
Dalam kesunyian yang memenuhi ruangan, Yuki membiarkan dirinya tenggelam dalam refleksi yang mendalam. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terhitung jumlahnya, menghadirkan keraguan yang tak terelakkan.
Di tengah kegelapan, suara lembut Yuki bergema, mencerminkan kebingungan yang merayap dalam dirinya. "Mengapa perasaan penyesalan tidak menyergapku?" desisnya dengan penuh kerendahan hati, sementara pandangannya tertuju pada kilauan redup di pojok ruangan. "Seharusnya perbuatan membunuh itu memunculkan rasa bersalah yang tak terhindarkan, bukan?"
Pertanyaan itu tergantung di udara, menyelinap ke dalam keheningan kamar penginapannya yang terasa semakin berat. Yuki terjebak dalam keraguan yang membelenggu, sementara cahaya temaram terus mengulang permainannya di relung pikirannya. Apakah ini efek dari tubuh Avatarku, Zephyr? Apakah itu yang membuatku tak merasakan rasa penyesalan dan ketakutan?
Batin Yuki berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik. Apa artinya jika rasa bersalah dan ketakutan telah dihapus dari dirinya? Apakah ini berarti ia telah kehilangan sebagian dari kemanusiaannya? Ataukah, mungkin, ada sesuatu yang lebih dalam dan kompleks yang sedang terjadi?
Tanpa jawaban yang jelas, Yuki merenung dalam kegelapan yang menghantui, membiarkan keraguannya memenuhi ruang-ruang pikirannya yang luas. Di balik keraguan itu, ada keinginan yang tumbuh, keinginan untuk memahami hakikat yang sebenarnya, untuk menemukan jati diri yang tersembunyi di balik misteri yang mengerikan.
Dalam kesunyian yang melingkupi, Yuki melangkah dengan hati-hati menuju cermin yang memancarkan sinar remang-remang di dinding. Cahaya samar itu meliputi ruangan, menciptakan suasana misterius yang menyelimuti setiap gerakannya. Dengan tatapan tajam, ia menatap refleksi dirinya yang terpancar di cermin.
Di hadapannya, tergambar sosok seorang pria tua dengan usia sekitar 50 tahun lebih. Rambut putihnya terurai rapi, sementara jenggotnya memberikan kesan kewibawaan. Wajahnya tampak tegas,berwibawa dan matanya yang merah memancarkan keganasan yang mengintimidasi.
Melihat gambaran dirinya yang berubah drastis, Yuki teringat pada masa lalu ketika di kehidupan sebelumnya hanyalah seorang bocah pelajar berusia 14 tahun. Ia terkenang akan perjalanan panjang yang telah membawanya ke dunia ini, di mana segalanya berubah secara total.
Yuki mengucapkan kata-kata dengan suara berat, tetapi terdengar jelas dalam keheningan yang melingkupi ruangan. "Sudah seminggu berlalu sejak aku berada di dunia ini, namun saat aku melihat wajahku yang baru ini, aku masih belum terbiasa," bisiknya sendiri.
"Dalam perubahan ini, apakah aku akan kehilangan diriku yang lama? Apakah aku akan terus terperangkap dalam peran ini yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya?" pikir Yuki dengan ragu.
Dengan perlahan Yuki duduk di kasur, mengeluarkan skill uniknya yang dikenal sebagai [Void Storage]. Ia memanipulasi ruang hampa untuk mengeluarkan kedua orang yang tak sadarkan diri, Kai dan Polo. Keduanya tergeletak lemas di lantai, masih belum pulih sepenuhnya.
Mata Kai mulai terbuka, dan ia merasakan kebingungan yang melingkupi pikirannya. Ia mengusap pelan kepalanya yang masih terasa pusing, sambil memperlahankan ingatannya. Gambaran tentang saat-saat sebelumnya muncul di benaknya, mengingatkannya tentang perjalanan di hutan misterius dan pertarungan terakhirnya dengan makhluk bayangan berlengan hitam dengan mulut tajam. Ia mencoba mengeluarkan sihirnya, [Terra Blast], namun seketika itu juga ia kehilangan kesadaran dan gagal mengeluarkan sihirnya.
__ADS_1
Sementara itu, Polo masih tetap tergeletak tak sadarkan diri di lantai, tak kunjung sadar.
Kai memandang sekeliling, mencoba memahami di mana ia berada. Matanya tertuju pada kasur, dan di sana ia melihat Yuki—ayahnya sendiri. Namun, sesuatu terasa berbeda dalam sikap Yuki. Wajahnya tampak lebih dingin dan tanpa ekspresi seperti sebelumnya.
Yuki hanya memandang Kai dengan tatapan tajam, dan berkata dengan suara datar, "Bagaimana keadaanmu, nak?"
Kai menjawab dengan sedikit kebingungan, "Ya, aku baik-baik saja, ayah. Hanya sedikit pusing." Kai merasakan keanehan dalam sikap ayahnya, namun sebelum ia bisa mengungkapkan keraguannya, Yuki menjawab pertanyaannya lebih dulu.
Yuki melanjutkan, "Baguslah, nak. Kalau begitu, apakah kau lapar? Jika kau merasa lapar, aku bisa menciptakan makanan untukmu."
