Tirai Pemisah

Tirai Pemisah
Saras Maulida Brosman


__ADS_3

Saras tampak buru - buru mengemasi beberapa buku ke dalam tasnya, dan bergegas keluar dari kamar lalu menyambangi mama papanya yang tengah sarapan pagi.


Mama Ainun, Ainun Ansari adalah seorang dokter spesialis dalam disalah satu rumah sakit terkenal di kota ini. Sedangkan papa Isman, Isman Amirullah Brosman adalah seorang Rektor di Universitas Negeri di Kota mereka ini juga.


Saras Maulida merupakan putri tunggal Isman dan Ainun. Saras gadis yang sangat cantik, berambut hitam lurus sebahu, kulit kuning langsat dan ada dua lesung pipi yang menambah kecantikannya. Postur tubuh tinggi langsing mewarisi dari Ayahnya, serta kecantikan yang ia miliki diwarisi dari Ibunya. Wajar jika dia menjadi incaran para kaum adam, terlebih lagi dengan sifatnya yang lemah lembut, keibuan serta anggun.


Pagi ini, Saras menggunakan rok hitam panjang dengan atasan berwarna cream, sepatu heels yang senada dengan rok yang ia kenakan. Gadis itu terlihat anggun dan feminim, karena kecantikannya seolah - olah pakaian apapun yang ia kenakan selalu terlihat pas dan cocok untuknya.


Selamat pagi mah, pah! ucapnya sembari menarik kursi untuk ia duduk.


Selamat pagi. Jawab Ainun dan Isman bersamaan.


Mau sarapan apa? Mau nasi goreng atau roti? Tanya Ainun yang sudah memegang piring untuk Saras.


Saras menggelengkan kepalanya. "Hhmmm.. kayaknya Saras sarapan pake roti aja mah. "


Kenapa? Ainun mengernyitkan dahinya. Isman juga yang tengah menyantap sarapannya lantas mendongak dan menatap ke arah Saras.


"Saras buru - buru mah, takutnya kalau sarapan nasi goreng, yang ada Saras nanti terlambat ke kampus". Ujarnya lalu meraih roti yang ada didepannya dan mengolesinya dengan slai srikaya kesukaannya. Ainun lalu meletakkan kembali piring yang sudah ia ambil untuk Saras yang hendak ia isi dengan nasi goreng.


Memangnya ada urusan apa dikampus, Ras? Tanya Isman sembari menyendok nasi goreng itu kedalam mulutnya.


Hari ini ada kegiatan pameran yang di adakan fakultas kami pah, ini sekaligus untuk promosi jurusan kami. Barangkali dengan adanya acara ini, banyak yang tertarik untuk mengambil jurusan pendidikan. Apalagi Saras terpilih sebagai ketua acara. Saras tidak enak sama anak - anak kalau sampai terlambat hadir disana.


Isman mengangguk paham, ia tentu akan mengerti karena ia merupakan seorang Rektor. Saras memang mahasiswi berprestasi di kampusnya, saat ini Saras mengambil jurusan kependidikan. Padahal Ainun ingin sekali putri semata wayangnya mengikuti langkahnya menjadi seorang dokter. Namun entah kenapa Saras ingin sekali menjadi seorang guru. Ainun tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada Saras, begitu pula dengan Isman. Mereka percaya sepenuhnya akan keputusan dan jalan yang dipilih oleh putri mereka itu.

__ADS_1


Makanlah dengan tenang, jangan buru - buru, nanti kamu tersedak. Ujar Isman.


Saras mengangguk - anggukkan kepalanya, lalu melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 pagi, sementara dirinya harus tiba di aula kampus 07.30. Ia melebarkan matanya seraya berdiri dari kursinya. Saras melahap roti slainya yang tersisa dengan cepat dan meraih gelas berisi susu yang telah Ainun sediakan, lalu meneguknya tanpa sisa.


Mah, Pah. Saras berangkat yah? Ucapnya berjalan menyeberangi meja makan untuk menyalim dan mencium tangan Ainun dan Isman. Kemudian ia berjalan dengan langkah tergesa - gesa dari meja makan tersebut.


Apa sebaiknya kamu di antar papah, Saras? Bukankah itu lebih cepat dari pada harus menunggu angkot, belum lagi banyaknya penumpang yang naik turun. Bisa - bisa kamu akan terlambat. Teriak Ainun kepada Saras yang telah melenggang pergi.


Saras lalu membalikkan badannya yang sudah berada dipintu rumah. "Tidak usah mah, kasihan papah nanti harus jauh - jauh putar arah dan papa juga bisa terlambat ke kampus kalau harus mengantarku." Sahutnya lalu berlari pergi.


Ainun dan Isman menggelengkan kepala sembari menghela nafas melihat putri mereka yang selalu saja merasa akan memberatkan mereka.


