berjalan meninggalkan Genta yang masih kebingungan.
Pikiran Deva sedang penuh tanda tanya. Dia sedang tidak niat untuk beradegan sinetron dengan Windi sekarang.
Saat membalik buku catatan Deva teringat sesuatu. Deva kembali mengulang mimpi tepat setelah Genta mengatakan sesuatu. Mimpi selalu terulang setelah Genta mengucapkan kalimat yang sama. Dia mulai curiga semua ini terjadi gara gara sahabatnya yang satu itu.
Saat Genta kembali dari kantin, Deva langsung bertanya, "lu nggak blajar tadi malam ya?"
"Iya, kok lu tahu? Keliatan ya, dari wajah gua yang galau gini?"
"Ah, wajah lu emang galau terus tiap hari kok. Hmm, gua minta nanti pas selesai ujian jangan ngeluh ya! Awas kalo ngeluh! Atau gua nggak bakal ngasih lu hotspot lagi!"
__ADS_1
"Dih, sadis bener. Iya, iya, gua nggak bakal ngeluh."
Genta tentu bingung dengan permintaan Deva, namun demi Hotspot dia akan menurutinya.
Ujian pun dimulai. Deva mengeluarkan semua alat tulisnya. Namun seakan belum puas dikagetkan, genta kembali menemukan totem hijau terang dari dalam tasnya.
Padahal karena tadi saking tergesa gesanya Deva tidak sempat membawa totem ini ke sekolah. Dia tidak ingat pernah memasukkannya ke dalam tas. Totem ini seakan masuk dengan sendirinya ke dalam tas Deva. Akhirnya Deva memasukan totem itu kembali ke dalam tasnya.
Ujian kembali berlangsung. Kali ini Deva yakin bisa mendapat nilai sempurna. Berbanding terbalik dengan Genta.
Saat ujian selesai Deva kembali mengingatkan Genta agar tidak mengeluh. Deva menunggu beberapa saat sambil memperhatikan jam tangannya.
Tidak ada yang terjadi selama beberapa saat. Namun saat jam menunjukkan pukul 10.10 penglihatan Deva kembali bergetar. Deva kembali terbangun di atas kasurnya. Mimpinya kembali berulang.
___
Catatan Penulis :
Cerita yang anda baca beberapa menit ini membutuhkan waktu beberapa jam untuk membuatnya. Jadi, mohon bantuannya yaa. Berikan like di setiap chapter, kasi bintang 5, komen dan klik favorit nyaa
Terimakasih :v
__ADS_1