Tirai Pemisah

Tirai Pemisah
Akibat Jatuh Cinta


__ADS_3

Saras berjalan menuju sebuah rak yang ukurannya lumayan besar di sudut kamar luasnya yang amat rapi. Di dalam rak itu tersusun banyak buku dengan teratur. Kemudian ia dengan spontan mengambil sebuah buku yang bersampul warna merah muda yang berjudul "Cinta Pertama" dan membawanya keluar kamar menuju balkon yang pemandangannya menyajikan gemerlapnya lampu kota dan gedung pencakar langit.


Saras menarik sebuah kursi untuk duduk dan meletakkan bukunya di atas meja bundar dihadapannya. Sebelum membuka buku tersebut, Saras mendongak ke langit yang penuh dengan bintang yang ukurannya bervariasi dan warnanya berbeda-beda. Senyumnya melebar saat menyaksikan pemandangan alam indah itu. Terlebih lagi, hembusan angin semakin menambah suasana yang damai dan tenang.


Suasana seperti ini sangat disukai oleh Saras yang senang dengan tempat yang sunyi dan damai, jauh dari kebisingan keramaian. Entahlah, mungkin karena dia seorang introvert. Namun, sebagai mahasiswa di universitasnya yang berfokus pada pendidikan, di mana ia akan dikelilingi oleh ratusan anak-anak setiap hari, tentu dia akan selalu berada pada suasana ramai dan bising.


"Lagi ngapain, Nak?" tiba-tiba terdengar suara seseorang. Saras memutar badannya dan melihat ke arah suara tersebut. "Mama," sahut Saras dengan senyum.


Ainun meletakkan dua cangkir kecil yang berisi teh kesukaannya dan putrinya Saras di atas meja, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk tepat di sebelah Saras.


"Saras sedang melihat bintang-bintang itu, Mah. Cantik sekali, bukan?" ucap Saras sambil kembali mendongak ke atas langit.


Ainun pun ikut mendongak dan menatap langit indah yang disulap oleh bintang-bintang tersebut. "Iya, cantik seperti putriku, Saras," jawab Ainun dengan senyum di wajahnya.


Saras perlahan menurunkan wajahnya ketika mendengar perkataan Mamanya. Senyumnya masih terpancar di bibirnya. "Saras cantik seperti bintang-bintang itu, Mah?" tanya Saras.


Ainun menurunkan wajahnya dan memegang pipi kanan Saras, kemudian mengusapnya pelan. "Tentu saja. Kau cantik seperti bintang-bintang yang berkelap-kelip di sana, Nak!" Ainun tersenyum, dan Saras juga ikut tersenyum. Kemudian Ainun memberikan satu kecupan di dahi Saras.


"Mmmuaaachhh..."


"Aku sayang Mama," ucap Saras.


"Mmuuuaachhh." Saras membalas kecupan Mamahnya.


"Kalau Saras secantik bintang, dan Mamah secantik bulan," bisik Saras dengan penuh kasih sayang.


Ainun dan Saras pun tersenyum bersama setelah memberikan pujian satu sama lain. Tiba-tiba, Ainun teringat akan teh hangat yang sengaja disediakan untuknya dan Saras. Ia pun melepaskan tangan dari pipi Saras dan mengambil salah satu cangkir yang berisi teh tersebut.


"Ini dulu tehnya minum," ujar Ainun sambil memberikan cangkir tersebut kepada Saras.

__ADS_1


Namun, perhatian Ainun tertuju ke sebuah buku yang bersampul warna merah muda di atas meja yang bertuliskan "CINTA PERTAMA".


"Terima kasih, Mah," ucap Saras sambil meraih cangkir dari genggaman Mamahnya dan meminum sedikit tehnya yang masih hangat itu, lalu kembali mendongak ke atas langit sambil menikmati pemandangan alam yang indah.


Ainun mengerutkan keningnya. "Saras, sejak kapan kamu membaca buku seperti itu?" tanya Ainun heran.


Saras menurunkan wajahnya dan melihat buku yang ia taruh di atas meja yang sekarang di tangan Mamahnya. "Kenapa, Mah?" balas Saras bertanya, sambil menikmati tehnya.


"Kamu sedang jatuh cinta?" ucap Ainun penasaran.


Saras tersedak mendengar ucapan Mamahnya. Teh yang ia minum bahkan menyembur keluar yang mengenai Mamahnya.


