Time Master

Time Master
Ch. 3 : Deja Vu


__ADS_3

Sesaat kemudian Deva sudah berada di kamarnya. Di atas kasur dengan baju tidurnya. Nafasnya memburu. Keringat mengucur deras. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Deva merasa sepertinya dia baru saja terbangun bermimpi.


'Mimpi yang aneh. Semua terasa nyata'


Deva kemudian mencoba untuk tidur lagi. Namun tidak mudah. Mimpi tadi terlalu nyata dan membekas di benaknya.  Setiap peristiwa bahkan bisa diingatnya dengan cukup baik, seakan kejadian di mimpi tersebut memang baru saja terjadi. Butuh beberapa saat sebelum akhirnya dia benar benar tertidur.


Beberapa jam kemudian Alarm di HP Deva berbunyi. Diikuti dengan bunyi jam beker di atas meja. Setelah mematikan semua alarm, Deva berjalan ke dapur untuk cuci muka dan mengambil makanan.


Sesaat kemudian Deva mulai belajar. Namun baru beberapa saat saja Deva merasa aneh, karena semua pelajaran ini terasa lebih mudah dari seharusnya. Bahkan dia merasa mengetahui materi apa yang akan diujikan nanti.


Waktu berlalu dengan cepat. Deva saat ini cukup yakin bisa menghadapi ujian nanti dengan baik. Saat akan berangkat sekolah, Deva melihat ramalan cuaca hari ini. Disitu dikatakan bahwa hari ini akan cerah.


Dia merasa pernah mengalami ini sebelumnya. Tepatnya dalam mimpinya semalam. Langit cukup mendung namun ramalan cuaca mengatakan hari ini akan cerah.


Deva tidak menghiraukan lebih jauh. Dia merasa tidak mungkin hal seperti di mimpinya akan terjadi lagi di dunia nyata. Akhirnya Deva pergi tanpa membawa jas hujannya.


Saat di tengah jalan ternyata hujan benar benar turun. Deva mulai merasa aneh dengan kebetulan beruntun ini. Dia pun memilih berteduh di halte terdekat.


Deva bersyukur kali ini peristiwa yang terjadi berbeda dengan mimpinya, karna di halte yang seharusnya ada orang asing sekarang tidak ada siapa siapa.


Waktu berlalu. Hujan sudah mulai reda, Deva pun melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Setibanya di kelas Deva langsung disambut sahabatnya


"Dev, ada bawa busur 2 nggak? Punya gua ketinggalan"


Deva merasa Deja Vu lagi. Dia mulai khawatir. Dalam mimpinya, Genta juga menanyakan busur padanya. Semua kebetulan ini benar benar aneh.


"Tidak. Beli aja di kantin"


"Oh, yaudah. Minta duit buat beli dong!"


Lagi lagi Deja Vu. Bahkan kata katanya juga sama. Deva kali ini mencoba menuruti permintaan Genta


"Hmm. Tumben baik. Oke, sebagai gantinya gua akan kasih info menarik buat lu."


"Info apa? Jangan bilang kalau tadi Windi nanyain kenapa gua nggak hadir karna khawatir?"


"Lah, kok tau? Siapa yang bilang?"


Deva terkejut. Ini bukan lagi Deja Vu. Ini seperti Deva benar benar telah melakukan semua peristiwa ini sebelumnya. Sekarang Deva curiga mimpinya semalam apakah benar benar mimpi?


"Ah, nggak, cuma nebak aja. Dah pergi sana beli busur. Sebentar lagi guru masuk"

__ADS_1


Deva kemudian berjalan ke kursinya. Jika semua kejadian hari ini benar benar berdasarkan mimpinya semalam, maka hal selanjutnya yang terjadi adalah Windi menghampirinya.


Benar saja, sesaat kemudian ada yang menepuk pundaknya dari samping sambil berkata, "Deva! Kamu kehujanan ya? Basah kuyup gitu"


Deva berpaling dan mendapati Windi berdiri disampingnya. Deva berusaha tetap tersenyum dan menjawab seperti dalam mimpinya. Kemudian Windi memberikannya sapu tangan, bentuk dan warna yang sama.


Saat Windi mulai berjalan menjauh, Deva teringat kejadian selanjutnya dalam mimpinya. Kali ini dia ingin mencegah hal tersebut. Saat Deva akan memperingatkan Windi agar hati hati dengan tali sepatunya, Deva terpikir sebuah ide.


Dengan sigap Deva mendekati Windi. Kemudian saat Windi tersandung Deva dengan gagahnya menyambut Windi. Pandangan keduanya bertemu. Jantung Deva berdetak kencang. Belum pernah sekencang ini sebelumnya. Saking kencangnya Deva khawatir Windi bisa mendengar detak jantungnya.


Seisi kelas yang melihat hal tersebut menyoraki mereka berdua. Sadar disoraki, Deva kemudian membantu Windi untuk berdiri. Sekilas terlihat gadis itu tersipu malu. Deva mulai merasa ada baiknya bermimpi seperti semalam.


Sesaat kemudian guru Matematika memasuki ruang keras, menghentikan sorak sorai semua penghuni kelas.


Deva dengan wajah riangnya kemudian pergi duduk di kursinya, bersiap untuk ujian. Dia mengeluarkan semua alat tulis yang diperlukan untuk ujian dari dalam tasnya. Namun alangkah terkejutnya dia saat mengetahui ternyata di dalam tas nya terdapat sebuah perhiasan batu manik berwarna hijau terang, sebuah Totem.


Totem itu seharusnya hanya ada dalam mimpinya. Deva tidak pernah menerima totem itu saat dalam perjalanan ke sekolah tadi.


Orang yang seharusnya memberikan Deva totem tersebut tidak pernah ditemuinya di kehidupan nyata. Tidak ada seorangpun di halte tempat dia seharusnya menerima totem tersebut. Namun entah kenapa totem itu bisa muncul dari dalam tasnya.


Deva kemudian memasukkan totem tersebut ke dalam tas. Tidak ada waktu untuk bingung sekarang. Dia harus mengerjakan soal ujian yang ada di hadapannya saat ini. Mengenai totem ini bisa dipikirkannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2