Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 42. Runtuh


__ADS_3

Ternyata Rela Tak Semudah Katanya.


-Runtuh - Feby Putri🎶-


Tiga remaja sedang duduk santai sembari memakan makanan mereka masing-masing. Athena, satu-satunya perempuan di sana sedang memainkan ponselnya, melihat komentar-komentar para penggemar manga miliknya.


Ternyata, berita tentang kecelakaan lalulintas itu masuk surat kabar dan beberapa artikel terkait. Bahkan, dirinya yang juga merupakan salah satu korban tercantum disana.


Athena menghela nafas panjang. Ia ingin cepat kembali ke kehidupan aslinya. Tapi, ia juga masih ingin berada di antara teman-teman yang ia temui di kehidupan ini, terlebih Ares.


Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Athena. Gadis itu cepat-cepat membuka roam chat dirinya dan Theo-orang yang mengiriminya pesan barusan.


Atheon


Gue harini pulang lambat, ada eskul basket.


Hati-hati di rumah.


Athena membalas pesan Theo dengan stiker 'oke'. Gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. 10 menit lagi bel pulang berbunyi. Setidaknya, ia harus berada di rumah agar Nasya tidak curiga. Mungkin, ia juga bisa mendapatkan bukti tambahan.


"Res. Lo udah selesai?"


Ares mengangguk. Sepiring porsi nasi kini sudah tandas di depan kedua remaja itu.


"Balik, yuk."


"Lo sama gue." Sahut Bara cepat.


Athena menatap Bara. "Janji buat makan siang udah. Di perjanjian kita, nggak ada pulang bareng."


Bara berdecak kesal. Athena menghiraukan laki-laki itu dan menarik lengan Ares untuk segera pergi.


"Gue sama Ares duluan."


Ares tersenyum kemenangan. "Duluan."


Bara semakin kesal melihat kedua orang itu yang semakin hari semakin dekat. Ia kembali duduk dan menyesap habis minumannya dengan kasar. Wajahnya terlihat masam.


"Sialan, lo, Res."


\=°•°•°•°•\=


Athena dan Ares tidak jadi pulang karena Silla tiba-tiba saja menghubungi Athena. Silla memintanya untuk datang ke rumah mereka karena ada sesuatu yang aneh dari Abel.


Silla menyambut mereka dengan wajah murung. Silla mengajak mereka duduk terlebih dahulu, lalu gadis itu menyiapkan minuman dan beberapa cemilan.


"Maaf, kak. Gue ngundang kalian mendadak." Kata Silla, tidak enak.

__ADS_1


"Gak papa. Gue juga lagi gabut." Balas Athena.


"Abel kenapa?" tanya Ares, sedikit khawatir.


"Dari kemarin, kak Abel aneh. Dia makannya dikit, matanya kayak panda. Gue tanyain, dia jawab nggak kenapa-napa. Tapi, hari ini kak Abel keluar kamar cuman waktu makan pagi. Itupun nggak lama. Gue udah coba manggil dan ketok kamarnya. Tapi dianya cuman bilang lagi mau sendiri. Kak Abel nggak kayak biasanya, dan itu bikin gue keganggu." Jelas Silla.


"Benar juga. Dia dari kemarin nggak masuk sekolah. Dia bilang, lagi malas sekolah." Kata Athena.


"Bisa anterin kita ke kamarnya?" tanya Ares.


"Boleh!" kata Silla, terdengar semangat.


Mereka bertiga menaiki tangga dan berjalan beriringan menuju pintu berwarna maroon itu. Athena mengetok pintu itu dan memanggil Abel berulang kali. Namun, masih tidak ada sahutan.


"Res. Dobrak." Pinta Athena.


"Hah?"


"Dobrak."


"Serius, Na?"


"Emang muka gue gimana?"


"Cantik."


"Iya-iya. Gapapa kan, Sil?"


Silla mengangguk.


Athena dan Silla sedikit menjauh dari pintu. Ares mengambil ancang-ancang untuk mendobrak. Percobaan pertama gagal. Yang kedua juga gagal. Kemudian pada percobaan yang ketiga, barulah pintu itu terbuka.


Mata Athena terbelalak. Ia langsung berlari menghampiri gadis yang sedang duduk di ujung kasur sembari memegang sebotol obat tidur.


Athena merebut paksa botol itu dan menaruhnya secara kasar di nakas. Ia mencengkram pipi Abel dan memasukkan jarinya ke dalam mulut Abel.


"Lwepwasin." Kata Abel, memberontak.


Athena mengambil 4 biji obat tidur dari mulut Abel. "Lo apa-apaan, hah?! Ngapain minum obat tidur sebanyak itu?" tanya Athena, emosi. Gadis itu membuang 4 biji obat tidur itu melalui jendela.


