Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga

Transmigrasi ll 2 Jiwa dalam 1 Raga
E P I L O G


__ADS_3

Mata yang sudah lama terpejam itu mulai terbuka secara perlahan. Gadis itu berkedip beberapa kali, guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Tenggorokannya terasa kering, sangat susah untuk mengeluarkan suara. Ia melihat ke sekeliling. Tangannya di infus, ruangan serba putih, dan seorang gadis yang sedang tertidur dengan posisi duduk di sebelahnya.


Ah, ia berhasil kembali.


Dada Alea tiba-tiba serasa sesak. Ingatannya tentang Ares mulai berputar di kepala. Rasa tidak rela kembali menghampiri. Alea kembali menangis.


Gadis yang sebelumnya tidur itu terbangun karena merasa ada pergerakan kecil dari sahabatnya. Matanya membesar dan mulai terlihat panik.


"Hei! Kamu kenapa? Ada yang sakit?" paniknya, mengelus pipi Alea. Tentunya, mereka menggunakan bahasa di sana, Jepang.


Alea menggeleng pelan. "Yu-ka." Panggilnya serak.


Yuka semakin terlihat khawatir. "Tunggu sebentar, ya?"


Alea menahan tangan Yuka. "Mi-num."


Yuka dengan cepat mengambil gelas berisikan air dan memberikannya kepada Alea. Alea duduk dengan sisa tenaganya dan mulai meminum air yang di berikan Yuka. Yuka menekan tombol merah yang berada tidak jauh dari sana.


Tidak lama, seorang dokter datang dan meminta izin untuk memeriksa keadaan Alea. Alea menyetujuinya dan menaruh gelas di tangannya ke atas nakas.


"Syukurlah. Pasien berhasil melewati masa komanya. Hanya perlu istirahat yang cukup dan tidak melakukan pekerjaan yang berat agar bisa sehat seperti semula. Sebelum itu, bolehkah saya menanyakan beberapa pertanyaan?"


Alea lagi-lagi mengangguk.


"Apakah kamu mengingat namamu?" Tanya dokter tadi. Alea menjawab dengan cepat, "Berlian Alea."


"Kamu ingat alamat rumahmu?"


"Apartemen xxx." Balas Alea lagi, dengan suara yang sudah mulai normal.


"Siapa nama teman anda yang ini?" tanya dokter lagi, sembari menunjuk Yuka dengan sopan.


"Nakamura Yuka."


"Untunglah, tidak ada masalah serius. Mungkin 3 hari kedepan, pasien sudah di perbolehkan untuk pulang." Kata dokter itu, tersenyum sopan.


"Terimakasih banyak, dokter." Kata Yuka, membungkukkan tubuhnya.


"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu. Jika perlu sesuatu, silahkan panggil kami. Permisi."


"Iya." Kata Alea pelan.


Dokter itu keluar dari ruangan. Yuka berbalik dan langsung memeluk Alea. "Kau membuatku khawatir setengah mati."

__ADS_1


Alea membalas pelukan Yuka dengan senyum tulusnya. "Terimakasih, Yuka. Aku senang bisa melihatmu lagi."


°•°•°•°•°•


Bibir pink itu mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas panjang. Rasanya kembali melelahkan karena terlalu banyak berbicara.


Sedangkan Yuka, gadis yang duduk di depan Alea terlihat berfikir. "Transmigrasi, ya? Terdengar mustahil. Hal itu hanya ada di manga dan anime."


Ya, Alea baru saja menceritakan perjalanannya selama ia koma. Yang dimana, jiwanya berpindah ke tubuh Athena. Namun, dia tidak bercerita mengenai dirinya yang menaruh perasaan terhadap Ares.


Alea mengangguk setuju, namun terlihat ragu. "Tapi, jika aku berkata bahwa aku tidak percaya, itu terasa mustahil. Padahal semua itu terjadi dan terasa sangat nyata."


Yuka menatap Alea serius. "Apakah itu hanya imajinasi alam bawah sadar mu saja, ya?"


Tubuh Alea membeku. Ia tidak pernah berfikiran ke sana. Jika itu hanya imajinasinya, apakah perasaan yang ia rasakan juga adalah imajinasi yang sangat nyata? Apakah Ares hanya bentuk dari kesepiannya?


Membayangkannya saja sudah membuat Alea takut. Namun, bisa jadi itu adalah kemungkinan yang terjadi. Alea mengangguk pelan, dengan kepala yang tertunduk. Dadanya terasa sakit membayangkan jika Ares ternyata tidak benar-benar nyata.


