Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
PART EXTRA


__ADS_3

Di hari libur semester 1 ini, banyak orang yang sibuk menikmati hari libur dengan caranya sendiri. Kebanyakan dari mereka mungkin pergi ke pantai, pegunungan, pulang kampung, bahkan ada juga yang sibuk rebahan seharian. Namun, berbeda dengan gadis cantik yang satu itu.


Gadis dengan gaun putih itu meremas tangannya gugup. Sekali lagi, ia menatap pantulan dirinya yang sudah di dandani sedemikian rupa. Gaun pengantin yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya. Dandanan yang tidak terlalu berlebih-lebihan menambah kecantikan gadis itu.


Hari ini, akan menjadi hari bersejarah di hidupnya. Membayangkannya saja membuat jantungnya berdebar semakin cepat.


Pintu kamar terbuka, menampilkan gadis dengan dress putih sederhana. Polesan tipis di wajah malas gadis itu membuatnya semakin cantik.


"Alea! Gimana nih? Gue gugup banget. Rasanya jantung gue mau loncat!" Gadis dengan gaun pengantin itu meringis, gelisah jelas terpancar di wajahnya.


Alea terkekeh, ia duduk di sebelah gadis itu. Raga yang pernah ia pakai, kini bisa ia saksikan tanpa mengenakan cermin. Alea menggenggam tangan gadis itu, berusaha memberikan dukungan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ia juga ikutan gugup.


"Tenang aja, Athena. Pasti bisa!"


"Athena, lo siap-siap. Rombongan pengantin pria sudah hampir sampai." Theo yang baru saja muncul membuat perhatian kedua gadis itu teralihkan.


Theo tersenyum senang melihat adiknya, "Jangan khawatir. Bara nggak bakal makan Lo, kok."


"Bang! Jangan buat gue tambah gugup!" sungut Athena.


Theo terkekeh geli. "Sorry sorry. Gue tunggu di bawah, ya. Alea, gue minta tolong sama lo."


Alea yang paham dengan ucapan Theo mengangguk. "Serahin sama gue."


Hari ini, Athena resmi menjadi istri dari seorang Aldebaran. Tamu yang hadir tidak banyak, hanya beberapa rekan bisnis ayah Bara dan beberapa teman sekolah mereka.


Athena dan Bara menikah muda, di usianya yang menginjak 18 tahun. Bahkan, mereka belum lulus. Namun, Bara bersikeras ingin bertanggungjawab atas perbuatannya terhadap Athena.


Athena yang juga masih memiliki rasa cinta kepada Bara tentu saja menerimanya, meskipun awalnya sedikit ragu. Namun, kini mereka sudah resmi menjadi pasutri.


Yuka dan Abel menjadi penyambut tamu. Ya, Yuka juga ikut serta, dengan alasan menemani Alea di perjalanan bolak-balik Indo-Japan.


Bara juga menceritakan mengenai Feby dan Ferry kepada orang tuanya. Bahkan mengenai Nasya yang menyewanya untuk menodai Athena. Waktu itu, dirinya setengah mabuk karena tidak sengaja meminum alkohol milik Kei.


Bara menatap Athena yang terlihat lelah karena sudah terlalu lama menggunakan atribut yang terbilang cukup berat. Tamu tidak terlalu banyak, namun itu juga terasa melelahkan.


Athena mengenalkan Alea kepada orangtua Bara, Bara, Theo, dkk-nya yang lain sebagai teman dekat di media sosial. Terkecuali, Ares dan Abel yang sudah mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.


"Mau istirahat dulu?" tawar Bara.

__ADS_1


Athena mengangguk. Dua pasangan baru itu berdiri. Bara membantu Athena mengangkat baju mekar yang digunakan gadis itu. Bara berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya.


Alea menghampiri, lalu ikut membantu Athena.


Setelah menaiki tangga, Athena dan Alea memasuki kamar Athena. "Ganti baju pakai baju yang satunya aja, gimana?"


Athena mengangguk setuju dengan tawaran Bara. Ia juga tidak ingin terlalu berlama-lama mengenakan baju ribet ini.


Bara beranjak pergi, membiarkan Alea membantu Athena mengganti bajunya. Alea melepas resleting baju pengantin milik Athena dengan hati-hati.


Keheningan melanda, sampai Athena membuka suara. "Lea, menurut Lo, emang gue pantas dapat ini semua? Sedangkan gue nggak ada usaha apapun buat dapatin ini semua."


