Tirai Pemisah

Tirai Pemisah
Daren Kekanak - kanakan


__ADS_3

Di dekat taman kota yang letaknya tidak jauh dari kampus, ada sebuah cafe kecil namun tidak kalah mewah dari cafe yang ukurannya luas. Cafe ini diberi nama Cafe Senja. Pengunjungnya adalah kalangan anak remaja dan khususnya orang - orang yang menyukai ketenangan dan jauh dari kebisingan. Cafe ini merupakan tempat favorite Saras. Saras sering menghabiskan waktunya bersama Nona di cafe ini.


Ada banyak pohon - pohon rindang didalam cafe ini, serta bunga - bunga dengan berbagai macam jenis. Tampak Saras dan Nona duduk dikursi terisolir yang diteduhi oleh pohon rindang.


"Jadi pria itu yang kemarin menabrak mu hingga terluka?" Tanya Nona kepada Saras, kemudian ia meraih jus mangga yang telah tersaji di hadapannya.


"Iya, aku juga terkejut mendengarnya." jawab Saras. Nona meminum jusnya sedikit, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.


"Dia pria populer dikampus kita! banyak gadis yang mengejar dan berharap menjadi kekasihnya." sambung Nona. Saras mengernyitkan dahinya.


"Dia seorang Aktor?"


"Bukan, dia anak tunggal dari pengusaha kaya raya yang lumayan tersohor di negara ini. Dia juga memiliki wajah yang sangat tampan, wajar saja dia menjadi incaran para wanita." jawab Nona menjelaskan.


"Sepertinya kamu sudah mengenalinya?." Tanya Saras, ia kemudian meraih jus di hadapannya.


"Tidak terlalu, aku hanya sering mendengar gadis - gadis dikampus menceritakan tentang pria itu. Hanya itu yang aku tahu tentangnya." jawab Nona. Saras pun mengangguk, ia menikmati jusnya tanpa melanjutkan pembahasan tentang Daren.


"Sepertinya dia menyukaimu Saras!" kata Nona.


Uhuukkk.. Saras tersedak. Nona dengan sigap berdiri menyambangi Saras.


"Kau baik - baik saja?" Tanya Nona khawatir, ia mengusap - usap punggung Saras.


Saras meletakkan kembali jusnya ke atas meja, lalu mengambil tissu untuk membersihkan wajah dan bajunya yang terkena percikan jus itu.


"Aku baik - baik saja!" jawab Saras santai. Nona menghela nafas, ia kembali duduk dikursinya.


"Kamu sok tau sekali. Kami saja baru berkenalan tadi. Tapi kamu sudah mempunyai pikiran seperti itu." sungut Saras tak percaya.


"Hei, aku sudah pengalaman tentang pria. Apa lagi ketika melihat tingkah dan tatapan matanya waktu melihat kamu. Sangat jelas sekali dia menyukaimu." balas Nona meyakinkan. Saras mengernyitkan dahinya.


"Terserah kamu saja, aku tidak peduli!" ucap Saras ketus. Nona Mengerucutkan bibirnya, ia kemudian meraih kembali jusnya.


"Sampai kapan kamu akan terus menutup diri seperti ini." ucap Nona.


"Entahlah, aku justru belajar dari kisahmu yang selalu saja disakiti oleh pria. Aku tidak ingin terburu - buru, apa lagi untuk membuka hati untuk sembarangan pria." Nona melebarkan matanya.


"Kau sedang mengejekku atau merasa kasihan?" ucap Nona menuduh Saras. Saras mengerutkan keningnya.


"Siapa yang mengejekmu? Aku hanya menjadikan kisah cintamu sebagai pembelajaran, paham!" balas Saras tak terima.


Nona terdiam, ia membenarkan ucapan Saras. Kisah cintanya memang selalu berjalan tidak mulus. Dirinya selalu disakiti oleh pria yang dekat dengannya. Dan hanya Saras lah yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahnya jika ia disakiti oleh pria. Saras selalu ada untuk Nona, dan berusaha memahami perasaan Nona.


