Tirai Pemisah

Tirai Pemisah
Jadi Seperti Ini Rasanya Jatuh Cinta


__ADS_3

Daren melempar tasnya sembarangan, lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur king miliknya dengan sepatu yang masih menempel dikakinya. Ia menarik guling, lalu memeluknya. Ia mulai teringat kembali tentang gadis cantik yang tidak sengaja ia tabrak tadi pagi di kampus.


Daren tersenyum lebar kala mengingat bagian dimana gadis itu mendongak dan menatap ke arahnya. Amat sangat jelas wajah cantik gadis itu di depan matanya. Bahkan sampai membuat Daren tidak fokus melakukan sesuatu karena isi otaknya kini dipenuhi oleh wajah gadis itu.


"Cantik, benar - benar sangat cantik. " Monolongnya dalam hati. Tiba - tiba senyumnya melebar lagi bahkan jadi salah tingkah sendiri. Daren bangkit dari tempat tidurnya dan berputar - putar tak jelas di dalam kamarnya. Ia membuka sepatunya, lalu mengambil buku kesukaannya dan berjalan ke balkon kamarnya. Setelah itu, ia merasa tak nyaman lagi, ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan buku di atas nakas. Ia lalu membuka bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya


Daren mengguyur tubuhnya dengan pancuran air deras dari shower. Lagi - lagi ia teringat akan gadis itu, hal ini seperti membuat Daren frustasi. Ia mendongak dan membiarkan wajahnya di guyur air deras itu, sembari mengingat lagi wajah gadis yang telah berhasil membuat dirinya gelisah tak karuan.


Setelah hampir 30 menit Daren membersihkan badannya. Ia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk berwarna putih yang melingkar dipinggangnya.


Tubuh atletisnya kini terpampang dengan jelas, jika kaum hawa melihat pasti akan meleleh dibuatnya. Tiba - tiba terdengar suara wanita separuh baya mengetuk pintu kamar Daren.


"Tok... tok.. tok.. "


"Selamat Sore den? ini Bibi buatin jus alpukat kesukaan Den Daren. " Teriak Bibi Sudarsih yang biasa dipanggil Bibi Asih oleh keluarga Daren.


Sudarsih adalah salah satu wanita yang mempunyai jasa lumayan besar untuk keluarga Daren. Pasalnya ditengah kesibukan Greeta mengurus bisnis - bisnisnya, Sudarsih lah yang merawat Daren, bahkan sering ditinggal keluar kota hingga ke luar negeri dengan waktu yang tidak singkat, Sudarsih lah yang merawat Daren dengan sepenuh hatinya bak anak kandungnya sendiri.


Sudarsih sudah bekerja dengan Greeta bahkan jauh sebelum Daren lahir. Semenjak menikah, Greeta tidak langsung dikaruniai oleh anak. Greeta mengandung Daren di usia ke lima tahun pernikahannya dengan Matthew, papanya Daren.


Sudarsih tidak memiliki seorang anak, bahkan suaminya telah lama meninggal dunia karena menderita kanker hati sebelum Sudarsih bekerja dirumah Greeta. Sudarsih memilih untuk hidup sendiri, apalagi semenjak Greeta melahirkan Daren, Sudarsih lebih fokus untuk merawatnya.


Mendengar suara Bi Asih, Daren bergegas membukakan pintu.


"Wangi sekali kamu Den? baru habis mandi? " Tanya Asih.


Daren tersenyum dan mengacak rambut basahnya. "Iya nih Bi, tumben sore begini Bibi buatin aku jus." Tanya Daren heran.


Asih mengerecutkan bibirnya. "Loh bukannya tadi waktu Aden pulang kuliah, sebelum masuk ke dalam kamar, Aden nyuruh bibi buatin jus kesukaannya Aden. Makanya bibi buatin ini, jus alpukat kesukaan Aden. " Jawab Asih menyodorkan jus alpukat tersebut kepada Daren.


Daren mengernyitkan dahinya, ia mencoba mengingat - ingat kembali. Apa benar dia memang menyuruh Bi Asih untuk membuatkannya jus.


"Den? kenapa diam saja. Ini ambil jusnya." Ucap Asih kebingungan melihat tingkah Daren. Ia pun jadi bertanya - tanya, apa mungkin dirinya yang sudah salah dengar. Tapi Daren memang menyambangi dirinya yang sedang memasak makan malam di ruang dapur dengan wajah sumringah, lalu kemudian menyuruhnya membuatkan jus.


"Eh tidak apa - apa Bik. " Jawab Daren gugup, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa mungkin Bibi yang salah dengar yah, tapi tadi Bibi benar - benar melihat den Daren datang ke dapur dan minta dibuatkan jus." Ucal Asih dengan penuh keyakinan.


