Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 38. Lo Baik-baik Aja Res?


__ADS_3

Dua remaja yang berbeda gender itu sedang berjalan beriringan dengan tumpukan buku di kedua tangan mereka. Mereka memasuki perpustakaan dan mengembalikan buku-buku tadi ke raknya masing-masing.


"Capeknya." Keluh Athena, padahal buku yang ia susun baru sedikit. Tangannya masih sibuk menyusun buku di rak yang terpisah dari Ares.


"Biar gue yang nyusun."


"Beneran?" tanya Athena berbinar.


Ares menatap Athena dan mengangguk. "Lagian, habis ini juga jamkos. Gue gak ada kerjaan juga."


"Asik!" Athena dengan riang membaringkan tubuhnya di sebelah meja berkaki pendek.


Jam pelajaran pertama baru saja selesai. Namun, menurut info yang mereka dapat, guru-guru sedang mengadakan rapat dadakan, dan kemungkinan besar tidak sempat memberikan tugas kepada anak muridnya.


"Res." Panggil Athena, memecah keheningan. Ares hanya berdehem singkat.


"Lo belakangan ini pendiam, ya."


Ares menatap Athena, meskipun sebenarnya tidak keliatan karena tertutup meja. Laki-laki itu kembali menyusun buku yang tersisa sedikit.


"Mungkin lo ada benarnya. Rasanya, gue jadi kayak yang dulu." Kata Ares, memelan. Namun di ruangan yang sepi ini, Athena tentu saja mendengarnya.


Athena menatap Ares melalui celah antara kaki meja. Ia tidak terlalu mengetahui tentang Ares, karena Athena yang dulu sama sekali tidak peduli dengan Ares. Jangankan Ares, laki-laki di kelasnya saja ia kurang tau.


"Jangan terlalu di pikiran kata-kata gue tadi. Kalo gitu, gue mau tidur dulu."


Ares tersenyum tipis, "Iya."


Setelah urusannya selesai dengan rak itu, Ares berdiri. Laki-laki itu mengangkat setengah tumpukan buku yang seharusnya berada di rak seberangnya, rak yang berada di dekat Athena.


Karena tidak melihat jalan dengan benar, kaki Ares tidak sengaja tersandung kaki meja. Laki-laki itu dengan panik melempar buku di tangannya agar tidak mengenai Athena. Namun, tubuhnya tidak sempat menghindar. Alhasil, ia hanya bisa menopang tubuhnya menggunakan kedua tangan, dengan Athena yang berada di bawahnya.


Athena yang mendengar keributan itu langsung membuka matanya, meskipun awalnya sedikit buram.


Mereka bertatapan sekitar 3 detik. Ares dengan cepat duduk. "G-gue nggak sengaja, Na. Kaki gue kesandung meja."


Athena yang masih linglung itu ikut duduk. Gadis itu menatap Ares sekilas. Meskipun nyawanya belum sepenuhnya terkumpul, namun ia sangat ingat wajah Ares, sangat dekat. Wajahnya sedikit memerah. Athena mengangguk kaku. Jantung mereka sama-sama berdegup kencang.


"Gawat gawat gawat! Wajah Ares nggak hilang dari otak gue. Kenapa lo di liat dari dekat malah makin tampan anj, ARGHH."


"Gimana, nih? Jangan-jangan, Athena mikir kalo gue sengaja." Ares menggeleng pelan. "Nggak-nggak. Athena nggak mungkin gitu. Tapi, wajah Athena dari dekat imut juga." Ares kembali menggeleng. "Wait! Kenapa gue mikir ke sana, arghhh."


Dua remaja yang sedang bergelut dalam hati itu sama-sama menghela nafas panjang. Tanpa mereka sadari, batin mereka berbicara hal yang sama.


"Jantung gue udah nggak normal."

__ADS_1


°•°•°•°•


Abel dan Athena sedang berbincang santai di dalam kelas. Karena masih jamkos, Abel menghampiri Athena yang sudah kembali dari perpustakaan. Mata Athena tak sengaja melihat Ares yang sedang melamun. Athena izin sebentar untuk menghampiri Ares, meskipun rasanya masih sedikit canggung karena kejadian tadi. Abel mengangguk.


"Res."


Ares refleks menoleh. Athena bergidik ngeri. Wajah Ares terlihat seperti ingin memakan orang.


"Nggak jadi."


Athena langsung berbalik menghampiri Abel dan duduk di depan gadis itu. Abel menatap Athena bingung.


"Kayaknya Ares lagi nggak mau di ganggu." Kata Athena. Abel mengangguk paham.


