
Hacim
Gadis itu memeluk tubuhnya yang sudah di balut jaket tebal. Di lehernya, terdapat syal biru yang melilit, guna membantu menghalau dingin. Laki-laki di sebelahnya menatap gadis itu cemas.
"Nggak papa?"
Gadis itu menoleh, menatap laki-laki di sebelahnya. "Nggak papa kok. Tapi, ya, musim dingin emang kurang enak."
"Kita balik aja? Gue nggak mau Lo sakit."
"Balik gimana? Lo nyuruh gue bolos?"
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya. "Yah, nggak sih."
Gadis itu tersenyum, merasa senang karena perhatian kecil dari laki-laki itu. "Udah, gue nggak papa kok, Res. Bentar lagi juga sampai kampus."
"Benar juga. Mau gue peluk?"
Wajah Alea memerah, sedikit terkejut dengan pertanyaan Ares. Ares menatap Alea cemas. "Lo kenapa? Sakit? Beneran sakit? Pulang? Atau dingin? Mau gue peluk biar dinginnya hilang?"
"G-gue gak papa. Udah, ayo, bentar lagi sampai." Alea mempercepat langkah kakinya.
Sudah 7 bulan mereka berpacaran. Dan baru beberapa bulan yang lalu Ares masuk ke kampus yang sama dengan Alea. Meskipun Ares adalah adik tingkatnya, Alea tidak sungkan untuk memperkenalkan Ares adalah pacarnya.
Tapi masalahnya, Ares kini menjadi populer di kampus. Alea sedikit kesal karena lalat-lalat itu selalu mengerubungi Ares. Meskipun sebenarnya dulu hal ini sering terjadi, namun kali ini berbeda.
Seperti saat ini. Alea menatap gerombolan perempuan yang satu kampus dengannya tengah mengelilingi Ares. Alea menekuk wajahnya menatap Ares yang kesusahan menanggapi mereka. Gadis itu duduk di bangku yang berada tidak jauh dari Ares.
Ares melewati beberapa para gadis itu, berusaha menghampiri Alea yang sedang badmood. Hal ini sering terjadi, dan Alea sudah lelah melihatnya.
"Alea. Tolongin."
Ares memelas. Ia sangat kesusahan melalui perempuan yang tidak pernah lelah mengganggunya. Alea membuang wajahnya. Tanpa sengaja, ia melihat Yuki lewat.
Alea langsung saja berteriak memanggil perempuan dengan rambut pendek itu. "YUKI!"
Merasa terpanggil, Yuki melihat ke arah Alea. Ia melepas salah satu benda yang menyumpal telinganya. Yuki mendekat, dan menatap perempuan-perempuan di sana dengan lelah.
"Mereka masih belum kapok?" Tanya Yuki, dengan bahasa aslinya.
Alea menekuk wajahnya. "Begitulah."
Yuki duduk di sebelah Alea. Salah satu kakinya ia angkat, "Nggak mau bertindak?"
"Emang aku harus gimana?"
"Pakai saja cara yang nggak pernah kamu lakuin, yang lebih ekstrim."
Alea menatap Yuki heran. "Gimana?"
"Gunakan saja otak pintar mu. Bukankah kamu memiliki banyak ide? Kamu juga bisa menggunakan adegan manga yang kamu buat untuk mengusir mereka."
Alea mendelik, "Maksudmu, mengangkat pedang dan membunuh mereka?"
Yuki tertawa. "Bukan itu. Contohnya saja, kiss."
Wajah Alea memerah. "Hah? Nggak-nggak. Mustahil untuk ku."
"Sudahlah, coba saja." Goda Yuki.
Yuki mulai mendorong bahu Alea. Alea menolak, namun Yuki memaksa. Alea meneguk salivanya gugup. Haruskah? Apakah tidak ada cara lain?
Alea menghela nafas pasrah, "Kenapa di situasi seperti ini, otakku mendadak buntu. Merepotkan."
Alea mulai menerobos kerumunan itu. Sesekali, ia terdorong mundur. Namun akhirnya, ia berhasil berdiri di hadapan Ares, berkat tubuhnya yang mungil.
__ADS_1
Ares menatap Alea terkejut. "Alea."
"Diam sebentar." Desis Alea.
Alea menarik kerah kemeja Ares. Ares terkejut, Alea berani melakukan ciuman di depan para perempuan ini. Ciuman singkat, namun sangat membekas. Alea menjauhkan wajahnya dari Ares, dan menatap perempuan-perempuan itu dengan datar.
"Dia milikku. Jangan mengganggunya lagi."
Gerombolan perempuan yang sebelumnya terdiam karena tindakan Alea, kini mulai protes, mereka malah semakin mendesak dan saling mendorong. Satu-persatu dari mereka mulai berteriak.
