
Kini Daren dan Aksen telah tiba di Fakultas pendidikan, fakultasnya Saras. Tampak gadis - gadis berhamburan menghampiri Daren untuk meminta nomor ponselnya.
Aksen mengerucutkan bibirnya, pasalnya ia begitu kesal dengan situasi seperti ini. Dimana Daren selalu saja dikerumuni oleh banyak gadis. Hal itu membuat Aksen merasa tidak nyaman dan terganggu, begitu juga oleh Daren.
"Daren, minta nomor ponselmu dong? "
"Daren, apakah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya gadis - gadis tersebut kepada Daren. Daren mendengus kesal, ia benar-benar merasa terganggu oleh gadis - gadis yang mengerumuni dirinya.
"Aku mohon, tolong menjauh dariku. Aku bukan aktor kenapa sih kalian selalu saja meminta nomor ponsel bahkan meminta ber photo denganku!" gerutu Daren kesal. Bahkan gadis - gadis itu juga dengan beraninya menarik - nari tangannya hingga ia hampir jatuh.
"Ayolah Daren, berikan kami nomor ponselmu kepada kami.!
" Astaga, dia benar - benar sangat tampan! " ujar para gadis - gadis tersebut.
"Aku minta maaf, tolong jangan ganggu aku. Permisi!" ujar Daren dengan sopan sembari berusaha keluar membebaskan dirinya dari kurungan gadis - gadis itu.
Daren menghela nafas, ketika berhasil lolos dari gadis - gadis yang memaksanya untuk memberikan nomor ponsel dan meminta ber photo dengannya.
"Akhirnya, aku bisa lolos juga dari sarang burung kelelawar itu." ucapnya dalam hati. Sementara Aksen sudah pergi duluan tanpa memperdulikan Daren.
"Bukannya membantuku untuk bebas dari kerumunan gadis - gadis itu, dia malah pergi meninggalkan ku, menyebalkan sekali! " umpat Daren. Ia lantas berlari mengejar Aksen.
"Bukannya membantuku, kalau malah pergi dan tidak peduli denganku! " ucap Daren yang kini sudah berjalan beriringan dengan Aksen.
"Aku benci dengan situasi seperti itu. Kalau keluar denganmu, selalu saja banyak gadis - gadis alay yang mengejarmu." balas Aksen terus berjalan dengan tatapan lurus.
"Kau pikir, aku menyukainya? aku yang lebih terganggu dibandingkan kau.!" ujar Daren mengerucutkan bibirnya. Aksen tak menampiknya, ia berjalan menuju ke tempat duduk mahasiswa yang tidak jauh dengan kelasnya Saras. Aksen pun duduk begitu juga dengan Daren.
Sembari menunggu kedatangan Saras, Daren dengan sibuknya memperbaiki model rambut dan pakaiannya, dan mencium beberapa bagian tubuhnya termasuk ketiaknya. Aksen menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah Daren.
"Sudahlah, kau tidak perlu mengecek apakah tubuhmu mengeluarkan aroma yang wangi. Lagian belum tentu juga Saras mau dekat - dekat denganmu" ujar Aksen sembari mengambil ponsel dari kantong celananya.
"Tidak ada gadis yang bisa menolak Pria setampan aku, termasuk Saras! " balas Daren percaya diri. Aksen memicingkan matanya, dan kemudian menyalakan ponselnya.
Setelah dua puluh menit Daren dan Aksen menunggu, akhirnya yang ditunggu - tunggu pun datang. Saras si gadis cantik berambut lurus sebahu pun datang. Sontak saja Saras terkejut melihat Daren sedang duduk didekat kelasnya, langkahnya pun terhenti. Namun sebaliknya, Daren tersenyum lebar ketika melihat Saras kini sudah berada di hadapannya. Melihat Saras sudah datang, Aksen juga berhenti bermain ponsel dan memasukkannya kembali ke kantong celananya
Daren beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Saras. Saras seketika menjadi gugup dan takut melihat Daren berjalan untuk menghampirinya.
"Hai, selamat pagi! " sapa Daren dengan senyuman dibibirnya.
"Selamat pagi!" jawab Saras dengan wajah datar. Daren tersenyum kikuk melihat respon Saras. Daren menggaruk kepalanya yang tak gatal, sembari memikirkan obrolan apa lagi yang akan ia katakan kepada Saras.
"Bagaimana dengan luka di lututmu? " tanya Daren menyambung obrolan.
"Sudah lebih baik! " jawab Saras singkat lagi, bahkan raut wajahnya begitu datar. Daren mengangguk dan tersenyum.
"Baguslah." balas Daren singkat, karena telah mati kata.
"Aku permisi, mau ke kelas." ucap Saras lalu pergi begitu saja. Daren menelan salivanya, ia memandangi Saras yang telah melenggang pergi.