"Lagi pula bukan kah kau sendiri yang mengatakan jika semua pria itu sama saja. Sama - sama munafik dan suka menyakiti." ucap Saras lagi mengingatkan perkataan Nona kepadanya dulu. Nona mengernyitkan dahinya, ia memang benar mengatakan hal itu kepada Saras. Bahkan bukan hanya sekali, hal itu ia katakan kepada Saras setiap kali ia disakiti oleh pria.


******


Daren tampak sedang duduk dibalkon kamarnya, ia tersenyum seraya mengusap - mengusap tangan kanannya. Aksen datang membawa minuman kaleng untuknya dan juga Daren. Aksen bergidik ngeri melihat tingkah aneh Daren.


Aksen meletakkan kasar minuman kaleng itu ke atas meja. Lalu ia duduk berseberangan dengan Aksen. Sedangkan Daren masih saja betingkah aneh sekalipun sudah ada Aksen didekatnya.


Aksen membuka minumannya dan kemudian meneguknya hampir habis. Ia kemudian menatap Daren dengan tatapan aneh.


"Kamu sudah gila yah?" tanya Aksen. Namun Daren tak menampiknya. Daren terus tersenyum sembari mengusap - usap tangannya. Aksen mengerutkan keningnya, ia berdiri dari kursinya dan menampar tangan kanan Daren dengan keras.


"Plaaakkkk"


Tentu saja Daren terkejut dibuatnya. Daren lantas melebarkan matanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? sakit tau!" sungut Daren mengusap tangannya yang kini memerah karena pukulan Aksen.


"Aku jijik melihat tingkahmu itu." jawab Aksen, ia duduk kembali ke kursinya. Daren mengerucutkan bibirnya.


"Bilang saja kau iri. " ucap Aksen menuduh. Aksen memutar mata jengah. Ia meraih minumannya kembali.


"Berani - beraninya kamu menampar tanganku, padahal disini ada bekas tangan dan juga aroma tangannya Saras." ucapnya sembari menunjuk tangannya, lalu kemudian menciumnya. Daren mengerutkan keningnya, wajahnya berubah menjadi masam.


"Sekarang aroma wangi tangannya hilang berubah menjadi aroma tanganmu yang bau bangkai." gerutu Daren tak terima, ia menatap kesal Aksen yang berpura - pura tidak mendengarkannya. Aksen terus menikmati minuman kalengnya.


Daren beranjak dari kursinya lalu meraih minuman kaleng itu dari genggaman Aksen. Kemudian Daren meletakkannya kasar di atas meja. Aksen pun mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa sih?" ucap Aksen kesal.


"Kamu harus bertanggung jawab!" ujar Daren yang membuat Aksen bingung.


"Bertanggung jawab untuk apa?" tanya Aksen bingung. Daren mengulurkan tangannya tepat didepan wajah Aksen. Aksen mengerutkan keningnya tak paham akan maksud Daren.


"Untuk apa kau mengulurkan tanganmu, kamu ingin aku memukulnya lagi?" ujar Aksen mengangkat tangannya bersiap memukul tangan Daren lagi. Sontak saja Daren menarik tangannya tersebut.


"Bukan, tapi aku ingin kau bertanggung jawab mengembalikan aroma dan bekas tangan Saras yang hilang dari tanganku karenamu." ucap Daren manja. Aksen menatap Daren dengan tatapan jengah.


"Dasar gila!" ucapnya sembari menepis kasar tangan Daren. Kemudian ia beranjak dari kursinya. Daren meringis kesakitan, ia mengusap - usap tangannya lagi.


"Sakit tau! dasar pria kasar." umpat Daren dengan wajah kesal.


"Bodo amat!" sahut Aksen yang kini telah beranjak pergi meninggalkan Daren dibalkon.


"Kau mau kemana?" teriak Daren bertanya. Namun ia tak mendapati jawaban dari Aksen. Daren lantas berlari menghampiri Aksen, dilihatnya Aksen kini telah berbaring dengan nyaman di tempat tidurnya. Daren melebarkan matanya, ia bergegas menarik Aksen untuk menyingkir dari tempat tidurnya.