"Menjauh dari Ares!"
"Benar! Menjauhlah!"
"Jangan sementang-mentang kau adalah kakak tingkat, kau bisa memaksa Ares untuk menjadi pacarmu!"
Tatapan Ares berubah. Suasana menjadi semakin dingin. Ares memeluk Alea dan menatap para perempuan itu tajam. Mereka yang merasa atmosfer di sana berubah mulai terdiam.
"Jangan menghina Alea. Dia adalah pacarku, dan aku menyukainya karena keinginanku sendiri, bukan paksaan. Aku sudah memiliki Alea, jangan mengganggu ku lagi."
Ares berbicara dengan penuh penekanan. Bahasa yang ia gunakan? Tentu saja bahasa Jepang. Ia sudah mempelajari bahasa itu setelah memutuskan untuk menemui Alea.
Perlahan, gerombolan itu bubar, masih dengan bisik-bisik yang membicarakan mereka berdua. Alea melempar tatapan tajam kepada gadis-gadis yang berbisik-bisik sembari melirik ke arahnya.
Ares melepas dekapannya, tangannya berpindah ke pundak Alea. "Lo nggak papa? Nggak ada yang luka?"
Alea menggeleng, menatap wajah Ares yang tengah khawatir dengan teduh. "Gue nggak papa."
Hatinya merasa senang. Perhatian dari Ares membuat dirinya semakin merasa aneh. Dirinya yang selalu berusaha menutup hati karena tidak ingin merasakan yang namanya sakit hati, kini sudah mulai membuka hati untuk seseorang. Rasanya...baru kali ini ia mencintai seseorang setulus ini.
Antares Lesham Erlangga, kau sudah berhasil membuat ku jatuh sedalam ini.
°•°•°•°^•^°•°•°•°•
05.57 AM - Indonesia
Tidak ada sahutan. Wanita yang sudah mencapai usia kepala tiga itu menghela nafas panjang. Seorang gadis dengan seragam yang sudah melekat di tubuh indahnya itu keluar dari dapur dengan piring di tangannya.
"Biar aku saja yang memanggilnya, Bun."
Wanita itu mengangguk, tersenyum kepada anaknya. "Tolong, ya, Rissa."
Gadis berusia 18 tahun itu mengangguk. Sebelum menaiki tangga, ia menaruh piring di tangannya ke atas meja terlebih dahulu. Lalu, ia berlalu pergi ke kamar sang adik.
Clarissa mengetok pintu yang bertuliskan 'Aries' itu dengan sabar. "Res! Bangun. Aries!"
Masih tidak ada sahutan. Clarissa membuka pintu yang tidak di kunci itu, dan mendapati Aries yang masih tidur dengan beberapa novel dan manga berhamburan di dekatnya.
Clarissa menggoyang tangan Aries. "Res. Bangun."
Aries hanya melenguh pelan. Bukannya bangun, gadis itu malah membalikkan tubuhnya membelakangi Clarissa. Dengan sabar, Clarissa menarik tangan Aries hingga Aries terduduk di kasurnya.
Mata Aries setengah terbuka. Ia masih mengumpulkan nyawanya yang berhamburan entah kemana. Clarissa membuka gorden, lalu melempar handuk berwarna tosca ke wajah Aries.
"Cepat siap-siap. Nanti terlambat."
Aries bergumam samar, lalu berjalan lunglai menuju kamar mandi. Clarissa keluar dari kamar Aries, dan memilih duduk di meja makan yang masih kosong. Mungkin bunda masih membantu ayah siap-siap, pikirnya.
Setelah 5 menit berkutat dengan air dingin, Aries menggunakan seragam sekolahnya, lalu mengeringkan rambutnya. Setelah selesai, ia menatap pantulan dirinya yang tidak memakai polesan apapun sekilas.
Aries memasukkan buku pelajaran, sebuah novel, dan handphonenya ke dalam tas. Setelah selesai, ia menghampiri Clarissa dan kedua orangtuanya yang sudah duduk rapi di meja makan.
"Anak siapa sih, cantik banget." Kata pria yang sudah duduk di meja makan itu.
"Anak ayah Ares sama bunda Lea." Sahut Aries tanpa minat.
__ADS_1
"Aries mirip banget sama kamu." Pria yang menggunakan jas rapi itu terkekeh. Dia adalah Ares.
"Mirip dari mananya?" sahut sang istri, Alea.
"Emang mirip. Bunda, kan, dulu suka tidur." Sambung Aries dengan nada malas.
"Tuh, kan."
"Ya udah, aku nggak jadi ikut ke kantor." Delik Alea kesal.