Kai menggeleng, "Tidak usah, ayah. Aku tidak merasa lapar."
Dengan perasaan lelah yang membebani tubuhnya, Yuki menjawab, "Baiklah, kalau begitu aku ingin beristirahat sejenak."
Yuki merasa lega mendengar kata-kata tersebut dan mengangguk sebagai tanda pengertiannya. Ia berbaring di kasur yang nyaman, memejamkan mata dengan harapan dapat memulihkan energinya.
Kai duduk di samping kasur, tetap menjaga kehadiran ayahnya yang sedang beristirahat. Wajahnya penuh dengan ketegasan dan ketaatan.
Dalam keheningan malam, Kai menghadapkan pandangannya ke luar jendela, memperhatikan bulan yang bersinar terang dan bintang-bintang yang berserakan di langit gelap. Ia memikirkan perjalanan mereka yang penuh dengan misteri dan bahaya, serta pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Dalam suara bisikan, Kai berujar pada dirinya sendiri, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku? Kenapa sikapnya berubah begitu drastis? Apakah perubahan itu memiliki hubungan dengan ketiga anak bodoh yang sudah mati?,Kurasa iya",
Pandangan Kai tertuju pada Polo yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai, tetapi ia memutuskan untuk mengabaikannya sejenak. Matahari mulai terbit, membawa harapan baru untuk hari yang baru.
__ADS_1
Kai, yang masih berjaga di dekat Yuki, melihat ayahnya perlahan bangun dari tidurnya. Yuki, dengan gerakan yang elegan, membuka matanya dan menyadari bahwa pagi telah tiba. Dengan suara tenang, ia menyapa Kai, "Pagi, nak."
Kai dengan hormat membungkuk, menjawab, "Pagi juga, ayah."
Yuki bangkit dari kasur dengan sikap yang tenang, pandangannya terfokus pada Polo yang masih tergeletak di lantai. Wajahnya menunjukkan keheningan yang sulit dipecahkan.
Dengan lembut, Yuki membangunkan Polo yang masih tidak sadarkan diri. Polo pun perlahan membuka matanya, napasnya tak beraturan, dan ingatannya masih kabur. Ia teringat akan kejadian traumatis yang baru saja dialaminya.
Dengan nafas yang terengah-engah dan pandangan yang kabur, Polo, seperti orang yang kehilangan akal sehat, bertanya, "Dimana aku, dan dimana teman-temanku?" Sambil mengingat kejadian traumatis yang ia alami, ia berteriak dengan nafas yang tidak teratur.
Yuki menyaksikan keadaan Polo dengan keprihatinan. Ia menyadari bahwa Polo mengalami luka batin yang mendalam, mengingat kematian tragis temannya di hadapannya.
Tanpa ragu, Yuki mendekati Polo dengan cepat dan menggunakan kekuatan sihirnya. Ia mengeluarkan mantra [Sleep] dan [Cure], memulihkan Polo secara fisik dan mental. Akhirnya, Polo pun tertidur dengan tenang.
Yuki, dalam hati kecilnya, sebenarnya ingin membawa Polo bersamanya. Namun, ia menyadari bahwa keterikatan dengan Polo dapat menjadi beban baginya, mengingat kelemahan dan trauma yang Polo alami,berserta kejadian yang Yuki alami. Oleh karena itu, Yuki mengambil keputusan drastis. Dengan menggunakan kekuatan teleportasinya, ia memindahkan Polo ke markas Guild Petualang, Tidak hanya itu, Yuki juga menggunakan sihir penghapus ingatan untuk menghapus ingatan Polo tentang ingatan kelam dan teman-temannya.
Kai, yang berdiri di dekat jendela, memberi tahu Yuki tentang adanya sekumpulan prajurit yang mengepung tempat mereka menginap. Yuki, yang penuh dengan rasa ingin tahu, dengan tenang mendekati jendela untuk melihat sendiri. Dan benar saja, di luar sana, terlihat banyak prajurit dari Kerajaan Ardor yang menjaga setiap sudut tempat inap tersebut.
Yuki merenung sejenak, memikirkan kemungkinan alasan di balik pengepungan ini. Dalam keheningan yang melingkupi, Yuki mengatakan dengan nada rendah, "Hmm, sepertinya ini karena aku telah membunuh Si Sampah Gideon." Meskipun situasinya serius, Yuki tetap tampak santai seperti biasanya, tanpa sedikitpun rasa kepanikan.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu, diikuti suara seorang pria yang dengan keras menyatakan, "Serahkanlah dirimu, Zephyr! Pasukan Kerajaan Ardor telah menyatakan bahwa kamu melakukan tindakan kriminal dengan membunuh bangsawan keluarga Archebane. Serahkan dirimu, jika tidak kami akan menangkapmu dengan paksa!"
Yuki menghela nafas dalam-dalam dan memalingkan wajahnya ke arah Kai, yang sudah siap beraksi. Kai berkata dengan penuh semangat, "Ayah, bolehkah aku menghancurkan mereka semua?"
__ADS_1
Dengan ekspresi datar, dan senyum menyeringai, Yuki menjawab, "Ya, dengan senang hati, Kai."