
Aksen menendang kecil Daren agar tersadar dari lamunannya dan segera melakukan tindakan untuk gadis yang ditabrak oleh Daren.
Setelah ditendang oleh Aksen, Daren pun bergegas membantu gadis itu untuk berdiri.
"Kamu baik - baik saja?" tanya Daren, gadis itu menjawab dengan anggukan kecil. "Biarkan aku membantumu berdiri." Daren mengulurkan tangannya. Gadis itu pun meraihnya lalu berdiri.
"Aku akan membantumu membersihkan bajumu dan membayar makananmu yang tumpah." tawar Daren dengan sopan. Gadis itu mengeluarkan seyuman kecil.
"Terimakasih, tapi itu tidak perlu."
"Ayolah, anggap saja ini sebagai permohonan maafku. " paksa Daren. Gadis itu mengangguk kecil sembari memegangi bagian lututnya. Mata Daren pun tertuju.
"Kamu terluka?" tanya Daren khawatir.
"Tidak, ini luka ku yang kemarin. " jawab gadis itu singkat.
"Pasti itu luka karena aku tabrak kemarin." ucap Daren dalam hatinya.
"Aku permisi ke toilet dulu, membersihkan bajuku yang kotor!" ucap Gadis itu pamit seraya berjalan ke toilet. Daren mengangguk kecil, kedua netranya pun terus memandangi gadis yang sedang berjalan dengan terbata - bata itu.
Aksen mendekati Daren, lalu melingkarkan tangannya dibahu Daren.
"Siapa gadis itu? kenapa kamu menatapnya aneh?" tanya Aksen penasaran.
"Dia adalah gadis yang sama, yang tidak sengaja aku tabrak kemarin!" jawab Daren lemah. Aksen terkejut, matanya melebar.
"Apa? dia gadis yang kau tabrak kemarin?"
"Tidak sengaja!" balas Daren tak terima. Aksen meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau ceroboh sekali. Baru kemarin kau melukainya dan sekarang kau melukainya lagi! kau harus minta maaf, bila perlu bawa dia ke dokter untuk berobat."
"Bukankah kau juga menyukainya? ini adalah kesempatan bagus untuk berkenalan dengannya." ujar Aksen tersenyum kecil. Daren menatap Aksen dan ia pun tersenyum setuju.
"Ide yang bagus kawan!" balasnya.
"Kalau begitu bantu aku untuk membersihkan makanan tumpah dan serpihan kaca ini, aku ke kasir dulu membayar makanan kita sekaligus makanan gadis cantik itu." pinta Daren. Aksen mengerucutkan bibirnya.
"Kau memang suka sekali merepotkanku!" gerutu Aksen.
"Anggap aja nambah - nambah pahala." jawab Daren santai. Kemudian Buk Ati si pemilik kantin datang membawa sapu dan tempat sampah untuk membersihkan makanan dan pecahan kaca tersebut.
"Permisi nak Daren, nak Aksen! saya akan membersihkannya." kata Ati.
"Tidak usah Buk. Biarkan kami yang akan membersihkannya. Lagi pula ini adalah kesalahanku!" tolak Daren. "Serahkan saja sapu itu untuk Aksen buk." titahnya lagi kepada Ati. Ati menatap Aksen dengan tatapan tak enak
"Berikan saja Buk, saya yang akan membersihkannya. Ibu tidak usah merasa tak enak begitu!" ujar Aksen seraya meraih sapu dan tong sampah dari genggaman Ati. Ati pun mengeluarkan senyuman.
Ati memang sangat menyukai Aksen terlebih lagi dengan Daren. Walaupun mereka berdua adalah anak dari kalangan atas, namun Aksen dan Daren tidak pernah sombong. Mereka ramah dan rendah hati kepada sesama.
"Baiklah kau bersihkan saja lantainya aku akan ke kasir sekarang untuk membayar makanan tadi." ujar Daren kepada Aksen. Daren pun pergi ke kasir kantin dan membayar makanannya dan Aksen, juga makanan tumpah gadis itu.
Aksen pun menjalankan titah Daren, ia dengan telaten membersihkan lantai yang kotor begitu juga dengan puing - puing piring pecah itu.
__ADS_1
Sebelum Daren beranjak pergi meninggalkan kasir, terbesit di pikirannya bertanya kepada Buk Ati tentang gadis cantik itu.
"Buk Ati. " Daren memanggil Ati. Ati yang tengah membuatkan pesanan untuk pelanggan itu berhenti sejenak karena Daren.
"Iya nak Daren, ada apa?" tanya Ati berjalan menghampiri Daren. Daren tampak gerogi dan malu - malu, sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal ia pun berani bertanya.
"Buk Ati mengenal gadis yang tadi tidak sengaja aku tabrak tidak?" tanya Daren menunduk malu.
