
Sekarang Deva merasa sudah gila. Deva yakin tadi itu bukan mimpi.
Deva segera memeriksa tasnya, dan menemukan sebuah totem di dalamnya. Kali ini dia tidak kaget lagi, melainkan merasa yakin semua ini terjadi gara gara totem ini.
Totem ini berasal dari peristiwa pertama. Kemudian di pengulangan peristiwa selanjutnya totem ini muncul entah dari mana.
Akhirnya Deva malam itu memutuskan keluar rumah untuk membuang totem itu ke sungai. Lalu dengan susah payah berusaha untuk tidur.
Besoknya dia bangun pagi, berangkat ke sekolah dengan membawa jas hujan.
Semua berjalan normal karena Deva masuk pagi hari. Tidak ada Deja vu karena sebelumnya Deva selalu masuk pada jam pelajaran ketiga.
Kali ini Deva berniat menyelesaikan ujian dengan cepat dan keluar kelas dengan cepat juga. Dia ingin menghindari segala keanehan yang mungkin saja terjadi.
Namun saat Deva berniat mengambil alat tulis dari tasnya, dia kembali menemukan totem yang sudah dibuangnya kemarin.
Tanpa pikir panjang Deva tiba tiba memberikan totem itu pada Genta. Genta yang berniat menolak membatalkan niatnya setelah melihat Deva menatapnya dengan tajam. Genta berpikir menolak bukanlah keputusan yang baik. Akhirnya dia menerima totem itu dan menyimpannya tanpa banyak berkomentar.
Beberapa menit setelah ujian dimulai Deva sudah menyelesaikan semua soalnya. Dia bergegas pergi keluar kelas setelah mengumpulkan lembar jawabannya, meninggalkan seisi kelas yang kebingungan dengan tingkahnya yang tidak biasa.
__ADS_1
Deva menuju warung di luar gerbang sekolah. Duduk dengan gelisah sambil menatap jam tangannya, menunggu jam 10.10, berharap tidak terjadi pengulangan lagi.
Namun pengulangan tetap terjadi, tepat pukul 10.10. Deva kembali terbangun di kamarnya, di jam yang sama dengan sebelumnya, jam 9 malam.
Kali ini Deva memutuskan tidak akan pergi ke sekolah. Dia sudah tidak peduli dengan ujian Matematika.
Hari pun berganti. Deva sudah memastikan totem hijau yang berusaha dijauhkan darinya ternyata muncul kembali dari dalam tasnya.
Sekitar pukul 10 Deva duduk didepan jam bekernya sambil memegang totem. Tepat pukul 10.10 posisi Deva tiba tiba berubah menjadi sedang berbaring menatap langit langit, menandakan dia telah mengulang waktu yang sama lagi.
"Sial! Kenapa!? Kenapa bisa begini!? Apa yang sebenarnya sedang terjadi!??"
Deva mengumpat dan berteriak dengan keras. Untung dia seorang diri di rumah ini, orang tuanya sedang bekerja di luar negri. Jika tidak, teriakannya tentu saja bisa membangunkan keluarganya.
Deva pernah mencoba pergi sejauh mungkin dari rumah dengan motornya. Namun lagi lagi tiap jam 10.10 dia akan kembali terbangun di kamarnya.
Beberapa ide gila pernah dilakukannya. Seperti menunda ujian dengan mengempeskan ban mobil Guru Matematikanya agar tidak bisa pergi ke sekolah, mengurung Genta di dalam gudang agar tidak bisa mengikuti ujian, bahkan sampai membakar sekolahnya di malam hari. Namun waktu tetap saja kembali terulang. Membuktikan bahwa ujian matematika bukan penyebab semua ini.
Penyebab paling mungkin adalah totem misterius yang selalu muncul di setiap pengulangan. Deva mencoba menghancurkan totem tersebut dengan berbagai cara. Namun Totem tersebut terlalu keras dan kokoh, jangankan menghancurkannya, menggoresnya saja tidak bisa.
__ADS_1
Pengulangan telah terjadi puluhan kali. Deva masih belum menemukan cara untuk mengembalikan waktu agar berjalan normal.
Di suatu pengulangan, Deva teringat pada orang asing yang memberikan Totem ini padanya. Orang itu hanya muncul pada peristiwa pertama, pada pengulangan berikutnya Deva tidak pernah bertemu lagi dengannya. Akhirnya Deva mencoba mencari pria asing tersebut untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Deva menunggu di halte tempat mereka seharusnya bertemu sejak malam hari. Namun orang asing tersebut tak kunjung datang. Sampai jam menunjukan pukul 10.10 dan waktu kembali terulang.
Di pengulangan berikutnya Deva memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk mencari si orang asing. Seharusnya dia tidak jauh dari halte tempat mereka bertemu. Apalagi si orang asing seingat Deva tidak menggunakan kendaraan, artinya dia seharusnya berada di area sekitar halte itu yang bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Deva yakin si orang asing mengetahui sesuatu mengenai Totem dan pengulangan waktu yang dia rasakan saat ini. Apalagi tingkah orang asing tersebut sangat aneh saat memberikan Totem pada Deva.
Namun usaha Deva sia sia. Si orang asing bagai ditelan bumi. Deva tidak menemukannya dimanapun.
Setelah mengalami ratusan pengulangan Deva akhirnya menyerah mencari si orang asing. Dia hampir terjebak selama setengah tahun. Dia berpikir bagaimana jadinya jika dia terjebak selamanya dalam pengulangan waktu ini? Dia bisa gila dengan pengulangan ini.
Sekarang Deva lebih memilih mengurung diri di kamarnya. Setiap pengulangan dihabisinya hanya dengan tiduran.
Di suatu pengulangan Deva mulai berpikir untuk mengambil keuntungan dari pengulangan ini. Saat ini Deva bisa dibilang abadi selama dia tidak terbunuh ataupun bunuh diri. Deva bisa melakukan apapun yang dia suka tanpa mengkhawatirkan dampak kedepannya, karena waktu akan terus terulang.
___
__ADS_1
Info nggak penting :
Novel ini dibuat tepat beberapa menit setelah saya menonton film Edge Of Tomorrow. Recomanded bener dah pokoknya :v