Tirai Pemisah

Tirai Pemisah
Lebih Dingin Dari Kulkas 2 Pintu


__ADS_3

Saras memutar badannya dan kembali ke kelasnya tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Nona, dan kedua Pria yang baru ia kenal itu, yaitu Daren dan Aksen.


Tentu saja Nona tak enak hati dibuatnya, apalagi melihat respon Saras yang seperti itu.


"Sepertinya aku harus pergi ke kelas, aku tidak enak melihat Saras tadi" ucap Nona pamit.


"Oh iya, tidak apa - apa, silahkan! tapi kamu jangan lupa dengan perjanjian kita barusan. Kamu harus membantuku mendekati Saras." ujar Daren dengan malu - malu. Nona menyunggingkan bibirnya dan kemudian mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku permisi dulu yah! " ucap Saras lagi, lalu melenggang pergi menyusul Saras ke kelas.


Daren dan Aksen menatap Nona yang kini telah melenggang pergi. Daren pun tak kuasa menahan rasa bahagianya. Ia tampak melebarkan senyumnya sehingga gigi putih nan rapinya terlihat begitu jelas. Aksen mengernyitkan dahi melihatnya.


"Kenapa kamu senyum - senyum seperti itu? " tanya Aksen kepada Daren.


"Aku tersenyum bahagia, karena aku memiliki seseorang yang cukup berpengaruh untuk mendekati Saras. Aku yakin, aku pasti bisa mendapatkan Saras, tak peduli se dingin apapun dirinya." ujar Daren dengan mata yang masih tertuju kepada Nona yang kini sudah semakin jauh.


Aksen pun mendegus, ia lantas melangkah pergi tanpa sapatah katapun. Daren membola melihat Aksen yang tiba-tiba pergi meninggalkannya.


"Loh kenapa kamu pergi? " teriak Daren, ia pun berlari mengejar Aksen.


"Kamu itu kebiasaan sekali suka pergi dengan tiba - tiba. " gerutu Daren yang terus melangkah dengan cepat mengejar Aksen.


"Untuk apa lagi berdiri disitu, sedangkan Nona dan Saras saja sudah masuk kelas." balas Aksen dengan terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.


"Kamu kan bisa bilang, yaudah kita pergi yuk! masa kamu tidak bisa mengatakan kata - kata yang singkat seperti itu!"


"Malas." sambung Aksen singkat. Daren memanyunkan bibirnya.


"Malas kenapa? " tanya Daren.


"Kalau aku harus mengajak kamu pergi, kamu pasti tidak akan mau. Aku sudah tau sifatmu seperti apa." jawab Aksen. Daren memanyunkan bibirnya lagi.


"Memangnya kamu tidak mau membantu sahabatmu sendiri untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya." tanya Daren


"Bukan tidak mau, tapi kan ada waktunya. Coba kamu lihat, ini jam berapa? Sudah waktunya masuk kelas, kalau sampai kita terlambat masuk. Bisa - bisa kita dapat nilai buruk dari Dosen. Aku tidak mau gara - gara kamu, nilaiku jadi buruk! " ujar Aksen lagi.


"Awas saja, cepat atau lambat kamu juga pasti akan jatuh cinta. Dan kamu akan merasakan seperti apa yang aku rasakan sekarang. Kamu akan mengemis - ngemis meminta bantuanku. " ucap Daren


"Bodo amatlah! " jawab Aksen ketus seraya masuk kedalam kelas.


Sementara Nona menyusul Saras ke kelas dengan raut wajah khawatir. Nona benar-benar takut jika Saras marah padanya karena kepergok sedang nengobrol bahkan bercanda ria bersama dengan Daren dan Aksen. Nona pun duduk disamping Saras yang tengah sibuk dengan bukunya. Dengan penuh hati - hati ia bertanya kepada Saras.


"Saras, aku minta maaf. " ucapnya. Saras mengerutkan keningnya, ia dibuat bingung dengan Nona.

__ADS_1


"Kamu kenapa tiba - tiba meminta maaf padaku? " tanya Saras tanpa menoleh ke arah Nona, karena masih sibuk dengan bukunya.


"Yah karena tadi aku ngobrol bersama dengan Daren dan Aksen. " jawab Nona dengan penuh hati - hati. Saras mengernyitkan dahinya, ia lantas menutup bukunya dan memandang Nona.


"Kenapa aku harus marah? memangnya apa yang salah dari kamu. Itu kan hak kamu mau ngobrol dengan siapa saja, atau berteman dengan siapa saja." ujar Saras.


"Maksudku bukan begitu, Saras. " balas Nona. Saras pun mengerutkan keningnya lagi.


