Tirai Pemisah

Tirai Pemisah
Daren Elizert Vanensia


__ADS_3

Daren Elizert Vanensia adalah anak tunggal dari pengusaha kaya raya asal Inggris, yaitu Mattew Vanensia. Ibunya juga merupakan orang tersohor di negri ini karena memiliki bisnis pertambangan yang lumayan besar di Indonesia. Ibunya Greeta Lyn Vanensia, adalah keturunan Jawa dan Chines yang berasal dari Indonesia. Ia menikah dengan seorang pengusaha terkenal asal Ingrris yaitu Mattew Vanensia.


Tidak hanya dibidang pertambangan, Greeta juga memiliki bisnis property dan elektronik. Namanya sangat tersohor dikalangan para petinggi di Indonesia. Sejak menikah dengan Mattew, Greeta lebih memilih untuk menetap di Indonesia untuk menjalankan semua bisnisnya, sedangkan Mattew lebih memilih menetap di Inggris. Mattew selalu berkunjung ke Indonesia setiap bulan untuk melepas rindunya kepada anak dan istrinya. Kendati begitu, hubungan rumah tangga Greeta dan Mattew tidak pernah diterpa isu – isu tidak sedap sekalipun mereka sering berpisah jarak. Rumah tangga mereka selalu rukun dan bahagia ditambah lagi dengan kelahiran Daren ditengah – tengah kehidupan mereka.


Daren tumbuh menjadi seorang pria yang sangat tampan. Ketampanannya nyaris sempurna dimata para kaum hawa. Berpostur tubuh tinggi berisi, perawakan yang tegas dan kulit putih, serta wajah campuran Inggris dan Indonesia membuat Daren berhasil memikat para kaum hawa yang melihatnya. Lebih – lebih lagi Daren adalah pewaris tunggal dari kekayan kedua orang tuanya, membuat kaum hawa semakin tergila – gila padanya.


Netra Daren terus menatap gadis itu hingga tak terlihat, seketika bibirnya tersenyum lebar kala mengingat kecantikan gadis yang ia tabrak itu. Sorotan matanya yang indah meskipun terlihat sendu karena menahan rasa sakit. Bibirnya merah tipis, hidungnya mancung da terdapat dua lesung pipi yang menambah kecantikan gadis itu berkali – kali lipat.


“Sialnya, aku tidak sempat berkenalan dengannya tadi. Aku akan mencari gadis itu, dan meminta maaf padanya karena telah menabraknya bahkan tadi aku sempat memaki – makinya.” Sungutnya. Kemudian ia menancap gas motornya ke parkiran kampus.


Gadis itu telah berhasil membuat Daren terlihat bahagia hari ini. Ia tampak semangat dan enerjik dari biasanya. Daren berjalan menuju kelasnya di lantai dua dan menyambangi Aksen, sahabatnya yang telah berada dikelas terlebih dahulu .


“Selamat pagi bro.” Daren merangkul Aksen yang tengah sibuk dengan gamenya. wajah Daren terlihat berseri – seri


“Pagi.” Aksen menjawab singkat tanpa menatap Daren dan netranya terus terfokus ke layar gadgetnya, ia sibuk dengan gamenya sendiri.


Melihat hal itu, Daren merampas gadget Aksen dan mematikan gadgetnya.


“Apa – apaan sih, kembaliin Daren.” Aksen mencoba merebut kembali gadgetnya namun Daren menghindar.


“Ahhh.. kamu kenapa sih? Menggangu kesenangan orang saja.” Sungut Aksen kesal.


“Udah aku matiin.” Daren terkekeh.


“Kenapa dimatiin. Aihhh kurangajar bangat anak satu ini. Kembalikan jangan buat emosi."


Daren tergelak melihat mimik wajah Aksen. Ia lantas memberikan gadget Aksen kembali.


“Hhhh.. gak ada gunanya lagi. Padahal tadi aku hampir menang, gara – anak setan satu ini nih.” Aksen mencoba memukul Daren, namun Daren berhasil menghindar.

__ADS_1


“Udah jangan marah, bagaimana kalau hari ini aku traktir kamu. Terserah mau makan apa dan di cafe mana.” Ucap Daren menyunggingkan bibirnya.


Aksen mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Daren pagi ini.


“Kamu kenapa sih?”


“Kenapa gimana maksudnya.?” Daren menjawab dengan tersenyum sehingga menampakkan gigi – gigi putihnya yang tersusun begitu rapi.


Aksen mengernyitkan dahi, ia mendekati Daren dan menempelkan punggung tangannya di kening Daren.


“Apa sih, kamu pikir aku lagi sakit?” Daren menepis tangan Aksen dari keningnya.


“Iya tadinya aku berpikir seperti itu, tubuhmu tidak panas sama sekali, berarti kamu tidak sakit, lalu kamu kenapa?” Ucapnya bertanya kebingungan.