__ADS_1
"Baru kali ini ada gadis yang cuek dan ketus kepadaku. " ucap Daren dalam hatinya sembari menatap Saras yang kini sudah berjalan jauh. Aksen terkekeh melihat mimik wajah Daren. Ia lantas beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Daren.
"Bagaimana rasanya ketika Pria yang paling tampan, dicuekin oleh seorang gadis! " ujar Aksen sembari menepuk pundak Daren. Daren mendengus dan melepaskan tangan Aksen dari pundaknya.
"Kau mengejekku? " tanya Daren dengan wajah cemberut. Aksen menyunggingkan bibirnya.
"Siapa yang mengejekmu, aku cuma bertanya bagaimana rasanya jika Pria tampan yang selalu di kejar oleh banyak gadis, namun di cuekin oleh satu gadis!" jawab Aksen mengulangi perkataannya. Aksen mengerutkan keningnya.
"Menyebalkan! " umpat Daren dengan wajah cemberut. Aksen pun dibuat terkekeh karnanya.
Nona yang hendak menuju kelasnya pun melihat Daren dan Aksen. Ia lantas berjalan untuk menyambangi kedua Pria itu.
"Hai" ucap Nona menyapa Daren dan Aksen dengan singkat. tentu saja Daren dan Aksen menoleh ke arah dimana suara itu berasal.
"Hai" balas Daren dan Aksen secara bersamaan. Nona mengeluarkan senyuman dibibirnya.
"Untuk apa kalian datang ke fakultas kami, bukannya kalian mahasiswa fakultas lain yah? " tanya Nona penasaran. Daren gelagapan, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ah, kami ada urusan disini! " jawab Daren dengan senyuman dibibirnya. Nona mengernyitkan dahinya.
"Kamu tidak ingat aku siapa? " tanya Nona kepada Daren. Daren mengernyitkan dahinya. Pasalnya Daren memang tak kenal atau bahkan mengingat siapa gadis yang menyapa dirinya dan Aksen ini.
"Aku minta maaf, tapi aku memang tidak mengenalmu! tapi aku tidak tau, apa temanku mengenalmu." jawab Daren sembari menoleh ke arah Aksen.
"Maaf, aku juga tidak mengenalmu." balas Aksen. Nona pun tersenyum mendengar pengakuan dari kedua Pria itu.
"Kau mengenalku? dari mana! " tanya Daren penasaran. Nona pun terkekeh.
"Sepertinya hampir seluruh gadis di kampus ini mengenalmu, Daren Elizert Vanensia. Pria tampan, anak tunggal dari seorang pengusaha kaya raya. Yah, kalaupun ada yang tidak mengenalimu, itu hanya beberapa orang saja. " papar Nona. Daren pun mengangguk dengan senyuman.
"Dan salah satu gadis yang tidak mengenaliku, yaitu Saras! " balas Daren.
"Iya, dia memang benar - benar tidak mengenalimu." sambung Nona.
"Sepertinya kau mengenali, Saras! " tanya Daren penasaran, begitu juga dengan Aksen. Nona tersenyum.
"Iya aku bahkan sangat - sangat mengenalinya. Karena aku kan sahabatnya Saras! " jawab Nona. Daren dan Aksen melebarkan mata.
"Jadi kau sahabatnya, Saras? " ucap Daren kembali bertanya. Nona mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Jadi kau kesini untuk menemui Saras! " tanya Nona. Daren menyunggingkan bibirnya seraya menggaruk - garuk kepalanya. Nona terkekeh, ia sudah tau jawabannya sekalipun Daren belum menjawab pertanyaannya.
"Bagaimana mungkin kau tidak mengenaliku, padahal kemarin aku tepat duduk disamping Saras, waktu kau datang untuk meminta maaf dan berkenalan dengannya." papar Nona. terkejut dan melebarkan mata.
"Aku minta maaf, aku memang benar - benar tidak mengenalimu. Karena waktu aku datang menemui Saras. Pandanganku hanya terfokus kepadanya seorang." ujar Daren dengan senyuman. Nona dan Aksen pun terkekeh.
"Iya aku paham, karena sepertinya kau juga menyukai Saras. " balas Nona. Daren melebarkan matanya lagi.
"Dari mana kau tau? "
__ADS_1
"Tatapan matamu tidak bisa berbohong! " jawab Nona. Daren menoleh ke arah Aksen, Aksen pun menyunggingkan bibirnya.
"Temanku ini baru pertama kali jatuh cinta, jadi sudikah kau untuk membantunya mendekati sahabatmu itu Nona? " ucap Aksen menimpali, Daren pun mengangguk dengan senyuman.