"Jangan dong, sayang. Bercanda tau."
Alea mengangguk saja, terlihat kesal, sambil menyodorkan sepiring nasi ke hadapan Aries. Gadis itu mulai makan dengan tenang, tidak mempedulikan kedua orangtuanya yang masih sibuk bermesraan.
°•°•°•°•°•
Aries memasuki perpustakaan dengan malas. Di jam istirahat ini, ingin ia gunakan untuk membaca novel yang berada di perpustakaan. Padahal ketiga temannya sudah mengajaknya untuk ke kantin, namun Aries sedang malas.
Di tangannya, terdapat sebuah novel yang baru saja selesai ia baca. Novel berjudul 'Love is complicated' itu sebenarnya hanya kisah cinta klise antara protagonis pria dan wanita. Awalnya, Aries sama sekali tidak memiliki minat untuk membaca novel yang sedang populer itu. Namun, karena desakan dari salah satu temannya, Aries mencobanya.
Dan, benar saja. Aries tidak terlalu tertarik dengan novel itu. Bahkan, Aries membaca novel itu loncat-loncat dan tidak sesuai urutan.
Namun, ada salah satu karakter yang ia sukai di novel itu. Meskipun hanya karakter sampingan, namun Aries merasa sedikit mirip dengannya. Hanya dengan alasan itu, Aries menyukainya. Simpel memang.
Aries menaruh novel itu ke tempatnya, tempat khusus cerita fiksi. Aries ingin mengambil novel yang berada di sebelah novel yang baru saja ia taruh itu. Namun, tanpa sengaja Aries menjatuhkan novel yang tidak menarik minatnya itu.
Aries menghela nafas malas. Gadis itu membungkuk, ingin mengambil buku itu. Tangannya belum menyentuh buku itu, namun beberapa halaman mulai terbuka sendiri. Aries menatapnya terkejut. Cahaya aneh keluar dari buku itu.
Silau. Aries tidak bisa melihat apapun. Semuanya terasa putih. Aries menutup matanya, mencoba mengahalau cahaya menyilaukan itu.
Setelah merasa tidak ada cahaya lagi, Aries membuka matanya. Empuk? Ia berada di kasur? Langit-langit berwarna abu-abu menyambut penglihatan Aries.
Aries duduk, namun tubuhnya terasa sakit. Apa yang terjadi? Dan lagi, ini kamar? Milik siapa? Bukankah ia berada di perpustakaan? Kalaupun pingsan, mungkin hanya akan di bawa ke UKS. Tubuhnya juga terdapat beberapa luka yang sudah di perban. Kenapa ia bisa terluka?
Aries berjalan tertatih menuju lemari yang terdapat cermin. Ia merasa aneh dengan tubuhnya, seperti ada yang berbeda. Dan...siapa ini?
Rambut panjang berantakan, bulu mata lentik, kulit putih, bibir pucat, tatapan mata kosong, dan lagi, wajah asing terpampang jelas di sana.
Aries menatap pantulan yang muncul di cermin dengan aneh sekaligus tidak percaya.
"Siapa?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=♤♧☁♡♢\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jadi apakah bakal ada seri ke 2? Hmmm gua pikir-pikir dulu...
Byeee
Eh bentar-bentar. Niat gue sih mau buat novel tentang transmigrasi lagi. Mungkin judulnya : Transmigrasi Istri Sang Antagonis.
Sinopsis : Terjebak ke dunia novel sebagai istri Mafia Antagonis?
Hidup di era kapitalis yang mencekik membuat Karina Putri Maharani bunuh diri dengan memeluk novel 'The Protagonists' Revenge' yang bercerita tentang pembalasan dendam tokoh protagonis wanita bernama Violet Addison kepada sang antagonis pria yang tak lain adalah sahabat masa kecilnya.
Alih-alih pergi ke neraka, Karina malah terbangun sebagai tokoh yang paling ia benci di novel itu, Ruby Putri Maharani. Selain nama belakang mereka yang sama, itu karena Ruby adalah istri dari pemeran antagonis pria, Xavier Fernando yang tergila-gila pada Violet.
Ruby Putri Maharani adalah antagonis wanita yang sangat berambisi membunuh protagonis wanita demi cinta suami dan hartanya.
Sikapnya itu membuat Xavier yang tergila-gila pada Violet dan membencinya sampai ke tulang, bahkan tidak segan membuat percobaan pembunuhan. Namun, di akhir novel itu, Xavier hanya bisa memeluk jasad Ruby yang berkorban demi dirinya.
"Tidak ada orang yang bisa menyelamatkanmu dariku, Ruby."
Gimana Vreen?
Setuju Gak?
__ADS_1
Byeee, muah♡