Gerakan tangan Alea terhenti. Ia menatap Athena melalui pantulan cermin besar di depan mereka. "Jangan ngomong gitu. Lo pantas dapatin ini semua. Usaha Lo buat sampai titik ini udah banyak. Lo udah terlalu banyak menderita. Jadi, nggak ada salahnya, kan, nikmatin kebahagiaan yang Lo dapat?"


Athena menggeleng lemah. Menatap Alea balik melalui cermin. "Ini semua berkat usaha Lo. Gue bisa sampai di titik ini berkat usaha Lo. Sedangkan gue? Gue malah nyerah."


Alea menangkup pipi Athena dan membawa wajah Athena agar menatapnya. "Kesaksian gue udah cukup jadi bukti bahwa Lo udah kerja keras buat dapatin kebahagiaan Lo. Lo lupa? Ingatan yang Lo bagi, sampai hari ini masih gue ingat."


Mata Athena berkaca-kaca. Ah, keinginannya yang menginginkan kehadiran sosok pendengar dan seseorang yang bisa meng-support dirinya dikala bimbang, kini telah terkabul. Kenapa ia baru menyadarinya? Selama ini, semenjak Alea mendatangi dirinya di alam bawah sadar, semuanya mulai berubah. Tuhan juga mengirimkannya seseorang yang sangat ia harapkan.


Athena menangis. Alea panik.


Athena terkekeh kecil melihat Alea yang panik.


"Jangan malah ketawa! Jangan nangis juga! Ntar riasan Lo luntur, mampus Lo jadi Kunti." Sungut Alea kesal.


Alea menaruh sekotak tisu di pangkuan Athena. Athena mengambil satu tisu dan mulai mengelap air matanya dengan hati-hati. "Maaf-maaf. Gue cuman terharu."


Alea mengangguk paham. "Iya deh! Udah, ayo ganti baju Lo. Kasian Bara nungguin."


°•°•°•°•


Setelah sesi foto bersama selesai, Ares mengajak Alea untuk berbicara empat mata di taman belakang. Ares juga sudah meminta izin dengan Theo.


Yang mengundang dan mengabarkan tentang pernikahan Athena dan Bara adalah Ares. Ares menjadi penghantar undangan antar negara. (Kasian jd babu)


Di taman belakang, Ares memeluk Alea. Alea yang tidak siap itu hampir terjatuh, untungnya ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya.


"Lo kenapa? Tiba-tiba banget." Tanya Alea heran.

__ADS_1


Ares menggeleng pelan, "Kangen."


"Ih, udah. Gerah." Kata Alea.


Sebenarnya, itu hanya penghindaran. Kenapa? Jantung Alea tidak bisa di kontrol jika terlalu dekat dengan Ares. Dirinya yang kurang berpengalaman dengan masalah percintaan, kini sedang dalam masalah. Perlukah ia ke dokter?


"Lo...pulang ke Jepang kapan?" tanya Ares. Terdengar ragu dan salting.


"Mungkin, besok."


Mata Ares membola. "Nggak bisa lebih lama di sini, Na...eh Lea, maksud gue."


Alea menggeleng. "Gue bentar lagi ada ulangan. Gue nggak bisa santai, soalnya masih banyak pelajaran yang belum gue kejar."


Ares menimbang sebentar. "Y-yah, sebenarnya gue mau nembak Lo. T-tapi...umur," ucapan Ares terhenti.


Alea paham apa yang di maksud Ares. Perbedaan umur mereka. Ares masih SMA, namun Alea sudah kuliah. Alea tersenyum tipis.


"Lo percaya? Gue masih 18 tahun."


Ares menganga, "Bohong." Gumamnya.


"Gue kelas 1 SD di umur 6 tahun. Kemudian, sewaktu SMA, gue masuk jalur akselerasi."


Ares lagi-lagi menggeleng takjub. "Pintar amat ternyata."


Alea tersenyum tipis. Pipinya sedikit memerah memikirkan kata-kata yang ingin ia katakan. "Dengan fakta itu, Lo masih, emm."


Ares tersenyum lebar, lalu mengangguk. "Alea, Lo mau jadi pacar gue?"


Alea berkedip dua kali. Ternyata Ares paham dengan apa yang ia maksud. Alea langsung saja mengangguk setuju. "Gue mau."


Ares memeluk Alea lagi, lalu membisikkan sesuatu yang membuat senyum Alea mengembang sempurna.


"Kurang dari 6 bulan lagi, gue bakal nyusul Lo ke sana. Tunggu gue, ya?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=♡\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuuuhuu, spesial buat kalian♡

__ADS_1


Mau lanjut gak?


__ADS_2