Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 39. Berbelanja


__ADS_3

Gadis yang masih mengenakan seragam batik yang dilapisi dengan jaket army itu menekan bel apartemen dengan sabar. Sudah hampir 3 menit ia menekan bel, namun tidak ada tanda-tanda sang pemilik apartemen bernomor 43 itu akan keluar. Cuaca saat ini terasa dingin, karena hujan baru saja selesai mengguyur kota.


Athena menghela nafas kasar. Dengan kesal, ia membuka pintu itu. Siapa sangka, tenyata tidak dikunci!


Gadis itu mengintip sebentar ke dalam. Kosong. Ia berniat masuk ke dalam, karena merasa ada yang aneh. Kenapa Ares tidak mengunci pintunya? Tidak seperti biasanya.


"Res?"


Tidak ada sahutan.


"Gue masuk, ya?"


Masih tidak ada sahutan.


Athena melangkahkan kakinya masuk dan melihat ke sekeliling, ruangan ini nampak sunyi. Ia menghampiri sebuah pintu coklat yang sedikit terbuka. Athena membuka pintu itu, dan nampaklah kamar yang biasanya selalu rapi, kini sangat berantakan. Bungkus makanan ringan dan beberapa kaleng minuman kosong bertebaran di lantai. Di atas meja berkaki pendek, satu controller PlayStation tergeletak begitu saja di samping dua cup mie instan kosong.


Ruangan ini sangat gelap. Hanya ada cahaya televisi yang sedang menampilkan kartun. Athena menggeleng. Apakah televisi ini dibiarkan menyala semalaman? Sedangkan sang pemilik kamar masih nyaman dalam selimutnya.


Athena mematikan televisi dan membuka gorden agar cahaya bisa masuk. Ares nampak menggeliat dan berbalik membelakangi Athena. Ia menyembunyikan kepalanya di dalam selimut. Athena meletakkan tas ransel miliknya di lantai.


Dengan sekuat tenaga, Athena menarik selimut itu hingga menampilkan keseluruhan tubuh Ares.


Dahi Ares mengerut. Ia menutupi wajahnya menggunakan guling, guna menghalau cahaya yang mengganggu tidurnya.


Athena mengangguk, "Gue paham gimana rasanya tidur di ganggu. Tapi, maaf."


Athena menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, "BANGUN! BANGUN!" Dengan brutal, Athena mengguncang tubuh Ares.


Ares menahan tangan Athena yang sedang menggoncang tubuhnya. Mata itu perlahan terbuka, menatap sang pelaku yang telah mengganggu tidurnya. Tatapan yang biasanya selalu terlihat lembut itu kini terlihat tajam. Athena bergidik, Ares mode dingin terlihat sangat berbeda.


"Apa?" tanya Ares dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kenapa lo nggak sekolah?"


Ares melepas tangannya yang sebelumnya menahan Athena. Ia kembali berbaring, memeluk guling.


"Ngantuk."


"Udah jam 2, Ares. Lo malam tadi begadang sampai jam berapa?"


Tidak ada sahutan. Athena mendadak kesal sendiri. Ia kembali menggoncang tubuh Ares kuat.


"Apa lagi?" kesal Ares tertahan.


"Mandi! Gue siapin makan buat lo."


Ares menghiraukan Athena. Matanya yang masih berat itu kembali tertutup. Namun, tangan lembut itu menarik tangannya hingga membuat ia duduk di atas kasur.


"Lo dengar gue gak sih?"

__ADS_1


Ares dengan pasrah mengambil handuk yang ia gantung di dinding. "Iya-iya. Gue mandi nih."


Laki-laki itu memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.


"Jangan tidur di dalam!" teriak Athena.


"IYA, ATHENA!"


•°•°•°•°


Air menetes dari ujung rambut hitam lebat itu. Laki-laki yang sudah menggunakan baju santai itu melihat ke atas kasurnya yang kini sudah diisi oleh gadis berjaket army yang sedang tidur dengan gaya tengkurap.


Laki-laki itu tersenyum tipis. Bukan hanya menyiapkan makanan, Athena bahkan merapikan kembali kamar Ares. Sepertinya, ia terlalu lama berendam di air hangat hingga membuat Athena bosan menunggu.


Ares duduk lesehan di depan meja berkaki pendek. Di atas meja, sudah tersedia seporsi omurice, beserta minumnya. Perutnya memang sudah meronta minta diisi, karena pagi tadi ia hanya memakan satu cup mie instan.