"Iya kenal Nak, namanya Saras." jawab Ati. Daren mengangkat kepalanya, ia tak dapat menahan senyuman dibibirnya.
"Saras?" Ucap Daren dengan mata yang berbinar.
"Iya namanya Saras. Kalau tidak salah dia jurusan pendidikan." sambung Ati. Daren mengangguk -anggukkan kepalanya.
"Terimakasih ya Buk!" ucapnya kepada Ati.
"Sama - sama Nak!" balas Ati. Ati pun melanjutkan aktivitasnya. Begitu pula dengan Daren, ia menyambangi Aksen yang tampaknya sudah selesai membersihkan lantai kotor karna ulahnya itu.
"Kamu memang sangat pintar dalam hal bersih - bersih, lihai dan cekatan!" kata Daren tiba - tiba datang dari belakang Aksen. Aksen mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kau puas, kau memang selalu merepotkanku! kau tidak akan pernah mendapat sahabat sebaik diriku ini lagi." sungut Aksen sembari meletakkan sapu dan tong sampah. Daren tersenyum kecil.
"Iya aku akui. Memang kau adalah sahabat terbaik di dunia ini!" kata Daren memuji. Aksen mengernyitkan dahinya dan meraih tasnya di atas meja.
"Aku sudah bertanya tentang gadis itu kepada Buk Ati. Katanya gadis itu bernama Saras dan dia jurusan pendidikan. Kita akan ke fakultas pendidikan untuk mencari gadis itu sekarang." titah Daren. Aksen mengangguk meng iyakan. Mereka berdua bergegas ke fakultas pendidikan mencari Saras.
Setelah sampai di fakultas pendidikan, tampak gadis - gadis disitu saling berbisik karena terpesona akan ketampanan Daren. Bahkan banyak pula yang berlari dan berteriak histeris menyebut namanya sekaligus meminta berphoto dengannya.
"Itu Daren kan? wah dia benar - benar sangat tampan dan sempurna!" ucap gadis - gadis itu memuji Daren.
"Boleh kah kami ber photo denganmu, sebentar saja. Ayolah Daren!" teriak gadis - gadis itu memohon.
"Aku minta maaf, aku sedang terburu - buru, lain kali saja kita berphoto." jawab Daren dengan sopan. Ia dan Aksen berlari kecil menjauh dari kebisingan itu.
Setelah sampai di tempat yang sepi dan aman, Aksen dan Daren duduk disebuah kursi untuk beristirahat. Terdengar dengan jelas suara nafas Aksen dan Daren yang tersengal - sengal karena diburu oleh para gadis.
"Kau seperti aktor saja, selalu saja dikerumuni oleh gadis - gadis." gerutu Aksen.
"Kau pikir aku menyukai itu? Aku juga sangat merasa terganggu." jawab Daren.
Tiba - tiba ada seorang gadis keluar dari ruangan. Aksen melirik ke arah gadis tersebut.
"Coba tanyakan pada gadis itu, siapa tau dia mengenali Saras." ucap Aksen. Daren pun mengangguk, ia beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri gadis tersebut.
"Permisi Mbak!" ucap Daren dengan sopan. Gadis itu melebarkan mata kala melihat seorang pria tampan tengah menyapa dirinya. Dengan malu - malu ia pun menjawab.
"Iya ada perlu apa yah?" jawabnya salah tingkah.
"Mbak kenal dengan Saras? Katanya sih anak fakultas pendidikan.!" sambung Daren.
"Oh Saras? iya kenal, kelasnya ada di sana, tiga ruangan setelah ini." jawab gadis itu sembari menunjukkan letak kelas Saras. Daren tersenyum lebar.
"Terimakasih ya Mbak!" ucapnya sopan.
__ADS_1
"Iya sama - sama." gadis itu pun pergi meninggalkan Daren.
"Kelasnya disana, ayo kita pergi!" Teriak Daren kepada Aksen. Aksen pun beranjak dari kursinya menghampiri Daren lalu mereka pergi bersama menemui Saras ke kelasnya.
Setelah sampai didepan kelasnya Saras. Daren terlihat bergetar dan tidak berani untuk melangkah masuk. Ia salah tingkah dan wajahnya juga memerah. Aksen menatapnya dengan tatapan Aneh.
"Tunggu apa lagi? Ayo masuk!" ujar Aksen. Daren mengambil nafas dan membuangnya pelan. Ia melakukan itu secara berulang - ulang. Aksen mendengus kesal.
"Dasar cemen, baru juga mau pendekatan begini nyali kamu udah menciut. Ayo buru!" ejek Aksen sembari mendorong Daren hingga tepental masuk kedalam kelas.
