
Greeta keluar dari kamarnya ia pun bergegas menemui Daren yang telah membuat keributan.
"Kamu kenapa pagi hari begini sudah membuat keributan." Tanya Greeta, namun ia dibuat tercengang melihat Daren yang sudah rapi dan wangi. Ia pun turun dari tangga menyambangi Daren. Kemudian diperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut Daren.
"Mau kemana pagi hari begini? " tanya Greeta kepada Daren dengan tatapan aneh.
"Ya mau ke kampuslah Mah? Masa rapi dan wangi begini mau ke hutan! " ujar Daren kesal. Greeta dan Sudarsih melebarkan mata karena terkejut.
"Jam 5 subuh begini kamu mau ke kampus?" Tanya Greeta lagi mengernyitkan dahinya.
Daren mengangkat tangannya perlahan dan melihat penunjuk waktu yang sedang melingkar di pergelangan tangannya.
Daren terkejut, ternyata benar apa yang Mamahnya katakan. Sekarang masih pukul 5 subuh. Ia pun seketika menjadi gelapan karena malu.
Greeta dan Sudarsih tertawa. "Hahahahaha". Daren menelan salivanya kasar, kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sepertinya benar, kamu memang sedang jatuh cinta, buktinya kamu tidak sabar mau cepat - cepat ke kampus. Bahkan kamu bangunnya terlalu pagi. Hahahaha " Ucap Greeta lalu kembali tertawa begitu juga dengan Sudarsih. Daren semakin dibuat malu, wajahnya kini memerah.
"Astaga, kenapa aku bangun sepagi ini sih? Bodohnya aku juga tidak melihat jam, malah bergegas mandi dan siap - siap. Kan jadi malu di godain Mamah dan Bik Asih. " Monolognya dalam hati, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu lagi.
"Tapi ini bagus, jadi Mamah dan Bik Asih tidak susah payah lagi membangunkan mu. Karena berkat jatuh cinta kamu sudah bisa bangun sendiri. Benar kan Bik? "
"Itu benar Nyonya, kita tidak perlu lagi mengeluarkan jurus untuk membangunkan Den Daren. " Balas Sudarsih meng iyakan.
Sudarsih dan Greeta pun tertawa puas. Daren mengerucutkan bibirnya, ia merasa dirinya di ejek oleh Mamahnya dan Bik Asih.
"Kalian tertawa saja sampai puas.!" Ucap Daren ketus lalu beranjak pergi. Greeta dan Sudarsih pun berhenti tertawa.
"Loh mau kemana? " Tanya Greeta heran melihat Daren malah pergi keluar rumah bukan kembali ke kamarnya.
"Mau kekampus.!" Sahut Daren yang sudah berjalan beberapa meter. Greeta dan Sudarsih saling melempar pandangan.
"Sarapan dulu baru berangkat, lagian ini masih pagi. " Teriak Greeta. Namun Daren tak menampiknya, ia kini sudah terlanjur malu karena ulahnya sendiri. Rasanya ia tak sanggup untuk menunjukkan wajahnya didepan Mamahnya dan Bik Asih. Terlebih lagi mendengar Mamahnya yang terus menggoda dan mengejeknya, bukan hanya malu, ia bahkan merasa kesal apa lagi melihat Mamahnya dan Bik Asih menertawai puas dirinya.
"Den Daren jadi merajuk Nyonya, Bibik merasa tidak enak. " ucap Sudarsih dengan wajah bersalah.
"Biarkan saja Bik, hitung - hitung untuk melatih Daren agar lebih mandiri. Selama ini dia manja dan banyak hal yang tidak bisa ia lakukan tanpa bantuan orang dan juga Bibik. Dia sudah dewasa, sudah seharusnya dia belajar mandiri terlebih lagi sekarang dia sudah mulai mengenal wanita dan jatuh cinta. " ujar Greeta menenangkan. Sudarsih mengangguk - anggukkan kepalanya membenarkan perkataan Nyonyanya. Greeta pun tersenyum.