“Kamu tuh yang sakit, lagian aku kenapa sih? Aku biasa – biasa saja,” Daren mengelak.


“Dari tadi kamu senyum – senyum sendiri, beda sekali dari hari – hari biasanya. Kamu juga terlihat bersemangat, bahkan mengajak makan diluar, biasanya kamu paling anti keluar – keluar karna takut di kejar – kejar gadis yang ingin berkenalan dan meminta nomor ponselmu.”


Namun kendati begitu, dari sekian banyaknya gadis – gadis yang mengejarnya dan menawarkan diri untuk menjadi kekasihnya, belum ada satupun gadis yang mampu membuat ia jatuh hati. Diusianya yang kini sudah menginjak 21 tahun ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta kepada seorang gadis. Namun kali ini, ia mungkin akan merasakan hal itu.


Daren tersenyum lebar, kala Aksen mempertnyakan perihal dirinya yang terlihat tidak seperti biasanya. Dengan gugup ia pun menjawab. “Ta.. tadi pagi aku tidak sengaja bertemu dengan gadis cantik.” Ucapnya menunduk malu – malu.


Aksen terkejut dan melebarkan matanya mendengar sahabatnya Daren mengatakan bertemu dengan gadis cantik. Selama ini Daren belum pernah melihat gadis yang menurutnya cantik selain dari pada mamanya, Greeta.


“Kamu bertemu gadis cantik? Dimana?" Tanya Aksen antusias.


“Tadi pagi aku tidak sengaja menabrakanya dekat pagar kampus. Sepertinya ia sedang terburu – buru dia melintas begitu saja didepanku.”


Aksen semakin melebarkan matanya kala mendengar kata Tabrak dari Daren.

__ADS_1


“Apa? Kamu menabrakanya? Jadi bagaimana keadaan gadis itu sekarang.” Ucap Aksen yang terlihat khawatir.


“Syukurnya dia tidak terluka parah, hanya luka kecil di lutut dan sikunya. Tapi aku belum sempat minta maaf, dan bodohnya aku malah memakinya.” Daren menggaruk kepalanya yang tak gatal dan terlihat kesal kepada dirinya sendiri.


“Harusnya kamu minta maaf dong, walaupun dia yang tiba – tiba melintas didepanmu, ya tetap kamu yang salah apalagi kamu adalah seorang pria.”


“Aku mau minta maaf, tapi belum sempat aku bicara, dia udah pergi duluan. ” Daren mengerucutkan bibirnya.


“Tenang saja, kamu pasti akan bertemu dengan gadis itu lagi. Dia kan kuliah disini.”


Aksen menepuk – nepuk pundak Daren.


“Sepertinya kamu akan merasakan apa itu cinta untuk pertama kalinya.” Ujar Aksen terkekeh.


Daren tergelak. “Emang kamu belum pernah?”


Aksen terdiam dan mengernyitkan dahi, ia lalu mengangkat kedua bahunya. Pasalnya Semenjak mereka berteman dari SMA, Daren juga belum pernah mendengar Aksen bercerita tentang seorang gadis pada dirinya.


“Kenapa? Kamu juga tidak pernah jatuh cinta? Ucap Daren kembali bertanya.


Aksen menarik nafasnya “Pernah, tapi dulu. Waktu masih SMP.”


“Dan sekarang bagaimana?” Tanya Daren lagi.


“Dia sudah menikah, dan sekarang dia sudah memiliki dua orang anak. Dulu dia di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Dia terpaksa menikah muda. Setelah lulus SMA dia menikah dengan pria pilihan orang tuanya itu. Ayahnya terjerat hutang dengan seorang Bandar judi.” Jawab Aksen dengan mimik wajah sedih.


Daren merasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu Aksen. “Aku minta maaf yah. Aku jadi membuatmu mengingat kembali masalalu mu dulu.” Daren mengelus punggung Daren.


“Santai aja.” Jawab Aksen dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


Aksen Tri Cahyono, adalah anak dari seorang pengusaha roti. Ayahnya bernama Ridwan Cahyono. Sedangkan ibunya Sri Fatma adalah seorang dokter spesialis Anak yang kebetulan bekerja di salah satu rumah sakit milik ibunya Saras, yaitu Ainun. Sri dan Ainun sudah bersahabat dari dulu. Mereka kebetulan kuliah di Universitas yang sama.


Dahulu keluarga Aksen sangatlah sederhana, Ayahnya Ridwan hanya seorang pengangguran yang hanya mengandalkan pendapatan dari ibunya Sri. Namun kehidupan mereka berubah drastis disaat Ayahnya mulai merintis usaha roti dan kini usahanya telah berkembang pesat, bahkan sudah memiliki cabang diberbagai kota dan dua pabrik yang masih beroperasi di kota Jakarta.


__ADS_2