
Daren akhirnya tertidur pulas setelah hampir 1 jam tidak bisa tidur karena terus membayangkan wajah Saras serta mengenang kembali kejadian dikampus. Begitu juga dengan Aksen yang sudah tertidur pulas dikamar tamu tanpa sepengetahuan Daren.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 5 subuh, suara adzan dari masjid-masjid sekitar pun sudah berkumandang. Aksen bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, untuk membersihkan badan sekaligus mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibannya.
Setelah selesai mandi dan mengambil air wudhu, Aksen keluar dari kamar mandi. Ketika ia ingin sholat, namun ia tak menemukan perlengkapan sholat dikamarnya. Aksen pun keluar dari kamar menyambangi Sudarsih di dapur untuk meminta perlengkapan sholat.
"Bibik, lagi ngapain? " tanya Aksen tiba - tiba dari belakang.
Tentu saja sudarsih terkejut, ia lantas membalikkan badannya melihat ke sumber suara itu. Sudarsih tersenyum ketika melihat Aksen.
"Eh Den Aksen? ini Bibik mau menyiapkan sarapan." jawab Sudarsih.
"Kenapa datang ke dapur Den? Apa Den Aksen butuh sesuatu? " sambung Sudarsih bertanya. Aksen pun tersenyum.
"Ia Bik, Aksen mau sholat. Tapi dikamar tidak ada perlengkapan sholat. Apa boleh Aku minjam sejadahnya Bibik? balas Aksen. Sudarsih melebarkan mata seraya menepuk jidatnya.
" Astaga! Bibik lupa menyiapkan sejadah untuk Den Aksen tadi malam. Soalnya Bibik tidak terbiasa, karena dirumah ini yang sholat kan cuma Bibik dan Pak Yanto. " ujar Sudarsih. Aksen mengeluarkan senyuman dibibirnya.
"Iya tidak apa - apa Bik. Aksen paham kok!
" Yasudah, tunggu sebentar ya Den. Bibik ambil sejadah untuk Den Aksen dulu." ucap Sudarsih lalu berlari kecil pergi ke kamarnya.
Aksen menarik sebuah kursi yang ada didekatnya, ia pun duduk sembari menunggu Sudarsih membawakan sejadah untuknya. Namun tiba - tiba pandangannya tertuju ke talenan yang diatasnya daging ayam yang belum selesai di potong. Aksen beranjak dari kursinya, ia meraih pisau dan ingin melanjutkan memotong daging tersebut.
Namun ketika Aksen ingin memegang dagingnya, ia dikejutkan oleh kedatangan Sudarsih.
"Den Aksen mau ngapain?" tanya Sudarsih seraya berjalan menyambangi Aksen dan membawa sejadah untuk Aksen.
"Eh ini Bik, tadinya ingin melanjutkan memotong daging yang sempat tertunda karena aku." jawab Aksen menyunggingkan bibirnya. Ia lantas meletakkan kembali pisau didekat talenan.
"Tidak usah, kan Aden udah ber wudhu. Ini kan kotor, wudhunya bisa batal nanti. Ini sejadahnya, lebih baik Den Aksen sholat! " ujar Sudarsih menyodorkan sejadah untuk Aksen. Aksen mengangguk kecil, ia meraih sejadah dari genggaman Sudarsih.
"Yasudah, Aksen permisi dulu ya Bik.! ucap Aksen. Sudarsih mengangguk. Aksen pun pergi kembali ke kamar untuk sholat.
Daren perlahan membuka matanya, berkat jatuh cinta kini ia sudah bisa bangun sendiri tanpa bantuan oleh Sudarsih. Ia meraih ponselnya di atas nakas, lalu menghidupkan layarnya.
" Jam 5.15." ucapnya dalam hati, lalu kembali meletakkan ponselnya. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu, turun ke lantai satu untuk menemui Sudarsih.
Ketika Daren turun dari tangga, ia dibuat terkejut oleh Aksen. Ia mengehentikan langkahnya dan menatap horor Aksen yang hendak ke kamar.