Orang - orang yang berada dikelas itu pun terkejut melihat Daren yang tiba - tiba masuk ke dalam kelas mereka, begitu pula dengan Saras.
Daren gelagapan ketika ia melihat ada Saras didalam kelas itu. Ia seketika menjadi salah tingkah bahkan berkeringat dingin. Aksen pun menyusul masuk ke dalam, dilihatnya sudah ada Saras sedang duduk bersama seorang gadis yang mungkin itu adalah temannya. Aksen tersenyum kepada Saras. Saran pun membalasnya dengan senyuman kecil. Namun, Daren hanya mampu menunduk dan tak berani menatap Saras. Aksen menyenggol Daren dengan geram.
"Apa yang kau lakukan, bocah! cepat hampiri dia dan minta maaflah kepadanya!" ujar Aksen geram. Daren gelapan, kakinya terasa begitu berat untuk dilangkahkan. Aksen mendengus kesal. Dilihatnya semua mata orang dikelas kini tertuju kepada mereka. Ia pun menggenggam erat lengan Daren.
"Kau jangan membuatku malu, lihat! semua orang menatap kita dengan tatapan aneh termasuk Saras. Ayo cepat hampiri dia." ucap Aksen memaksa. Daren manarik nafasnya lagi dan membuangnya pelan. Ia berusaha mengumpulkan seribu keberanian dan membuang rasa gugupnya untuk menghampiri Saras.
Dengan ragu - ragu ia melangkahkan kakinya, namun Aksen sengaja mendorongnya dari belakang agar Daren lebih memberanikan diri dan mempercepat langkahnya.
"Hai.." ucap Daren menghampiri Saras. Saras tersenyum kecil.
"Hai." jawab Saras. Daren gelagapan, ia tak tahu harus mengatakan apa.
"Kamu baik - baik saja kan? tanya Daren gugup. Saras mengangguk kecil.
"Aku.. Aku tidak sengaja melihatmu memegang lututmu. Apa lutut mu terluka?" tanya Daren lagi.
"Iya, tapi ini bukan karena kejadian tadi pagi dikantin. Kemarin aku sedang terburu - buru, jadi ada seorang pria yang dengan tidak sengaja menabrakku.!" jawab Saras menjelaskan. Daren kini merasa bersalah, pasalnya ia tidak sempat meminta maaf atas perbuatannya yang sudah menyebabkan Saras terluka.
"Aku minta maaf, sebenarnya, akulah orang yang menabrak kamu kemarin!" ucap Daren. Saras melebarkan matanya, ia tak percaya jika orang yang telah membuat makanannya tumpah dan pakaiannya juga kotor adalah orang yang telah menabraknya kemarin.
"Apa? jadi kamu juga yang menabrakku?" jawab Saras terkejut. Daren mengangguk meng iyakan.
"Iya, aku minta maaf. Untuk menebus kesalahanku aku akan bertanggung jawab. Aku akan membawamu ke dokter untuk mengobati lukamu sampai sembuh." ujar Daren serius. Saras mengeluarkan senyuman kecil.
"Terimakasih, itu tidak perlu. Karena itu juga karena kesalahanku. Aku terburu - buru dan asal lewat tanpa melihat kanan dan kiriku.!" tolak Saras dengan sopan.
"Aku mohon jangan tolak, aku ingin menebus kesalahanku padamu!" ucap Daren terus memohon. Saras tersenyum.
"Aku baik - baik saja, ini hanya luka kecil. Akan terlalu berlebihan jika harus ke dokter." tolak Saras lagi. Daren mengerucutkan bibirnya karena penolakan dari Saras.
"Bagaimana kalau aku traktir kamu makan siang? aku harap kamu tidak menolakku lagi." pinta Daren penuh harap. Saras melebarkan mata, pasalnya seumur hidupnya ia belum pernah keluar dan makan bersama dengan seorang pria. Keculi bersama Papanya.
"Maaf aku tidak bisa!" jawab Saras, hal itu membuat Aksen sedikit kecewa.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" sambung Daren.
"Tidak perlu, karena aku baik - baik saja. Kau tidak perlu melakukan apapun." tolak Saras lagi. Daren mendengus kecewa.
"Baiklah kalau begitu aku boleh berkenalan denganmu?" tanya Daren.
"Namaku Daren?" ucapnya sembari mengulurkan tangan. Saras merasa gugup, ia tak berani menjabat tangan Daren. Ia pun menatap ke arah Nona yang kini tepat disampingnya. Nona mengangguk kecil meng iyakan. Kemudian Saras mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aku Saras!" jawab Saras lembut. Daren tersenyum lebar. Hatinya kini berbunga - bunga, apalagi kini ia menggenggam tangan halus gadis cantik yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aksen dibelakang pun ikut tersenyum puas melihat Daren yang berhasil berkenalan dengan Saras.