Daren memijit - mijit pelipisnya lalu mengingat kembali kalau dia memang benar meminta Bik Asih untuk membuatkannya jus.


"Oh iya, astaga. Aku baru ingat, aku memang minta Bibi untuk buatin aku jus. " Ucap Daren tersenyum lebar. lalu meraih jus itu dari genggaman Asih. "Terimakasih ya bi. " Ucapnya lalu meneguk jus itu hampir habis.


Asih dibuat heran dengan tingkah Daren yang tidak seperti biasanya. Ia lalu menggeleng - gelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan kamar Daren menuju dapur untuk melanjutkan memasak untuk makan malam nanti.


"Den Daren kenapa aneh begitu sih." Monolog Asih dalam hatinya. Ia lalu meraih beberapa sayuran segar yang sudah sempat ia bersihkan tadi, dan memotongnya untuk dimasak.


Sedangkan Daren merasa malu akan dirinya. Ia meneguk habis jusnya tanpa sisa lalu meletakkan gelasnya di atas meja dengan keras.


"Ahh.. aku kenapa sih? Kenapa di dalam otakku hanya ada wajah gadis itu. Aku bahkan jadi tidak fokus. " Gerutu Daren memukul - mukul kepalanya.


"Apa ini yang dinamakan jatuh cinta, bawaannya jadi bersemangat dan selalu tersenyum ketika mengingatnya." Ucap Daren dengan secara perlahan mengangkat tangan kanannya lalu meletakkannya didadanya.


"Deg.. deg.. deg.. deg.. " Suara detak jantung Daren.


"Ah.. jantungku juga berdetak dengan cepat, rasanya seperti ingin melompat dari tempatnya. " Monolongnya dalam hati lagi.


Kring.. kring.. kring.. bunyi suara Handphone Daren dengan tiba - tiba hingga membuat dirinya terkejut.


"Aish.. Aku terkejut. " Ucapnya lalu berjalan mengambil handpone yang ia letakkan di atas nakas.


"Mommy" Ucapnya dalam hati kala melihat nama itu dilayar handphonenya lalu menekan gambar telepon berwarna hijau di layar handponenya tersebut.


"Selamat Sore, Mah? "


"Sore sayang?" Balas Greeta dari seberang sana.


"Mama pulang jam berapa, malam ini kita bisa makan malam bersama dirumah kan? Bi Asih juga sudah menyiapkan makanan kesukaan mama."


"Iya dong sayang, jam enam mama sudah dirumah. ini udah mau berjalan ke mobil. " Jawab Greeta yang membuat Daren tersenyum bahagia. Pasalnya sudah tiga hari Daren tidak makan malam bersama Mamanya karena urusan pekerjaan.


"Oke Mah, Daren tunggu dirumah yah. Mama hati - hati dijalan."


"Oke sayang." Jawab Greeta lalu memutuskan telpon.

__ADS_1


Daren meletakkan kembali handponenya di atas nakas, lalu berjalan menuju ruangan pakaian khusus yang ada didalam kamarnya. Daren membuka sebuah lemari berukuran king size yang didalamnya terdapat banyak baju dan celana dengan brand ternama.


Ada terdapat juga sebuah lemari khusus untuk koleksi sepatu dan beberapa jam tangan mewah milik Daren didalam ruangan tersebut.


Daren mengambil sebuah kaos berwarna hitam polos dan juga celana jeans pendek berwarna caramel. Daren memang suka berpakain santai apalagi jika dirinya hanya didalam rumah saja. Namun kendati begitu, mau bagaimana dan apapun outfit yang ia kenakan, Daren selalu terlihat tampan.


Setelah selesai memakai bajunya, Daren pun turun dari lantai dua dimana kamarnya berada. Ia pun bergegas menyambangi Asih yang tengah sibuk menata beberapa menu makan malam di meja makan king size milik mereka itu.


"Biar aku bantu Bik. " Ujar Daren meraih sop ayam dari genggaman Asih.


"Tidak usah Den? biar Bibi saja, Aden duduk saja nungguin Nyonya. " Jawab Asih menolak.


"Tidak apa - apa Bik, biar aku yang menata semua makanan ini. Dan Bibi bisa mengerjakan pekerjaan lain dibelakang. Dan mengambil apa yang masih kurang disini sebelum mama datang. " Ucap Daren terus memaksa.


"Tapi Den? ini masih panas, Bibi baru saja angkat dari kompor. "


"Aku ini laki - laki Bik, masa angkat beginian saja aku tidak bisa. " Sungut Daren merebut mangkok berukuran besar yang didalamnya terdapat sop ayam yang masih panas, dari genggaman Asih.