" Loh kamu kenapa bisa disini? bukannya tadi malam aku sudah menyuruhmu pulang?. " tanya Daren heran dengan mata yang melebar.
Tentu saja Aksen juga terkejut, dengan perlahan ia mebalikkan badannya menoleh ke sumber suara itu, Aksen mengernyitkan dahinya.
"Bik Asih yang memintaku untuk tidur disini tadi malam." ucap Aksen ketus, lalu melangkah pergi. Daren semakin melebarkan matanya.
"Heh, aku belum selesai biacara, kamu sudah main pergi begitu saja." ucap Daren meneriaki Aksen.
"Aku mau menunaikan kewajibanku!" sahut Aksen. Daren menghela nafasnya, lalu pergi menemui Sudarsih ke dapur.
Setelah Daren sampai di dapur, ia disambut hangat oleh Sudarsih. Sudarsih tampak tersenyum lebar melihat kedatangan Daren.
"Selamat pagi Den?" sapa Sudarsih dengan senyuman hangat.
"Pagi" jawab Daren sembari berjalan mendekati Sudarsih.
__ADS_1
"Bibik masak apa? " tanya Daren dengan pandangan yang tertuju ke sebuah panci di atas kompor menyala. Daren lantas berjalan dan membuka penutup panci tersebut. Matanya melebar ketika ia melihat isi panci itu.
"Wahh.. Bibik mau masak rendang?" tanya Daren dengan senyuman dan mata yang berbinar - binar. Sudarsih mengangguk dengan senyuman.
"Iya Den, nanti jam 11 Nyonya sudah sampai di rumah. Katanya mau makan siang disini aja. Makanya Bibik masakin rendang kesukaan Aden juga." ujar Sudarsih sembari memotong - motong sayuran dan tomat segar untuk isi Sandwich yang akan jadi sarapan Daren dan Aksen pagi ini.
Daren tersenyum girang, pasalnya ia benar - benar sangat menyukai masakan khas Indonesia yang satu itu.
"Itu si Aksen tidur dimana tadi malam, katanya Bibik yang memintanya untuk tidak pulang. " sambung Daren mengalihkan pembicaraan.
"Iya Bibik yang memaksanya untuk tidur disini. karena tadi malam Bibik lihat wajahnya memang sudah sangat mengantuk. Bibik khawatir jika dia pulang dengan kondisi seperti itu." papar Sudarsih yang masih menyiapkan sandwich.
Daren mengangguk kecil dan tidak melanjutkan pembicaraan lagi. Karena Daren memang tidak berani membantah Sudarsih, wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya itu.
"Tumben sekali kau bangun sepagi ini." ucap Aksen yang datang tiba - tiba. Sudarsih menyunggingkan bibirnya mendengar ucapan Aksen.
"Itu bukan urusanmu." jawab Daren ketus. Aksen terkekeh.
"Berarti Saras benar - benar membawa pengaruh baik kepada kamu. Salah satu buktinya, kau sudah bisa bangun lebih awal tanpa bantuan Bibik dan Tante Greeta lagi. Pertahankan bung!" ujar Aksen mengancungkan jempolnya. Daren memutar bola mata jengah.
"Ah sudahlah, lebih baik aku mandi saja. " balas Daren dengan wajah cemberut sembari melangkah pergi. Aksen terkekeh begitu juga dengan Sudarsih.
"Sudah berapa hari dia bangun pagi seperti ini, Bik?" sambung Aksen bertanya kepada Sudarsih.
"Baru dua hari. " jawab Sudarsih terkekeh begitu juga dengan Aksen.
"Aku bantuin Bibik menyiapkan sarapan sembari menunggu Daren selesai mandi." ujar Aksen seraya mengambil beberapa piring untuk ia tata di meja makan. Sudarsih mengangguk tak menolak, karena Aksen memang sering membantunya menyiapkan sarapan setiap kali menginap disini.