"Lalu bagaimana lagi? "


"Aku takut kamu salah paham karena sekarang ini kamu kan lagi dekat dengan Daren." jawab Nona seraya menundukkan kepalanya, ia tak kuasa menatap wajah Saras karena takut Saras marah dan salah paham padanya. Namun Saras malah tertawa terbahak - bahak. Tentu saja Nona heran dengan hal itu, ia lantas mendongak menatap Saras yang tengah tertawa lepas itu.


"Hahahahahah"


"Kamu kenapa tertawa? Dimananya yang lucu." tanya Nona keheranan.


"Hahahah.. hahahha.. Kamu memang lucu sekali." jawab Saras yang masih saja tertawa.


"Kamu kenapa bisa beranggapan seperti itu tentang aku dan Daren. Bahkan, aku dan Daren baru berkenalan beberapa hari. Kenapa kamu bilang aku dan dia lagi dekat. Sampai - sampai kamu jadi takut dan segan begitu mengobrol dengan dia. Ckckck" papar Saras diselingi dengan tawa. Nona mengerucutkan bibirnya.


"Ihh dasar memang kamu ini tidak peka sama sekali. Begini nih kalau orang belum pernah jatuh cinta atau bahkan dekat dengan Pria." sungut Nona dengan kesal. Saras pun mengernyitkan dahinya.


"Apa hubungannya ke masalah aku belum pernah jatuh cinta atau dekat dengan Pria? Aneh kamu! " jawab Saras tak terima.


"Ya jelas ada hubungannya lah, bahkan saat ini ada seorang Pria yang jelas - jelas menyukai kamu dan mencoba mendekatimu, tapi kamu tidak peka." ujar Nona sembari membuang pandangannya.


"Ihhhh.. Astaga Saras. Daren itu suka sama kamu. Masa itu aja kamu tidak peka sih? "


Nona tersenyum kikuk, kemudian ia membuka bukunya lagi. Melihat hal itu membuat Nona semakin geram lagi. Nona merampas buku Saras.


"Nona! kamu kenapa sih, kembalikan bukunya! aku belum selesai membaca." pinta Saras kepada Nona.


"Tidak mau!" ucap Nona tak memberikan buku itu. Saras mendengus kesal.


"Nona, kembalikan, aku mohon! " ucap Saras memohon.


"Ya ampun Saras, kamu itu bisa tidak kali ini mari kita bahas tentang Daren dengan serius. Sekali ini saja! " ucap Nona berbalik memohon. Saras pun mengerutkan keningnya.


"Untuk apa kita bahas tentang dia sih, kamu itu aneh sekali. " jawab Saras.


"Sini bukunya. " Saras mencoba merebut bukunya dari genggaman Nona. Namun Nona menghindar dan tak memberikan buku itu. Hal itu membuat Saras menjadi jengkel.


"Nona." ucap Saras singkat dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Saras." balas Nona. Saras pun mendengus kesal, ia kini pasrah karena Nona tak memberikan bukunya.


"Sampai kapan kau terus menutup diri dan hatimu, Saras. Daren adalah Pria yang menurutku cukup baik dan sempurna. Kau tau, banyak gadis diluaran sana yang berharap bahkan sampai mengemis untuk menjadi kekasihnya. Dan kau? Kau sudah beruntung, dia menyukaimu dari sekian banyaknya gadis - gadis itu. Tapi kamu malah bersikap acuh seperti ini." ujar Nona menggerutu. Namun Saras tak menampiknya, ia bersikap seolah - olah ia tak mendengar ocehan Nona. Nona pun memutar bola mata jengah melihat sikap Saras tersebut. Ia lantas memutar badan menghadap Saras.


"Saras, berhentilah bersikap ke kanak - kanakan seperti ini! " ujar Nona yang sudah kesal.


"Bersikap kekanak-kanakan bagaimana? Aku tidak menyukainya, dan kau juga tau. Kami baru saja berkenalan. Kamu itu yang aneh! " jawab Saras.


"Ya maksudku, kenapa kau tidak coba dulu untuk berteman dengannya. Mengenalinya lebih dalam lagi. Setidaknya kamu terima ajakannya untuk makan siang, walau cuma sekali saja." ujar Nona mencoba membujuk Saras.


"Aku tidak mau, lebih baik aku makan siang di rumah bersama Papa dan Mama dari pada harus makan siang bersama Pria yang baru saja aku kenal." tolak Saras, hal itu membuat Nona semakin geram. Namun ia mencoba untuk tetap tenang dan sabar menghadapi sikap Saras yang memang sangat keras kepala. Ia pun mendengus dan mengusap - usap dadanya, demi tujuannya untuk membantu Daren mendapatkan Saras.


"Lantas bagaimana kamu bisa mengenalinya lebih dalam kalau kamu saja tidak mau makan siang atau berteman dengannya."


