Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 44. Gadis Psikopat


__ADS_3

"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN, NASYA?! Gara-gara kamu, perempuan itu berani mengadukan kita." Bentak pria yang masih mengenakan kemeja berwarna navy. Penampilannya terlihat berantakan dan sangat bukan seperti dirinya yang biasanya, selalu rapi.


Nasya menunduk, menatap lantai keramik di bawahnya. Ia kesal karena sudah di bentak dengan nada tinggi. Tangannya mengepal erat menahan emosi.


Ferry mengacak rambut frustasi. Ia duduk di sofa dengan kasar, kemudian mulai memijat pelipisnya pelan guna mengahalau pening yang sedari tadi menerpa.


"Athena. Sialan lo! J*l*ng! Liat aja, lo, Athena. Gara-gara lo, ini semua gara-gara lo. Ya, ini semua gara-gara Athena, bukan gue. Gue nggak salah." Batin Nasya.


"Mama kira kamu sudah sembuh, Nasya. Kenapa kamu begini lagi?" tanya Feby, pelan.


Nasya semakin menunduk. "Maaf."


"BUKANNYA AKU SUDAH BILANG? DIA ITU HANYA AIB KELUARGA!"


Nasya mendongak, menatap sang Papa yang selama ini ia sayangi. Pria itu, menunjuk dirinya. Pria yang ia panggil papa, kembali membentaknya dengan kata-kata yang tidak enak di dengar.


"Aib? Gue, aib?" Nasya terkekeh dengan gumamannya sendiri.


"Dia itu sudah gila, Feby! Aku sudah bilang sejak dulu, lebih baik kita mengirimnya ke panti asuhan! Tapi kamu selalu menyuruhku untuk berpura-pura menjadi papa yang baik dan menerima Nasya. Sembuh? Apa yang sembuh?! Nyatanya, dia sekarang masih gila! Padahal aku percaya dengan mu bahwa dia sudah sembuh, jadi aku menerimanya kembali. Tapi nyatanya, aku salah."


Ferry yang sudah bangkit dari duduknya itu mendorong kepala Nasya berulangkali dengan jari telunjuknya.


"Jika bukan karena mama kamu, mungkin kamu sudah saya buang sejak lama. Keberadaan kamu hanya memperburuk reputasi keluarga kami! Kenapa saya harus mempunyai anak yang tidak waras seperti kamu? Padahal kepintaran kamu itu bisa berguna. Tapi, kenapa kamu harus begini?"


Mata Nasya mulai berkaca-kaca. Air mata yang bertumpuk, kini mulai menerobos keluar.


"AKU JUGA NGGAK MAU BEGINI! INI SEMUA BUKAN SALAH KU! PAPA JUGA SALAH! JANGAN MENIMPAKAN SEMUA KESALAHAN KEPADA KU!"


Plakk


Untuk pertama kalinya, Nasya merasakan pukulan perih itu menyapa pipinya. Hal yang selama ini hanya ia lihat dan nikmati, kini ia alami sendiri. Nasya menatap wajah Ferry yang penuh amarah dengan tatapan kecewa.


"Jangan berani berteriak di depan saya!"


Feby memeluk Nasya erat. Wanita itu membawa Nasya sedikit menjauh dari Ferry yang sedang di liput amarah.


"Apa yang kamu lakukan, mas? Jangan sakiti Nasya! Dia anak kita, mas!"


"Anak? Aku tidak pernah memiliki anak yang tidak waras! Anakku hanya gadis pintar yang selalu menjadi juara satu di sekolahnya." Kata Ferry, terkekeh remeh.


"Bukannya itu juga Nasya?" Kata Nasya, pelan.

__ADS_1


"Ya. Tapi, kamu yang sekarang bukan Nasya yang saya banggakan. Kamu yang sekarang sudah tidak ada gunanya lagi." Kata Ferry, menatap Nasya tajam.


Nasya melepas pelukan Feby. Sudah. Sudah cukup. Gadis itu tersenyum miring dan bergumam pelan. "Mari kita akhiri ini."


Ia mengambil pisau buah yang terletak di atas meja. "Pisau ini indah, ya."


"Nasya? Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Feby, takut.


"Yang mau gue lakukan? Sudah jelas bukan?" Nasya mengalihkan tatapan tajamnya kepada Ferry, "Membunuh."


Seperti yang biasa ia lakukan, Nasya langsung menyerang targetnya, Ferry. Ferry menangkap tangan Nasya yang hampir saja menusuk perutnya. Wajahnya terlihat pucat pasi membayangkan rasa sakit yang akan ia alami.


Nasya menggigit tangan Ferry kuat hingga pria itu menjerit dan melepaskan cekalannya. Dengan bebas, Nasya menembus perut Ferry dengan pisau tajam itu. Darah mencurat dan mulai membasahi lantai. Nasya menarik kembali pisaunya dan menjilat ujung pisau yang sudah di lumuri darah itu.


"Tidak terlalu buruk."


Ferry menjerit kuat sembari meringkuk di lantai, menahan rasa sakit yang tak pernah ia bayangkan.