"Kenapa kau tidur disitu, pergi dari sini.!" titah Daren menarik paksa Aksen.


"Apa katamu? kau mau tidur disini?" tanya Daren tak percaya.


"iya." jawab Aksen singkat dengan suara khas mengantuk.


"Tidak boleh, cepat kau pergi dari sini." Daren memaksa Aksen keluar. Namun Aksen tetap bersikeras tak ingin keluar. Ia menutupi tubuhny dengan selimut. Hal itu membuat Daren semakin geram.


"Keluar dari sini! kau hanya akan jadi pengganggu dimimpiku malam ini." ujar Daren terus memaksa Aksen.


"Memangnya kau ingin bermimpi apa? Mimpiin Saras?" tanya Aksen dari dalam selimut.


"Tentu saja, aku ingin puas memimpikannya sampai pagi tanpa ada gangguan dari siapapun, termasuk kamu!" jawab Daren sembari menarik paksa Aksen.


"Cepat pergi dari sini, atau aku harus menendangmu keluar dari sini." ancam Daren. Mereka lantas bergulat di atas tempat tidur, sampai Aksen terjatuh kebawah.


Buugghh..


"Aishhh sakit!" Aksen meringis sakit di punggungnya karena jatuh. Daren tersenyum puas.


"Dasar bocah, kau memang kekanak - kanakan." ucap Aksen kesal. Lagi - lagi Daren tersenyum puas.


"Sudahlah, cepat pergi dari sini. Aku mau tidur." ujar Daren. Ia meraih tangan Aksen dan menariknya untuk berdiri. Namun Aksen menarik kasar tangannya.


"Lepaskan! Aku bisa bangkit sendiri." ucap Aksen ketus. Daren menyunggingkan bibirnya.


"Baiklah, sekarang cepat keluar!" titahnya lagi, ia pun berjalan untuk membukakan pintu untuk Aksen. Aksen mengerucutkan bibirnya, ia berdiri dan pergi dari kamar itu dengan tatapan geram kepada Daren. Hal itu membuat Daren terkekeh.


"Hati - hati dijalan sahabatku!" ujarnya tersenyum lebar. Namun Aksen tak menampiknya sama sekali. Daren pun mengunci kamarnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur king sizenya yang kini berantakan karena Aksen.

__ADS_1


Daren pun meraih guling lalu kemudian ia peluk sembari membayangkan wajah cantik Saras. Ia berharap malam ini Saras akan dengan senang hati masuk ke dalam mimpinya.


Aksen turun dari lantai dua dimana kamar Daren berada. Wajahnya masih terlihat kesal karena tingkah Daren yang begitu menyebalkan.


"Awas saja, aku tidak akan membantumu jika kau meminta bantuanku untuk mendekati Saras. Aku yakin tanpa bantuanku, kau tidak akan bisa." Sungut Aksen.


Sudarsih yang ingin ke dapur tiba - tiba melihat Aksen. "Den Aksen?" ucap Sudarsih mengeluarkan senyuman. "Den Aksen mau pulang? Tumben tidak tidur disini, biasanya kalau sudah larut malam begini, Den Aksen tidak pulang lagi." tanya Sudarsih heran. Aksen mengerucutkan bibirnya.


"Iya Bik, tadinya sih mau tidur disini. Tapi sepertinya Daren tidak mengijinkan. Dia juga mengusirku dengan paksa. Makanya aku pulang." jawab Aksen dengan wajah cemberut. Sudarsih mengerutkan keningnya.


"Loh kenapa begitu, biasanya Den Daren sendiri yang tidak mengijinkan Den Aksen pulang. Kenapa sekarang dia malah mengusir Den Aksen?" tanya Sudarsih heran. Aksen mendengus kesal.


"Katanya dia tidak mau mimpi indahnya terganggu kalau ada aku!" ujar Aksen. Sudarsih mengernyitkan dahinya.