"Yasudah, Bibik ke belakang dulu, masih ada satu menu lagi yang belum ada di meja. "


"Iya Bik" Jawab Daren sembari menata makanan - makanan lezat itu.


Tit... tit.. tit..


30 menit kemudian, terdengar bunyi klakson mobil dari depan rumah bak istana itu. Tampaknya Greeta telah datang sesuai dengan yang ia katakan kepada Daren lewat telpon tadi. Bahwa dirinya akan sampai tepat pada pukul enam.


"Sepertinya itu Mama. "


"Iya Den, itu nyonya. Bagaimana semua sudah siap kan? " Sahut Asih yang muncul dari belakang dengan membawa semangkok rendang ayam kesukaan Daren.


Daren seketika menelan salivanya kala melihat makanan kesukaannya yang masih hangat telah siap disantap.


"Ya ampun Bik, aku jadi tidak sabaran ingin makan. Masakan Bibik emang selalu maknyus. " Tuturnya memuji Asih.


Daren Mencium mangkok yang berisi rendang tersebut. " Huummm.. baunya sepertinya enak sekali. "


"Den, Den. Hampir setiap hari Aden makan rendang buatan Bibik. Tapi kok sekarang Aden malah bertingkah seperti tidak pernah makan rendang buatan Bibik saja. "


Daren menyunggingkan bibirnya. "Hehehe.. bukan begitu Bik, aku memang suka sekali dengan rendang. Apalagi kalau itu buatan Bibik. Selera makanku auto nambah berkali - kali lipat kalau udah ada rendang. "


"Tidak juga, buktinya aku sukanya sama rendang. " Balas Daren terkekeh juga.


Asih tersenyum mendengar perkataan Daren.


"Selamat malam sayang, Bik Asih" Ucap Greeta menyapa Daren dan Asih.


"Selamat malam Mama, selamat malam nyonya. " Jawab Daren dan Asih bersamaan.


Daren kemudian berjalan menyambangi Greeta dan mencium kening wanita yang paling ia cintai di dunia itu.


"Ayo Mah duduk, Bibik udah masak banyak, dan ini kesukaan Mama semua. Ada sih satu kesukaanku, rendang ayam. " Ucap Daren seraya menarik kursi untuk Greeta.


Greeta tebelalak melihat banyaknya makanan yang hampir memenuhi meja makan king size mereka.


"Ya ampun Bik, Bibik masak ini sendirian? " Tanya Greeta tak percaya.


Asih mengangguk - anggukkan kepalanya. "Iya nyonya. "


"Yaudah kita makan bersama saja, sayang makanan sebanyak ini pasti tidak habis olehku dan Daren. Panggilin Pak Yanto Bik, biar kita makan malam bersama." Ujar Greeta.


"Tidak usah Nyonya, saya dan Pak Yanto bisa makan dibelakang nanti kalau Nyonya dan Den Daren sudah selesai makan. " Jawab Asih menolak, karena merasa tak enak harus makan di satu meja yang sama dengan majikannya.


"Udah panggilin aja Bik, gak usah sungkan. Apa yang mama bilang benar, lagian makan bersama itu rasanya lebih nikmat. " Ucap Daren menimpali. Namun Asih masih terlihat ragu - ragu dan masih tidak beranjak pergi dari tempat ia berdiri


"Cepat Bik, Daren udah lapar. Panggilin Pak Yantonya. Kenapa sih Bibik masih sungkan sama kita. Padahal udah puluhan tahun tinggal disini. " Gerutu Daren.


"Iya itu benar Bik, cepatan panggil. " Sambung Greeta.


"Iya baik Nyonya. "


Akhirnya Asih mengalah dan pergi memanggil Yanto, supir pribadi Greeta.


Beberapa menit kemudian, Asih dan Yanto pun datang. Sangat terlihat jelas dari wajahnya, Yanto sangat gugup ketika harus makan bersama dengan majikannya. Meskipun ini bukan pertama kalinya, namun Yanto dan Asih masih terlihat gugup.

__ADS_1


Daren memang sering mengajak Asih dan Yanto untuk sarapan bahkan makan malam dengannya. Katanya, makan bersama itu jauh lebih nikmat. Apalagi Greeta jarang dirumah membuat Daren selalu merasa kesepian. Untuk itulah dirinya selalu mengajak Asih dan Yanto untuk makan bersama dengannya.


Yanto dan Asih diam dan tak mengambil piring, mereka bahkan menundukkan wajah mereka. Greeta mengerutkan keningnya melihat Asih dan Yanto yang menunduk seperti itu.


"Ambil piringnya Bik, Pak Yanto. Tidak usah sungkan - sungkan gituh ah." Ucap Greeta mengerucutkan bibirnya.


