Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 45. Selamat Ulang Tahun & Good Bye [ END ]


__ADS_3

"Hari ini tanggal berapa?" Laki-laki dengan almamater dan baju seragam yang tidak di kancing bertanya kepada teman-temannya.


Atlas menghitung jarinya sebentar, lalu menatap Bara, laki-laki yang baru saja bertanya. "Gak tau, kenapa?"


Kei melempar tisu bekas miliknya ke wajah Atlas. "Terus lo ngitung jari buat apaan, setan?"


"Keinjing, tisu bekas ingus lo ngapain lo lempar ke gue?"


Atlas dengan cepat menyapu wajahnya yang terkena tisu Kei menggunakan tisu baru. Wajahnya terlihat jijik dan menendang tisu bekas Kei menjauh dari dirinya. Sedangkan Kei tertawa puas.


"Bgst, udah gede ko masih ingusan." Kesal Atlas.


"Lo pikir gue tuhan, yang gak bisa sakit? Mau gue tularin Lo, hah? Nih, nih." Kei dengan jahil menarik lengan baju Atlas dan mengarahkannya ke hidungnya yang sedang berair.


Atlas menahan kepala Kei yang terus memaksa maju. "Kei! Anj, jauh-jauh lo dari gue! Najis oi! Chilo, tolongin gue."


Chilo mengangkat bahu acuh. Ia melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Kantin yang ramai pun tidak ia pedulikan.


"Theo?"


Bara mengangkat wajahnya, yang sebelumnya melihat ponsel, kini menatap wajah Chilo. "Lagi pindahan."


Chilo mengangguk paham. Samar, ia melirik Abel yang sedang duduk sendirian, tidak jauh dari mereka berempat. Gadis itu terlihat hanya memakan satu bungkus roti dan segelas lemon tea.


Tanpa sengaja, Atlas yang masih adu mulut dengan Kei melihat Chilo. Ia mengikuti arah pandang Chilo yang berbeda dari biasanya, tanpa menghiraukan Kei yang sedari tadi ribut sendiri. Abel. Itu objek yang sedang di lihat Chilo.


Atlas kembali mengarahkan pandangannya kepada Kei, di saat merasa sesuatu yang basah mengenai tangannya. Laki-laki itu mengambil tisu dengan panik dan mengelap cairan yang menempel di lengan seragamnya.


"KEI ANJ. BOCAH INGUSAN!"


Sedangkan sang pelaku, dengan tidak bersalahnya tertawa puas.


°•°•°•°•


Athena menghempaskan tubuhnya pada sofa. Dengan cepat, ia merebahkan tubuhnya di sana. Matanya terpejam sambil sesekali meregangkan tubuhnya.


"Gitu aja capek. Padahal cuman beresin kamar sendiri."


Tanpa mempedulikan Theo yang masih sibuk menyusun barang-barang di ruang tamu, Athena mengibaskan tangannya, seolah mengusir. "Mendingan Lo buatin gue es deh, dari pada nyinyir nggak jelas."


"Buat sendiri, enak banget lo nyuruh-nyuruh gue."


"Sebagai kakak yang baik, manjain adeknya dong sesekali."


Theo berdecih. Namun tak urung, ia tetap melakukan hal yang di minta Athena. Laki-laki dengan baju santai itu membuka kulkas dan mulai membuat minuman dingin untuk mereka berdua.


Tidak menunggu waktu lama, Theo kembali dengan dua gelas es kopi. Athena dengan senang hati menyambut gelas yang berisikan es kopi itu.


Athena duduk dan meminum minumannya hingga tersisa separuh. Seakan teringat sesuatu, Athena bangkit berdiri dan membuka kulkas. Ia mengambil dua piring kue tart kecil dari dalam kulkas.


Athena menaruh masing-masing satu lilin kecil di atas kue tart, lalu menyalakan lilin itu. Athena membawa kue itu kembali ke ruang tamu.


"Happy birthday." Ucap Athena, sembari menaruh satu kue di hadapan Theo.

__ADS_1


Theo tersenyum senang. "Happy birthday too, Athena."


°•°•°•°•


Malam semakin larut. Namun, Bara masih membawa Athena dan Theo berkeliling tidak jelas. Bahkan, Athena sudah terlelap di bangku penumpang.


Mulut Theo terbuka lebar. Ia sudah mengantuk karena badannya kelelahan sehabis pindahan. Theo melirik jam yang melingkar di tangannya. Pukul 23.56 malam.


"Kita mau kemana sih?"


"Bentar lagi juga sampai."


Theo menyenderkan tubuhnya. Ia sedang malas berdebat dan memilih menutup matanya yang mulai memberat.


Bara yang menyadari Theo baru saja ingin tidur itu langsung mengajaknya berbicara hal random. Entahlah, Theo tidak terlalu mempedulikannya, bahkan mendengarnya dengan seksama pun tidak.


"Oke, kita balik. Jangan ikutan tidur lo." Kesal Bara.


Theo bergumam singkat, namun matanya masih terpejam. Bara menghela nafas pelan. Ia mempercepat laju mobilnya menuju kediaman baru kedua saudara itu.