"Aku tidak ingin mengenalinya lebih dalam atau bahkan berteman dengannya. Sudahlah, Nona. Kenapa kamu jadi seperti ini sih? Ada apa denganmu?" tanya Saras dengan tatapan curiga. Nona pun tersenyum kikuk, ia tidak ingin jika Saras sampai tau jika dirinya sudah berkompromi dengan Daren untuk mendapatkan dirinya.


"Tidak apa - apa, aku hanya merasa kau menyia - menyiakan kesempatan bagus yang bahkan semua wanita idam - idamkan." jawab Nona. Saras pun menyunggingkan bibirnya.


"Semua orang katamu? Tapi tidak dengan diriku! " ujar Saras. Nona pun menggeleng - gelengkan kepalanya, lalu kemudian memijit pelipisnya. Saras memang susah untuk dibujuk apalagi jikaitu mengenai seorang Pria.


Setelah pukul 12. 00 siang, semua mahasiswa tampak berhamburan keluar dari kelas masing - masing. Ada yang pulang karena mata kuliah sudah habis, ada yang pergi ke kantin untuk makan siang dan apa pula yang makan siang diluar sembari menunggu jam mata kuliah selanjutnya. Daren tampak berdiri disebuah sudut ruangan yang tidak jauh dari kelas Saras. Tentunya ditemani oleh sang sahabat sejati, yaitu Aksen.


Daren tampaknya sudah tak sabar ingin melihat Saras, ia mondar - mandir tak karuan menunggu Saras keluar dari kelas sementara Aksen duduk disebuah kursi dan sibuk dengan ponselnya.


Beberapa menit kemudian, Saras dan Nona pun keluar dari kelas karena mata kuliah telah usai. Daren pun menoleh ke arah kelas Saras, dan mimik wajahnya berubah menjadi bahagia ketika ia melihat Saras. Ia pun mencoba merapikan pakaian dan rambutnya, supaya terlihat rapi dan tampan dimata Saras.


Saras dan Nona pun melihat Daren yang tengah berdiri tidak jauh dari kelas mereka. Langkah Saras pun terhenti dibuatnya, Sedangkan Nona, ia hanya tersenyum kikuk. Daren pun tersenyum lebar dan melambaikan tangannya menyapa Saras dan Nona. Nona pun tersenyum dan melambaikan tangannya, namun tidak dengan Saras. Ia sama sekali tak menampik Daren, kemudian ia dengan santainya berjalan dihadapan Daren dan melenggang pergi begitu saja.


Daren pun menelan salivanya kasar dan terus menatap Saras yang terus melenggang pergi. Terlihat jelas dari tatapan matanya, ada kesedihan karena respon yang kurang baik dari Saras. Nona pun menyusul Saras, namun ketika dia didekat Daren, Nona pun berbisik.


"Kau harus sabar dan terus berjuang jika kau benar-benar menyukainya. Dia bahkan lebih dingin dari kulkas 2 pintu. Pria se tampan dan se tajir dirimu saja tak dihiraukan olehnya. Semangat! " bisik Nona memberikan semangat kepada Daren. Kemudian ia berlari mengejar Saras yang kini sudah berjalan jauh.


Daren pun terus menatap Saras sampai menghilang tak terlihat lagi. Aksen mematikan ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Kemudian ia beranjak dan berjalan mendekati Daren.


"Sabar, Bro. Ini baru permulaan! Sepertinya kau perlu jurus untuk mencairkan es batu itu." ujar Aksen sembari seraya menepuk bahu Daren. Namun Daren hanya terdiam, ia tak mengucapkan sepatah katapun. Ia tak habis pikir dengan gadis yang ia sukai itu, bisa - bisanya ada seorang gadis yang secara terang - terangan menolak dirinya seperti ini. Sedangkan diluar sana gadis - gadis rela mengemis untuk menjadi kekasihnya atau bahkan hanya untuk mendapatkan nomor ponsel dan berphoto dengannya.


"Sudahlah, ayo kita pulang. Masih ada hari esok, untuk berjuang" ujar Aksen. Daren tak menjawab, ia lantas melangkahkan kakinya dan berjalan dengan langkah yang begitu cepat menuju tempat parkir, bahkan Aksen terlihat kewalahan mengimbangi langkahnya.


"Kau begini saja sudah merajuk, Saras yang bersikap cuek padamu, kenapa malah aku yang kena imbasnya sih? " Gerutu Daren.


"Aku mau pulang kerumah sekarang! " jawab Daren.


"Aku ikut kerumahmu! " pinta Aksen.

__ADS_1


"Tidak usah, aku lagi ingin sendiri. Tidak mau diganggu oleh siapapun, termasuk kamu! " ujar Daren. Aksen pun mengernyitkan dahinya, dan membiarkan Daren pergi begitu saja melaju dengan motor sport nya.


"Dasar bocah." Umpat Aksen dalam hatinya, ia pun meraih helmnya lalu menancap gas motornya.


__ADS_2