"Baiklah, Bibik lanjutkan saja memasaknya. Aku mau membersihkan badan dulu. Kalau tidur lagi rasanya sudah tanggung. " Ujarnya lalu melangkah pergi.
"Tapi Nyonya, bagaimana dengan Den Daren. Dia belum sarapan! " Tanya Sudarsih khawatir. Greeta yang sudah menaiki beberapa anak tangga itu membalikkan badannya.
"Bibik tenang saja. Kan ada Aksen. Sahabat Daren yang pemikirannya jauh lebih dewasa. Aksen akan menjaganya, kalau dia lapar pasti dia makan. " Sahut Greeta dengan santainya. Kemudian ia kembali melangkah.
Sudarsih menatap ke arah pintu rumah. Sejujurnya ia tak tega melihat tuan mudanya di ejek bahkan sampai merajuk begitu. Dengan perasaan bersalah ia kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya yang terganggu karena Daren.
Daren dengan tergesa - gesa berjalan menuju garasi dimana mobilnya berada.
"Tolong buka pintu pagarnya Pak!" Pinta Daren kepada Yanto.
"Baik Den! " Jawab Yanto sigap kemudian berlari membuka pintu pagar raksasa itu. Setelah pintu pagar dibuka, Daren kemudian menancap gas mobilnya dan pergi.
"Den Daren mau kemana pagi hari begini? Bahkan sudah rapi dan wangi juga. " Ucap Yanto heran. Ia pun menatap mobil tuan mudanya itu sampai menghilang tak terlihat. Dan barulah ia menutup pagar kembali.
********
__ADS_1
Aksen telah selesai membersihkan diri, ia pun meraih sebuah handuk yang ia gantung di dalam kamar mandi tersebut. Setelah itu ia mengeringkan kepala dan tubuhnya lalu melingkarkan handuk tersebut ke pinggangnya, dan kemudian ia keluar dari dalam kamar mandi.
Kring.. kring.. kring.. Dering ponsel miliknya di atas nakas. Aksen pun melirik kesebuah jam dinding di tembok kamarnya. masih pukul 6.30.
"Siapa yang menelpon pagi hari begini? " Ucapnya dalam hati, ia lalu berjalan mengambil ponselnya. Dan melihat ada nama Daren tertera dilayar ponselnya.
"Daren? Tumben sekali dia menelpon pagi hari begini. Biasanya Bik Asih dan Tante Greeta masih mangeluarkan jurus untuk membangunkannya. " Ucap Aksen heran. Ia pun memencet warna hijau dilayar ponselnya.
"Hallo, tumben pagi - pagi sudah bangun. Ada apa? " Tanya Aksen heran.
"Kamu dimana sekarang, aku sudah dikampus nih." Jawab Daren dari seberang sana.
Aksen terkejut mendengarnya. "Apa? Kau sudah dikampus? Pagi - pagi begini, untuk apa?." Tanya Aksen lagi.
"Ahhh.. Tidak usah banyak bertanya, cepatlah datang kesini. Aku tunggu paling lama satu jam, kalau kau sampai terlambat, aku akan memecatmu sebagai teman. " Balas Daren mengancam.
"Berani sekali kau mengancamku. " Tiba - tiba terdengar suara tut.. tut.. Daren memutuskan teleponnya.
"Halo.. Halo.. " Ucap Aksen memanggil Daren, namun tidak ada lagi jawaban dari Daren. Aksen menarik kasar ponsel dari telinganya kemudian melihat layar ponsel nya.
"Arhgg sialan, dia sudah mematikan telponnya. " Ucap Aksen kesal, ia pun meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu dengan terburu - buru mengambil pakaian dilemarinya.
"Anak itu memang selalu saja menyusahkanku." Gerutu Aksen sembari memakai bajunya. Setelah selesai, Aksen mengambil tasnya dan juga ponsel yang ia letakkan diatas nakas tadi, lalu dengan berlari kecil keluar dari dalam kamarnya.