"Aku tidak pernah berfikiran sampai ke situ. Mungkin, ada kemungkinan yang kamu katakan itu benar, Yuka."


Yuka menatap Alea heran. Tatapan Alea terlihat sendu.


°•°•°•°•


Yuka memperhatikan Alea yang sibuk memahami materi salah satu mata kuliah yang sangat di benci Alea. Sesekali, Yuka menegur Alea yang tiba-tiba melamun.


"Yuka~. Aku ingin tidur." Keluh Alea.


Yuka tersenyum tipis melihat Alea yang tidak pernah berubah. "Baiklah."


Dua Minggu setelahnya, Alea berhasil menyelesaikan ulangannya. Namun, jika membahas hasilnya...entahlah. Alea hanya bisa pasrah.


Yuka menghampiri Alea yang sedang duduk di bangkunya, lalu duduk di sebelah Alea dengan semangat. "Dua hari lagi tahun baru. Mau ikut menonton kembang api?"


°•°•°•°•


Alea menatap lautan orang yang sedang sibuk membeli makanan di stan makanan yang sudah berjejer rapi dengan tatapan malas.


"Pulang, yuk."


"Ayolah, sekali-kali." Kata Yuka santai.


Mereka hanya menggunakan baju santai. Alasannya hanya satu, tidak ingin ribet.


Alea pasrah. Ia memeluk lengan Yuka, karena tidak ingin terpisah di tengah-tengah ramainya orang. Yuka juga tidak masalah. Mereka menerobos masuk dan melihat sekeliling. Banyak sekali makanan yang terlihat enak.

__ADS_1


"Yuka, aku ingin beli permen apel."


"Biar aku yang membelikannya."


Tanpa persetujuan, Yuka menghampiri penjual permen apel. Sedangkan Alea memilih untuk menunggu tidak jauh dari Yuka.


"1 menit lagi, kembang api akan dinyalakan."


Setelah pengumuman itu, mendadak lautan manusia itu mulai berkumpul dan berjalan secara bersamaan menuju tempat paling bagus untuk menonton kembang api.


Alea pun ikut terbawa para manusia itu, seperti hanyut di bawa lautan manusia.


Yuka menoleh, melihat ke arah Alea sebelumnya menunggunya. Namun, tidak ada. Yuka mendadak panik. Ia berteriak memanggil Alea, namun tidak ada jawaban.


Yuka menghubungi Alea, namun tidak bisa terhubung dikarenakan jaringan. Yuka mengacak rambutnya. "Sepertinya jaringan di sini terganggu karena terlalu banyak orang. Bagaimana ini?"


Di sisi lain, Alea juga mengalami hal yang sama. Gangguan jaringan.


Alea melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun yang ia kenal di sini. Matanya tak segaja melihat bangunan tinggi, sepertinya itu apartemen. Tanpa pikir panjang, Alea menaiki tangga satu persatu. Tujuannya adalah rooftop. Ia mungkin bisa menonton kembang api dari dekat.


Di pertengahan tangga, Alea mendapatkan sinyal. Ia langsung saja menghubungi Yuka yang juga sudah menjauh dari ramainya orang. Terhubung.


"Yuka! Bisakah kita bertemu di rooftop apartment berwarna cream itu?"


Yuka melihat sekelilingnya, dan menemukan apartemen yang di katakan Alea. "Bisa! Aku akan segera ke sana."


"Baiklah. Dah!"


Alea menaruh kembali handphonenya di saku baju tebalnya.


Hitungan mundur di mulai. Alea berusaha mempercepat langkahnya agar bisa sampai tepat waktu. Alea hampir sampai, begitu juga dengan hitungan mundur.


"3!"


"2!"


Teriakan para penonton dan pembawa acara terdengar nyaring. Alea hampir sampai. Dan...


"Tepat waktu!" gumam Alea dengan nafas ngos-ngosan.


"1!"


Kembang api mulai menghiasi langit. Alea membeku di tempat. Kembang api yang meledak di langit tidak membuat Alea mengalihkan perhatiannya. Fokusnya hanya satu. Laki-laki yang selama ini selalu ia tunggu, kini berdiri di sebelah pembatas rooftop. Hanya dengan berbekal cahaya kembang api dan sebuah bolam redup, Alea dapat mengenali laki-laki itu dengan jelas.


Mata Alea berkaca-kaca. Laki-laki itu menoleh, membuat Alea bisa melihat wajahnya lagi. Senyum terbit di bibir laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Bibir yang tersenyum itu terbuka, dan mengeluarkan suara yang sangat Alea rindukan.

__ADS_1


"Ketemu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=☁\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2