Ares berdoa sebentar, kemudian ia memakan makanan itu dengan khidmat. "Enak."


Ares memakan makanan di depannya hingga habis tak tersisa. Tanpa ia sadari, seseorang sedang memperhatikan cara makannya yang mungkin...terlihat sedikit berantakan.


"Segitu enaknya kah masakan gue? Mau gue buatin lagi?"


Ares dengan cepat menoleh ke asal suara. Laki-laki itu terlihat salah tingkah dan sedikit malu.


"Nggak usah, Na."


Athena tidak mengindahkan ucapan Ares. Ia bangkit berdiri dan membawa piring kosong itu keluar kamar.


Tanpa di sadari, Ares tersenyum. Laki-laki itu sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


°•°•°•°•


Di sebuah pusat perbelanjaan, seorang gadis sedang memilih beberapa bahan dapur yang berjejer rapi di rak. Sedangkan laki-laki di belakangnya sedang mendorong troli sambil sesekali melihat sekeliling.


"Gue baru pertama kali ke sini."


"Masa?"


Ares mengangguk, menjawab pertanyaan Athena. "Biasanya gue cuman belanja ke minimarket dekat rumah doang."


"Lagi pula, kulkas lo dah kosong. Sekalian isi banyak-banyak aja biar gak bolak-balik. Anggap aja belanja bulanan."


Ares mengangguk setuju. Ada benarnya juga. Daripada belanja pas perlu saja, mungkin ada baiknya punya stok makanan untuk sebulan.


Sudah hampir setengah jam mereka berkeliling. Troli yang mereka bawa juga sudah hampir penuh. Ada beberapa daging dan bumbu instan, sayuran, cemilan, beberapa minuman kaleng, mi instan, dan banyak lagi.


"Kayaknya udah semua. Yuk bayar!"


Ares mengikuti Athena dengan sabar. Gadis itu terlihat sangat antusias mencari bahan makanan. Athena tiba-tiba saja berhenti dengan mata berbinar. Ares mengikuti arah pandang Athena. Di sana, sebuah logo berwarna merah menjadi objek mereka.

__ADS_1


Diskon.


"Res! Katanya telur di sini lagi diskon. Beli, ya?"


Ares mengangguk pasrah. "Iya iya."


Padahal, semua bahan ini untuk Ares. Namun, gadis itu terlihat sangat bersemangat dan menikmatinya. Yah, Ares juga tidak masalah, asal ia bisa melihat sisi Athena yang imut. Jarang-jarang gadis itu seperti ini.


Athena kembali dengan membawa 2 tempat telur beserta telurnya. "Beli dua, mumpung diskon!"


"Iya. Serah lo, deh."


Athena menampilkan deretan giginya.


Krukk


Wajah Athena memerah. Perutnya sangat tidak bisa di ajak kompromi. Ares tertawa pelan.


"Jangan ketawa!" kesal Athena, menggembungkan pipinya.


"Iya-iya, maaf. Setelah belanjaannya dibayar, gue traktir makan. Mau di mana?"


Athena nampak berfikir. "Kalo di resto Jepang, lo nggak keberatan?"


"Nggak sama sekali."


"Asik! Makasih Ares."


Ares mengangguk. Wajahnya terlihat biasa saja dengan sisi Athena yang baru untuknya. Namun, ia berusaha mati-matian untung tidak mimisan di sini.


"Imutnya!"


•°•°•°•°


Hoamm


Athena menghapus air mata yang keluar dari ujung matanya. Sepasang mata itu terasa sedikit berat karena tubuhnya terlalu banyak bergerak. Sepertinya ia sudah kelelahan. Athena yang baru saja tiba di rumah itu melirik sekilas ke arah dapur.


Seperti ada yang janggal. Suara samar terdengar dari arah dapur. Namun, lampu dapur nampak padam. Sedangkan pembantu rumah mereka sudah pulang ke rumahnya.


Athena menutupi sikap waspadanya dengan wajah mengantuk. Di balik wajah kantuknya, otak pintar yang terletak rapi di kepala itu sedang memikirkan beberapa kemungkinan.


"Theo lagi nggak ada di rumah. Motornya nggak ada."


"Mama sama Papa, kayaknya mereka ke luar negeri lagi."


"Nasya? Mungkin ini kesempatan yang bagus."


Athena tersenyum samar. Sebentar lagi, ia mungkin bisa membawa Nasya beserta keluarganya ke pengadilan.

__ADS_1


"Let's play, my family."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=♢\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2