"Den Aksen mau sarapan apa? biar Bibik buatkan! tawar Sudarsih kepada Aksen. Aksen menoleh ke sandwich yang sudah Sudarsih siapkan.
Setelah beberapa menit, kini sarapan sudah dhidangkan di atas meja begitu juga dengan gelas yang sudah diisi dengan susu. Aksen tampak sedang menunggu kedatangan Daren sembari bermain ponsel. Sedangkan Sudarsih kembali ke dapur untuk menyiapkan beberapa menu makan siang untuk Greeta.
Ketika Aksen sedang asyik bermain ponsel, Daren pun datang dengan stelan yang begitu keren. Bahkan seluruh yang melekat dibadannya adalah barang - barang branded yang harganya sangat fantastis. Aksen melebarkan matanya, ia bahkan sangat jarang sekali melihat Daren mengenakan pakaian dan barang mewah seperti ini.
Daren menarik kursi dan kemudian ia duduk tanpa menyapa Aksen. Daren mengambil sandwich lalu menaruhnya di atas piringnya.
"Wah wah wah. " Aksen menatap takjuk Daren, ia menggeleng - menggelengkan kepalanya. Daren mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu? " tanya Daren seraya menggigit sandwich buatan Sudarsih itu.
"Kau keren sekali hari ini. Ini juga salah satu pengaruh jatuh cinta yah? tadinya kamu orang yang tidak pernah memperhatikan penampilan mu. Tapi sekarang kau jauh sekali berbeda. " jawab Daren sembari memperhatikan outfit yang dikenakan Daren. Kemudian pandangannya tertuju kesebuah jam yang melingkar di pergelangan tangan Daren. "Ckckckck" Aksen berdecak kagum.
"Kenapa? kau iri dengan ketampananku?" Tanya Daren. " Wajar saja kau iri, aku memang jauh lebih tampan dari pada kamu.! sambung Daren dengan sombong. Aksen mengerucutkan bibirnya. Ia meraih sandwich lalu melahapnya. Daren mengerutkan keningnya.
"Dipuji kok responnya malah begitu! " sungut Aksen.
"Pelan - pelan saja makannya, apa kau tidak pernah makan sandwich dirumahmu?" kata Daren mengejek. Aksen menatap kesal Daren, lalu melahap sandwich tersebut. Tentu saja Daren terkekeh melihatnya.
"Awas saja, cepat atau lambat kau akan memohon meminta bantuanku. Aku akan memberimu pelajaran." sungut Aksen dengan wajah kesal. Daren melebarkan matanya, kemudian ia terkekeh.
"Kau mengancamku? " tanya Daren.
"Pikir saja sendiri." jawab Aksen ketus. Daren mengenyitkan dahinya.
Daren dan Aksen memang seperti kucing dan tikus, tidak pernah akur. Namun tidak mau juga berpisah, selalu lengket seperti perangko. Benar - benar sangat membingungkan.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Daren dan Aksen pamit kepada Sudarsih untuk berangkat ke kampus. Dua Pria tampan itu tampak menyalim tangan Sudarsih sebelum mereka melangkah keluar dari rumah.
Melihat Daren dan Aksen keluar dari rumah, Karyo berlari menghampiri Daren.
"Selamat pagi Den Daren, Den aksen?" sapa Karyo dengan sopan.
"Pagi" jawab Daren dan Aksen secara bersamaan.
"Den Daren pagi ini, mau bawa mobil atau motor. Kebetulan mobil dan motor Den Daren sudah saya panaskan." tanya Karyo.
"saya bawa motor saja Pak, karena Aksen juga bawa motor. Tolong keluarin dari garasi yah. " titah Daren kepada Karyo.
"Siap Den! jawab Karyo, dengan sigap Karyo berlari ke garasi yang didalamnya terdapat beberapa koleksi mobil dan motor mewah milik Greeta dan Daren. Karyo pun mengeluarkan satu motor sport yang biasa Daren pakai keluar.
