Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
Chapter 40. Sisi Lain Nasya


__ADS_3

Sebuah pisau meluncur dengan mulus ke arah gadis berjaket army. Athena terlihat terjatuh karena berusaha menghindari pisau dapur yang melaju, kemudian menancap di dinding sebelahnya. Jika saja ia lambat menghindar, mungkin kini ia sudah tidak memiliki kesempatan hidup lagi.


Athena melihat ke arah gadis yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Nasya, gadis itu mendekat dengan sebuah pisau dapur yang lain di tangannya.


"M-mau apa lo? Menjauh!" teriak Athena, histeris. "Bercanda."


"Oh. Ternyata lo bisa takut sama yang beginian, ya?"


"Mau apa lo? Jangan deketin gue!" kata Athena, berdiri dan mundur menjauh dari Nasya.


Nasya terlihat tersenyum lebar melihat wajah ketakutan Athena. "Bagus. Gue suka wajah lo. Akhirnya, gue bisa lihat wajah takut lo lagi." Gadis itu tertawa.


Nasya semakin mendekat, sedangkan Athena mulai terpojok. Tubuhnya terlihat bergetar. Dan pada akhirnya, ia sudah tidak bisa mundur lagi. Athena mengambil sebuah vas bunga yang berada di dekatnya dan melempar vas itu ke sembarang arah.


"Jangan mendekat!"


"Jangan teriak, dong. Nanti pisau gue bakal langsung nancap di kepala lo, nih." Kata Nasya terdengar sedih.


Athena terdiam dengan tubuh yang tidak berhenti bergetar. Nasya semakin tersenyum. Ternyata, Nasya juga memiliki sisi gelap tersendiri.


"Gue mau liat warna dan bau darah lo. Mungkin akan menyenangkan mengeluarkan semua isi perut lo."


"Gue mohon, jangan mendekat. Gue nggak mau mati." Air mata Athena keluar.


"Bagus! Terus, terus memohon!"


"Gue mohon. Jangan bunuh gue." Lirih Athena yang sudah terduduk di lantai.


Nasya berjongkok, mengelus pipi Athena menggunakan pisau. Keringat terlihat keluar dari pelipis Athena.


"Mungkin kalo wajah lo ini di lukis, bakal lebih cantik. Tapi, Bara nggak bakal suka sama lo lagi, sih. Kemudian, Bara bakal berpaling ke gue. Skenario yang bagus, bukan?" kata Nasya, terlihat senang.


Ujung pisau terlihat mengiris sedikit pipi Athena. Darah gadis itu keluar, mulutnya mengeluarkan ringisan kecil. Nasya menjilat ujung pisau yang terkena darah Athena. Lidahnya tidak terluka, seperti sudah terbiasa.


Wajahnya terlihat sangat menikmati. "Gue suka. Hei, Athena. Gue mau darah lo, lebih banyak!"


Athena semakin menangis dalam diam.


"Hei, ada apa?" desis Nasya, sangat dekat dengan wajah Athena. Athena memejamkan matanya.


Suara motor terdengar memasuki perkarangan rumah. Nasya dengan cepat menjauhkan wajahnya dan mengintip ke jendela.


"Sial!"

__ADS_1


Gadis itu tiba-tiba saja mengiris tangannya. Ringisan kecil terdengar. Kemudian, dia memaksa tangan Athena untuk memegang pisau itu.


Nasya mendudukkan dirinya di depan Athena. Matanya mengeluarkan air mata palsu.


Pintu rumah terbuka, menampilkan laki-laki yang menatap mereka terkejut. Nasya langsung berlari dan memeluk laki-laki itu dengan tangis 'pura-pura'-nya.


Theo, laki-laki itu melihat ke arah Athena. Athena terlihat tersenyum miring, memberi isyarat kepada Theo. Theo yang sedikit paham dengan kondisi ini setelah melihat pisau di dinding dan luka di pipi Athena, tersenyum tipis.


Laki-laki itu langsung terlihat panik dan memegang kedua pundak Nasya. Theo menarik tangan Nasya lembut dan melihat luka gadis itu.


