Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 41. Masa Lalu Gadis Psikopat


__ADS_3

 


"Disini tempatnya." Kata laki-laki berkemeja kotak-kotak.


Gadis disebelahnya mengangguk. "Maaf ya, Res. Gue jadi ngajak lo bolos gini."


Ares menggeleng, "Nggak papa. Gue senang bisa bantu."


Athena tersenyum. Ia kembali menatap bangunan besar di depannya. "Ayo kita masuk."


Sepanjang perjalanan menuju ruangan tempat perjanjian, banyak orang-orang yang berbicara sendiri. Athena menatap mereka maklum. Berbeda dengan Ares, ia tidak tahan menatap pasien di sana.


Athena mengetuk pintu di depannya. Setelah sahutan di dalam mempersilahkan, dua remaja itu masuk dan duduk di depan wanita yang sepertinya sudah berkepala 4.


"Maaf, kami mengajak anda bertemu secara mendadak."


Wanita yang menggunakan jubah putih itu tersenyum ramah. "Tidak apa-apa."


"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Athena. Dan yang di sebelah saya adalah Ares."


"Salam kenal. Nama saya Lizora Lolana. Saya psikiater disini. Kalian bisa memanggil saya Liz."


Athena dan Liz berjabat tangan. Athena tersenyum ramah dan berusaha terlihat sesopan mungkin.


"Kami langsung to the point aja, tujuan kami datang kesini adalah untuk mengetahui tentang Nasya Michella. Terakhir kali konsultasi adalah satu tahun yang lalu." Kata Ares, memperjelas.


Liz nampak berfikir sebentar, mengingat kembali pasien bernama Nasya. Ia tersenyum, "Mohon maaf. Tapi, saya harus menjaga privasi pasien. Saya tidak bisa membocorkannya begitu saja."


Athena mengangguk paham. "Tapi, ini keadaan darurat. Nasya kembali menyakiti hewan. Bahkan, kemarin dia hampir saja membunuh saya."


Liz kembali bimbang. Jika keadaannya kembali drop, maka itu bahaya. Sewaktu-waktu, bisa saja dia melakukan tindakan kriminal.


"Sebelumnya, bisakah anda menjelaskan hubungan anda dengan pasien bernama Nasya?"


Athena mengangguk. "Saya adalah kakak angkatnya."


Liz terlihat berfikir. Wanita yang sudah tidak lagi muda itu mengangguk. "Tapi, ada baiknya membawa pasien ke sini dan melakukan konsultasi kembali."


Athena menghela nafas. Keras kepala sekali. Gadis itu menyenderkan tubuhnya di sofa. Dahla males. Ares menatap Athena heran.

__ADS_1


"Ehhh... Cepet amat putus asa-nya."


"Kami mohon, kami membutuhkan informasi." Kata Ares.


"Sekali lagi, saya meminta maaf." Liz tersenyum tulus.


Pintu tiba-tiba saja terbuka. Laki-laki yang menggunakan seragam berantakan itu duduk di sofa sebelah Athena. Athena melirik laki-laki itu tanpa minat.


"Berikan informasinya."


"T-tapi tuan muda---"


"Mereka teman-teman ku."


Liz menghela nafas, pasrah dengan perintah mutlak dari anak tuan besarnya. "Dimengerti, Tuan muda."


"Seharusnya lo dari tadi aja masuk." Gumam Athena sedikit kesal.


Bara, laki-laki itu tersenyum tipis. "Sebagai gantinya, temenin gue makan siang."


Athena berdecak kesal. Ia menghiraukan Bara, "Anda bisa mulai menjelaskan, dokter Liz."


Flashback


Gadis itu menatap pemandangan crepy didalam layar itu takut. Tangan dan kakinya diikat di kursi kayu. Sedangkan di sebelahnya, terdapat 4 siswi berseragam sama sepertinya sedang tertawa puas menatap wajah ketakutan gadis itu.


Di depannya, terdapat adegan berdarah, yang di mana seorang pembunuh berantai sedang mengoyak dan mengeluarkan satu persatu isi perut korbannya.


Gadis itu berusaha menutup matanya. "Ayolah, jangan tutup mata. Bukannya itu lagi seru-serunya?" Kata gadis dengan rambut diikat menahan mata gadis yang sedang ketakutan itu agar tetap terbuka.


Matanya mengeluarkan butiran bening yang mengalir deras. "Aku mohon, stop."


"Ayolah, Nasya. Penakut banget sih lo." Kata gadis dengan rambut pendek yang sedang duduk di atas meja. Mereka tertawa, menikmati wajah ketakutan Nasya, sang korban bully. Sedangkan, gadis yang memulai pembullyan itu menonton wajah Nasya dengan senyum bahagianya.