"Iya Nyonya. " Jawab Asih dan Yanto bersamaan. Mereka pun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang tersedia di atas meja makan tersebut.


"Ambil mana yang kalian suka, tidak usah takut. " Ujar Greeta lagi. Sudarsih dan Yanto mengangguk - anggukkan kepala.


"Mah, sini biar Aku yang ambil nasi untuk Mama. " Ucap Daren meraih piring Greeta.


"Mama, mau lauk yang mana? Semuanya enak - enak nih! " Tanya Daren lagi.


"Hhmm Mama mau cobain sopnya dulu. " Jawab Greeta menunjuk ke arah sop Ayam tersebut. Daren pun dengan sigap menyendok sop itu ke dalam piring Greeta.


"Terus Mama mau yang mana lagi? " Ucap Daren bertanya lagi.


"Udah itu aja dulu, nanti Mama bisa ambil sendiri. "


"Baiklah." Daren pun memberikan piring yang sudah ia isi dengan sop Ayam itu kepada Greeta.


Setelah itu, Daren mengambil piringnya dan mengisinya dengan rendang ayam kesukaannya tentunya. Dan juga dengan beberapa lauk dengan porsi yang sangat banyak.


Greeta, Asih dan Yanto pun terpengarah melihat Daren. Lebih - lebih lagi Daren makan dengan begitu lahap seperti orang yang tidak makan dalam beberapa hari. Belum lagi porsinya yang sangat banyak.


"Daren? Kamu belum makan dari pagi yah? " Tanya Greeta keheranan.


"Udah kok Mah, Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus aku sarapan kok. Dan siang tadi juga aku makan bersama Aksen. " Jawab Daren sembari terus mengunyah makanan yang hampir penuh didalam mulutnya.


Greeta menelan salivanya melihat daren sedang menyantap makanannya dengan begitu rakus.


"Daren, pelan - pelan ih makannya. Kamu nanti bisa tersedak loh? " Ujar Greeta Khawatir.


Daren tsrsenyum lebar " Tidak kok Mah, Hari ini aku hanya merasa lebih semangat aja.." Jawab Daren lalu melahap kembali nasi dipiringnya.


"Memangnya ada apa? " Tanya Greeta penasaran.


"Aku bertemu gadis cantik tadi pagi dikampus. " Jawabnya spontan. Greeta, Asih dan Yanto saling melempar pandangan.


"Bertemu gadis cantik? Siapa? " Tanya Greeta lagi. Daren tiba - tiba berhenti mengunyah. Ia tidak sadar jika dirinya sudah kecoblosan mengatakan tentang penyebab dirinya terlihat lebih bersemangat dibandingkan dengan biasanya.


Daren menjadi gelagapan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jadi kamu bertemu gadis cantik? " Ucap Greeta mengulangi pertanyaannya.


Daren mengambil gelas yang berisikan air putih didepannya, dan meneguknya tanpa sisa.


"Tidak Mah, aku cuma bercanda. " Jawab Daren berbohong.


"Sial, kenapa aku bisa kecoplosan begini sih. Mama pasti penasaran dan akan bertanya sampai aku menjawab dengan jujur. " Gerutunya dalam hati.


"Mama tidak percaya, katakan! kamu jatuh cinta dengan gadis itu? "


Deg... Bunyi detak jantung Daren kala mendengar Mamanya bertanya apakah dirinya sedang jatuh cinta.


"Mama apa - apaan sih? aku aja belum kenalan sama orangnya. Masa udah langsung jatuh cinta aja. Bahkan namanya aja aku belum tau. " Jawab Daren sembari menyendok nasi dan memasukkannya lagi ke dalam mulutnya.


"Sekalipun kita belum kenalan sama orangnya, kita bisa kok jatuh cinta. Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. "


Uhukkk.. uhukk..


Daren tersedak kala Mamanya mengatakan perihal jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Daren" Teriak Greeta khwatir. "Makanya kamu pelan - pelan dong makannya." Ujar Greeta bangkit dari kursinya dan menyambangi Daren yang duduk berseberangan dengannya.


Sudarsih dengan sigap mengambil gelas lalu mengisinya dengan air. Kemudian ia berikan kepada Greeta.


"Ini kamu minum dulu. " Pinta Greeta memberikan air putih kepada Daren. Daren pun meminumnya.


"Kamu baik - baik saja kan? " Tanya Greeta sembari mengusap - usap punggung Daren.


"Iya Mah, aku baik - baik saja. " Jawab Daren.

__ADS_1


"Apa benar aku sedang jatuh cinta?" Monolong Daren dalam hati. Greeta pun melebarkan senyumannya. Ia sepenuhnya percaya jika putranya memang sedang jatuh cinta.


__ADS_2