Hanya 3 menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bara memang sengaja tidak membawa dua saudara itu berkeliling jauh dari rumah.


Laki-laki dengan lengan kemeja yang di gulung itu menepuk pundak Theo yang terlelap dalam tidur. Theo terbangun. Laki-laki itu turun dan membuka pintu penumpang. Ia ingin mengangkat Athena yang sudah tidur nyenyak. Namun, di halangi oleh Bara yang menepuk pelan bahu Athena.


"Na, bangun. Udah sampe."


Athena bangun dengan setengah linglung. Ia masih mengumpulkan nyawanya yang bertebaran kesana-kemari.


"Makasih ya, Bar."


Bara kembali ke dalam mobilnya. Sebenarnya, sebelum ia mengajak Athena dan Theo berkeliling tidak jelas, ia membawa dua saudara itu makan terlebih dahulu. Bara terlihat menempelkan handphonenya ke telinga.


"Mereka ada di depan."


Theo membuka pintu rumah. Namun, ruangan itu sangat gelap.


"Na, lo tadi nggak ada matiin lampu, kan?"


"Hm, gak ada." Gumam Athena yang masih mengantuk.


00.00


"Surprise!"


Theo memegang dadanya yang berdetak tak karuan. "Gue kira setan anjir."


"Jahat banget lo. Padahal kita udah nyiapin buat kalian." Kata Kei.


"Oh iya. Bukannya gue dan Athena seharusnya ultah kemarin, ya? Sekarang kan udah ganti hari."


"Lo lupa? Hari ini tanggal 13 November coi! Kemarin mah 12." Kata Kei.


"Tapi Athena..."

__ADS_1


"Gue cuman mau jadi yang pertama ngucapin." Kata Athena, nyengir. "Karena, kalo sekarang gue udah nggak punya banyak waktu."  Lanjutnya dalam hati.


Atlas muncul dengan tergesa-gesa. Ia mulai bernyanyi dengan suara cemprengnya. Kemudian, diikuti Abel, Kei, Ares, Silla, dan Bara yang baru saja muncul. Sedangkan Chilo hanya ikut bertepuk tangan.


Athena tersenyum tipis, kemudian bergumam kecil. "Sekarang, lo sudah punya teman yang baik, Athena."


°•°•°•°•


Ares duduk di sebelah Athena. Ayunan besi dan langit berbintang menjadi saksi bisu dua remaja itu. Athena menatap langit di atasnya dengan sendu. Perasaan tidak ingin pergi membuatnya sedikit bimbang. Tapi, ia sudah tidak memiliki kewajiban apapun lagi sekarang. Jadi, tidak ada salahnya untuk kembali, bukan?


"Res."


Ares yang juga sedang melamun itu bergumam.


"Lo ingat, kan? Gue akan kembali ke tubuh asli gue di hari ulangtahun Athena."


Ares kembali bergumam, "Gue ingat."


Waktu itu, Athena memberi tahu hal itu kepada Ares, Abel, dan Liam, tepat setelah ia menceritakan jika ia bukan jiwa asli Athena, melainkan Alea.


"Tapi, gue masih di sini karena Athena bilang, gue boleh bertahan di tubuhnya selama yang gue mau."


"Kalaupun gue bilang 'tetap di tubuh ini', Lo pasti nggak bakal mau." Kata Ares, tersenyum tipis.


Athena terkekeh pelan. "Tepat sasaran."


Hening. Tidak ada yang membuka suara selama sesaat. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Alea."


Athena membeku. Kali pertama Ares memanggilnya dengan nama itu dengan nada serius. Athena mengalihkan pandangannya kepada Ares.


"Kalo gue bilang, gue suka Lo, gimana?"


Jantung Athena berdegup kencang. Perasaan yang selama ini ia tahan mulai meluap. Athena mengangguk samar.


"Gue juga. Tapi...kalo lo minta jadi pacar, gue mungkin belum bisa. Karena, gue belum tau pasti kabar tubuh gue."


Ares menggenggam tangan Athena yang terasa dingin. "Gue nggak peduli. Kalaupun tubuh Lo ternyata udah di tanah, mungkin Lo bakal jadi cinta terakhir gue."


Mata Athena membesar. "Ap--"


"Oleh karena itu, berjuanglah untuk hidup, dan kita akan bertemu lagi."


Mata Athena terasa panas. Mungkin, ini kali pertama ia menangis karena takut kehilangan seseorang selain keluarganya. Athena memeluk Ares erat. Rasa tidak rela untuk berpisah mulai menggerogoti Athena. Namun, ia tidak bisa terlalu lama mengulur waktu untuk kembali. Bisa-bisa, ia akan bimbang dan memilih untuk tetap berada di sini.


"Gue mohon. Kembali nyatakan perasaan Lo sewaktu kita bertemu kembali."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=♡♢EN D♧♤\=\=\=\=\=\=\=\=


AAAAAA, akhirnya tamatttt


Kesan dan pesan kalian buat cerita ini apa?

__ADS_1


Mau Part Extra Gak?


__ADS_2