"Btw, kalian nggak duduk bareng lagi?"


Athena yang sempat melamun itu refleks menatap Abel. Ia mengangguk, "Beberapa hari yang lalu, tempat duduk kami di acak."


Abel bergumam pelan sembari mengangguk paham.


"Bel."


"Apa?"


"Lo ngerasa nggak sih, Ares belakangan ini jadi pendiam."


Athena menatap Abel heran. "Ares juga ada bilang gitu tadi. Emang kembali kayak dulu gimana?"


"Mungkin ceritanya agak ngebosenin." Kata Abel.


"Nggak papa. Gue mau denger."


Abel nampak berfikir sebentar. Lalu, gadis itu berdehem dan memulai ceritanya. "Dulu, gue dan Ares adalah cucu kesayangan kakek." Abel terlihat tersenyum tipis mengingat hal itu. Gadis itu kembali melanjutkan ceritanya.


"Waktu itu, umur kami masih 5 tahun. Kakek sama nenek izin buat pergi ke Amsterdam karena urusan bisnis. Sebenarnya, Ares nahan kakek dan nenek buat pergi. Dia nggak mau di tinggal oleh kakek. Tapi, kakek bilang, dia janji bakal balik cepat. Kemudian, kecelakaan itu terjadi. Dan seperti yang lo tau, kakek meninggal."


Abel memberi jeda.


"Semenjak kejadian itu, Ares mulai nunjukin sifat egois. Dia mudah emosi. Tapi, seiring berjalannya waktu, dia jadi pendiam. Di ajak bicara cuman ngomong seadanya. Kemudian, pas usia gue 6 tahun, gue sekeluarga pindah. Gue nggak tau gimana keadaan Ares setelah gue pindah. Tapi untungnya, keadaan Ares mulai membaik. Dia mudah di ajak bicara, meskipun dia susah buat sosialisasi. Tapi, Liam berhasil jadi teman dekat Ares, meskipun dia nggak berhasil ngembaliin perasaan Ares."


Abel terlihat tersenyum dan menatap Athena. "Dan Lo tau, siapa yang ngembaliin perasaan itu?"


Athena menggeleng.


"Lo, Athena."

__ADS_1


Athena berkedip berulangkali. "Gue? Kok bisa?"


"Gue lupa ngasih tau satu hal. Sebenarnya, semenjak kakek meninggal, Ares ngebuang jauh-jauh rasa sayangnya. Karena dia nggak mau ngerasain sakit ditinggalkan oleh orang yang dia sayang, lagi. Tapi, Lo berhasil ngembaliin perasaan itu."


"Rasa sa-sayang?"


Abel mengangguk semangat.


Athena menopang pipinya menggunakan tangan. Sudah diputuskan, ia akan membantu Ares agar tidak kembali terpuruk.


"Ares yang sekarang kembali ke sifatnya yang pendiam. Kemungkinan, dia kembali begitu karena kehilangan Liam." Kata Abel.


Athena mengangguk setuju. "Kehilangan memang selalu menyakitkan, ya."


°•°•°•°•


Athena yang masih menggunakan seragam sekolah beserta tasnya itu berjalan santai menuju tempat yang sudah ia janjikan bersama Theo dan Bara. Taman belakang sekolah.


"Sorry, gue telat."


"Nggak papa. Gue sama Bara juga baru datang." Kata Theo.


Athena mengangguk. "Langsung aja, gue mau lancarin rencana itu besok."


"Besok? Nggak kecepatan, Na?" Tanya Theo, sedikit terkejut.


"Gue mau nuntasin semua secepatnya."


Bara mengangguk paham. "Oke. Jadi, tugas gue dan Theo apa?"


"Bara, untuk pengacara, gue serahin ke lo." Athena mengalihkan pandangannya ke Theo di saat Bara mengangguk setuju. "Theo, lo bantu gue cari bukti lebih lanjut. Meskipun bukti yang sekarang udah cukup, tapi lebih banyak lebih bagus."


"Oke." Kata Theo mengerti.


"Sekarang, gimana caranya dapat bukti kejahatan Nasya?"


"Surat permintaan Nasya beberapa tahun lalu. Itu bisa?" usul Bara.


"Surat?"


Bara mengangguk, "Dia pernah nyewa gue dan beberapa orang lainnya, kan. Buat celakai lo."


Athena menggeleng. "Kalo gitu, lo juga bakal jadi pelaku."


"Benar juga." Gumam Bara.

__ADS_1


"Itu biar gue yang pikirin. Kalian fokus sama tugas masing-masing aja. Paham?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2