Saras kemudian meletakkan cangkir teh itu ke atas meja dan membersihkan wajahnya menggunakan tangannya. "Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Ainun khawatir, lalu ia mengusap-usap punggung Saras.


"Iya, Mah, aku baik-baik saja," ucap Saras.


"Mamah hanya penasaran. Tumben kamu baca buku seperti itu. Biasanya kamu lebih menyukai buku psikologi, tentang guru dan anak-anak," ujar Ainun.


"Benarkah, Nak? Mamah harus percaya pada Saras. Saras tidak sedang jatuh cinta," ucap Saras sambil meraih tangan Mamahnya dan meyakinkan ibunya bahwa dirinya memang tidak sedang jatuh cinta.


Bukannya marah, Ainun malah tertawa melihat tingkah putrinya. "Hahaha..."


Saras melepaskan tangan Mamahnya dan mengerucutkan bibirnya. "Mamah kenapa tertawa? Ada yang lucu, ya?" tanya Saras yang merasa tersinggung karena Mamahnya tertawa karena dirinya.


"Hahaha... Iya, lucu. Kamu lucu sekali, Saras," jawab Ainun yang masih tergelak. Kemudian ia menarik nafas dan menghela napasnya perlahan.


"Mamah?" panggil Saras yang manja karena merasa malu. Apalagi melihat Mamahnya tertawa karena dirinya,


"Maafkan Mama, Sayang. Mama tertawa bukan karena mengejek kamu, tetapi karena tingkah laku kamu yang lucu tadi. Kamu sepertinya takut sekali jika memang sedang jatuh cinta," ujar Ainun, kemudian ia meraih cangkir yang berisi tehnya dan kemudian meminumnya.

__ADS_1


"Saras?" panggil Ainun sembari meletakkan kembali cangkir ke atas meja tersebut. Ia lalu menatap wajah Saras, dan Saras juga menatap wajahnya.


"Kamu sudah dewasa, Nak. Usiamu bahkan sudah 21 tahun. Papa dan Mama tidak akan melarangmu jika suatu saat nanti kamu jatuh cinta kepada seorang pria."


"Iya, tapi Saras takut melihat Pria Mah," jawabnya sambil menundukkan kepalanya. Ainun ingin kembali tergelak, namun dia menahannya karena tidak ingin melihat wajah putrinya yang cemberut lagi. "Takut? Kenapa?" tanya Ainun. "Iya, takut saja Mah. Kata Nona, pria itu jahat. Suka dan berjuang hanya pada awalnya saja, setelah itu ditinggalkan," tutur Saras dengan polos. Nona Aliska adalah sahabat Saras sejak Sekolah Menengah Pertama. Bahkan sampai sekarang mereka tetap bersama dan kuliah di Universitas yang sama. Hal yang berbeda dengan Saras yang sama sekali belum pernah jatuh cinta. Nona bahkan sudah berkali-kali berganti pasangan. Namun belum pernah mendapatkan pria yang tulus dan benar-benar serius padanya. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan Saras takut akan pria, bahkan takut jatuh cinta. Saras selalu menutup diri dari pria-pria yang mengejar dirinya dan fokus pada pendidikannya.


Ainun mendengus, "Nona berkata seperti itu?" Saras mengangguk mengiyakan. "Tidak semua pria seperti itu, Nak. Buktinya, Papah kamu setia sama Mamah, sayang dan cinta sama Mamah, apalagi sama kamu," kata Ainun. Ainun meraih dagu Saras lalu mengangkat perlahan kepala Saras sehingga kini wajah mereka saling berhadapan. "Suatu saat nanti pasti kamu akan merasakan yang namanya jatuh cinta. Tapi kamu juga harus hati-hati dalam menempatkan dan menaruh hatimu. Jangan memberikannya sembarangan kepada pria. Kamu perlu memilih siapa pria yang pantas untuk mendapatkan hatimu, Nak."


"Iya Mah, nanti kalau ada pria yang berhasil membuat Saras jatuh cinta, Saras pasti akan menceritakannya kepada kalian," jawab Saras. Ainun tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia mencium pucuk kepala Saras dengan lembut.


******


Telah menunjukkan pukul 04.00 dini hari, Daren menarik selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi selama 30 menit, ia mengambil handuk putih miliknya dan melingkarkannya ke pinggangnya. Kemudian ia keluar dari dalam kamar mandi menuju ruang khusus untuk pakaiannya. Wajahnya begitu bersemangat dan ceria. Ia mulai memilah baju yang akan ia kenakan untuk pergi ke kampus.