"Iya tentu saja! karena sepertinya Daren dan Saras cocok. Karena mereka berdua sama - sama belum pernah dekat dengan siapa pun. " balas Nona setuju. Daren pun tersenyum bahagia.
"Terimakasih, aku sangat - sangat berterimakasih jika kau memang bersedia membantuku untuk mendekati Saras! " sambung Daren.
"Oh ya, dari tadi kita sudah bicara panjang lebar tapi kita belum berkenalan. Kau memang sudah tau namaku, tapi aku belum tau siapa namamu." ujar Daren seraya mengulurkan tangannya.
"Namaku tadi sudah disebutkan oleh temanmu! " ucap Nona menatap Aksen. Daren pun menatap Aksen dengan tangan yang masih menggantung.
"Perasaan, aku tadi tidak menyebutkan nama. Aku hanya memanggil kamu dengan sebutan Nona saja, tidak ada nama. " ujar Aksen kebingungan.
"Iya itulah namaku, Nona. " balas Nona sembari tersenyum. Aksen dan Daren pun saling melempar pandangan kemudian mereka terkekeh.
"Oh jadi nama kamu Nona? kenalin namaku Aksen! " ujar Aksen seraya mengulurkan tangannya. Nona pun menjabat tangan Aksen.
"Kan tadi yang mau kenalan, aku! kok malah kalian berdua yang jadi berkenalan! " Gerutu Daren sembari menarik kembali tangannya yang tidak di gubris oleh Nona.
"Untuk apa lagi, Nona kan sudah mengenalmu. Sedangkan aku, belum!" balas Aksen. Daren pun mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah." jawabnya dengan wajah cemberut. Hal itu membuat Nona terkekeh.
"Cepat atau lambat kau akan mengetahui bagaimana sifat asli dari Pria yang menjadi buronan para gadis - gadis ini." ujar Aksen kepada Nona. Daren pun mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada apa dengan sifatnya? " jawab Nona penasaran.
"Dia sangat menyebalkan dan ke kanak - kanakan." balas Aksen. Hal itu membuat Nona terkekeh lagi.
Sedangkan Daren, ia menatap horor Aksen seraya mengepal tangannya kuat - kuat, ingin sekali dia menghajar temannya itu. Namun karena ada Nona, Daren mencoba menahan kesabarannya karena tidak ingin Nona menganggap buruk dirinya. Daren menarik nafasnya lalu membuangnya pelan, untuk meredakan emosinya.
"Oh ya Nona, bisakah kamu membantuku untuk membujuk Saras supaya mau makan siang denganku." pinta Daren malu - malu seraya menundukkan kepalanya.
"Sepertinya sangat sulit sekali, karena Saras belum pernah keluar sama Pria. Apalagi makan siang!" jawab Nona, Daren pun mengangkat kembali kepalanya mendengar jawab dari Nona.
"Tapi kamu tenang saja, aku pasti akan membantumu mendekati Saras. Asalkan kamu benar - benar serius menyukainya. Karena aku juga tidak mau, Sahabatku nantinya jatuh kepada Pria yang salah." papar Nona. Daren menyunggingkan bibirnya.
"Kau tenang saja Nona, aku sungguh-sungguh menyukai Saras. Bahkan ini pertama kalinya dalam hidupku! jadi kau tidak usah meragukan diriku, percayalah! " ucap Daren dengan wajah serius.
"Iya itu benar, Nona. Aku yang akan menjadi saksi dan salah satu orang yang akan bertanggung jawab jika suatu saat nanti, Daren menyakiti Saras." ucap Aksen menimpali. Daren mengangguk setuju dengan ucapan Aksen.
"Baiklah, aku akan membantumu!" balas Nona setuju. Daren pun tersenyum bahagia.
"Terimakasih Nona! " ucap Daren tulus. Nona membalas dengan anggukan kecil.
Kemudian, Saras keluar dari kelasnya untuk mencari Nona yang tak kunjung datang ke kelas. Tiba - tiba Saras melihat Nona sedang mengobrol dengan Daren dan Aksen. Nona pun mengerukan keningnya, ia jadi bertanya - tanya kenapa Nona bisa mengobrol dan terlihat dekat sekali dengan kedua Pria yang baginya masih asing itu. Saras pun semakin heran, ketika ia melihat Nona tertawa bersama dengan Daren dan Aksen.
Di sela - sela obrolan Nona, Daren dan Aksen. Namun Nona tak sengaja menatap ke arah Saras. Bibirnya langsung membungkam ketika ia melihat Saras tengah memperhatikan dirinya yang sedang asyik bercanda bersama Daren dan Aksen. Daren dan Aksen pun mengikuti arah pandangan Nona yang membuatnya tiba - tiba terdiam. Daren pun terkejut, ia melebarkan matanya ketika melihat Saras telah memperhatikan mereka.
__ADS_1