Saras memang sengaja tidak kuliah di Universitas yang papanya pimpin. Ia lebih memilih kuliah di Universitas lain dan hidup lebih mandiri sekalipun ia terlahir dari keluarga yang lumayan berkecukupan, lebih - lebih ia anak tunggal orang tuanya. Lagi pula arah Universitasnya berbeda dengan Universitas papanya. Untuk itulah Saras selalu menolak jika dimintai papanya untuk mengantar dirinya. Ia tidak ingin merepotkan papanya. Dari dulu ia selalu berusaha lebih mandiri dan melakukan sesuatu tanpa harus merepotkan kedua orangtuanya.


Saras juga lebih nyaman naik angkot, apalagi angkot ini sudah menjadi langgananya dari ia masih Sekolah Menengah Atas. Kebetulan arah sekolahnya dahulu masih sama dengan arah kampusnya. Padahal dirumahnya ada mobil yang sengaja Isman belikan untuk transportasi putri semata wayangnya itu. Bahkan Saras juga sudah pandai mengemudikannya namun ia enggan membawanya dan lebih memilih menaiki angkot.


Selamat pagi, non Saras? Ucap Didit yang tengah memberhentikan angkotnya.


Selamat pagi pak! Jawab Saras sembari naik ke dalam angkot tersebut. Ia duduk tepat dibelakang Didit. Tampak didalam angkot sudah hampir penuh oleh anak - anak sekolah.


Pak, hari ini Saras ada kegiatan dikampus, Saras harus tiba disana sebelum jam. 07.30.


Siap non Saras. Jawab Didit.


Didit yang sudah paham maksud ucapan Saras langsung menancap gas untuk mengantar pelanggan setianya tepat waktu.

__ADS_1


Setelah sampai didepan gerbang kampus, Saras turun dari dalam angkot dan memberikan ongkosnya kepada pak Didit.


"Ini pak, Terimakasih yah sudah mengantar Saras tepat waktu." Ucapnya tersenyum lebar.


Didit melebarkan matanya melihat uang yang diberikan oleh Saras. "Non, ini banyak sekali.. bahkan ini sudah bisa ongkos non Saras untuk dua minggu kedepan."


"Ambil saja pak, Saras tau bapak lagi butuh uang saat ini" Jawab Saras penuh tulus.


"Terimakasih banyak non, non Saras selalu membantu saya. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan yang non Saras berikan kepada saya. " mata Didit berkaca - kaca kala mengingat pertolongan Saras kepadanya.


Saras tersenyum dan lalu pamit masuk ke dalam kampus. Didit memang lagi membutuhkan biaya berobat untuk istrinya yang sedang sakit - sakitan. Oleh karena itulah, Saras selalu memberikan uang lebih kepada Didit. Setelah Saras memasuki area kampus, Didit menancap gasnya kembali untuk mengantar para penumpangnya.


Saras berlari menuju Aula karna takut terlambat, namun tiba - tiba ada motor sport warna merah yang melintas hingga membuat dirinya tersungkur karena tertabrak.


Bruuggggg...


Astaga.. Gawat!!! Ucap pria itu panik.


Auhh.. Saras meringis kesakitan, dilihatnya sikut dan lutut sebelah kanannya terluka dan berdarah.


Hei kau punya mata kan? masa kau tidak melihat ada kendaraan yang melintas. Kau mau bunuh diri, lagian bunuh diri kok dikampus. Bunuh diri itu di gedung tinggi atau dipohon sana. Untung saja kau tidak terluka parah, kalau tidak aku yang akan disalahkan karena kecerobohanmu ini. Sungut pria itu kesal.


Mendengar ocehan pria itu, Saras lalu mendongak dan menatap pria itu dengan wajah sendu menahan rasa sakit. Ia mengakui kalau ini adalah memang kesalahannya yang tidak hati - hati.


Iya, ma.. maaf kan aku, Aku sedang terburu - buru. Jawabnya terbata - bata. Lalu ia mencoba menahan rasa sakit di kakinya dan dengan sigap berdiri dan mengambil bukunya yang tengah berserakan.

__ADS_1


Daren atau si pria penabrak itu sontak terkejut kala melihat gadis yang tengah kesakitan itu didepannya. Pasalnya Daren langsung jatuh cinta kala melihat wajah gadis itu yang sangat cantik. Ia bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah katapun setelah gadis cantik yang tidak sengaja ia tabrak itu meminta maaf padanya. Matanya melebar memandang gadis itu, wajahnya memerah namun ditutupi oleh pelindung kepala yang ia kenakan.


Saras menggelengkan kepalanya, ia terlihat kebingungan melihat pria yang menabraknya itu tiba - tiba terdiam kaku tanpa sebab. Mengingat dirinya sedang buru - buru, ia. lantas berdiri dan meraih tasnya yang masih tergeletak disampingnya dengan penuh menahan rasa sakit. Lalu ia melenggang pergi meninggalkan pria aneh yang telah menabraknya itu dengan langkah tertatih - tatih tanpa ucapan apapun.


__ADS_2