Feby menatap kejadian di depannya dengan kaku. Mulut dan kakinya terasa mati rasa. Sedangkan Nasya, ia dengan santai menarik bahu Ferry, memaksa pria itu agar telentang. Nasya duduk di atas Ferry dan mulai menusukkan pisaunya berulangkali ke pria malang di bawahnya.


Feby terduduk di lantai, tanpa bisa berbuat apa-apa. Syok. Itu yang ia alami. Melihat suaminya di tusuk oleh putrinya sendiri di depan mata. Apalagi, wajah Nasya yang tersenyum membuat perasaan Feby tidak karuan.


"Indah." Gumam Nasya samar. Matanya berbinar.


Pintu di dobrak. 5 polisi dengan pakaian khas-nya menodongkan pistol mereka ke Nasya. Mereka adalah polisi yang di tugaskan untuk mengawasi Ferry dan Nasya agar tidak kabur.


"Letakkan senjata anda." Ucap salah satu dari mereka.


Nasya menoleh. Ia tersenyum tanpa dosa ke arah para polisi itu. "Pak polisi mau ikut main juga? Ah, tapi bagian serunya buat Nasya, ya?"


"Nasya, letakkan pisau itu." Ucap polisi tadi berusaha membujuk Nasya.


"Nggak!"


Polisi tadi memberi isyarat kepada rekannya. Dengan serentak, mereka mendekati Nasya dan berusaha menahan pergerakan gadis itu. Beberapa dari mereka terkena luka gores akibat cakaran Nasya. Pisau yang sebelumnya di pegang gadis itu kini sudah di amankan oleh salah satu polisi di sana.


Bunyi sirine ambulance terdengar nyaring. Empat pria berbaju medis masuk, lengkap dengan brankar yang siap membawa Ferry.


Sedangkan Nasya? Gadis itu tersenyum lebar melihat genangan darah di bawahnya. Tangannya sudah di tahan oleh dua polisi agar tidak banyak bergerak.


"Ini malam terbaik di hidup gue." Gumamnya, sebelum kehilangan kesadaran akibat suntik bius dari salah satu dokter.

__ADS_1


°•°•°•°•°•


Hujan mengguyur kota yang berada di bawah langit gelap. Awan kelabu menutupi bulan yang sebelumnya sempat bersinar.


Di sebuah bangunan besar yang sering disebut 'RSJ', empat remaja sedang duduk di depan dokter Liz. Athena, Ares, Bara, dan Theo mendengarkan penjelasan dokter Liz dengan seksama. Cerita mengenai kejadian Nasya yang hilang kendali, mengalir dan di cerna dengan baik oleh mereka.


Theo terlihat sedikit sedih mendengar kabar bahwa Ferry sudah tiada sewaktu dalam perjalanan menuju rumah sakit. Nasya juga kini berada di RSJ karena divonis sakit jiwa.


Rumah Ferry di sita, sebagai bentuk penebusan hukuman. Uang warisan orang tua Athena dan Theo yang di ambil oleh Ferry dan Feby, kini di kembalikan kepada dua saudara itu.


Athena bangkit berdiri, mengalihkan atensi orang yang berada di sana. "Saya mau melihat kondisi Nasya. Bisa antar kan saya ke sana?"


"Tentu." Dokter Liz ikut berdiri. "Ikuti saya."


Theo, Bara, dan Ares juga ikut menemui Nasya. Gadis itu berada di sebuah ruangan berbentuk sel penjara. Athena melihat Nasya yang sibuk berbicara sendiri, kemudian tiba-tiba berteriak tanpa alasan. Mungkin jika hanya mendengar cerita mengenai masa lalu Nasya, Athena biasa saja. Tapi, ia tau bagaimana rasanya memiliki trauma.


Nasya mendongak, matanya bertemu dengan mata coklat Athena. Senyum lebar terbit di wajahnya. Nasya mendekat ke Athena dan memegang besi yang menjadi penghalang antara mereka.


Tiga laki-laki itu refleks mundur. Namun, tidak dengan Athena. "Na." Tegur Ares. Ia hanya takut jika Nasya tiba-tiba menyerang.


"Nggak papa." Kata Athena. Gadis itu balas menatap Nasya.


"Hei, Lo tau? Gue seneng banget bisa main sama darah. Tapi, sayang banget itu bukan darah lo. Gue bakal lebih senang kalo lo mau ikut main sama gue." Kata Nasya, dengan senyum lebarnya.


"Maaf, gue nggak punya waktu buat main-main sama lo."


Tangan Nasya menarik pergelangan tangan Athena melalui celah antar besi. Athena hanya menatap pergelangan tangannya sebentar, kemudian kembali menatap Nasya.


"Ayolah. Gue butuh teman."


Athena menepis tangan Nasya yang bertengger di tangganya. "Maaf, gue sebentar lagi mau balik. Nggak punya waktu buat ngeladenin lo."


Athena mundur, menjauh dari Nasya. Tangan Nasya berusaha menggapai tangan Athena, namun terhalang sel.


Siapapun yang mendengar perkataan Athena tadi, mungkin mereka hanya akan berfikir bahwa Athena hanya ingin pulang ke rumah.


Namun, tidak bagi Ares. Ia paham betul arti dari perkataan Athena. Laki-laki itu manatap Athena sendu.


"Sudah hampir waktunya, ya?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=☁\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2