"Memangnya Den Daren mau mimpi apa sih, kok sampe sebegitunya?" tanya Sudarsih penasaran.


"Biasa, dia kan lagi jatuh cinta. Beberapa hari ini hatinya lagi berbunga - bunga." jawab Aksen, hal itu lantas membuat Sudarsih terkekeh. Ia tiba - tiba teringat dengan kejadian lucu tadi pagi tentang Daren. Aksen mengernyitkan dahinya, ia menatap heran Sudarsih yang tiba - tiba tertawa.


"Bik Asih kenapa tertawa? Bik Asih mengejekku karena Daren mengusirku dari sini?" tanya Aksen dengah wajah cemberut.


"Tidak Den, bukan begitu. Bibik tertawa karena tiba - tiba teringat kejadian tadi pagi tentang Den Daren." jawab Sudarsih membuat Aksen penasaran.


"Memangnya tadi pagi Daren kenapa Bik?"


"Tadi pagi Den Daren bangunnya kepagian, jam 5 subuh Den Daren sudah siap - siap mau ke kampus, udah rapi dan wangi. Bahkan dia teriak - teriak bangunin semua orang. Den Daren juga ngomelin Bibik karena belum ada sarapan di meja. Padahal kan dia sendiri yang bangunnya kepagian." jawab Sudarsih terkekeh begitu juga dengan Aksen.


"Hahahaha.. Dia berubah jadi aneh gitu karena sedang jatuh cinta." balas Aksen terkekeh. Sudarsih pun mengangguk setuju.


"Den Aksen tidak usah pulang lagi. Tidur disini saja. Bibik akan menyiapkan kamar untuk Den Aksen." ujar Sudarsih.


"Tapi Bik, kalau sampai Daren tau aku tidur disini. Dia pasti akan mengusirku, aku malas mendengar ocehannya. " jawab Aksen dengan wajah cenberut. Sudarsih tersenyum kecil.


"Tenang saja, dirumah ini kan ada banyak kamar. Den Aksen bisa tidur dikamar tamu dilantai satu. Den Daren tidak akan tahu itu."


Aksen terdiam, ia memikirkan ide Sudarsih.


"Tidak usah berpikir panjang lagi, tidur disini saja. Ayok Bibik tunjukin kamar buat Den Aksen." titah Sudarsih. Aksen mengangguk kecil. Ia setuju dengan ide Sudarsih, lebih baik ia tidak usah pulang dan tetap tidur dirumah Daren saja.


Sudarsih membawa Aksen ke kamar tamu dilantai satu. Setelah sampai didepan kamar tersebut, Bik Asih pun membukanya.


"Silahkan masuk Den? titah Sudarsih sopan kepada Aksen. Aksen tersenyum.


"Terimakasih Bik." ucap Aksen sopan. Sudarsih pun mengangguk.


"Tante Greeta memangnya belum pulang Bik?" tanya Aksen.


"Nyonya Greeta tadi siang pergi ke luar kota, katanya sih ada urusan bisnis." jawab Sudarsih, Aksen mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Apa masih ada yang kurang den Daren?" tanya Sudarsih. Daren pun melihat isi dan perlengkapan tidur didalam kamar yang akan ia tempati itu.


"Sepertinya tidak ada lagi, Bik!" jawab Aksen yakin.


"Kalau begitu Bibik pergi dulu, kalau Den Aksen butuh sesuatu panggil Bibik aja. Tidak usah sungkan!" ujar Sudarsih.


"Iya Bik, terimakasih yah." ucap Aksen sopan.


"Sama - sama Den." jawab Sudarsih dan kemudian pergi meninggalkan Aksen. Setelah Sudarsih pergi, Aksen pun mengunci pintu kamarnya, lalu menjatuhkan badannya ke tempat tidur.


"Maaf Daren, aku tetap tidur dirumahmu!" ucap Aksen dalam hatinya. Ia pun memejamkan matanya dan tidur dengan lelap.

__ADS_1


__ADS_2