Aksen pun turun dari lantai dua kamarnya dan menyambangi Mamah dan Papahnya di meja makan.
"Mah, Pah.. Aksen berangkat ke kampus dulu yah. "Ucapnya pamit seraya meraih tangan Sri untuk ia salim.
"Sarapan dulu, masih jam 6.45 untuk apa buru - buru ke kampus. " Ujar Sri menyuruh Aksen untuk duduk dikursi disampingnya.
"Aksen berangkat Mah, Pah. " Ucapnya pamit meninggalkan meja makan.
"Aksen.. Setidaknya kamu makan roti baru berangkat.!" Teriak Sri memanggil Aksen, diwajahnya menyimpan ke khawatiran karena Aksen pagi ini tidak sarapan seperti biasanya.
"Sudahlah Mah, biarkan saja! Dia mau menemui Daren, lagian kalau dia lapar dia pasti makan. Dia sudah dewasa. " Ujar Ridwan seraya menyantap sarapannya.
Sri mengerutkan keningnya, pasalnya ia dan Ridwan selalu berdebat dalam hal mendidik Aksen. Ia terlalu memanjakan Aksen sementara Ridwan tidak setuju dengan itu.
Aksen mengeluarkan motor sportnya dari dalam garasi. Kemudian menancap gasnya untuk menyusul Daren dikampus.
Sedangkan Daren dikampus sudah terlihat gelisah sembari memegang ponselnya.
"Kenapa Bocah itu lama sekali sih? Padahal aku sudah mengancamnya supaya tidak datang terlambat." Gerutu Daren, ia menyalakan ponselnya dan menelpon Aksen.
Tut.. Tut.. Tut.. Bunyi suara telpon tersambung, namun tidak ada jawaban dari Aksen.
"Arhgg.. Dia tidak menjawab telponku. Kemana dia!" Ucap Daren kesal.
Tiba - tiba terdengar suara motor sport dan ternyata itu adalah Aksen. Daren tersenyum lebar melihat Aksen telah tiba.
"Kenapa kau lama sekali, aku kan sudah bilang jangan sampai terlambat!"
Aksen melepas pelindung kepalanya, lalu turun dari atas motornya.
"Kau juga tidak mengangkat teleponku." Ucap Daren lagi. Aksen mendengus kesal.
__ADS_1
"Terlambat katamu, kau sudah tidak waras yah? Coba kau lihat jam, aku berangkat dari rumah pukul 6.45 dan sampai kesini pukul 07. Yang seharusnya jarak dari rumahku kesini itu 25 menit, tapi aku ngebut demi kamu. Terus kamu malah menggerutuiku, karena aku tidak menjawab telponmu, kau ingin aku mati kecelakaan!" Jawab Aksen kesal.
"Kau kan bisa berhenti sebentar untuk menjawab telponku." Balas Daren membela dirinya.
"Arhhgg.. Sudahlah, aku malas berdebat dengan bocah ingusan seperti dirimu."
"Sekarang katakan! Untuk apa kau menyuruhku cepat - cepat datang ke kampus seperti ini. Kau juga tumben sekali bangun pagi." Tanya Aksen menatap Aneh Daren.
Daren menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bahkan menjadi gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa, karena sebenarnya dirinya juga tidak tahu apa yang membuatnya ingin cepat - cepat datang ke kampus.
"Oh itu.. " Jawab Daren singkat. Aksen mengerutkan keningnya.
"Oh itu apa? Jawabnya yang benar dong?" Lagi - lagi Daren menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tidak ada, aku cuma ingin cepat - cepat datang ke kempus." Jawab Daren. Aksen terkejut mendengar alasan Daren.