Waktu terasa sangat lambat. Selama 10 menit, Nasya di paksa menonton adegan kekerasan yang dilakukan oleh seorang pembunuh berantai melalui situs ilegal.


Awalnya, Nasya sedikit terbiasa dengan Bullyan yang ia dapatkan semenjak awal-awal duduk di kelas 9. Pembullyan yang berawal dari Della, orang yang memulai pembullyan itu. Alasannya cukup sederhana, hanya karena pacarnya menyukai Nasya. Laki-laki itu memutus hubungannya dengan Della dan mengejar cinta Nasya.


Setelah mengetahui alasan hancurnya hubungan mereka, Della beserta ketiga temannya mulai membully Nasya. Awalnya, pembullyan yang dilakukan Della hanya sebatas Bullying secara verbal.

__ADS_1


Tetapi, seiring berjalannya waktu, pembullyan yang awalnya hanya untuk melampiaskan kekesalan hancurnya hubungan, berubah haluan menjadi mencari kepuasan dan untuk bersenang-senang.


Pembullyan yang dilakukan juga semakin parah, menjadi pembullyan fisik. Kemudian yang terakhir, mereka melakukan pembullyan yang tanpa mereka sadari mulai mengganggu mental, dengan cara memaksa Nasya menonton adegan pembunuhan. Hal itu membuat Nasya trauma dan selalu terngiang-ngiang dengan adegan pembunuhan yang tidak mau hilang dari otaknya.


Semenjak kejadian itu, Nasya mulai menjadi pendiam. Perlahan, ia mulai menyakiti diri sendiri dan tanpa dia sadari, dia menikmatinya.


Seiring berjalannya waktu, pembullyan Della tidak juga selesai. Nasya kerap kali melampiaskan kekesalannya pada kucing liar yang tinggal di sekitar rumahnya. Bahkan, ia meniru cara pembunuh berantai yang sebelumnya pernah ia tonton. Mencabik-cabik dan mengeluarkan organ tubuh.


Nasya selalu membayangkan bahwa kucing-kucing yang ia bunuh adalah Della beserta teman-temannya. Di samping itu, Nasya menikmati penyiksaan yang ia lakukan kepada kucing-kucing malang yang ia juga tidak tau sudah berapa jumlahnya.


Hingga suatu hari, Nasya sudah tidak tahan dengan pembullyan yang dilakukan oleh Della. Entah iblis apa yang merasukinya, Nasya membawa cutter, tentunya dengan tujuan yang tidak baik.


Hampir saja Nasya membunuh Della. Untungnya, ia berhasil di hentikan oleh guru yang kebetulan ke toilet siswi.


Kejadian itu menyebabkan orang tua Della yang memiliki derajat lebih tinggi mengancam akan membawa kejadian tersebut ke pengadilan. Tapi, tentunya ada kerugian yang ia dapatkan dari itu. Yaitu, pembullyan yang dilakukan Della kepada Nasya akan terbongkar.


Setelah diskusi yang panjang, kedua belah pihak memutuskan untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan.


Tapi, tentunya efek pembullyan itu masih melekat pada diri Nasya. Pada akhirnya, Nasya di bawa ke psikiater hingga kondisinya membaik. Kejadian yang terjadi pada Nasya tidak diumbar ke publik. Bahkan, mereka menutupi semua itu dari Theo dan Athena.


Sifat Nasya yang tertutup dan pendiam semenjak dibully itu membantu kedua orangtuanya menutupi kejadian buruk itu.


Perlahan, keadaan Nasya mulai membaik, meskipun memerlukan waktu yang panjang. Ketiga orang itu berhenti melakukan konsultasi dan menikmati hidup, tanpa mengetahui Nasya mati-matian untuk menahan hasrat membunuhnya.


Flashback end


"Begitulah kira-kira penjelasannya. Saya mendengar hal itu dari penjelasan kedua orangtuanya dan di suruh untuk tutup mulut."


Athena mengangguk-angguk. "Ternyata, itu alasan Nasya yang dulu menjadi pendiam." Gumam Athena, sangat pelan.


"Ngomong apa, Na?" tanya Ares.


Athena menatap Ares. "Nggak, kok. Gue cuman ngomong sendiri. Jangan di pikirin." Kata Athena, tersenyum.


Bara yang melihat itu berdecak pelan. "Padahal, Athena nggak pernah lagi senyum kalo ngomong sama gue. Awas aja lo, Res."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=♧\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*Note : Bullying secara verbal ; Perilaku ini dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan, dll.*

__ADS_1


__ADS_2