"Kamu kenapa luka gini?"


"Hiks, k-kak Athena..."


Theo menarik Nasya ke belakang tubuhnya dan menatap Athena tajam. "Lo apain Nasya?"


"G-gue nggak ngapa-ngapain."


"Buktinya, kenapa di tangan lo ada pisau?"


"I-ini..." Athena menggantung ucapannya.


"Udahlah, kita urus ini setelah Mama sama Papa pulang. Sampai hari itu, lo gue kurung di kamar."


Wajah Nasya terlihat kecewa di belakang sana. Athena melihatnya.


Theo memeluk Nasya. "Jangan takut lagi, ya. Kakak disini." Nasya terlihat mengangguk dalam dekapan Theo. "Kamu ke kamar duluan, ya. Nanti kakak susul. Kakak mau urus nih cewek satu dulu."


Nasya mengangguk. "Hati-hati, kak."


Theo tersenyum manis. Nasya pergi berlalu dari sana dengan senyum dan beberapa pikiran jahat di kepalanya.


"Athena bakal di kurung di kamar. Kemudian, pas Theo pergi, gue bisa main sepuasnya. Nggak sabar."


Itulah salah satunya.


•°•°•°•°


Athena menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dengan malas, ia menjangkau laptop di atas meja berkaki pendek. Sebungkus cemilan yang ia bawa diam-diam dari dapur kini sudah terbuka.


Athena menyalakan laptopnya sambil memakan cemilan. Gadis itu membuka CCTV yang sudah ia hubungkan ke laptop.


Ia menonton ulang rekaman Nasya dan dirinya. "Hm, akting gue bagus juga." Gumamnya.

__ADS_1


Kemudian, Athena beralih ke kamera CCTV saat ini. Ia mencari-cari keberadaan Nasya melalui CCTV.


"Aw, stress." Gumam Athena.


Bagaimana tidak? Di taman belakang, seekor kucing malang menjadi sasaran kekesalan Nasya. Bahkan, Nasya terlihat sangat menikmatinya. Sebuah pisau yang sudah berlumuran darah ia kubur begitu saja bersama tubuh sang kucing.


"Karena nggak berhasil bunuh gue, dia lampias gitu aja sama kucing? Beneran stres." Gumam Athena, tidak habis thinking.


Athena mengambil ponsel pintar miliknya dan menghubungi Ares. Tidak perlu menunggu lama, panggilan mereka tersambung.


"Halo, Res."


"Ya, kenapa, Na?"


"Lo lagi sibuk nggak?"


"Hm, enggak sih."


"Gue bisa minta tolong nggak?"


"Boleh aja. Minta tolong apa?"


"Cari tau tentang Nasya."


"Bentar, gue nyalain laptop."


Athena berdehem singkat, pertanda setuju. Tangan lentik Athena membuka situs chat online dan mengirimkan sebuah link kepada Ares.


"Gue udah nyoba nyari tentang Nasya di situ. Tapi, seperti yang lo liat, ada informasi private. Kemungkinan, ada sesuatu yang di sembunyikan mereka."


Di sebrang sana, Ares mengangguk mengerti. "Oke, gue coba retas dulu." Kata Ares. Tangannya mulai menekan-nekan keyboard, entah apa yang dia lakukan.


"Oke. Kalo udah nemu hasilnya, langsung kabarin."


"Iya."


"Gue matiin ya. Dadah."


Sambungan mereka terputus. Ares menjauhkan handphonenya dan kembali fokus pada situs itu.


Akhirnya, setelah berkutat dengan hal-hal rumit selama setengah jam, Ares berhasil. Laki-laki berkaos hitam polos itu tersenyum puas. Ternyata kemampuan yang dulu ia anggap tidak berguna, kini menjadi berguna di saat-saat seperti ini.


Ia mulai membaca semua hal yang tertera di sana. Matanya membulat tidak percaya. Langsung saja, ia menghubungi Athena.

__ADS_1


"Gue udah dapat informasi tentang Nasya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\={{{{{{♢}}}}}}\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2