Kemudian Daren menaiki motornya, begitu juga dengan Aksen dan mereka pun berangkat pergi ke kampus.
Setelah sampai dikampus, Daren dan Aksen memarkirkan motornya. Ketika Aksen membuka helmnya, ia bergidik melihat tingkah Daren yang senyum - senyum sendiri sembari bercermin di kaca spion motornya.
"Lama - lama kamu seperti orang gila saja!" ujar Aksen seraya meletakkan helmnya di atas motornya. Daren mengerutkan bibirnya. Namun kali ini Daren harus menahan sabar, karena pagi ini Daren akan mengajak Aksen ke fakultasnya Saras.
"Aksen." Teriak Daren kepada Aksen yang sudah melenggang pergi. Aksen lantas menghentikan langkahnya.
"Ada apa! " sahut Aksen ketus tanpa membalikkan badannya untuk menatap Daren. Daren menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kita ke fakultas pendidikan yuk! " ucap Daren mengajak Aksen dengan nada lembut. Aksen mengernyitkan dahinya. Ia lantas membalikkan badannya lalu menatap horor Daren.
Daren menelan salivanya, ia ketakutan melihat wajah dan tatapan horor dari Aksen.
"Kamu kenapa menatapku begitu? kamu tidak mau menemaniku ke fakultasnya Saras?" tanya Daren dengan wajah iba. Aksen mendengus kesal dan memutar bola mata jengah.
"Kau tidak usah membuat wajah seperti itu, aku sudah tau maksudmu." ujar Aksen. Daren mengernyitkan dahinya.
"Aku harus membujuk Aksen, kalau tidak, pasti dia tidak mau menemaniku ke fakultasnya Saras." monolog Daren dalam hatinya.
Daren menarik nafasnya, kali ini ia harus mengesampingkan egonya untuk membujuk Aksen. Ia lantas melangkah mendekati Aksen. Dan menatap Aksen dengan tatapan sendu.
"Ayolah Aksen, aku minta maaf atas perbuatanku tadi malam. Kalau bukan kau yang membantuku, lantas siapa lagi?" ujar Daren memohon.
"Kau itu harus mandiri terlebih lagi dalam hal percintaan. Masa mau pendekatan saja, kau harus selalu ditemani. " gerutu Aksen dengan wajah kesal. Daren mengangguk kecil kepalanya.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri." balas Daren dengan wajah iba. Ia lantas melangkah pergi meninggalkan Aksen.
Aksen mendengus, ia merasa serba salah. Daren memang selalu merepotkannnya bahkan selalu saja bertingkah seperti anak - anak. Aksen memutar badannya menatap Daren.
"Kau selalu saja bertingkah seperti anak gadis, mudah sekali merajuk! " teriak Aksen. Daren menghentikan langkahnya, ia tersenyum lebar, dugaannya benar. Aksen tidak akan bisa membiarkannya begitu saja. Daren lantas memutar badannya.
"Apa katamu, aku seperti anak gadis mudah merajuk. Kamu sendiri kan yang tidak mau menemaniku ke fakultas pendidikan." jawab Daren.
"Memangnya tadi aku bilang tidak mau." balas Aksen. Daren terdiam sejenak, memang Aksen benar, Aksen tidak mengatakan jika ia tidak mau menemani Daren.
"Iya memang tidak ada." jawab Daren lemah. Aksen mengerucutkan bibirnya. Ia melangkah dengan cepat mendahului Daren. Daren menatap Aksen heran.
"Kamu mau kemana? fakultas kita kan sebelah sana, ke arah situ kan fakultasnya pendidikan, fakultasnya Saras. " Teriak Daren sembari menunjuk ke arah fakultas mereka, namun Aksen malah melenggang pergi ke arah fakultas pendidikan.
Aksen tak menampiknya, ia lantas melenggang pergi. Daren terkekeh dan berteriak kegirangan di dalam hatinya. ia lantas berlari mengejar Aksen yang melangkah dengan cepat itu.
__ADS_1