Abel menghiraukan Athena. Ia menjangkau botol obat tidur yang berada di nakas. Ares dengan cepat mengambil botol itu dan menjauhkannya dari jangkauan Abel.


"BALIKIN! GUE MAU TIDUR! GUE MAU KETEMU LIAM! JANGAN HALANGIN GUE!" teriak Abel, menjangkau obat tidur yang berada di tangan Ares. Namun, karena perbedaan tinggi membuat Abel kesusahan.


"BALIKIN!"


Ares mundur, berusaha menjauh dari Abel yang semakin gencar menjangkau obat itu. "Nggak!"

__ADS_1


Athena memeluk Abel. Awalnya, Abel memberontak. Namun, pelukan Athena semakin erat. "Lo jangan gini." Lirih Athena.


Abel luruh di lantai, bersama Athena. Abel menyembunyikan kepalanya di bahu Athena. Ia terisak.


"Gue nggak tau harus gimana, Na! Gue...gue masih sayang Liam. Gue kangen dia. Gue pengen ketemu dia. Gue nggak tau harus gimana. Tapi, di dalam mimpi gue bisa ketemu Liam. Meski itu cuman mimpi, tapi gue mau ketemu Liam." Lirih Abel.


"Mau sebanyak apa gue bilang ke diri sendiri kalo Liam udah nggak ada, hati gue tetap nggak rela. Gue mau tidur, Na."


"Lo nggak mikirin gimana perasaan Silla? Dia khawatir sama lo." Kata Athena, pelan.


Abel mengangkat wajahnya yang sembab. Dia menatap Silla yang berada tepat di depannya. Di sana, Silla berulang kali berusaha menghalau air matanya. Abel mendekat, gadis itu memeluk Silla erat.


"Maaf. Maafin Kakak. Padahal, seharusnya kamu yang paling kehilangan. Maaf, kakak jadi lemah gini. Maaf, kakak udah buat kamu khawatir. Ma--"


Silla balas memeluk Abel erat. "Nggak usah minta maaf! Silla paham rasanya. Tapi, kakak jangan gini lagi, ya. Silla nggak mau kehilangan kakak lagi."


Abel mengangguk pelan.


"Kakak janji."


•°•°•°•°


Athena memasuki rumah dengan langkah gontai. Di sofa, Nasya beserta kedua orangtuanya sedang duduk, seperti memang sengaja menunggu kedatangan Athena.


Athena berhenti melangkah dikala Ferry mendekat. Tangan besar Ferry dengan ringan mendarat di pipi Athena. Gadis itu tertoleh ke samping dengan tampang datarnya.


Feby memeluk Nasya erat. Nasya membalas pelukan ibunya dengan senyum miring tercetak di bibir. Athena tersenyum remeh.


"Kita lihat, siapa yang akan tersenyum lebar di akhir nanti. Gue, atau lo, Nasya sialan."


"Berani-beraninya kamu menyakiti Nasya di saat kami tidak ada! Untung saja ada Theo yang datang tepat waktu."


Athena menatap Ferry dingin, tatapan yang tidak pernah Athena tunjukkan sebelumnya. Ferry sedikit terkejut melihat perubahan Athena. Biasanya, gadis itu akan menatapnya dengan pandangan takut dan gelisah. Namun, kini berbeda.


"Saya tidak pernah menyakiti putri anda, Tuan Ferry. Asal anda tahu, yang menyakiti itu dia, bukan saya. Tapi, sekarang saya sudah tidak peduli dengan kalian semua, keluarga palsu."


Wajah pria didepannya memerah, menahan amarah yang meluap. Tangan Ferry kembali melayang mengarah ke pipi Athena. Namun, gadis itu tidak tinggal diam. Ia menangkap tangan besar Ferry dan mencengkramnya kuat.


"Kalian pikir, saya akan diam dan menghayati setiap perlakuan kalian kepada saya selama ini?" Cengkraman di tangan Ferry semakin kuat. Pria itu meringis pelan. "Tentu tidak. Nantikan hadiah dari saya."


Athena menghempas tangan Ferry dan menaiki tangga dengan perasaan kesal. Ferry tidak mengejar ataupun memanggil gadis itu. Ia menatap punggung Athena yang mulai menghilang di telan jarak. Setitik kekecewaan terlihat samar di raut wajah Athena, dan Ferry menyadari hal itu.


Sedangkan Athena menghela nafas kasar. Ingin rasanya ia membalas pukulan yang ia terima barusan. Namun, ia harus menahan diri agar bisa mendapatkan bukti lebih banyak.


"Sabar ya, tangan. Tunggu tanggal mainnya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2