
Sepulang sekolah Deva mengajak Genta untuk makan bakso di tempat langganannya. Dia ingin mentraktir Genta untuk merayakan kebebasannya dari penjara pengulangan selama bertahun tahun. Mereka bersama pergi menggunakan motor Deva.
"Tumben-tumbenan lu ngajak gua makan bakso, ada apa nih?"
"Ah, nggak ada apa apa, cuma kepengen makan bakso aja, tapi males pergi sendiri, haha"
Deva tidak mungkin memberi tahu alasan sebenarnya dari traktiran kali ini. Deva tahu Genta akan menganggapnya gila jika dia menceritakan hal tidak masuk akal tersebut.
Setibanya di warung bakso Deva mengobrol sepuasnya dengan Genta. Sudah beberapa bulan Deva tidak berinteraksi dengan orang lain. Dia lebih memilih menjalani kehidupan no life selama pengulangan. Dia sudah tidak pergi ke sekolah hampir setahun. Bukan tanpa alasan. Selama kurun waktu pengulangan yang harus dihadapinya di sekolah adalah guru killer dan ujian yang membosankan.
Jam pelajaran pertama dan kedua adalah pelajaran Fisika dengan guru berwajah garang dan gampang marah. Sedangkan jam pelajaran ketiga dan keempat ada ujian matematika yang semua soalnya bahkan sudah hapal oleh Deva saking seringnya dia mengulang ujian itu. Terlebih lagi pagi itu cuacanya tidak bersahabat untuknya berangkat sekolah. Semua alasan ini cukup untuk membuat Deva malas menggerakan kakinya ke sekolah.
Jika saja Deva terjebak di waktu pengulangan dimana ada pelajaran olah raga dan jam kosong, tentunya Deva tidak akan semalas ini pergi ke sekolah.
Setelah bakso yang mereka makan habis, Genta mulai sibuk sendiri dengan ponselnya. Deva kemudian hanya bisa melamun sambil menatap jalan raya, sudah lama dia tidak melihat keramaian seperti ini. Deva hanya bisa berharap dia tidak akan terjebak lagi di dunia pengulangan seperti sebelumnya.
"Ngapain lu bengong aja? mabar yuk!"
"Hmm? ah, ponsel gua ketinggalan"
"oh, yaudah, pulang yuk! mabar di rumah masing masing aja"
"oke!"
Setelah membayar bakso, Deva dan Genta bersiap siap untuk pulang. Di depan warung bakso Deva bergumam,
"Waduh, bensin gua dah mau habis nih"
__ADS_1
"Hmm? kira kira masih bisa dipakai buat pulang nggak?"
"Kayaknya nggak deh, mesti diisi dulu"
"Yah, mending tadi lu isi dulu di pom bensin dekat simpang empat sana. Yaudah, kita cari bensin eceran aja nanti di jalan"
"haha, yamaap, nanti lu-"
"Tumben-tumbenan lu ngajak gua makan bakso, ada apa nih?"
Deva tersentak kaget, tiba tiba sekarang dia dalam posisi sedang mengendarai motor di jalan raya. Padahal sesaat yang lalu dia sedang ngobrol dengan Genta di depan warung bakso. Karena kaget Deva hampir menabrak pejalan kaki di depan lampu merah.
"Lu gilak ya! lampu merah main terobos aja, lu hampir nabrak orang lewat noh!"
Genta memarahi Deva yang masi mematung di perempatan jalan. Untung Deva tadi tidak ngebut dan langsung mengerem. Pejalan kaki yang masih kaget tadi kembali menyebrangi zebra cross sambil mengumpat.
Deva mengumpat dalam hati. Dia kemudian memeriksa tasnya dan mendapati sebuah totem di dalamnya.
'Totem sialan ini lagi!'
"Maaf, gua tadi ngelamun"
Deva melanjutkan perjalanan. Sesampainya di warung Deva tidak bisa tenang. Dia masih mencerna apa yang terjadi dan bagaimana bisa terjadi.
"Lu kenapa bengong aja dari tadi? bakso lu dah dingin tuh!"
"Ng-nggak, cuma lagi banyak pikiran aja"
__ADS_1
Genta kemudian melanjutkan makannya sambil main HP. Kemudian setelah melihat Deva yang dari tadi selalu memeriksa jam tangannya, Genta kemudian mengajak Deva pulang. Tingkah Deva yang grlisah sambil terus terusan melirik jam tangannya membuat Genta berpikir Deva ingin segera pulang.
Saat akan membayar makananya, pandangan Deva mulai bergetar. Dengan cepat Deva memeriksa jam tangannya yang menunjukan pukul 16.05. Sesaat kemudian Deva kembali ke jalan raya sambil mengendarai motor.
"Tumben-tumbenan lu ngajak gua makan bakso, ada apa nih?"
"Lagi kepengen aja"
Deva menjawab dengan asal asalan. Kemudian Deva berhenti dengan benar di lampu merah, lalu melihat jam tangannya, pukul 15.00.
Pengulangan kali ini berlangsung selama satu jam. Kepala Deva mulai sakit saat membayangkan dia harus menjalani satu jam yang sama selama beberapa tahun lagi seperti sebelumnya.
Selama satu jam ini hanya deva habiskan di jalan dan warung bakso. Deva cuma membawa uang yang hanya cukup untuk makan dua porsi bakso. Bahan bakarnya pun cuma sedikit. Deva juga tidak membawa ponselnya. Dapat dipastikan pengulangan kali ini akan sangat membosankan.
Jika saja tadi Deva membawa uang lebih banyak, dia pasti bisa menggunakan uang tersebut untuk membeli setiap barang yang diinginkannya di jalan. Dan jika bahan bakarnya penuh, Deva pasti bisa jalan jalan kemana saja dalam satu jam ini. Deva bisa membeli sesuatu yang baru dan menjelajahi berbagai tempat di setiap pengulangan. Serta jika Deva tidak lupa membawa ponselnya, Dia mungkin bisa mengurangi kejenuhan selama pengulangan dengan bermain HP.
Namun semua itu hanya 'jika'. Kenyataannya adalah sebaliknya. Hanya memikirkannya saja sudah membuat Deva sakit kepala. Deva tidak bisa menjamin kewarasannya nantinya.
Deva harus menerima kenyataan pahit bahwa dia akan menjalani satu jam terpanjang dalam hidupnya.
___
**Maaf karna sempat hiatus (padahal chapternya baru dikit, wkwkwk)
Saya hiatus karena menyadari ide/konsep cerita saya selanjutnya akan sangat mirip dengan anime Boku Dake ga Inai Machi. Jadi sempat bingung lanjutinnya gimana. Dan juga sebelumnya saya disibukkan dengan tugas tugas.
Untuk selanjutnya sepertinya saya akan lebih sering update karena punya banyak waktu luang di tengah pandemi corona ini.
__ADS_1
Terimakasih telah baca :v**