Daren mengambil beberapa kaos dan beberapa kemeja dengan motif yang berbeda-beda, begitu pula dengan celana yang akan ia kenakan. Ia tampak bingung mau memakai baju yang mana. Bahkan ia melempar sembarangan kaos yang menurutnya tak cocok untuk dipakai. Ia terus mencari-cari dan mencobanya sambil bergaya di depan cermin ukuran king miliknya.


Setelah hampir 30 menit berusaha mencari, akhirnya Daren menemukan sebuah baju yang menurutnya sangat cocok dan pas untuk dipakai. Kemudian ia mengambil sebuah jam tangan mewah yang hampir senada dengan baju yang ia kenakan. Setelah itu, ia memilih salah satu sepatu dari lemari. "Sangat tampan." Ujarnya dalam hati sambil menyibakkan rambutnya dan bergaya-gaya seperti pria keren. Kemudian ia meraih sebuah parfum mahal dengan aroma khas pria dan memercikkannya ke beberapa bagian tubuhnya.


Setelah merasa sudah sempurna, barulah ia keluar dari ruangan tersebut. Ia meraih ponsel dan tas miliknya yang berisi kunci mobil dan kartu kredit. Dengan penuh percaya diri, ia keluar dari kamar dan menuju ke meja makan untuk sarapan. Namun Daren kebingungan, rumahnya terlihat sangat sepi. Bahkan ia tidak menemukan Mamahnya di ruang tamu sebagaimana biasanya. Bahkan TV saja tidak menyala.


Daren semakin kebingungan dan berjalan menuju meja makan. Lagi-lagi dirinya dibuat kebingungan, karena melihat meja makan masih bersih dan tidak ada satupun menu sarapan yang Bik Asih hidangkan. "Orang-orang pada kenapa sih? Kenapa jam segini masih belum bangun? Bik Asih juga belum menyiapkan sarapan." Gerutu Daren. Kemudian ia mencari Bik Asih ke dapur.


"Bik... Bik Asih!" teriak Daren memanggil Bik Asih. Sudarsih merasa heran di panggil pada waktu yang masih pagi sekali, yakni pukul 05. “Iya Den? Ada apa?” Sahut Sudarsih yang terpotong. Daren mengerutkan keningnya melihat Sudarsih yang melongok padanya. "Bik... Bik Asih kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Daren bertanya, namun Sudarsih tidak menjawab. Ia masih terus menatap Daren dengan tatapan yang aneh.


Daren semakin bingung dan ia memeriksa pakaiannya, tapi ia tidak menemukan sesuatu yang aneh. "Tidak ada yang aneh dari penampilanku, lalu apa yang membuat Bik Asih menatapku seperti itu," ucapnya dalam hati. Kemudian ia mendekati Sudarsih dan mengatakan, "Bibik..." Dengar suara Daren, Sudarsih pun terkejut. "Eh, iya Den..." jawab Sudarsih dengan nada berat.


"Bibi kenapa sih menatapku seperti itu? Dan kenapa jam segini Bibi belum menyiapkan sarapan," tanya Daren sambil menunjuk ke meja makan yang masih kosong. Sudarsih bingung dan bertanya-tanya mengapa Daren meminta sarapan di pagi hari begini.


"Tapi Den, ini..." jawabnya, namun Daren memotongnya dan berkata, "Ini lagi Mamah, kenapa belum bangun juga jam segini? Pak Yanto juga belum bangun. Ada apa dengan kalian?"

__ADS_1


"Mamah... Mamah... Pak Yanto.. bangun," teriak Daren hingga menimbulkan kebisingan. Greeta merasa terganggu dengan suara Daren tersebut dan menoleh ke arah jam berukuran mini di atas nakas. Ia melihat waktu masih menunjukkan pukul 5.10.


"Baru jam segini? Tapi mengapa Daren sudah bergegas seperti orang kebakaran jenggot, ya? Biasanya dia paling malas bangun. Kok sekarang tiba-tiba sudah bangun dan berisik lagi," sungut Greeta. Ia pun menarik selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit untuk menghampiri Daren yang telah membuat keributan dan mengganggu istirahatnya.


__ADS_2