"Apa katamu? Tidak ada! Jadi kau menyuruhku cepat - cepat datang ke kekampus dengan alasan konyolmu ini. Astaga Daren! Aku bahkan tidak sempat sarapan hanya karena menuruti titahmu. Bahkan dengan beraninya aku mengambil resiko ngebut di jalan supaya cepat - cepat sampai menemui disini. Tapi ternyata dengan alasan yang tak masuk akal." Gerutu Aksen dengan geram. Ia meletakkan helmya di atas badan motornya dengan wajah kesal.
"Kau tenang saja, sebagai gantinya aku akan membelikanmu sarapan yang paling mahal. " Balas Daren tak merasa bersalah.
"Tidak perlu, aku bisa membeli sarapan sendiri." Jawab Aksen ketus sembari melangkah meninggalkan Daren.
"Kamu mau kemana? Kamu benar - benar marah padaku?" Teriak Daren.
"Pikir saja sendiri." Sahut Aksen yang sudah berjalan beberapa meter.
"Hhumm dasar pemarah." Sungut Daren. "Tunggu.. " Teriak Daren memanggil lalu berlari mengejar Aksen.
Aksen dan Daren kini tiba di kantin kampus. Aksen memesan nasi goreng dan camilan lainnya begitu pun dengan Daren. Bahkan wajah Aksen masih terlihat kesal.
"Udah jangan cemberut begitu, namanya juga sahabat memang harus rela berkorban dan melakukan apa pun." ujar Daren dengan santai seraya menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Aksen menatap Daren kesal, pasalnya Daren kerap menyuruh dirinya untuk melakukan hal - hal yang aneh dan terkesan memaksa.
"Menyebalkan, untung kau sahabatku. Jadi aku masih bisa menahan kesabaran dengan semua tingkah ke kanak - kanakanmu." Monolog Aksen dalam hatinya. Ia pun mengunyah nasi gorengnya kasar dengan wajah yang masih cemberut.
Daren ingin memesan sebuah camilan tambahan, karena ada banyak pelanggan, rasanya tidak etis memanggil Buk Ati. Akhirnya Daren beranjak dari kursinya untuk meminta pesanannya. Tiba - tiba
"Braghhhhh... Dierrr " Daren menabrak seorang gadis. Semua orang yang berada di kantin tersebut terkejut dan pandangan mereka langsung tertuju ke sumber suara itu begitu juga dengan Aksen.
"Aihhhh... " Gadis itu meringis karena terjatuh. Terlebih lagi makanannya tumpah dan piringnya juga pecah berkeping - keping.
Daren terkejut, dilihatnya seorang gadis meringis kesakitan dengan pakain yang sudah basah dan kotor karena tumpahan makanan. Daren jongkok dan dengan sigap membantu gadis itu.
"Maaf, aku minta maaf aku tidak sengaja." Ucap Daren. Aksen pun beranjak dari kursinya dan menyambangi Daren.
"Aku minta maaf..Kamu terluka?" Tanya Daren khawatir. Namun gadis itu tidak menjawab ia terus meringis kesakitan dibagian lututnya. Aksen memijit pelipisnya, ia tak habis pikir dengan ulah yang diperbuat oleh sahabatnya itu.
Daren mencoba membersihkan pakaian kotor gadis itu, namun ditepis.
"Maaf, tidak usah aku akan membersihkannya sendiri." Ujar gadis itu yang kemudian mengangkat kepalanya dan wajahnya kini berhadapan dengan wajah Daren.
Tiba - tiba.. Deeegggg suara detak jantung Daren. Tubuhnya seketika menjadi kaku ketika melihat wajah yang tak sengaja ia tabrak itu adalah gadis yang berhasil membuat dirinya salah tingkah lebih tepatnya jatuh cinta.
Matanya melebar menatap wajah gadis itu, tubuhnya juga gemetar. Ia bahkan tak mampu berkata - kata lagi, otaknya membeku dan lidahnya menjadi kelu.
Aksen mengerutkan keningnya, ia menatap Daren yang tiba - tiba berubah seperti patung, bahkan dilihatnya kedua netra Daren yang sama sekali tak berkedip memandang gadis itu.
__ADS_1